
Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di rumah sakit, ayah memutuskan untuk menyuruhku pulang ke Labuan Bajo. Tepat di hari ini, wisudaku juga sedang berlangsung. Tapi, aku harus pulang.
Ayah sudah menyiapkan barang-barang milikku dan memasukkannya ke dalam bagasi taksi. Dengan laju kencang, taksi ini membawaku ke bandara.
Pagi ini juga pesawat akan membawaku terbang.
"Selamat tinggal, Fukuoka! Biarlah kau dan orang-orang yang ada bersamamu menjadi kenangan yang terkubur dalam di lubuk hatiku." gumamku sembari memandang keluar jendela.
Sepertinya, aku benar-benar harus meninggalkan tempat impian ini. Kembali melanjutkan perjalanan kisah hidupku di Labuan Bajo bersama pangeran komodo.
Tak berapa lama, akhirnya aku sampai di bandara. Masih tersisa 7 menit lagi. Aku masih harus sabar menunggu.
Tiba-tiba saja, seseorang menahan kepergianku. Aku berpaling melihat wajahnya. "Tamis?"
Mataku terbelalak dengan hati yang sedang bertanya-tanya.
"Mau apalagi kau menemuimu?" tanyaku dengan membentak, "apa kau belum puas membuatku tersiksa?"
"Fustuq, dengarkan penjelasanku dulu! Awalnya, memang aku yang merancang rencana kematian ayahmu. Tapi, aku tak berniat untuk menyakitinya. Aku menyayanginya seperti ayahku sendiri. Hanya saja, aku harus menuruti permintaan terakhir dari kakekku untuk membalaskan dendamnya. Aku mohon percayalah padaku!" jelasnya dengan rinci.
Hatiku tergerak, kenapa aku harus mempercayainya.
"Tapi, aku tak pernah merencanakan itu." Tamis berusaha mendapatkan kepercayaaku lagi.
"Lalu, apa tujuan dari tindakanmu semalam? Bukankah untuk membunuhku dan ayahku?" Lagi-lagi emosiku memuncak.
"Tujuanku hanya menahan kepergianmu. Aku tak sanggup untuk hidup sendiri tanpa dirimu! Aku telah jatuh cinta padamu, Fustuq! Cinta uang menghalangi semua tindakan jahatku. Kalau tidak, aku sudah menyiksamu!" serunya.
"Bullshit!" celetukku. Aku mencoba menjauh darinya walaupun harus menyayat hati. "Aku sudah tak punya waktu lagi, aku harus pergi! Sangat senang bisa bertemu denganmu, Tamis! Aku berharap ini menjadi pertemuan kita yang terakhir kalinya."
Aku melangkahkan kaki. Meninggalkannya bersama kenangan.
Tamis tetap saja mengikuti langkahku.
"Berhentilah! Aku tak punya waktu untuk melayanimu!" ujarku dengan tatapan lurus kedepan.
"Aku mohon, jangan tinggalkan aku! Aku benar-benar sangat mencintaimu!" Ucapan itu berkali-kali keluar dari bibirnya.
Aku tak membalasnya dengan sepatah katapun. Bahkan, aku melangkahkan kaki begitu saja. Menatap lurus kedepan. Pertemuan kami berakhir setelah aku melangkahkan kaki untuk masuk ke pintu pesawat. Dia takkan bisa mengikutiku. Tak ada tiket maka tak boleh masuk.
Ini adalah hari perpisahanku dengannya.