
Pagi yang cerah. Hari ini, kampus digemparkan dengan berita kedatangan mahasiswa baru.
Dari informasi yang kudapat, pria ini adalah utusan pesantren teknogi qur'ani. Pesantren binaan ayahku sendiri. Pesantren yang telah lama mati karena kepergian ayah. Tapi, santri-santrinya tetap senantiasa mengembangkan ilmu tanpa kehadiran ayah. Setia menunggu kepulangan ayah.
Suasana menjadi ricuh, semua menceritakan kehebatan mahasiswa baru itu.
Begitu juga denganku. Aku sangat penasaran. Santri mana yang menjadi utusan ayah.
Tak berapa lama, Nyonya Marzia masuk bersama mahasiswa yang akan bergabung dengan kami.
Pria itu memperkenalkan diri dengan sangat sopan dan terhormat.
"introduce my name is Fatih Zinky. I am the messenger of the Qur'ani technology boarding school. I was sent to carry out a noble duty. Memoerd in technology that will be associated with the Koran. Even though we have different religions, countries, languages and customs. I hope you can accept my presence with pleasure. I really respect great students and college students like you. I am very happy to meet you guys," ujarnya.
(Perkenalkan nama saya Fatih Zinky. Saya adalah utusan dari pesantren teknologi Qur'ani. Saya diutus untuk mengemban tugas yang mulia. Memoerdalam teknologi yang akan dikaitkan dengan Al-Quran. Meskipun kita berbeda agama, negara, bahasa, dan adat. Saya berharap kalian bisa menerima kehadiran saya dengan senang hati. Saya sangat menghormati mahasiswa dan mahasiswi hebat seperti kalian. Saya sangat senang bertemu dengan kalian.)
Semua tercengang melihat ketampanannya.
Ternyata Fatih, dia adalah santri tertua di pesantren. Aku sangat mengenalnya walaupun dia tak mengenalku.
"Kenapa ayah mengutusnya?" tanyaku dalam batin.
Hari ini, sangat senang bisa bertemu dengannya.
Kami bisa berbagi kisah. Aku pasti akan membutuhkannya.
Sebaiknya, aku harus lebih mendekatinya.
Hari ini, adalah hari pertama Fatih memasuki jenjang perkuliahan. Aku mengamatinya yang sangat bersungguh-sungguh. "Apakah ayah akan menghukumnya jika bermalas-malasan?"
Aku berusaha menahan tawa melihat cerita karangan dari pikiranku.
"Ada ada saja!" ucapku dengan nada pelan.
Kelasku hari ini berjalan lancar. Aku segera menghampirinya.
"Hai, Fatih!" sapaku.
Dia terus memandangku. Apakah aku terlihat seperti orang yang sok kenal sok dekat alias SKSD.
"Kamu dari NTT kan? Anak didik Ustadz Wafrie? Dari Pesantren Teknologi Qur'ani kan?" Aku berusaha untuk lebih dekat.
"Bukan, bukan! Maksudku, aku mengenalmu. Kau murid ayahku, Ustadz Wafrie! Aku anak sulung dari Ustadz Wafrie!" jelasku membuatnya yakin.
"Fustuq?" tanyanya seakan tak percaya.
"Iya!"
"Ternyata tak sulit untuk menemukanmu!" ucapnya lega.
"Jadi ... tugasmu adalah untuk mencariku?" tanyaku menahan tawa.
"Iya, aku menyebutnya sebagai tugas mulia!" ujarnya.
Aku tak kuasa menahan tawa ini lagi. Aku melepaskannya. Tertawa karena merasa sangat lucu.
"Kenapa sih?" tanyanya kesal.
"Oi, tugasmu sangat mulia. Bisakah kau memberi sebutan lain untuk itu?"
"Baiklah, Amanah yang harus dipertanggung jawabkan!" jawabnya dengan polos.
Aku tertawa lagi. Pria ini ternyata sangat unik. Aku merasakan kehadiran Vare saat berada di dekatnya.
"Apakah ayah akan menghukummu jika tidak menemukanku?" tanyaku bercanda.
"Tentu!" Jawabnya serius.
"Kalau begitu, aku harus pergi jauh darimu. Jangan sampai kau menemukanku!" ujarku.
"Aduh, kau tidak boleh pergi. Keadaannya sangat gawat. Pesantren akan dihancurkan karena masalah besar," jelasnya. Sepertinya, ini benar. Dia sedang tidak bercanda.
"Apa?" Kagetku mendengar penjelasannya.
"Aku akan menjelaskan semua padamu besok! Sekarang, aku harus mencari tempat tinggal dulu!"
"Tak akan sulit! Ikutlah denganku!" ajakku sembari membawa semua buku pelajaran yang baru didapatnya.
*Ingat, kebathilan akan sirna. Kebenaran akan bersinar kembali bak mentari*