
"Aku merindukan seseorang, mengapa dia tak muncul di hadapan ku? Aku menunggunya sebelum mentari menyinari penjuru dunia. Mengapa aku berharap dia akan menemuiku? Owh...Aslan mengapa kau menghantui pikiranku?" Hati ini seakan berkata dalam lamunan.
....
"Cheara! Cheara!" teriakan itu membuyarkan lamunan senjaku. Yang tak lain dan tak bukan ini adalah suara ibu.
Aku segera beranjak dari salah satu anak tangga, bergegas masuk ke dalam rumah dan menemui ibu di kamarnya.
"Iya, bu. Sebentar, Bu! Aira datang," teriakku membalas panggilan Ibu.
Kulangkahkan kakiku menghampiri ibu yang berada didalam kamarnya.
"Cheara, lihat kemari, nak!" Ibu menarik tubuhku agar lebih mendekat padanya. Lalu mengacungkan telunjuknya ke salah satu bacaan di sebuah majalah harian yang biasa ibu dapatkan dari pasar.
"Let's take part in the Fukuoka Institute of Technology scholarship selection on 22nd of march 2020." Bibirku membaca tulisan yang terhampar diatas selembaran kertas dalam majalah itu.
Aku menarik nafas sedalam-dalamnya lalu menghempaskannya dengan malas.
"Ibu, bagaimana bisa aku mengikuti seleksi beasiswa itu. Sementara aku tak memiliki pengetahuan apapun tentang teknologi, Kalau begitu, sama saja deng ...," ucapku kesal dengan diriku sendiri. Belum sempat aku menyempurnakan perkataanku, ibu langsung memotongnya dengan lembut.
"Semuanya ada disini!" Ibu meletakkan salah satu telapak tangannya diatas dadaku.
"Allah akan mengirimkan pertolongan melalui ini," sambungnya untuk meyakinkanku.
"Yakinlah, ibu setia memberikan dorongan padamu!" Kini ibu memindahkan telapak tangannya keatas pundakku.
Diriku tak sanggup untuk menahan keharuan ini. Kutumpahkan semua air mata ini dalam pelukan ibu.
"Cheara belum bisa memutuskan semua ini, bu! Cheara butuh waktu." Aku pergi meninggalkan ibu dan terus berlari menyisiri pesisir Pantai Tablolong. Terus berlari,terus berlari tak tentu arah hingga aku terjatuh.
Sungguh sakit rasanya,aku tak boleh kalah melawan rasa sakit ini,lututku berhujankan darah. Dikala aku bangkit dari keperihan luka ini,betapa terkejutnya diriku. Aku melihat sosok yang selalu dalam kerinduanku,yang selalu merajai hatiku. Kini dia kaku tak berdarah. Beku bak balok es.Rasa sakit ini hilang seketika. Aku berusaha untuk menggapainya,meskipun harus menyeret-nyeret tubuh ini.
"Ayah..." Tanganku mengusap wajah dinginnya. Kerinduan ini membuat tubuhku bergetar tak henti-hentinya.
"Ayah...ayah..! Apakah aku sedang bermimpi?. Siapa yang mengirim ayah?. Apakah Allah memerintahkan air tablolong ini untuk mengantarkan ayah kehadapan Ara?".Aku berusaha memangku tubuh kaku ayah diatas kedua kaki ku. Berkali-kali aku mengecup kening ayah untuk melepaskan kerinduanku yang terkubur 5 tahun lamanya.
"Ayah,berapa lama ayah tertidur dalam selimut kedinginan ini?".Kupeluk ayah dengan erat.
"Kini kesedihan sedang membungkus hati Ara,yah! Ara sedih ketika seseorang yang Ara sayangi pergi meninggalkan Ara tanpa alasan!. Yah,kini putri kecilmu sudah menjadi seorang gadis remaja yang sedang terjebak dalam dilema cinta nya,yah!. Kalau ayah memgetahui itu pasti ayah akan cemburu. Karna putri ayah kini telah membagi cintanya dengan orang lain,cinta itu kini tak seutuhnya milik ayah!". Seolah aku berbicara dengan ayah,dan seolah ayah mendengarkan isi hatiku itu. Dengan curahan hujan air mata yang membasahi pipiku.
"Ayah...ingat tidak? Dulu Ara pernah berjanji bahwa Ara akan menghabiskan seluruh masa hidup Ara di Fukuoka,ya...itu tempat kelahiran ayah,tempat yang selalu dihiasi dengan khas sakura!.
Kupegang kedua tangan ayah,keduanya mengatup. Ayah menggenggam tangannya dengan sangat kuat. Seperti ada yang tersembunyi dibalik genggaman itu.
Aku berusaha melepaskan genggaman itu.Alhasil,genggaman itu tetap berada dalam posisi awalnya. Ayah menggenggamnya begitu kuat,seakan benda yang ada digenggamannya itu benar-benar sangat berharga baginya.
"Auch...." Teriakku kesakitan. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku untuk membukanya,tapi tetap saja tidak bisa.
Hal ini mengingatkanku dengan masa kecilku kala aku berusaha ingin membuka mengeluarkan tanganku yang masuk kedalam mulut botol. Dengan susah payah aku ingin mengeluarkan tanganku,sehingga aku menyerah lalu menangis. Dan aku berfikir bahwa botol itu akan melekat ditanganku seumur hidupku.
Tiba-tiba ayah mendatangiku,lalu meenghapus air mataku.
"Tidak semuanya harus dilakukan dengan kekerasan. Walau tampaknya untuk mendapatkan itu harus menggunakan kekerasan,adakalanya sesuatu membutuhkan kelembutan". Seraya berkata sembari melepaskan botol yang memenjarakan tanganku didalamnya. Tak sedikit pun rasa sakit menyentuh tangan ku,dan tak sedikitpun luka tertinggal di tanganku.
Aku mencoba hal itu sama seperti dulu yang dilakukan ayah. Dengan kelembutan tak ada yang terluka diantara kami.
Perlahan tangannya yang mengatup kini terbuka. Air mataku menitik setelah melihat apa yang ada digenggaman ayah.
"Fustuq chaheha,Cheyra Mauliza Sheefa". Dua kalung yang saling berdekatan dengan nama yang diukir dengan indah dari perak yang masih memancarkan kilau nya.
Aku segera memasukkan ketiga benda ini kedalam saku bajuku.
Ketika itu aku tersentak dari tidurku.
Lagi-lagi bunga tidur ini menghampiriku. Ayah selalu hadir didalamnya. Apakah karena kerinduanku terlalu berat terhadapnya?.
Bagiku dia adalah satu-satunya raja yang telah menaklukkan hatiku. Raja yang menjadi penguasa hati yang begitu rapuh.
...
Dibawah sinar bintang,kubiarkan ombak menyapu jari-jemariku. Aku teringat dengan kalung yang ada didalam mimpiku. Sebenarnya,kalung itu sudah lama diberikan ayah untukku dan untuk Mauli.
"Kalung yang indah!". Ucap seorang lelaki yang tengah berdiri dibelakang ku sambil menatapi cincin itu. Lalu aku berpaling melihat kesumber suara.
Ya... Dia sahabat kecilku,menghilang dari kehidupanku 10 tahun lamanya. Tak tau kemana perginya,dan kini dia berani berdiri dihadapanku tanpa merasa bersalah atas perbuatannya itu.
Dan satu hal yang sangat tak bisa aku lupakan darinya.Nama uniknya yang masih terngiang di telingaku.
Varanus komodoensis,aku merasa geli setelah mendengar namanya.
Kedua orang tuanya memberikan nama itu karena sang ayah sangat gemar memiliki komodo,hehehe...lucu ya.
Untung orangnya gak mirip komodo.
"Kemana aja lo?". Tanyaku sebal.
Lalu lelaki itu menyetarakan posisinya dengan posisiku. Dia menatapku dengan tatapan yang begitu dalam.
"Jangan menatapku seperti itu,ah!". Seruku dengan menyikutnya. Aku jadi tersipu malu dengan kelakuannya.
"Di kedua tatapan itu,ku melihat ada kesedihan yang begitu pedih menyayat-nyayat hati mu. Kau berusaha menguburnya sedalam kau menggali lubang itu". Kata-kata nya terlalu dengan ekspresi wajah yang menjijikkan.
"Gak sia-sia lo belajar Bahasa Indonesia selama ini!".Ejekku sambil menahan tawa ini.
"Kata-kata lo itu udah kayak sastrawan....hahaha seorang pujangga...!!". Ketusku dengan melepaskan tawa yang tak sanggup lagi untuk ditahan.
"Mungkin kepergianku telah merobek-robek hatimu,kesedihanmu terasa dihatiku. Itulah yang membuatku kembali menemuimu!". Gombalnya membuatku semakin tak bisa menahan tawa ini.
"Pede lu..". Ketusku lagi.
"Sedikitpun kepergian lo gak menimbulkan efek samping bagi hidup gue...".Ucapku menyombongkan diri.
"Usst...". Titahnya agar aku tak menyelesaikan perkataanku,dengan meletakkan telunjuknya dihadapan bibirku.
"Sudahlah,Fustuq! Tak usah malu pada Pangeran Varanus Komodoensis!". Sambungnya untuk mengagunggkan dirinya sendiri.
"Pangeran?? Pangeran apaan lo??
Yang ada,lo Pangeran Komodo??". Ejekku lagi dengan menertawakannya.
"Sudah...cukup..cukup!". Aku mencoba memberhentikan suasana ini,sembari memegang perutku yang sakit karena tawa yang terlalu banyak.
Kesedihan ku seakan melayang ke angkasa,terbang bersama tawa.
Varanus,dia tak pernah berubah. Selalu saja membuat perutku sakit karna menahan geli.
Baginya,tak semua orang yang tertawa berarti ia tak punya kesedihan. Sungguh,dibalik tawa ternyata lebih banyak luka.