UHIBBUKA FUKUOKA

UHIBBUKA FUKUOKA
Mesin Database Memori



Mobil berhenti secara mendadak di halaman perusahaan Tgroup of technology. Terlihat, orang-orang besar telah berbondong-bondong masuk kedalam aula.


"Ayo turun!" ajaknya, " aku akan memperlihatkan mesin ini kepadamu."


Tamis dengan segera turun dari mobil dan melangkahkan kakinya memasuki perusahaan besar ini.


Aku pun segera mengikuti langkahnya. "Apakah kau yakin kalau aku bisa menyelesaikan persentase ini dengan lancar?" tanyaku.


Langkahnya terhenti. "Lakukan persentase ini seperti apa yang telah kau lakukan dalam seleksi beasiswa itu!" titahnya, lalu tanpa melirikku lagi Tamis melanjutkan langkahnya.


Begitu juga aku. Tak ingin kehilangan jejak pria ini.


Aku juga segera mengikutinya. Sampailah kami di sebuah ruangan khusus penyimpanan mesin canggih ini.


Mataku terbelalak setelah mengetahui mesin yang akan kupersentase kan.


Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa yang sebenarnya telah kau sembunyikan?" tanyaku, "kau hadirkan mesin database memor, tapi kau juga ingin menghadirkan alat untuk menghapus memori tersebut. Apa tujuanmu sebenarnya?" sambungku.


"Bertanyalah sebanyak yang kau inginkan! Dan juga kita akan tetap mengakhiri semua ini. Begitu juga, kita akan berpisah disini." ujarnya.


"Ya, Allah! kenapa aku harus terbelenggu di jeruji janji ini? Janji ini membuatku beku. Terbungkam. Terdiam." gumamku dalam batin.


Tamis menghela napas panjang. " Sudahlah, aku tau kau takkan sanggup membuat semua ini berakhir dengan sia-sia. Maka pergilah! Acara akan dimulai 5 menit lagi. Kuharap, kau tak mengecewakanku!"


Dia pergi meninggalkanku begitu saja. Tanpa harus membantuku mempersiapkan persentase ini.


 🥰🥰


Orang-orang telah mengambil posisi duduk. Dan bersiap-siap untuk mendengarkanku. Lampu kerap menjadi gelap. Kini, akulah satu-satunya lentera penerang.


Semua menyaksikan mesin canggih ini. Mesin yang diselimuti dengan ribuan pengaman kini hadir menyapa dunia.


Kuberanikan bola mata memandang orang-orang yang ada di hadapanku.


Suara ayah menghantuiku. "Yakinkan mereka dengan tatapan. Berbicaralah dengan menatap setiap mata. Karena tatapan itu akan menyelimuti mereka dengan keyakinan yang besar terhadap mu. Tatap dan bicaralah dengan hati!"


Kutarik napas dalam-dalam. "Teknologi menggenggam dunia"


"Sebelumnya, saya sangat terinspirasi dengan penemu mesin ini. Siapapun kamu? Dimanapun kamu? Meskipun kamu bersembunyi di balik mesin ini, kami tetap merasakan kehadiranmu disini. Kamu tetap menjadi penemu mesin ini. Saya sangat berharap agar bisa langsung bertatap wajah dengan penemu mesin ini!"


sambungku.


"Mesin, sebuah mesin sengaja diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Manusia adalah seseorang yang menciptakan mesin. Tapi, di dunia milenial semua berubah. Mesinlah yang mengendalikan penciptanya," jelasku lantang, "Sekarang, manusialah mesinnya. Manusia menjadi budak sebuah mesin. Manusia akan melebur karena sebuah mesin. Bahkan meledak seperti sebuah mesin. Hakikat manusia telah punah. Selama ini, Hakikat mesinlah yang menggantung di leher manusia. Zaman boleh berkembang. Zaman boleh berubah menuju tingkat kemajuan yang tertinggi. Tak ada yang melarang. Namun, mesin tetaplah mesin. Manusia tetaplah manusia. Jangan terlena dengan ciptaan tangan sendiri. Karena dirimu, itu sudah sebanding dengan ribuan mesin. Bahkan, mesin yang tercanggih di dunia ini adalah dirimu."


Tepuk tangan meriuhkan suasana lalu menggema ke angkasa.


Aku mencoba untuk menahan tangis, melanjutkan persentaseku. "Mesin ini milik seorang manusia yang sangat luar biasa. Pastilah ada pesan yang luar biasa di balik penciptaannya," ujarku.


"Database memore, bisa menyimpan segala kenangan. Kenangan yang terjadi pada diri kita selama bertahun-tahun lamanya akan tersimpan rapi di dalamnya. Mungkin, dengan data itu kita bisa kembali hanyut dalam kenangan itu,"


"aku sangat yakin, penemu ini sedang berada dalam lautan rindu. Dia berusaha menciptakan alat ini agar kenangan yang dipegangnya selama ini akan tetap utuh, tak hilang walaupun satu peristiwa,"


"mesin yang dirangkai berasaskan cinta yang berakhir kerinduan."


Salah-satu penemu hebat mengangkat suara. "Apa-apaan ini?" bentaknya marah, "kau mempersentasekan semua ini dengan karangan dari perasaanmu. Rangkaian kata-kata ini hanya bersumber dari perasaan hatimu yang sekarang. Sebuah mesin tercipta berasaskan kecerdasan bukan perasaan," sambungnya.


Penemu lain yang duduk di samping penemu itu beranjak dari tempat duduknya. "Dalam hal ini, kami ingin bertemu dengan penemu yang merancang mesin ini dengan tangannya sendiri."


"Ya, aku setuju!" Karena aku juga sangat ingin bertemu dengan penemu mesin canggih ini, aku langsung menyetujui tanpa persetujuan Tamis. Aku mengira bahwa Tamis juga akan menyetujuinya.


Kulihat Tamis berdiri dari tempat duduknya dan mengangkat suara. "Tidak! Penemu itu tidak bisa bertemu dengan kalian," ujarnya.


Aku heran dengan jawaban Tamis. Ingin sekali bertanya, tapi aku masih terbelenggu di dalam jeruji besi perjanjian ini.


"Apa alasannya? Kenapa beliau tidak bisa bertemu dengan kami?" para penemu yang hadir terus menanyakan alasannya. Suasana ruangan menjadi ricuh.


"Beliau memerintahkan kepada perusahaan ini agar menyembunyikan identitasnya." Tamis menjawab pertanyaan salah seorang penemu ini dengan lantang.


"Bubarkan acara ini! kuanggap acara ini telah tuntas dan sempurna."


Dia pergi meninggalkan acara. Aku segera menyusulnya. Kurasa, dia sangat kecewa padaku.


Dia berbohong bahwa acara ini telah sempurna. "Maafkan aku!"