
"Katakan secepatnya! Ada apa? Kenapa mereka berani meruntuhkan tempat naungan para santri?"
Sesampainya di apartemen, aku langsung memaksanya agar menceritakan semua yang telah terjadi.
"Ada orang yang memberi tuduhan sadis kepada para santri. Orang itu menyebarkan di berbagai media sosial," jelasnya. Namun, aku kurang puas dengan penjelasan yang diberikannya.
"Katakan saja yang sebenarnya!"
"Berita yang tersebar bahwa salah seorang santri dari Pesantren Teknologi Qur'ani itu sengaja membakar salah satu gereja di NTT," jelasnya dengan rinci.
"Siapa pemilik akunnya?" tanyaku penasaran.
"Itu yang menjadi permasalahannya. Kami belum bisa memecahkan pemilik akunnya. Akun samaran. Aku diutus untuk meminta bantuanmu!"
ujarnya.
"Aku akan segera pulang dan menyelamatkan pesantren," ucapku lalu ingin segera pergi.
Fatih menahan tanganku. "Tidak!" bantahnya, "ayahmu tak mengizinkanmu untuk pulang. Biarlah para santri yang menyelesaikannya. Salurkan bantuanmu tanpa harus pergi ke TKP," sambungnya.
"Tapi ... "
Fatih memotong perkataanku. "Tetaplah disini! Ayahmu tak mengizinkanmu pulang. Jangan membantahnya!" Dia menahanku.
Aku menghela napas kesal. Kenapa aku tidak boleh pulang. Aku ingin menyelamatkan pesantren itu.
"Em, baiklah! Berikan laptopmu, kita tak punya banyak waktu. Kita hanya punya sisa waktu 2 hari. Bekerjalah dengan keras!"
"Sep!"
Aku langsung melacak keberadaan pemilik akun tersebut.
'Pemiliknya berada di Koln?'
"Disini?" tanyaku terheran, "bagaimana bisa?"
"Mungkin, dia kabur! Dia tau kita sedang melacaknya," ujar Fatih.
Aku mengangguk 'iya'
Aku mengamati foto yang diedarkan.
Tampak seorang pria remaja yang memakai pakaian resmi dari Pesantren Teknologi Qur'ani. Foto ini mengulaskan bahwa berita ini tak bohong.
"Tapi, belum tentu pria itu yang membakar gereja ini," gumamku tak mengerti.
"Apakah kalian sudah memeriksa semua santri dan menanyakan apakah salah satu dari mereka ada di lokasi kejadian?" tanyaku dengan keseriusan tingkat tinggi.
"Sudah! Kami sudah menanyakannya ke semua santri. Tapi, tak ada yang berada di lokasi kejadian waktu itu. Apakah itu bukan foto editan?" jawabnya dengan yakin.
"Tidak!" bantahku, "Tak ada editan di foto ini! Ini foto asli dari tempat kejadian!" ujarku, "sepertinya, aku harus benar-benar pulang!"
"Kau tak boleh pulang! Seharusnya tetap berada disini! Apa yang bisa diselesaikan jika kau pulang? Sementara, pemilik akun itu ada disini!" Fatih membuatku bingung. Dia benar. Sebaiknya, aku mendapatkan pemilik akun ini. Aku harus mencarinya. Dia ada di sekitaran Koln.
"Kau benar! Masalah ada di pemilik akun ini. Kenapa dia menyebarkan berita ini," ujarku.
"Kalau begitu, kita harus bekerja lebih keras lagi," ucapnya dengan penuh semangat.
\*
Hari sudah malam. Kami tak mungkin terus berduaan di apartemen kecilku.
"Sudah masuk isya, bagaimana kalau kita kemesjid dulu! Apartemenku sangat dekat dengan mesjid raya Koln. Kau pasti akan terpesona melihatnya," ujarku menawarkan.
"Boleh!" balasnya menyetujui.
Kami berjalan dengan tas ransel di pundak. Isinya cukup banyak. Agak terasa berat.
Kami sholat berjamaah.
Seusai sholat, aku menunggunya di bagian luar mesjid. Tapi, dia tak kunjung datang.
"Kemana dia?" ocehku sudah terlalu lama menunggu.
Tak berapa lama, aku melihatnya berdampingan dengan seorang pria yang sedikit lebih tinggi darinya. Aku mencoba menebak wajahnya.
Belum terlalu jelas terlihat.
Mereka semakin mendekatiku.
Kini, wajahnya terlihat sangat jelas. "Pria itu, dia ...
bukankah dia orang yang ditunggu oleh para jemaah. Dia juga yang membuat kepalaku terasa sangat sakit seperti terbentur hebat," gumamku di dalam hati.
Aku masih memandangnya terus menatap matanya dengan dalam.
Hatiku selalu bergetar hebat ketika bertemu dengannya. "Ada apa ini? Rasanya ada suka dan duka yang pernah kujalani bersamanya! Tapi, bagaimana mungkin? Kami baru berjumpa disini dan ini kali pertamanya aku melihatnya," ujarku dalam batin.
Kini, dia berada tepat di hadapanku.
Tatapan mata bertemu untuk pertama kalinya. Mataku tak bisa berkedip. "Apakah aku menyukainya?" ucap hatiku.
Dengan sigap aku memalingkan wajah. "Ada apa ini? Tidak,tidak!" Aku mencoba mengalihkan perasaan itu.
"Fustuq, Kenalkan!" Fatih memberi isyarat agar aku memberi penghormatan.
"Nama saya Fustuq Chahera, senang bertemu dengan anda!" Aku memperkenalkan diri denagn merunduk. Rasanya tak kuat menatap mata sendunya.
Dia hanya diam tak bergeming. Masih saja menatapku.
Fatih memecahkan keheningan.
"Tuan ini bisa membantu kita! Dia bilang akan mendapatkan pemilik akun itu!" ujar Fatih menjelaskan.
Aku langsung menarik Fatih dan membawanya agar sedikit menjauh dari tuan tak dikenal itu.
"Bagaimana bisa kau terlalu percaya dengan orang asing!" tanyaku pada Fatih yang mudah-mudahnya mempercayai pria itu.
"Tenang! Aku sudah menguji kemampuannya. Sangat hebat! Bahkan, dia bisa sudah mendapatkan alamat pemilik akun itu," jelasnya membuatku yakin.
"Baiklah, kita bisa menggunakannya," ujarku menyetujui.
Fatih segera membalik dan menemui pria itu lagi.
"Eh, tunggu-tunggu!" Aku menahan kepergiannya.
"Apa lagi sih?" tanyanya kesal.
"Pria itu tidak meminta gaji kan?" tanyaku memastikan.
"Tidak! Tenang saja!" ujarnya singkat.
Kami kembali menemui pria yang sedang terpatung menunggu kami berbisik di hadapannya.