UHIBBUKA FUKUOKA

UHIBBUKA FUKUOKA
Nyonya Marzia Shaqeena Mahren



Aku sangat tertarik dengan dosen yang mengajar di kelasku kemarin. Aku berusaha mencari info tentangnya. Alhasil, aku mendapatkan alamat rumahnya.


Hari ini, tak ada kelas di kampus. Waktu kosong ini sangat berguna bagiku. Aku segera pergi ke alamat yang kutuju. Lumayan jauh dari rumahku.


Tak masalah, walaupun jauh. Aku benar-benar sangat ingin berkenalan lebih jauh lagi dengan dosen hebat itu.


Perjalanan yang sangat panjang. Akhirnya, aku mendapatkan alamat yang kucari-cari. Tapi, rumah yang mana yang ditinggali oleh beliau. Mungkin, ini akan menjadi bagian tersulit.


Apakah harus mengetuk satu per satu pintu rumah yang ada di alamat ini?


Yang benar saja?


Mataku berbinar, inilah yang dikatakan pucuk dicinta ulam pun tiba.


Sangat kebetulan, Nyonya Marzia baru saja turun dari sebuah mobil. Sepertinya, beliau baru selesai berbelanja.


Langkah kakiku segera mengejarnya.


"Madam!" panggilku.


Beliau menoleh ke arahku. Aku segera mengalaminya, mencium punggung tangannya.


"Sorry to bother you, Madam. I am very happy to meet Madam. Actually, I deliberately looked for Madam! (Maaf mengganggu anda nyonya. Saya sangat senang bisa bertemu Nyonya. Sebenarnya, saya sengaja mencari nyonya)" ujarku malu.


"Saya juga sangat senang bertemu dengan kamu, gadis cantik yang memiliki semangat yang luar biasa!" pujinya untuk diriku.


Betapa terkejutnya diriku, beliau bisa berbahasa tanah kelahiranku, Bahasa Indonesia.


"Madam bisa berbahasa Indonesia?" tanyaku terheran-heran.


"Alhamdulillah, saya bisa tapi tidak terlalu lancar! Dan saya tau kamu mahasiswi asli Indonesia. Meskipun, data universitas menunjukkan bahwa kamu berasal dari Fukuoka," ujarnya. Kami berbincang-bincang sambil berjalan menuju rumah beliau.


"Bagaimana madam bisa tau?" Tanyaku penasaran.


Beliau tertawa kecil. "Saya hanya menebaknya. Karena saya adalah gadis asli Fukuoka. Banyak remaja sepertimu yang menuntut ilmu Berbau teknologi di Jepang. Sahabat saya adalah salah satunya," jelasnya.


"Tapi, saya bukan mahasiswi dari Fukuoka. Saya hanya berpindah rumah saja ke Fukuoka!" sanggahku.


"Saya kira kamu mahasiswi pindahan dari universitas ternama. Kalau tidak salah, FIT University," ujarnya menebak.


"Disinilah saya pertama kali kuliah, di Jerman. Tapi, saya pernah mengajar di FIT university beberapa bulan," ujarku berkisah.


"Mengajar? Kau pernah menjadi dosen diisana?" Beliau bertanya seakan-akan aku berbohong.


"Saya juga tidak tau, Madam! Semua pasti akan mengira kalau saya telah berbohong. Saya juga tidak percaya. Gadis biasa yang tak berpengetahuan seperti saya mana mungkin menjadi salah satu dosen di universitas ternama seperti itu. Tapi, saya juga tidak tau apa alasan atas penerimaan saya sebagai dosen," jelasku.


Berjalan sambil berbincang memang sangat ampuh menghilangkan kesadaran.


Kami telah sampai di rumah beliau. Rumah yang sangat sederhana.


"Kita lanjutkan di dalam saja pembicaraan kita!" ucapnya.


"Siap, Madam!"


Ini pertama kalinya, awal mula kisah cinta kami terulang kembali. Menyemai, merekah, lalu tumbuh.


Rumah ini, aku tak tau apa yang ada dibaliknya.


Banyak bingkai yang tergantung menghiasi tiap sisi rumah. Kenangan tersimpan rapi di foto ini.


Aku bisa merasakan kenangan indah yang berakhir suram.


Aku melirik satu per satu orang yang berada dalam foto ini. Kulihat, anak lelaki tersenyum lepas di foto ini.


Tapi, Kenapa setiap kali aku melihatnya terlintas bayangan di kepalaku. Wajah yang selalu berbayang di hati dan pikiranku.


"Ini anak saya! Saya sengaja meninggalkannya," ujarnya.


"Kenapa madam meninggalkannya?" Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


"Saya sudah menduga pasti kamu akan bertanya tentang hal itu!" ucapnya.


Aku tersenyum malu.


"Banyak orang mengatakan, 'Jangan telalu percaya dengan orang lain, jangan mudah-mudah menceritakan urusan pribadimu pada orang lain' Tapi, Saya sangat percaya padamu. Saya juga butuh teman untuk membagi masalah hidup saya. Saya juga sudah menganggap kamu seperti putri kecil saya sendiri," ujarnya.


"Tapi, bagaimanapun juga ... saya adalah orang asing, nyonya!"


"Tak perlu sungkan! Kamu boleh bermain kesini kapan saja!" ujarnya.


"Terimakasih, Madam!"


Tak lama, beliau mengambil sesuatu dari kamarnya.


"Buku ini menyimpan ribuan rahasia hidup saya! Kamu boleh membacanya. Sepertinya, untuk menceritakannya aku sudah tidak sanggup. Setiap kali kuulang masa lalu itu, maka sayatan luka itu akan menimbulkan perih yang sangat dahsyat," jelasnya.


"Ribuan rahasia? Saya boleh mengetahuinya?" tanyaku tak percaya.


Nyonya Marzia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Terimakasih, nyonya!" ucapku senang.


"Sama-sama!" balasnya, "oh ya, kamu datang kesini mau apa? Ada hal apa? Apakah ada pelajaran yang belum dimengerti?" tanyanya.


"Tidak, madam! Saya hanya ingin lebih dekat dengan madam. Saya juga tertarik dengan kisah yang selalu madam ceritakan di kampus!" ujarku.


"Saya sangat suka dengan mahasiswi seperti kamu! Jarang ada mahasiswa yang tertarik dengan dosen. Mereka lebih banyak membenci!" pujinya padaku.


"Tapi menurut saya, mereka tidak membenci hanya saja terlalu kesal," sanggahku.


"Ya, kamu benar!" ucapnya, "saya baru teringat, kita sudah berbincang lama, tapi saya belum tau nama kamu!"


"Oh maaf, madam! Nama saya Fustuq Chahera, madam!" jawabku.


"Oh, Fustuq!" ujarnya, "Kamu bisa masak gak?"


"Bisa, madam! Tapi, hanya bisa memasak masakan khas Indonesia!" jawabku.


"Wah, kebetulan sekali! Saya lagi kepingin masakan khas Indonesia," ujarnya, "bantuin madam masak ya!" pintanya.


"Siap, madam! Fustuq siap ngelakuin semua yang madam inginkan!" ucapku dengan semangat.


Aku merasa memiliki keluarga baru. Bisa tersenyum riang di negri orang. Aku sangat senang. Aku jadi rindu Fukuoka.