UHIBBUKA FUKUOKA

UHIBBUKA FUKUOKA
TUAN VARANUS KOMODOENSIS



... Berjanjilah ...


Jangan jatuhkan air matamu lagi


... Berjanjilah ...


...


"Fustuq...!". Terdengar suara bisikan memanggil namaku,suara ini harus bertanggung jawab karena telah membuat tidurku terganggu.


Kubuka mata ini perlahan,mentari seakan tersenyum melihat kehadiranku.Segera aku beranjak dari tempat tidurku.


"Si...si...siapa??, siapa itu??".Dengan gemetaran,aku bertanya-tanya kepada sekelilingku yang hanyalah berupa ruang hampa.


Lalu aku memberanikan diri menuju jendela kamarku yang terbuka. Dengan kesediaan balok ditangan kananku mungkin itu membuatku lebih berani.Kulangkahkan kaki ku perlahan,menuju salah satu jendela kamarku yang terbuka.


"AAAA...". Betapa terkejutnya diriku setelah melihat apa yang tersembunyi dibalik jendela kamarku,aku melihat orang aneh itu lagi.Yah...Kalian bisa menebaknya sebagai seorang Pangeran Komodo. Dengan spontan aku memukulnya dengan balok yang kugenggam erat.


"Aduh...aduh...aduh..". Teriaknya kesakitan.


"Vare...!". Ucapku terkejut,oh ya Vare itu panggilan kecilku untu Si Pangeran Komodo ini alias Varanus Komodoensis.


"Waduh,salah sasaran gue!. Lo ngapain sih dibawah jendela gue?". Ucapku kesal,karna merasa bersalah aku berusaha membantunya untuk bangkit.


"Maap,gue gak tau kalau Si Pangeran Komodo ini yang berada dibawah jendela gue!,lagian lo sih pagi-pagi buta udah ngagetin orang aja!". Cetusku dengan hati dongkol,sembari mengobati luka bekas pukulan tadi.


"Ikut aku,yuk!!". Lelaki ini bertambah aneh ya,masih dalam keadaan luka-luka masih aja memaksaku untuk mengikuti keinginannya.


"Aku mau bawa kamu kesuatu tempat!". Dengan sikap tetap memaksa,dia berusaha menarik tanganku. Dan dengan keadaan terpaksa pula aku mengikuti keinginan bocah aneh ini.


"Mau kemana sih?". Tanyaku dengan rasa penasaran yang memuncak.


Tak berapa lama,mataku terbelalak.


Kini dia membawaku terbang ke masa kecil.


"Sawah ini semakin unik dan indah ya...!". Serunya.


"Sama seperti kamu...!". Sambungnya lagi untuk menggombaliku.


"Owh...Jadi lo samakan gue gitu sama sawah". Jawabku kesal.


"Ya enggak lah..!". Bantahnya untuk menggodaku.


"Auch...".Teriaknya kesakitan memegangi kepala.


"Vare..Lo sakit??".Tanyaku mengkhawatirkannya. Tak ada jawaban dari pertanyaanku,hanya berupa gelengan kepala sebagai respon. Tapi aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku.


Aku segera menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon. Aku segera ingin mencari bantuan,mungkin dengan memanggil orang tuanya. Tapi dia menahanku untuk tetap berada di tempat.


"Jangan! Ini cuman sakit biasa,..!". Dia mencoba untuk meyakinkanku,dan mencoba menutupi rasa sakit yang amat sangat itu. Dia masih tertawa dikala sakit datang menemuinya.


"Apanya yang jangan,lo udah kesakitan gini!". Kataku dan memaksa untuk pergi mencari bantuan.


" Dengan adanya kamu disampingku, ini udah cukup membantuku!". Ini anak masih saja merayuku. Dan aku pun menuruti kemauan sahabatku ini.


Dibawah pohon yang rindang ini kami bernaung. Membuka kisah baru untuk hidup kami. Kami bukanlah seorang Fustuq dan Vare kecil. Kami sudah beranjak dewasa. Dan ingat,tak selamanya kita bisa hidup bersama orang yang kita sayang dan kita cinta,adakalanya kita hidup sendiri.


"Sakit apa sih,Var?". Aku bertanya-tanya penasaran.


"Cuman pening tadi!". Jawabnya sepele.


"Gak usah bohong,Var!, gue sahabat lo. Lo gak bisa bohongin gue! Jelas-jelas gue liat lo kesakitan,beda sama pening!". Kataku untuk membantah ucapannya barusan.


"Sudahlah,lupakan saja!". Seraya berkata mengalihkan topik pembicaraan,lalu beranjak dari posisi duduknya dan menarik tanganku untuk pergi dari naungan pohon rindang ini.


"Maafin gue,Fustuq! Gue harus bohongin lo. Cukup gue yang menahan sakit ini. Lo gak perlu tau. Gue gak mau setelah lo tau tentang penyakit gue,lo jauhin gue untuk selamanya!". Ucap batin Pangeran Komodo itu,sembari menyelusuri jalan bersamaku menuju Sawah Lingko.


...


"Sekarang,ayo berjuang menuju titik tengah Sawah Lingko!". Tantangnya untuk menguji kemampuanku,karna untuk menuju titik tengah itu kami harus melewati berbagai rintangan yang pastinya membutuhkan nyali yang kuat. Dia bersemangat sekali,seakan hidupnya selalu penuh dengan kebahagiaan.


"Ayok..!Gue gak takut dengan tantangan lo yang murah itu". Seruku menerima tantangannya dengan wajah sombong.


"Yap,siapa diantara kita yang kalah dalam pertandingan ini,akan mendapat hukuman yang akan ditentukan oleh si pemenang! Gimana,setuju???".Katanya lagi dengan ekspresi menantang.


"Oke! Gue setuju! Gue terima tantangan lo".Jawabku dengan lantang.


Kami pun segera menyiapkan posisi masing-masing. Pertandingan akan dimulai setelah angka 3.


"SATU".Teriaknya.


"DUA".Sambungku


"TIGA". Teriak kami serempak, dengan sekencang mungkin kami berlari untuk mencapai titik tengah Sawah Lingko tersebut.


Sudah hampir sampai,aku yakin aku bisa lebih dulu mencapai titik tengah sawah lingko itu.


"Aaa..aaa...".Teriakku.


"Bruk". Tubuhku remuk setelah menabrak seseorang yang tak terlihat karna terlalu fokus untuk memenangkan pertandingan ini dari Si Pangeran Komodo itu.


Tiba-tiba,uluran tangan menyambutku. Masih kutatapi uluran tangan itu tanpa melihat pemiliknya. Aku menerima uluran itu,lalu berdiri tepat dihadapan pemiliknya.


"Aslan!". Bibir ini berucap tanpa kesadaran.


"Fustuq!". Balasnya dengan senyuman.


"Ngapain disini?". Tanyaku gugup.


"Oh ya,Maaf!. Ada yang sakit gak?".Suaranya membuyarkan lamunanku.


"Enggak..gak ada!". Jawabku bertambah gugup.


"Oh Tuhan,kenapa aku jadi gemeteran gini ya?".Batinku berkata.


"Boleh gak,temenin aku mengitari Sawah Lingko ini?".Pintanya padaku sampai aku lupa apa tujuanku di Sawah Lingko ini.


"Waduh,mau jawab apa ya?,aku masih ada pertandingan lagian sama Si Pangeran Komodo". Batinku bertanya-tanya kebingungan.


"Bo..bo..boleh!". Jawabku bimbang,masih memikirkan pertandinganku dengan Si Pangeran Komodo.


"Yuk..". Ajaknya sembari menyuruhku untuk jalan lebih dulu.


"Eemm,aku boleh nanyak sesuatu gak?". Tanyaku ragu.


"Tentu saja,boleh!. Kenapa tidak?,katakan!". Dia bersemangat mendengarkan pertanyaanku.


"Dua hari yang lalu,aku bertemu seseorang yang mirip sekali denganmu. Tak ada perbedaan diantara kalian,kecuali bahasa.


Apakah kau ada hubungannya dengan lelaki itu?". Aku mulai merangkai pernyataan atas apa yang telah aku lihat,dan aku rasakan. Sementara kami tetap meneruskan langkah mengitari Sawah Lingko ini.


"Bagaimana bisa kakak ada disini??". Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulutnya tanpa kesadaran.


"Kakak??". Betapa terkejutnya aku ketika ia mengucapkan kata "kakak".


"Ayah dan ibuku berpisah sejak 11 tahun yang lalu,kala itu aku dan kakakku berumur 6 tahun. Tak hanya aku dan kakakku,aku juga punya seorang adik perempuan,kala itu adikku masih membutuhkan ASI dari ibu,namun harus bagaimanapun Ayah masih mempunyai tanggungjawab atas adik perempuanku.Ayah dan Ibu berpisah karena perbedaan agama. Perpisahan itu tak berasal dari keinginan mereka,melainkan Ayah dari pihak ibuku tidak merestui hubungan ini jikalau ayah tak mau merubah aqidahnya. Ayah takkan pernah melepaskan aqidahnya,ibu dia sendiri menyerahkan diri untuk ikut kedalam aqidah ayah. Dan kala itu,kakekku dari pihak ibu sangatlah marah. Kakekku memaksa ayah untuk melepaskan ibuku. Ayah mematuhi perintah itu demi menjaga kedamaian diantara keluarganya dan keluarga ibuku.Semenjak perpisahan itu kakek ingin membawa aku dan kakekku. Namun ayah tak membiarkan kakekku untuk membawa keduanya. Ayah membawa salah satu dari kami,ketika itu ayah ingin membawa kakakku dengan alasan kelak nanti dia akan membimbingku menuju aqidah yang benar. Namun kakek tak membiarkannya. Sementara ibuku,kakek menahannya di sebuah ruangan gelap. Ibuku menangis setiap harinya,kala itu aku tak bisa menjadi seseorang yang menghapus air matanya. Sejak hari itu hingga sekarang,aku tak pernah melihat mata indahnya". Lelaki ini berkisah dihadapanku dengan kerinduan mendalam kepada ibunya.


Aku bisa merasakan kerinduan itu,karna aku juga memiliki rasa rindu yang mendalam kepada ayahku.


"Dimana kau bertemu kakakku?". Betapa gembira dirinya karena dia mengetahui ternyata kakaknya berada disekitarnya.


"Tepat ketika aku bertemu kamu di Kelabba Maja kemarin. Sebelumnya aku bertemu dengannya!". Jawabku.


"Mungkin Allah telah menetapkan hari yang tepat untuk mempertemukan kami lagi". Ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Maafin aku ya...! Aku gak bermaksud mengingatkan kamu tentang masa lalumu,dan aku gak bermaksud untuk buat kamu sedih!". Rasa bersalahku timbul seketika. Aku tau betapa sedih hatinya.


Akupun mencoba untuk merubah suasana yang ada agar menjadi lebih baik lagi.


...


Sementara dengan Vare,aku mengira dia telah mencapai titik tengah Sawah Lingko. Tetapi nyatanya,dia terjebak dalam dilema Sawah Lingko.


Vare memberhentikan langkahnya ketika melihat kilauan yang menyilaukan pandangannya. Lalu dia mendekati benda itu,tak lain tak bukan ini adalah sebuah cicin emas. Dia tak pernah melihat cincin yang kilaunya terpancar indah seperti ini. Dia mengambil cincin itu,lalu melihat sekitar Sawah lingko. Mungkin saja pemiliknya sedang mencari barang berharga ini.


Dia membalikkan tubuhnya dari sisi ke sisi,sehingga matanya menemukan seorang bidadari. Matanya terbelalak


"Mungkinkah barang indah ini milik seorang bidadari indah itu!".Batinnya bertanya-tanya takjub.


"SubhanAllah,Bidadari dari surga yang mana yang Engkau kirimkan padaku pagi ini ?".Bibirnya mengeluarkan pujian terhadap wanita yang sedang berjalan menyusuri Sawah Lingko. Kelihatannya dia sedang kehilangan sesuatu.


Wanita bak bidadari yang dikirim dari surga. Indah ...sangat indah.Matanya bak permata keemasan. Mungkin mata ini tak sanggup untuk menatapnya. Jilbab yang terurai hingga keujung jemarinya,membuat mata dan hati sejuk terhanyut dalam memandangnya. Karna keindahannya,ia tak mau membuat lelaki lelaki yang berada disekitarnya bergulatkan dosa,ia tak mau menimbulkan berbagai fitnah yang menghujam dirinya.


Ia tutupi wajah indahnya dengan sehelai kain. Walau begitu,sinar diwajah tetap saja menembusnya. Sinar yang takkan sirna,selagi ia tetap berada dalam keistiqomahan. Ya...kamu bisa menebaknya. Dia wanita yang mengenakan cadar.


Langkah ini semakin dekat dengan bidadari ini. Tak sanggup rasanya ingin bertatapan dengan kedua mata keemasannya itu.


"Apakah kau kehilangan sesuatu?". Suara itu mengejutkan wanita ini. Dia memundurkan langkahnya. Langkah demi langkah,dia menjauhi Vare. Namun Vare tetap berdiam ditempatnya. Dia tau wanita ini sangat terhormat,patut untuk disegani.


"Maaf,aku telah mengejutkan mu!".Vare mengangkat suaranya lagi dan membuat wanita itu memberhentikan langkahnya.


"Aku tak bermaksud mengejutkanmu,aku hanya ingin membantumu". Vare berusaha meyakinkan wanita itu.


"Aku kehilangan sebuah cincin emas di sekitar sawah ini". Suara lembutnya keluar bak kapas sutera yang belum pernah tersentuh. Akhirnya,Jawaban yang ditunggu-tunggu meluncur dari bibir nya.


"Apakah ini milikmu?". Tanya Vare sembari memperlihatkan cincin tersebut kepada wanita ini.


"Benar,ini milikku!". Jawabnya dengan mata yang berbinar,bukti bahwa barang ini adalah barang yang sangat berharga baginya.


"Dimana kau menemukannya?". Tanyanya padaku untuk meyakinkan bahwa cincin ini benar-benar miliknya.


"Aku menemukannya di dua pematang setelah pematang ini". Jawab Vare dengan senyuman sembari mengacungkan telunjuknya ke tempat dimana ia menemukan cincin itu.


"Ambillah". Vare menyerahkan cincin itu kehadapan wanita itu.


"Bisakah kau menolongku?". Bukannya mengambil cincin tersebut. Dia malah meminta tolong.


"Letakkanlah cincin itu diatas hamparan telapak tanganku,bisakah kau tak menyentuhku sedikitpun?. Betapa terkejutnya lelaki ini,sungguh mulia akhlak wanita yang ia temui ini. Dia sangat menjaga kehormatannya sebagai wanita. Dia juga tak menjatuhkan harga diri Sang Pangeran Komodo ini sebagai seorang lelaki,bahkan dia menyelamatkan lelaki ini dari kecaman dosa.


"Baiklah,jika itu yang terbaik". Vare mulai meletakkan cincin itu dengan perlahan,takkan dibiarkannya tangannya ini menyentuh wanita ini.


"Terimakasih banyak telah mempertemukanku dengan benda ini lagi!". Ucap wanita ini setelah Vare meletakkan cincin ini di telapak tangannya.


"Bagaimana bisa barang ini menjadi sangat berharga dihidupmu?". Tanyaku dengan penuh rasa penasaran. Tak berapa lama setelah Vare melontarkan pertanyaan itu,raut wajahnya seperti diselimuti kesedihan yang mendalam.


"Maaf,aku permisi dulu!,saudara ku telah lama menungguku,sekali lagi terimakasih atas bantuanmu". Dia tak merespon pertanyaan yang dilontarkan Vare,bahkan wanita itu langsung beranjak pergi dari tempatnya.


"Sa..." . Belum sempat Vare menyampaikan balas terimakasihnya. Wanita itu langsung meninggalkannya dengan kata"Assalamualaikum".


"Hey, nama kamu siapa? Kita belum kenalan". Teriak Vare ketika wanita itu sudah berjarak cukup jauh darinya. Tak disangka wanita itu memalingkan wajahnya ketika mendengarkan teriakan itu,namun tak ada jawaban sedikitpun.


Namun tak mengapa,bagi Vare pertemuan ini cukup sebagai dasar untuk mengenalinya lebih dalam.


Langkahnya membuat jarak mereka(Vare dan wanita itu)semakin jauh,hingga wanita itu hilang hanyut dalam pandangan Vare.