
Bagiku, Labuan Bajo tak kalah nyaman dengan negri impianku, Fukuoka. Labuan Bajo juga banyak memiliki keindahan alam yang dapat memenangkan hati pendatangnya.
Aku tak sabar menunggu pesawat melandas dengan halus di tanah kelahiranku.
Tak sabar ingin melanjutkan kisah hidupku yang sempat dijeda.
Rasanya, aku ingin cepat-cepat memberikan tamparan pedas kepada si pangeran komodo. Berani-beraninya dia membohongiku dengan menyembunyikan penyakit berbahaya sendirian.
Lagi-lagi aku teringat dengan lukisan yang Vare berikan sebelum kepergianku ke FUKUOKA.
Aku terus memandangi lukisan ini sembari tersenyum tanpa sebab.
Namun, sebenarnya aku sedang menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Sudahlah, tak usah kita bahas lagi.
Berapa menit berlalu. Akhirnya, pesawat melandas di NTT ku tercinta.
Tanah ibu pertiwi. Setelah sekian lama aku meninggalkannya.
Kini hidupku lengkap bersama ayah. Sempurna tanpa harus bersembunyi di balik kesedihan.
🥰🥰🥰
"Ibu, aku pulang!" Aku langsung memeluk ibu yang masih terpaku di ambang pintu. Mungkin, ibu terkejut melihat kepulanganku yang terlalu mendadak.
"Ibu, kenapa sedih? Apakah karena Ara pergi tanpa berpamitan dan pulang tanpa pemberitahuan?" Ibu tak menjawabku sedikitpun. Hanya ada tatapan dengan mata yang berkaca-kaca.
Sepertinya, ada tangisan yang tersembunyi di balik mata beningnya itu.
Ibu semakin erat memelukku.
Aku hanya terdiam. Terheran-heran dengan sikap ibu dalam menyambutku.
Tak bergeming walaupun hanya satu kata.
"Ibu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa harus bersedih?"
Ibu melepaskan pelukannya lalu berkata, "Fustuq, ibu tak sanggup mengatakannya. Sementara, kau sedang berbahagia."
"Apa yang lebih penting dari apa yang membuat bersedih, Bu? Tidak ada! Katakanlah walau harus menyayat hati!" tukasku.
"Vare telah meninggal dunia! Jenazahnya sudah dikuburkan sebelum kepulanganmu," ujar ibu sembari menangis tersedu-sedu.
"Apa? Vare meninggal?" Tubuhku melemas. Aku tak kuat mendengar berita duka ini.
"Vare!" teriakku dengan penuh penyesalan.
"Kenapa dia meninggalkanku? Aku pulang hanya untuknya. Tapi dia pergi meninggalkanku," tanyaku dan mencoba untuk mengikhlaskannya.
Seseorang datang dan langsung memelukku. Kalian pasti mengenalnya, sosok wanita yang memenangkan hati sahabatku. "Vare bilang, kamu tidak boleh bersedih karena kepergiannya. Vare bilang, kamu tidak akan pernah sendirian. Vare bilang, sahabat itu adalah segala-galanya. Bahkan, lebih dari cinta. Vare bilang, dia pergi hanya untukmu!"
Mendengar penggalan kalimat terkahir itu, aku langsung jatuh tersimpuh.
🥰🥰🥰
"Ayah!" panggilku setelah melihat pria gagah yang sedang menungguku bangun.
Ayah menarikku untuk bangkit. Beliau adalah penopang di saat aku terjatuh. Aku langsung memeluknya erat. Lagi-lagi, air mataku menetes deras.
"Ingat, tak selamanya orang yang kita sayangi ada di samping kita. Adakalanya, kita harus berjuang sendiri," nasihat ayah.
"Tapi, haruskah Allah mengujiku dengan seperti ini? Kenapa Allah tak adil? Kenapa Allah -" Ayah membungkam bibirku dengan telapak tangannya.
"Ussst! Jangan pernah ucapkan kata-kata labil yang biasa digunakan anak milenial. Berpikirlah lebih dewasa!" ujar ayah, "Sekarang, ucapkan ini, 'Ya Allah, terimakasih atas ujian hidup ini. Aku bersyukur karena Kau masih memperhatikanku'!" titahnya padaku.
Aku mengikutinya. Menenangkan hati lalu membersihkannya.
"Sama halnya seperti nabi, tak semua nabi dikelompokan menjadi istimewa. Masih ada 5 nabi pilihan. Terpilih karena besarnya kesabaran mereka dalam menjalani berbagai ujian yang diberikan. Berbanggalah, karena kau menjadi pilihan Allah!" jelasnya lagi.
Ayah menghapus air mataku yang telah menitik di atas hamparan pipi merahku.
Kutatap matanya dengan dalam. Terlihat kepercayaan yang besar tercurah kala kita memandangnya. Bukan hanya ayahku, setiap ayah memiliki itu. Lihatlah!
Aku menarik napas dalam. Berusaha menahan tangis. "Ayah, bolehkah Fustuq melihat wajah Vare untuk yang terakhir kalinya?" tanyaku meminta.
Ayah terlihat sedang menahan air matanya yang ingin jatuh. "Kapan terakhir kali kau menatap wajahnya?"
Bukannya mengizinkanku, ayah malah balik bertanya.
Aku menjawab pertanyaan ayah dengan penuh kebingungan. "Terakhir kali, Fustuq bertemu dengan Vare sebelum kepergianku ke Fukuoka!" seruku.
"Mungkin, saat itulah terakhir kali kau benar-benar dapat melihatnya!" ujar ayah dengan penuh rintikan air mata.
Air mata menghujani pipi merahku. "Ayah ... benarkah Fustuq tak dapat melihatnya lagi?" Aku bertanya-tanya seakan tak percaya.
Ayah memberi beberapa anggukan kepala padaku.
"Kenapa dia tak menunggu kepulanganku? Setidaknya, biarkan aku menatap wajahnya untuk yang terakhir kali. Setidaknya, biarkan aku ikut menjadi makmum ketika mensholatinya," gumamku dengan penyesalan.
Ayah tertawa kecil mendengar ocehan anehku. "Vare anak yang cerdas!" serunya dengan bangga, "dia pergi dengan rancangan yang benar-benar matang. Kalaulah dia pergi setelah kepulanganmu, pastilah kau akan menahannya. Kau tak akan membiarkannya pergi. Kalaulah kau ada disini, kau pasti takkan tahan mendengar ringisan sakitnya. Vare tak ingin kau bersedih setiap kali kau mendengar rintihannya." Ayah meyakinkanku.
"Biarlah dia pergi! Karena hakikatnya, sahabat selalu ada disini. Hanya jasadnya yang meninggalkanmu. Tapi batinnya, tetap selalu bersatu dengan batinku!" ujar ayah. Ayah meletakkan telapak tangannya diatas hamparan dada.
Setelah mendengar penjelasan ayah, aku langsung memeluknya dengan erat.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Ternyata ***benar, Kehilangan itu melatih keikhlasan. Dan ternyata benar, Ketika kita kehilangan seseorang maka Allah akan menggangti dengan seseorang baru yang dapat mengganti kesedihan kita menjadi kegembiraan.
"Ya Allah, terimalah sahabatku disisimu. Terimalah amal ibadahnya. Ampunilah seluruh dosanya. Gantilah keluarga duniawinya dengan keluarga yang lebih baik di syurga. Berikanlah kepadanya sahabat yang lebih baik dariku," ujarku berdoa***.