UHIBBUKA FUKUOKA

UHIBBUKA FUKUOKA
LABUAN BAJO KU.....



Aku tumbuh menjadi gadis kecil Bajo. Melenyapkan setiap detik hidupku dengan rangkaian mimpi yang tergores di bibir Pantai Koka, menitikkan tintaku diatas Perbukitan Maumere, menyemai cintaku di


Kelabba Maja, menentramkan hatiku di Pulau Padar, mengembalikan duniaku di Wae Rebo, mengarifkan pikiranku di Sawah Lingko, menjelajahi alamku di Pulau Kedor, memuaskan batinku di Pantai bergandengan dengan pasirnya yang berwarna pink, serta berpisah dengan Sang mentari di Gili Laba, menghanyutkan jiwa di Goa Rangko bak oase ditengah gurun, meresapi ciptaan-Mu dengan 3 warna yang menyinari Danau Kalimutu, Liang Bua yang menaungi para habbitnya, Rinca bak surga bagi para hewan purba, pantulan sinar impian dari sela Goa Batu Cermin. Bahkan, pasir yang memulau, mata dan hati mulai memanja di Cunca Wulang, hingga aku sampai ke surga kecil ku, Pulau Kanawa.


Aku memutuskan untuk tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar sejak duduk setingkat dengan anak 4 SD, karena ayah tak pernah memasukkan ke dalam bangunan yang biasa disebut kata "sekolah". Aku selalu berada didalam mesjid. Baik itu pagi maupun malam. Ayah tak mengizinkanku pulang tanpa setoran hapalan. Sampai akhirnya, tumbuh bibit cinta terhadap Qur'an dan sangat sulit untuk melupakan satu kata dari ayat Al Qur'an. Keputusan ini kuambil bukan karna kekurangan materi.Namun, ini adalah keputusanku sendiri bahkan tanpa sepengetahuan ibuku. Waktu yang biasa kugunakan untuk menghapal, kini waktuku kuhabiskan di sepanjang pesisir pantai pulau bidadari untuk menemui Zeeba.


Aku tak ingin dia terluka, tak seorang pun kubiarkan untuk menyentuhnya. Kulepaskan tawa yang membalut kesedihanku selama ini.


Aku ingin memutar memori lamaku bersama ayah, menjelajahi pantai ini sembari bermain bersama Zeeba. Mencurahkan segala kesepihan dalam hati ini.


"Zeeba,tau tidak???" Kataku sembari menghela nafas.


"Aku sangat merindukan ayah, aku merasa kesepihan setelah kepergian ayah. Aku merindukannya sama seperti aku merindukan Fukuoka. Bagaimana agar aku bisa kembali ke pelukan kota nan hangat itu?.Aku merasa sudah hilang akal, karna aku belum bisa mengikhlaskan kepergian ayah. Anak-anak seumuranku menjauhiku karena mereka menganggapku aneh berteman denganmu. Bagaimana caranya untuk menghapuskan semua hal itu dari hidupku?. Aku ingin bersosialisasi dengan mereka, aku sudah remaja. Sampai kapan aku harus dijauhi dengan orang orang disekitarku? Ak-"


Aku pun terbungkam dan sigap untuk menghapus air mataku yang kian menitik di atas kedua hamparan pipiku setelah suara itu datang untuk memotong perkataanku.


"Aku mau berteman dengan mu,bahkan bersahabat," ucap seseorang dibelakangku.


Aku langsung memalingkan wajah kearah suara itu berasal, dan betapa terkejutnya. "Dari mana pangeran ini berasal?" tanya batinku.


"Unik ya..ada wanita yang lembut dan secantik dirimu bisa bersahabat dengan seekor komodo. Komodo aja bisa bersahabat dengan mu, lalu bagaimana denganku?" Seraya berkata sembari mengulurkan tangan nya kehadapan ku.


"Aslan Haruko," ucapnya lagi.


"Maksudnya..." Aku bertanya dengan nada heran.


"Namaku," jawabnya singkat.


"O"


"Fustuq Cheara," kataku tanpa membalas uluran tangannya, sembari menundukkan pandanganku.


"Indah ya," ucapnya lagi, membuatku menatapnya lagi.


"Namamu indah, seindah Pantai Bidadari ini". Kata-katanya membuatku tersipu malu.


"Bagaimana bisa kau begitu dekat dengan komodo ini? Emm...Mungkin awal pertemuan kalian lebih menarik dari pertemuan kita saat ini," sambungnya dengan senyuman lalu memosisikan tubuhnya tepat duduk di sampingku di atas pasir berwarna pink.


Seketika wajahku berubah menjadi sedih,terulang kembali saat pertama kali aku bertemu dengan Zeeba. Saat ayah memindahkan hak kepemilikan komodo ini menjadi milikku.


"Apakah aku telah membuatmu sedih?" Dia terheran setelah melihat perubahan ekspresi wajahku.


"Tidak..! Mataku perih karena hembusan angin di pantai ini !" Alasanku untuk membuatnya tidak curiga.


"Kamu asli orang Labuhan Bajo?" tanyaku untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Eemm..." Laki laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu...?" Terheran aku setelah mendengar jawaban singkatnya.


"Aku dari lahir di Negeri Tirai Bambu, ayahku berdarahkan Turkey dan ibuku berdarahkan Jepang. Aku lahir ketika musim semi menghampiri Negara ibuku. Ketika itu ibu memberikan Haruko diakhir namaku. Sedangkan ayahku, beliau ingin aku menjadi singa yang kuat dan pemberani. Ketika itu beliau mengawali namaku dengan aAslan." Laki-laki itu berkisah di hadapanku.


"Unik juga ... lalu kapal apa yang membuat mu terdapampar di pesisir pantai ibu pertiwi ini?"


Tak hanya bibir ini yang bertanya, hatiku juga bertanya-tanya akan hal ini.


"Ceritanya panjang ... sebaiknya besok saja kita lanjutkan. Langit sebentar lagi gelap, dan kemungkinan akan disusul hujan yang lebat?" usulnya lalu bangkit dari posisi duduknya.


"Aku pergi duluan, segera kembalilah kerumah mu. Kegelapan ini terlalu bahaya untuk keselamatanmu, dan kehujanan juga tak baik untuk kesehatanmu!" Dia memulai langkahnya dan pergi menjauhi tempat ku, sampai keberadaannya hilang dari pandanganku.


Tak berapa lama, hujan deras mengguyur tubuh ku. Tak tau ingin kemana, sementara jarak keberadaanku dengan jarak rumahku terlalu jauh untuk tetap menerobos hujan deras ini. Tanpa berfikir panjang aku segera menuju Goa Rangko untuk berteduh sampai hujan mereda. Rasa dingin mulai menghantui sekujur tubuhku. Aku segera menyandarkan tubuh yang gemulaui ini disudut goa sambil meringkukkan tubuhku untuk mendapatkan kehangatan.


Berkali-kali aku menggosokkan kedua telapak tangan ku yang terus bergemetar. Aku gak boleh nyerah, aku harus kuat untuk melawan semua ini. Ayah tak pernah menyerah untuk mempertahankan sesuatu yang sangat beliau inginkan. Maka jika aku ingin kehangatan, aku harus berusaha.


Mungkin tidak untuk saat ini, mataku sudah mengatup. Tetapi disini aku bisa bertemu ayah. Dimana ini?. Aku sangat menyenangi ini.


"Ayah ... ayah kemana saja? Semua orang mencari ayah. Cheara, Cheyra, dan ibu menunggu kehadiran ayah di rumah!" jelasku pada beliau agar beliau kembali pulang ke rumah.


"Ayah akan pulang, Cheara! Jangan teteskan air mata ini lagi! Tunggulah ayah untuk beberapa hari lagi!" Ayah mencoba menenangkanku, lalu menghapus tetesan tetesan air mata di kedua pipiku. Lalu beliau beranjak melangkah untuk menjauh dariku.


"Ayah ... ayah ... kemana ayah akan pergi, Cheara ingin ikut bersama ayah!" teriakku untuk menghentikan langkah kaki beliau, sedang air mataku terus berlinangan. "Cheara,tetaplah bersama Cheyra. Bimbing Cheyra bersamamu menuju Ridho-Nya!" ucap ayah ketika menghentikan langkah kakinya.


Tak berapa lama, ayah menghilang dari pandanganku.


"Ayah ... ayah...ayah..." Kata-kata itu keluar dari bibirku.


"Chottomatte (Tunggu sebentar) " Sayup-sayup suara itu terdengar ditelingaku.


Lalu seseorang itu menyodorkan air hangat kepadaku. Aku segera meneguk air itu untuk menghangatkan tubuhku. Perlahan aku membuka katup mata ini. Aku tak bisa memandang wajahnya dengan jelas. Tapi aku bisa mendengar suaranya dengan jelas.


Ternyata ayah hanya menyinggahi mimpiku. Tapi ayah bilang dia akan pulang. Aku yakin ayah belum meninggal, karena sampai sekarang jasadnya belum ditemukan.


"Izen yori kibun ga yoku narimashita ka? (Apakah kamu sudah merasa lebih baik)" Suara ini membuyarkan lamunanku, tapi sulit bagiku untuk memahami maksud dari perkataannya.


Sampai aku bisa memandangnya dengan jelas. Wajahnya tak asing,aku seperti sudah pernah bertemu dengannya.


"Aslan.." panggilku, untuk memastikan kekuatan ingatanku.


"Mōshiwakearimasenga, machigatta hito ga iru kanōsei ga arimasu. Watashi wa itotekina hitode wa arimasen! (Saya rasa anda salah orang)" Lelaki ini menggunakan bahasa yang tak asing ditelingaku, bahasa kebanggaan ayahku.


"Watashinonamaeha arutamisu rafuka Mikiodesu (Perkenalkan nama saya Tamis Rifuka Mikio)" sambungnya lagi. Namun tetap saja aku tak bisa mengerti Bahasa Jepang. Aku hanya berikan anggukan heran kepada pria itu. Dan aku mulai beranjak dari tempat itu. Namun, aku belum pulih total. Kepalaku masih agak sedikit pusing. Dan terpaksa aku harus menuruti tubuh ku untuk tetap berada di Goa Rangko.


Pikiran ku masih di selimuti kebingungan yang mendalam. Mengapa pria ini bisa memiliki wajah yang sama dengan pria yang aku temui di pesisir Pantai Pulau Bidadari.


Aku mengurungkan niat untuk bertanya kepada pria ini. Karna percuma saja, kalaupun pria ini menjawabnya aku tak akan paham dengan bahasanya. Lebih baik aku diam sambil menunggu keadaanku dan suasana lingkungan membaik.


Beberapa menit berlalu, hujan mulai mereda. Aku segera beranjak dari tempatku lalu melangkahkan kaki untuk meninggalkannya.


"Be careful,and see you.." teriak lelaki itu ketika aku mulai melangkahkan kaki untuk keluar dari mulut Goa Rangko.


Sepertinya dia bisa mengerti keadaanku yang tidak merespon perkataannya sebelumnya. Bagaimana bisa aku meresponnya, aku sama sekali tak mengerti apa yang diucapkannya.


Keesokannya...


Detik demi detik, menit meniti menit, jam ke jam, hingga hari ke hari kulalui bersama komodo kesayanganku ini. Tak satu hari pun terlewatkan. Namun, berbeda dengan hari ini, Zeeba tak terlihat dimana pun. Aku mencarinya dari ujung Pantai Pulau Bidadari hingga ujung Pantai Pasir Pink. Rasa lelah ini tak bisa mengusik diriku sampai aku menemukan Zeeba dan memastikan bahwa dia tak apa-apa.


"Zeeba ...!" teriakku sambil mengepulkan kedua telapak tanganku di hadapan bibir.


Berkali-kali aku memanggilnya dengan sinyal yang seperti biasa kugunakan. Aku sudah memancingnya dengan ikan segar. Namun, Zeeba tak kian muncul.


"Zeeba ...!" teriakku untuk menghilangkan rasa penat ini.


Aku duduk bersimpuh di pinggir Pantai Tablolong, dengan iringan ombak yang menyapu jari-jemariku.


Tak jauh dari tempat aku duduk, terlihat seorang lelaki sedang berusaha untuk menyingkirkan batang pohon yang tumbang karna hujan deras yang berlangsung malam hari tadi. Dan betapa terkejutnya diriku setelah melihat apa yang ditimpa oleh sebatang pohon yang tumbang tadi.


Tak habis fikir, aku segera berlari menuju lelaki itu. Tak peduli betapa berat batang pohon ini, aku harus berusaha menyelamatkan seekor Zeeba yang malang.


"Zeeba, bangun! Apakah kau juga akan meninggalkanku setelah ayah meninggalkanku 5 tahun yang lalu" Linangan air mata tak bisa kubendung. Aku gagal dalam menjalankan amanat dari ayah untuk melindungi Zeeba.


"Sudahlah,njangan menangis! Biarkan Zeeba tenang. Dan tak ada yang perlu disalahkan. Ini bukan salah mu dan juga bukan kesalahan Zeeba, ini takdir Yang Maha Kuasa" Lelaki itu berusaha menenangkanku, yang tak lain dia adalah Aslan.


"Tak selamanya kita hidup dengan orang yang kita sayangi. Dan tak selamanya kita terus berada setiap saat disampingnya. Adakalanya kita hidup sendiri! Jangan lah terlalu mencintai sesuatu dan jangan pula terlalu membencinya. Dengan terlalu mencintainya mungkin telah membawamu ke satu langkah untuk menjadikan dia seorang musuh bagimu. Dan dengan terlalu membencinya, mungkin itu langkah yang membawamu untuk selalu mengingatnya bahkan menjadikannya sebagai seseorang yang sangat kau butuhkan" Seraya laki laki itu berkata sembari menatap pantai yang berada di hadapan kami.


"Lebih baik diam, jika tak mengetahui apapun tentang hidupku," celetukku, lalu aku berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari tempat ini.


Perkataan laki-laki itu memang benar, lalu mengapa aku harus marah dan pergi meninggalkannya. Bahkan, laki-laki itu sudah berusaha untuk membantuku untuk menyingkirkan batang pohon tadi.