
"Apa?" Aku kagetku setelah mengetahui proyek apa yang sebenarnya akan diselesaikan.
Aku menyanggahnya. "Kamu yakin, tidak mau mengganti proyek ini?"
"Tidak!" Tamis menjawab lantang. Seperti yang kalian tau, bahwa Tamis adalah pria dingin berkepala batu.
"Tapi, mesin ini sangat berbahaya. Hanya sedikit mudharat yang dapat diambil dari mesin ini. Lebih baik, kita batalkan saja proyek ini atau menggantinya dengan yang lain. Lagipula, alat ini terlalu sulit untuk diciptakan. Pengetahuanku juga belum–"
Tamis memotong ocehanku. "Aku akan tetap melanjutkan proyek ini!"
Pria ini bersikeras dengan keputusannya.
Kuhela nafas dengan malas, " Baiklah! Aku akan menyelesaikan proyek ini semampuku."
"Karena kau sudah menyetujuinya, maka kita akan bekerja disini. Waktu untuk menyelesaikan proyek ini tak lama, hanya 3 minggu. Itu target yang telah kubuat. Lagipula, sebentar lagi kau juga akan mengakhiri pendidikan beasiswamu di negri ini. Sekaligus, mungkin ini akan menjadi kerjasama antara kita yang terakhir," ujarnya.
"Yasudah, kalau begitu kita mulai saja di detik ini juga!" pintaku.
Aku harap mesin ini bisa segera hadir di mata para remaja milenial. Agar aku bisa terlepas dari genggaman perusahaan ini.
🥰
Mataku enggan mengatup. Tanganku masih bermain dengan alat-alat teknologi. Pikiran ku masih terus berjalan untuk membentuk rumus-rumus penting. Kini aku berada dalam fokus tingkat tinggi. Sementara, jarum jam telah menunjukkan pukul 11: 56, menunggu 4 menit lagi, hari akan berganti.
Tamis menghampiriku. "Pulanglah! Ini sudah larut malam."
Aku tak bisa mendengarkannya, kefokusanku telah menyumbat gendang telingaku.
Tak ada jawaban untuk menyapu pertanyaan nya.
"Jangan memaksakan dirimu! Aku tak ingin kau tersiksa karena proyek ini!"
Namun, tak ada jawaban yang keluar dari bibirku untuk menanggapi ucapan pria ini.
"Apakah kau ingin menghukumku dengan kemarahanmu? Dan harus mendiamiku seperti ini! Aku mohon, berbicaralah! Aku takkan membiarkan mu jatuh sakit karena kelelahan. Pulanglah! Lalu tidurlah! Pikiran dan tubuhmu juga butuh istirahat," ocehnya.
Kali ini, dia berhasil menarik pandanganku dengan ocehan manisnya.
Kutatap mata sendunya. Menatap dengan tatapan sangat dalam.
"Biarkan aku memanjangkan waktu malamku untuk membantumu. Biarkan aku menghabiskan hari-hariku untuk membuatmu tersenyum nanti. Biarkan aku meninggalkanmu dengan kenangan terindah. Biarkan aku meluapkan cinta dalam diam di momen seperti ini. Biarkan tiap tetes keringat menjadi saksi bisu kebersamaan kita dalam menciptakan alat ini," ujar batinku.
Kini, aku menatapnya lebih dalam. " Aku harap kau bisa mendengar batinku berkata."
"Apakah kau benar-benar marah padaku?"
Pertanyaannya membuyarkan lamunanku.
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Aku mohon, tinggalkan aku ditempat ini sendiri! Dan aku akan tidur disini malam ini."
"Aku gak mungkin biarkan kamu tidur disini. Tak ada kasur diruangan ini. Dimana kau akan tidur? Kau pasti akan kedinginan. Pulanglah! Aku akan mengantarkanmu ke apartemen."sanggahnya.
Tapi, kali ini aku takkan membiarkan nya menang begitu saja.
"Aku masih bisa tidur dilantai, kardus diruangan ini cukup banyak. Aku bisa menggunakan sedikir untuk alas tidurku."
"Baiklah! Kalau begitu, aku tidak akan tidur," ujarku lagi. "Aku akan menghabiskan malam yang panjang hanya dengan bekerja."
"Secepat itukah kau ingin meninggalkanku? Dengan bekerja seharian penuh, dan dapat menyelesaikan mesin ini dalam waktu yang lebih singkat." Raut wajahnya berubah murung.
"Bukan, bukan begitu maksudku! Hatiku sedang hancur. Jadi, aku ingin mengobatinya hanya dengan lembur kerja." Dengan cepat aku menyanggah pernyataannya.
Tapi, mengapa dia harus bersedih? Bukankah Jeean telah kembali untuknya? Seharusnya, Tamis merasa sangat bahagia. Karena mereka dapat membangun cintanya yang pernah roboh.
"Kerja lembur tak bisa mengobati hati yang terluka. Jadi, tak ada gunanya kau melakukan itu. Karena dengan itu, kau hanya menyiksa dirimu!"
"Tapi, bukankah kau juga mengobati hatimu yang terluka dengan terus-terusan bekerja? Bukankah yang kau lakukan lebih sadis?" sanggahku.
" Mungkin, aku tak perlu menjelaskan perihal ini lagi padamu."
"Baiklah!" jawabku singkat mematuhinya.
"Emm, apakah tujuan proyek mesin pemghapus memori ini bersangkutan dengan masa lalumu?" tanyaku gugup.
Tamis menjauhiku lalu bersandar di jendela sembari menatap langit yang masih bertaburan bintang.
"Ya, kamu benar! Masa lalu terlalu suram untuk diingat. Sampai-sampai aku takut untuk membuka lembaran-lembaran itu lagi. Bertahun-tahun aku menunggu seseorang. Seseorang yang bisa menghangatkanku. Aku terlalu dingin. Ketika aku telah menemukannya, dia kembali memaksaku untuk membuka lembaran yang suram itu. Mungkin, dengan alat ini kami bisa mencari kehidupan yang baru. Itulah tujuanku menghadirkan alat ini," jelasnya.
Aku menghampirinya, lalu berhenti tepat dibelakangnya. "Apakah kau akan menghapus memorimu tentangnya?"
Tamis menghela nafasnya. Lalu berkata, " Aku tidak benar-benar ingin menghapusnya. Namun, hatiku sudah lama membeku karenanya. Saat ini, aku telah menemukan seseorang yang dapat menghangatkanku."
Pria ini memalingkan wajahnya dan menatapku. Pandangan kami bertemu untuk kedua kalinya. Lagi-lagi, jantungku berdetak kencang.
Batinku berkata, "Bolehkah aku yang menjadi penghangatmu dalam kedinginan?"
"Tidak, tidak!" sadarku, "Jangan terperdaya dengan ucapan pria. Dia hanya ingin membuatku melayang tinggi kelangit setelah mendengar kata-kata manisnya." ujar batinku sembari mengalihkan pandangan darinya.
"O" jawabku singkat.
"Eemm, sudahlah tak perlu dilanjutkan! Aku tak ingin mencampuri urusan pribadimu."
Dengan segera, aku melanjutkan pekerjaanku. Tak memperdulikan perintahnya.
Aku akan tetap tinggal dan tidur disini. Sesegera mungkin menyelesaikan proyek ini.
"Seperti perintahku, pergilah! pekerjaanmu bisa dilanjutkan besok." Tamis tetap saja menyuruhku untuk meninggalkan ruangan ini.
"Baiklah, aku akan pergi," kataku. Lalu kembali duduk ke meja kerjaku. Melanjutkan pekerjaanku kembali.
Pria ini semakin terheran-heran melihat kelakuanku. "Apa lagi yang kau lakukan? Pulanglah kerumahmu!"
Aku membalasnya dengan tatapan sinis. "Aku akan pulang, tapi setelah mesin ini selesai!" seruku.
"Oke, jika itu yang kau mau!" balasnya, " kita akan bekerja dimalam yang panjang ini." sambungnya dan kembali ke posisi kerjanya.
Aku tak membalas satu katapun dari ucapannya. Kupalingkan wajahku, melihatnya yang sedang fokus melakukan pekerjaannya.
Tetes demi tetes air mata terjatuh membasahi hamparan pipi merahku. "Maaf, Tamis! Biarkan aku melakukan apa yang ada di dalam hatiku. Walaupun harus menyiksa diri dan menyakiti hatiku sendiri. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Menjauhimu mungkin itu lebih baik. Aku tau, cintamu pada Nyonya Jeean lebih besar dari pada cinta yang kumiliki untukmu. Aku hanya ingin kau bahagia. Setelah mesin ini selesai, aku akan pergi sejauh mungkin darimu. Kuharap kau tak mengingatku lagi. Lalu bahagialah bersamanya!"
Rasanya sangat perih untuk melakukan semua ini. Tapi, aku yakin, kepedihan ini akan segera terobati setelah aku pergi menjauh darinya.