
Sayup-sayup lantunan ayat Al-Quran terdengar di telingaku. Sementara, mataku yang masih mengatup memaksa untuk membuka. Tak sadar, aku tertidur diatas meja yang penuh dengan lembaran-lembaran kertas. "Ingin lembur bekerja, tapi malah ketiduran!" gumamku.
Suara itu masih terdengar jelas di telingaku. Aku berusaha mencari sumber suara. Tak ada ruangan lain. Aku hanya berada di bawah ruangan kecil yang berbentuk segi empat. Tapi, mengapa rasanya, suara itu sangat dekat.
Dan surah yang dilantunkannya, sama seperti surah yang dilantunkan Tamis kala itu. Begitu juga kemiripan suara. Tamislah pemilik suara ini.
Aku tetap mencari sumbernya. Tak sia-sia, aku melihat Tamis yang sedang khusyuk membaca Al-Quran.
Tamis menatapku yang telah lama berdiri di hadapannya. "Apa yang sedang kau lihat? Apakah itu aku?" tanyanya.
""Gak, aku sedang mencari barangmu yang hilang," jawabku dengan alasan.
Tamis berjalan mendekatiku, lalu membungkukkan badan dan memungut sesuatu dari bawah kakiku. "Sepertinya, kau memang kehilangan barang. Tapi, kau tak menyadari bahwa barang itu benar-benar tidak hilang. Sampai kau tak melihat barang itu ada di sekitarmu."
Bibirku terbungkam, lalu mengambil barang itu.
"Syukurlah, barangmu sudah ditemukan. Sekarang, makanlah! ini sarapanmu!"
"Terimakasih, aku akan memakannya nanti." Aku membalasnya.
Tamis mengangguk-anggukan kepalanya. "Baiklah, aku keluar dulu."
"Tunggu!" jeritku menghentikan langkahnya. Tamis memalingkan wajahnya dan menatapku.
"Kenapa kau membaca Al-Quran? Bukankah selama ini kau tidak beragama Islam?" tanyaku dengan ragu-ragu.
Tamis tergelak dengan tawa kecil. "Allahu a'lam!"
Dia pergi meninggalkan laboratorium teknologi ini.
🥰
Â
Hari ini, Tamis ingin membawaku ke perusahaan. Dia bilang ingin menunjukan satu mesin yang baru saja hadir, dan segera bersiap untuk menyapa dunia milenial.
Dengan kehadiran mesin ini, perusahan Tgroup of technology dapat menduduki tingkat kedua di lapangan keteknologian.
Perusahaan akan mengadakan pameran untuk menyambut alat ini. Tepatnya, pameran itu akan diadakan pagi ini juga.
Tamis menambah kecepatan mobilnya. "Kita tidak boleh terlambat!" serunya.
"Kenapa? Apakah kau yang akan mengisi acara pameran ini?" tanyaku.
"Bukan aku, tapi kamu!" jawabnya.
Aku kaget mendengar jawaban itu. "Kenapa jadi aku yang mengisi acara ini? Aku belum pernah melihat alat ini. Jenisnya saja aku tak tau. Apa namanya juga aku tak tau. Bagaimana bisa aku melakukan persentase ini, sedangkan bukan aku penciptanya," sanggahku, " perintahkan saja orang yang telah membuat alat ini. Kau pasti mengenalnya." lanjutku.
"Baiklah, tadinya aku mengira kamu akan sangat bersedia membantuku. Tapi, ya sudahlah! Aku akan mencari orang lain saja," ucapnya dengan penuh kekecewaan.
"Tidak, tidak! Tidak usah mencari orang lain! Aku sudah bersedia untuk mempertasekan mesin ini." Dengan cepat aku menepis kekecewaannya.
Rasanya, hatiku tak sanggup untuk menghancurkan hatinya. Apalagi dengan membuatnya kecewa.
"Terimakasih!" ucapnya dengan senyum kecil yang tampak sinis.