
Fukuoka terindah, aku datang.
Sesuai dengan janji ayah. Bahwa kami akan tinggal di Fukuoka.
Sudah dua bulan kami menetap di Fukuoka. Aku juga sudah mulai bekerja sebagai dosen di FIT university.
Orang-orang disini sangat akrab denganku. Padahal, ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di atas tanah Fukuoka.
Terutama pemilik universitas ini. Dia sangat ingin aku melakukan wisuda.
Aku masih ingat dengan jelas, pertama kali aku melamar kerja disini didampingi ayah.
Pemilik universitas ini langsung menerimaku tanpa syarat. Dia juga banyak memujiku. Bahkan, hari ini aku akan wisuda. Tak tau kapan aku memasuki jenjang perkuliahan. Tiba-tiba sudah berada diatas podium dengan memakai baju toga.
Tak hanya itu, aku juga dijuluki sebagai Mrs. Technology di universitas ini.
Mungkin saja, kehormatan ini kudapat karena ayahku. Ayahku, adalah ilmuwan hebat yang terlahir dari rahim Fukuoka. Siapa yang tak mengenalnya.
"Good morning, Mrs! You like so beautiful in white!(Selamat pagi, Bu! Bu, kamu terlihat cantik dengan warna putih!)" puji seorang mahasiswi di sini karena aku sangat suka memakai pakaian berwarna putih.
Entah kenapa, putih itu sangat suci. Tak bernoda. Tak penuh dengan kotoran. Terlihat sangat indah.
"Thank you very much!" jawabku dengan senyuman tipis.
Hari ini, aku akan mengajak para mahasiswa menuju museum universitas. Walaupun, aku tak tau apa saja yang ada di dalamnya. Banyak yang bilang, museum itu penuh dengan sejarah baik dari ilmuwan maupun mahasiswa dan mahasiswinya.
Museum ini tak jauh dari gedung kampus. Hanya beberapa meter saja.
Aku juga harus mengenalkan beberapa barang temuan yang di apresiasi oleh pemilik universitas.
"Mrs, what is this machine? (Bu, mesin apa ini?)" tanya seorang mahasiswa padaku.
Aku langsung menoleh. Melihat mesin yang ditanya oleh salah seorang mahasiswa.
Mesin ini terasa tak asing bagiku. "Kenapa aku merasa memiliki hubungan batin dengan mesin ini?" ujarku di dalam batin.
Kepalaku terasa sangat sakit. Seperti ada masa lalu yang dipaksa untuk menghilang dari memoriku. Aku merasa bahwa mesin ini adalah sebagian dari masa laluku.
"Ahhh!" teriakku sembari menggenggam kepalaku yang terasa sangat sakit.
Mahasiswa dan mahasiswi berbondong-bondong menghampiriku. Mereka bertanya-tanya, "What happened to you?"
Seluruhnya menjadi gelap. Aku hanyut di lautan yang sangat dalam.
š„°š„°š„°
Kutatap sekelilingku. Aku melihat ayah sedang menungguku sembari menatap ke luar jendela.
"Ayah!" panggilku. Ayah memalingkan wajahnya dan segera menghampiriku.
"Apa sudah terasa lebih baik?" tanyanya tentang kondisi tubuhku.
"Sudah lebih baik, yah!" jawabku dengan yakin.
"Syukurlah!" ucapnya.
"Aku hanya sedikit pusing. Entah kenapa, setelah aku melihat salah satu mesin di musium itu ... kepalaku terasa seperti terbentur!" keluhku.
"Tak apa! Mungkin, kau hanya terlalu lelah. Beristirahatlah!"
"Aku bingung dengan kondisiku sekarang, yah. Berbagai penyakit telah menghampiriku," keluhku lagi.
"Tidak perlu khawatir! Kau pasti akan sembuh!" serunya menyemangatiku.
"Aku berharap begitu, yah!"
"Kelihatannya, kau butuh berpindah tempat. Fukuoka telah terlalu menyakiti perasaanmu. Sebaiknya, ayah memindahkanmu dari sini untuk sementara waktu," ujarnya.
"Kenapa harus pindah?" tanyaku heran.
"Menambah pengalaman hidup baru!" jawabnya singkat, "Lanjutkanlah pendidikanmu di Jerman! Teknologi di sana sangat bagus. Kau harus menambah ilmumu! Pulanglah untuk mengamalkan seluruh ilmu yang kau dapatkan!" nasihat ayah.
"Jerman?" sontakku kaget.
Ayah mengangguk-anggukan kepalanya memberi isyarat 'iya'. "Besok, tepatnya jam 8 pagi. Ayah akan mengantarkanmu!"
"Tapi, kenapaā" Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku. Ayah sudah menghilang dari pandanganku.
Sepertinya, aku benar-benar harus menuruti perintahnya.
ā„ļøI'm Coming Jermanā„ļø