
"Pergilah ....jika untuk meraih mimpi. Karena mimpi selalu menunggumu. Jangan pernah kau mengecewakannya,karena ketidakhadiranmu"
kini tak satu katapun keluar dari bibir kami. keduanya saling berdiam-diaman.Keheningan pecah ketika Syekh Muda pamit pergi untuk membeli tiket. "Aku pergi dulu ya.....! Aku hampir lupa untuk membeli tiket pulang kita".
"Kalau begitu,pergilah!"
Syekh Muda berlari menuju loket. Takutnya tiket pesawat untuk penerbangan siang ini.kini Syekh Muda berganti menjadi seorang Tamis. Satu orang pergi,dan satu orang lagipun muncul dihadapanku.
Dia duduk dikursi yang ada di sampingku."Kelihatannya kamu sangat dekat dengannya!".Ujarnya ketika menyenderkan tubuh diatas punggung kursi.
Aku meliriknya dengan sinis."Apa salahnya? Lagian dia guruku!".
"Ya...Aku tau dia gurumu. Tapi murid ada batasannya saat bersama guru".Cetus tamis lagi.
"Sudahlah.....Aku haru mengalah denganmu! Katakan saja,apa tujuanmu menghampiriku kesini?"
"Tak ada maksud tertentu. Aku hanya ingin mengetahui,apa yang telah dikatakan Syekh Muda padamu?"
"Owh,Syekh Muda itu sangat baik ya. Dia bilang,dia akan membantuku mencari ayahku"
"Loh,bukannya kamu bilang,ayahmu sudah meninggal"
"Dari berita yang kudapatkan,ayah dikatakan telah meninggal akibat kecelakaan pesawat. Tapi,Syekh Muda menyanggah berita itu. Dia bilang,kemungkinan ada kebenaran berita yang digelapkan".
"Kalau begitu,biarkan aku ikut membantu"
Dengan cepat aku membalas perkataannya."Tidak-tidak,kau sudah terlalu banyak membantuku. Aku tak mau kau ikut mencampuri urusan tentang kematian ayahku!"
"Aku mohon,jangan menolak bantuan dariku. Bukankah kita sahabat,saling membantu antara satu dengan yang lainnya".
"Baiklah,itu semua terserah denganmu!"
Kini keheningan menyelimuti kami.Kami hanyut dalam keheningan sembari menunggu kehadiran Syekh Muda yang sedang membeli tiket.
Kenapa tak ada tanda-tanda kehadiran Syekh Muda ini. Kami sudah menunggu kedatangannya terlalu lama.Bahkan kini,hatiku sudah merasakan kegelisahan.
"Kenapa Syekh Muda lama sekali membeli tiketnya?".Celutukku dengan kegelisahan.
"Mungkin antriannya terlalu panjang!".Jawabnya santai.
Mendengar jawaban yang keluar dari bibir Tamis,aku merasakan sedikit ketenangan menyelimuti hati ini.
Kami mencoba bersabar menunggu kehadiran Syekh Muda beberapa menit lagi.Tetapi,mengapa semakin lama,Syekh Muda ini tak kian muncul dihadapan kami.
"Tidakkah sebaiknya kita menyusulnya ketempat pembelian tiket pesawat. Aku takut dia kenapa-napa?"
Lagi-lagi kegelisahan menghantui fikiranku.
"Biar aku saja yang menyusulnya kesana!"
"Biarkan aku ikut denganmu!"
Tamis tetap melarangku untuk ikut dengannya.Tapi aku tetap memaksa ikut mencari Syekh Muda. Dan akhirnya ,dia mengizinkanku.Tempat utama yang kami tuju adalah loket.
Kami segera berlari menuju loket.Tapi sesampainya disana,tak ada satu orangpun yang sedang mengantri.Hanya ada seorang wanita penjaga loket yang sedang duduk setia menjaga loketnya.Wanita itu terus menatapi kami.Tamis menghampirinya untuk mendapatkan informasi tentang Syekh Muda.Mungkin saja wanita itu tau,kemana Syekh Muda itu pergi.
"Permisi"
"Apakah~"
Tamis belum sempat menanyakan apapun kepada wanita itu.Tapi,wanita itu malah balik melontarkan pertanyaan kepada Tamis.
"Apakah benar,anda yang bernama TAMIS RAFUKA MIKIO?".Tanya wanita itu.
Tamis hanya diam tak bergeming."Ada apa ini?"
Wanita itu berkali-kali melontarkan pertanyaan yang sama kepada Tamis."Maaf,apakah benar anda yang bernama TAMIS RAFUKA MIKIO?".
"Be~benar,saya Tamis".Kini Tamis hanya bisa meneguk ludahnya sendiri.
Wanita itu mengulurkan tangannya yang menggenggam tiket."Ini tiket untuk anda dan satu orang teman yang ada bersama anda" jelas wanita penjaga loket itu.
Tamis kembali terdiam dan menatapku resah. Aku yang merasakan keanehan dalam dirinya,segera menghampirinya. Kelihatannya dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Ada apa? Apakah kau sudah mendapatkan informasi tentangnya? Kemana Syekh Muda itu pergi?". Aku terus bertanya-tanya tanpa henti. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir pria dingin ini.
Bukannya menjawabku,dia malah mengangkat semua barang-barangnya dan melangkahkan kaki menuju pesawat yang sebentar lagi akan membawa kami ke Labuan Bajo."Ayo.... pesawat akan segera terbang!"
Pria ini semakin membuatku bingung dengan tingkah lakunya. Bagaimana bisa aku pergi,sementara Syekh Muda belum ditemukan? Tapi Tamis,dia tetap melangkahkan kakinya.
"Syekh Muda belum kembali,sebaiknya kita batalkan saja penerbangannya!"
Lagi-lagi usahaku gagal. Pria ini tak mendengarkanku sedikitpun. Aku berusaha mencari cara agar dia mau mendengarkanku.Sepertinya harus menggunakan cara yang lebih efektif untuk menghadapi orang seperti dia.
"Pergilah...! Aku tidak akan ikut pulang bersamamu"
Rasanya,baru saja akumendapat kebahagiaan.Mengapa hanya dengan sedetik saja kebahagiaan itu kian berubah menjadi rumpunan duri yang menusuk jantungku. Aku harus melakukan ini agar dia mau mendengarkanku. Aku berhenti untuk mengikutinya dan pergi melangkahkan kakiku menjauhinya.
Air mataku menitik di ujung pelipis tanpa kesadaran. Rasanya perih untuk berdiaman dengan seorang sahabat walaupun hanya semenit.Apalagi pergi jauh dari sisi seorang sahabat.
Tiba tiba seseorang berdiri dihadapanku,dia menghalangiku.Ternyata dia Tamis,aku yakinpria ini tidak akan membiarkanku pergi sendirian.
Dia membalikkan tubuhnya."Dia sudah pergi,aku tak tau apakah dia akan kembali lagi atau tidak . Tapi dia harus pergi!".Ujarnya.
Setiap perkataan yang keluar dari bibirnya ibaratkan sebuah teka-teki.Susah untuk ditebak.
"Maksudmu?". Aku bertanya keheranan.
"Wanita penjaga loket itu bilang,bahwa Syekh Muda mendadak harus pergi. Dan dia tak sempat untuk berpamitan dengan kita. Jadi tak usah menghiraukannya!"Jelas Tamis padaku."Dan tak usah menangis karenanya".
Aku segera menghapus air mataku yang mengalir tanpa kesadaranku." Aku tidak menangis"
"Lalu,rintikan apa yang telah membasahi pipimu ditengah matahari bersinar terik seperti ini?"
Aku hanya tertawa gelak mendengar sindiran sahabatku ini. Dikala ini,aku teringat dengan sahabat kecilku.Vare.
Sekarang aku memutuskan untuk pulang bersama Tamis.Meskipun begitu,hatiku masih bertanya-tanya."Kemana Syekh Muda itu pergi?".
...... ...... ......
Tempat ini penuh dengan terpaan angin,"Kenapa aku bisa berada ditempat ini?. Tanyaku heran."Siapa yang membawaku kesini?"
"Araaa".
Panggilan itu.Hanya ayah yang memanggilku dengan panggilan itu. Aku memutar-mutar tubuhku,mencari dari mana suara itu berasal?.
Bola mataku terfokus kesatu satu arah. Dimana,disitu ada seorang lelaki yang sedang berdiri menatapku dalam. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Wajahnya semkin jelas terlihat. Wajah itu.Wajah yang selalu kurindukan untuk memandangnya. Wajah yang sangat menyejukkan hatiku.
"Ayah....!"Bibirku memanggil panggilan itu lagi.
"Ayah......!. Aku berteriak sambil berlari ingin memeluk sang raja hatiku ini.
"Berhentilah berlari,Nak! Jangan mendekati ayah! Ayah gak mau,kamu bernasib pedih seperti ayah"
Langkahku tertahan,seakan menuruti perkataan ayah.Sebenarnya,aku sangat ingin memeluknya. Tapi,mengapa ayah menahanku?
"Ayah...biarkan Ara memeluk ayah. Biarkan Ara merebahkan tubuh dalam pelukan hangat ayah".Pintaku sembari menangis tersedu-sedu.
"Ara ....dengarkan ayah,Nak! Ayah selalu berada dalam pelukanmu. Ayah tak pernah meninggalkan kalian. Ingat,Nak. Ayah selalu ada disini".Ucap ayah sembari meletakkan telapak tangannya diatas dada.
"Ayah.... ayah dimana selama ini? Apakah ayah masih berada di Fukuoka? Yah,sebentar lagi Ara akan menjemput ayah kesana. Tak lama lagi,Ara akan menapakkan kaki diatas tanah Fukuoka"
"Ayah ada dihati kalian,Nak!"Jawab Ayah."Ara,gunakanlah kecerdasanmu sebaaik-baiknya. Jangan sampai dengan kecerdasanmu itu kau membahayakan dirimu sendiri begitupula jangan samapi kau membahayakan orang lain"
"Ara akan selalu mendengarkan semua nasehat ayah. Tapi,berjanjilah yah. Berjanjilah untuk kembali"
Ayah hanya membalasnya dengan senyuman.
"Jangan pernah berlari dari suatu masalah! Kemanapun kau berlari dari masalah,maka masalah itu akan tetap terus mengikutimu".
Setelah mengucapkan sepenggal kalimat terakhir itu,ayah menghilang tanpa bekas."Ayah....!Ayah....!"Teriakku memanggil-manggil ayah.
"Ayah...!" . Sudah berkali-kali,bunga tidur ini menghampiriku.
Aku terbangun dari tidurku."Apakah yang sebenarnya telah terjadi?". Aku bertanya dalam benakku.
Dadaku terasa sesak. Kehadiran mimpi ini menciptakan kegelisahan dihatiku. Aku berusaha untuk menyembunyikan raut wajah kegelisahan yang mulai terpancar dari wajahku.
Terdengar suara pengumuman menandakan bahwa pesawat akan mendarat.
“Atas nama Garuda Airlines dan seluruh kru, saya ingin berterima kasih kepada Anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan anda lagi dalam penerbangan dalam kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!”
Akhirnya,aku bisa memandang keindahan Labuan Bano sebelum kepergianku ke Jepang. Rasanya tak sabar ingin memeluk ibu dan Mauli. Begitu juga untuk para penghuni pondok,aku tak sabar ingin bertatap muka dengan mereka. Aku bersyukur kepada Allah karena telah menitipkanku kepada dua orang bidadari yang cantik dan lembut seperti Ibu dan Mauli.
"Pulanglah...!Mereka pasti mengkhawatirkan keadaanmu" . Tamis yang dingin ternyata menyimpan rasa perhatian yang besar terhadap seorang wanita.
"Tamis...!".Panggilku. Langkah Tamis terhenti. Lalu dia memalingkan wajahnya menatapku.
"Terimakasih untuk semuanya,Sahabat!". Ucapku.
Pria ini hanya memberikan senyuman indahnya,lalu pergi meninggalkanku dihalaman rumahku.
Bagiku,rasa lelah ini tak sebanding dengan rasa bahagia ingin menyampaikan kabar gembira yang kubawa untuk Ibu dan Mauli.
Aku menarik nafas. Aku mulai mengetuk pintu rumah yang sederhana ini. Tak lama kemudian pintu ini dibuka lebar oleh seorang Ratu diantara para bidadari,yaitu ibuku.
Aku langsung memeluknya erat. Kepergianku belum terkira lama,karena belum mencapai 24 jam. Tapi,mengapa kerinduanku pada ibu terasa sangat berat.
"Buk,maafkan Ara karena tidak meminta izin dulu pada ibu!".
"Izin dan doaku selalu mengiringimu,Nak. Anak ibu,hebat.Ibu,Mauli,bahkan seluruh warga pondok telah menyaksikan kebijakanmu dalam menyampaikan pendapatmu tentang mesin waktu. Pemikiranmu sangat mirip dengan ayahmu,Nak!". Ujar ibu dengan penuh rasa bangga.
Mataku terus mencari objek yang terlintas difikiranku. Mauli,kemana dia?
"Ngomong-ngomong,Mauli dimana,buk??"
"Oh...Gini,hari ini dua putri ibu tidak berada dirumah. Tapi untungnya kamu udah pulang. Mauli lagi pergi bersama temannya.Akhir-akhir ini,Mauli tenggelam dalam lautan kasmaran. Dia agak sedikit berbeda".
"Biarkanlah dia menikmati masa remajanya,buk!". Ujarku dengan sedikit tawa kecil.
"Iya....jika masih berada dalam orbitnya,ibu takkan melarangnya. Tapi jika melenceng,ibu tau apa yang harus ibu lakukan padanya! ..."
"Tidurlah,kau pasti sangat lelah!"
"Iya,buk. Selamat malam,buk!". Ku kecup kening ibu dengan penuh rasa kasih sayang.
Aku segera pergi menuju kamar tidur. Rasanya aku ingin cepat-cepat merebahkan tubuhku diatas kasur empuk milikku.
Hanya itu yang ku inginkan saat ini. Lalu perlahan-lahan menutup katup mataku.
..... ..... ..... ...... ......
TAMIS..
Tubuhku terasa ingin remuk. Tapi aku masih memikirkan,kemana syekh Muda itu pergi? Kenapa dia menghilang begitu saja?.
Aku teringat dengan surat yang diberikan wanita penjaga loket itu padaku.
Aku langsung merogoh saku kanan celanaku.
Kurebahkan tubuh diatas ranjang ini sembari membuka surat yang ditujukan padaku.
Tertuju untuk sahabatku,Tamis.
Maaf,kalau aku telah pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan kalian. Bukan berarti aku seorang pengecut. Tapi keadaan memaksaku untuk pergi secara mendadak.
"Ingatkah kau,penyakit yang pernah menyerang jantungku sewaktu masa kuliah dulu?. Rasa sakit itu menghampiriku lagi. Kali ini rasanya sangat-sangat sakit. Aku tak bisa menahannya. Orang-orang yang ada di Bandara,mereka yang membawaku ke rumah sakit. Jangan risaukan aku. Keluargaku akan datang menemuiku."
"Mengenai Fustuq,aku mohon jangan katakan semua hal ini padanya. Dia tak boleh tau tentang penyakitku. Dan aku mohon,selama aku tak ada di samping Fustuq. Jangan sakiti dia walaupun hanya dengan satu sayatan."
Aku mempercayaimu,teman.
Aku meremas-remas surat itu,lalu melemparnya keatas lantai kamar.
Aku berusaha menenangkan diri setelah membaca surat dari Syekh Muda itu.
Pembicaraan antara aku dan Syekh Muda itu masih terngiang-ngiang ditelingaku.
Berkali-kali,aku berusaha untuk menenangkan diri. Namun,tetap saja tak bisa. Aku bangkit dari tempat tidurku.
"Sahabat macam apa kau ini?" Teriakku meluapkan emosi."Kau ingin menghancurkan rencana sahabatmu sendiri hanya demi wanita idiot seperti Fustuq. Dan sekarang,kau menyuruhku untuk menyembunyikan penyakitmu darinya"
Aku menghantam semua peralatan yang ada diatas meja kamarku. Kini aku dikuasai oleh emosiku sendiri.
..... ...... ..... ..... .....
KENANGAN TERAKHIR BERSAMA VARE.
Matahari mulai menyingsing. Hari ini,aku akan memulai sebuah kenangan di Labuan Bano sebelum aku pergi menuntut ilmu di Fukuoka. Mungkin nanti,aku akan sangat merindukan tempat ini dan orang-orang Bajo yang unik yang pernah berada di sampingku.
Aku jadi kefikiran Vare.Sahabat kecilku. Aku meninggalkannya setelah kejadian yang menimpanya. Bahkan,aku pergi tanpa berpamitan dengan sahabatku ini. "Sahabat macam apa aku ini??"
Mungkin,sebagai permintaan maaf aku akan menjadikan Vare orang pertama yang akan membangun kenangan bersamaku sebelum kepergianku. Tapi,bukan berarti aku akan meninggalkan sahabatku ini selamanya.
Kulangkahkan kakiku dengan semangat pejuang 45. Hanya untuk menemui Sang Pangeran Komodo.
Sesampainya dirumah Vare.....
"Aneh,kenapa pintunya masih tertutup rapat?". Sepertinya,dia memaksaku untuk menghancurkan paginya yang cerah ini.
"Vareee! Vareee! Vareee...!". Berkali-kali kuketuk pintu rumah ini dengan sengaja ingin mengganggu tidurnya yang lelap.Jika dia masih tertidur. Aku terus berteriak-teriak. Maaf...bukan bermaksud untuk melanggar adab bertamu. Tapi...temanku yang satu ini sedang memaksaku untuk melakukan hal ini dirumahnya.
"Aaaaaa!"
Aku berteriak ketakutan ketika melihat raut wajahnya yang sangat mengerihkan.
Wajahnya sangat pucat,rambutnya hancur acak-acakan.
Tapi,wajahnya kian berubah menjadi baik-baik saja setelah melihat ku.
"Fustuq ! Kamu pagi-pagi buta udah buat kericuhan dirumah orang. Ganggu tau...!"
Aku menghiraukan ucapannya. Aku berusaha melihat wajahnya lebih dekat,aku terus meneliti. Apakah dia sedang sakit?
Nada bicaranya seperti sedang menutupi keadaannya yang kian melemah. Terlihat kepedihan yang tak ingin dibagi terkubur dalam di kedua matanya.
"Woi...."
Lamunanku memecah.
Aku berusaha menutupi kecurigaan ku terhadapnya."Eemm.... Gini,kamu mau gak temenin aku mengelilingi Labuan Bajo??"
"Kamu sahabatku,jadi....mana mungkin aku menolak permintaanmu !" Seru Vare sembari langsung menutup pintu rumahnya.
"Hei,Jangan membuatku terlalu lama menunggumu".Aku berteriak dari balik papan pintu rumahnya.
Mungkin aku harus mencari tempat nyaman untuk menunggu Pangeran Komodo. Dia tak mempersilahkanku untuk masuk kedalam rumahnya. Tapi,tak apalah. Lagipula itu tak baik untuk pria dan wanita yang bukan muhrim jika berada dibawah satu atap yang sama.
Aku hanya bisa duduk dikursi kayu yang tersedia dihalaman rumah Vare. Aku terus menggali rahasia apa yang disembunyikan Vare dariku.
"Mungkin kau tak bisa menolak segala permintaanku. Tapi,kau mungkin saja membohongiku!". Ucapku dengan tersenyum cengir.
Tiba-tiba,ide bagus melintas di fikiranku. Itu dia,jika kau selalu membohongiku. Maka aku harus meminta kepadamu karena kau takkan bisa menolak permintaan dari sahabatmu yang imut ini
"Dari mana kita akan memulai perjalanan membangun kenangan ini?". Vare selalu mengejutkanku. Aku mengelus-elus dadaku. Karena jantungku terasa ingin copot dari tempatnya.
"Kau ini...!".Ujarku kesal.
"Iya,iya aku minta maaf. Kamunya melamun terus!. Sudahlah,ayo kita mulai dari mana ni?"
Aku menerima permintaan maafnya."Sebagaimana sabda Nabi:Mulailah dari yang dekat denganmu!"
"Baiklah,bagaimana kalau aku membawamu ketempat awal mula masa kecil kita dimulai".
Aku ingin menyindirnya."Mungkin aku juga tak bisa menolak permintaan sahabatku yang satu ini?"
Aku berlari darinya dan tertawa senang karena telah berhasil mengejek sahabatku ini. Dia mengejar ku. Dia takkan menyerah sebelum dia dapat memberikan hukuman kepadaku yang telah berani meledeknya.
Kami masih terus kejar-kejaran. Sampai tak tersadar,ternyata kami telah menyisiri Pantai Rinca.
Disinilah kami bertemu untuk pertama kalinya. Pertemuan itu adalah pertemuan yang tak pernah terduga sedikitpun olehku.
Setelah merasa lelah,akibat kejar-kejaran. Kami bersender di tiang kayu yang tersusun rapi,kayu ini membuat jembatan dapat membentang dengan kokoh.

Mengayun-ayunkan kaki. Ombak dipulau ini mulai menggelitik jari-jemariku.
(Flashback)
Waktu itu,aku melihat seorang Vare kecil yang sangat senang melukis diatas jembatan ini. Melukis sambil menikmati keindahan Pulau Rinca yang berwarna hijau kebiru-biruan.
Saat itu juga bertepatan dengan ulang tahunku. Dimana,hari itu ayah membawaku ke Pulau Rinca sebagai hadiahnya. Di sinilah awal pertemuanku dengan 2 sahabat yang selalu menemani masa kecilku,Vare dan Zeeba. Zeeba adalah komodo pemberian ayah sebagai kado ulang tahunku.
Vare kecil melukisku bersama Zeeba dengan suasana ulang tahun. Dia memberikan lukisan ini kepadaku sebagai hadiah ulang tahunku.
Tapi,kini waktu sudah berubah. Waktu membawa banyak perubahan diantara kami. Waktu membawa kami untuk hidup lebih dewasa.
Vare tak pernah berhenti untuk menorehkan cat dengan kuas saktinya diatas kertas yang suci.
Sekarang,aku mau dia melukisku lagi. Sebagaimana dulu ia pernah melukisku bersama Zeeba. Mungkin Lukisan ini bisa menjadi mediator pelepas rindu dikala aku merindukan Vare.
Akhirnya,rayuanku berhasil melelehkan hati Vare. Dia mulai melukis ku. Aku hanya tersenyum memandangi wajahnya yang sangat fokus dalam melukis. Dibalik senyumku,aku berdoa:
"Ya Allah....! Apapun penyakit Vare,hanya engkau yang mengetahuinya. Sampai kapan pun dia menyembunyikan nya dari ku,aku hanya bisa berharap agar engkau selalu menjaganya".
Aku akan menyimpan kenangan indah ini dengan baik. Walaupun lembar demi lembar tiap kenangan yang kusimpan akan penuh dengan debu dan kusam,aku akan tetap menjaganya.
"Oke,selesai!"
Aku segera berlari ingin melihat lukisan yang baru di selesaikan Vare. Tapi...lukisan ini membuatku sedih. Bagaimana bisa, Vare melukiskan kalung itu,kalung itu sangat mirip dengan kalung yang pernah ayah berikan padaku. Namun,kini hanya tinggal kenangan.
Aku hanya bisa menundukkan wajahku untuk menahan rasa sedih.
"Ini!"
Betapa terkejutnya diriku,kini kalung itu menjadi nyata dihadapan kedua mataku.
"Ba-ba-bagaimana bisa kalung ini ada di tanganmu. Bukankah-"
Vare memotong perkataanku dengan cepat."kalung ini sudah kau relakan untuk membayar seluruh administrasi ku dirumah sakit!"
Aku tak mengerti dengan semua ini."Mengapa dia bisa tau tentang semua ini?"
"Aku tau kalung ini sangat berharga bagimu. Mata binarmu yang mengatakannya padaku!".
Aku tersipu malu dengan kata-kata yang baru diucapkan Vare. Dia sangat pintar dalam gombalan.
"Kamu terlalu bodoh! Bahkan,kau merelakan kalung pemberian terakhir ayahmu demi sahabat!"
"Ini hanya sebuah kalung. Ayahku tidak berada didalam kalung ini. Tapi ayah ada di sini!". Sembari meletakkan telapak tanganku diatas dada.
"Kamu terlalu sempurna,hatimu yang mulia selalu memancarkan ketenangan di wajahmu. Betapa beruntungnya seseorang yang dapat memikat hati sahabatku,yang sangat suci dan jernih bagaikan sungai yang mengalir dibawah surga".
"Aku takkan membuka pintu hati ini untuk siapapun. Karena sudah ada seorang Raja yang berhasil menaklukkan hati ku".
"Siapa Raja itu?" Tanya Vare penasaran.
"Kepo ya....!" Aku berusah membuatnya bertambah penasaran.
"Kasi tau dong...! Siapa sih Raja nya,bisa-bisanya dia mendahului Pangeran komodo".Ujarnya dengan menyombongkan diri.
"Hahahaha....kepo banget sih!".
"Dasar cewek Polem!". Kini Vare mulai merajuk. "Dasar cowok aneh"
"Biarin gue Polem!". Ketusku
Vare semakin bertambah kesal denganku. "Ciri-cirinya ajalah,sebutin!". Pintanya dengan paksa.
"Allahu wa rasuluhu a'lam". Jawabku.
"Oke,deh! Kalau gitu inisial huruf depan nama nya aja !". Dia menawarkan pertanyaan demi pertanyaan kepadaku.
"Allahu wa rasuluhu a'lam". Jawabku lagi dengan ucapan yang sama.
"Ya,deh! Aku nyerah".Akhirnya Pangeran komodo ini menyerah. Aku tertawa geli melihat raut wajahnya.
"Oke,deh! Aku beritahu,Raja ini sangat gagah dimataku. Dia sangat hebat dihatiku. Bahkan,dia mampu mengalahkan seluruh pangeran tampan yang berjuang ingin memiliki hatiku. Raja dari segala raja. Dia hanya milikku,dialah ayah!". Jawabku sambil memandang kedepan. Melukiskan wajah ayah melalui khayalan.
Aku sudah puas menertawakan Vare yang sangat penasaran dengan Sang Raja hatiku.
"Aku juga memiliki Sang Ratu hati. Wajahnya yang sejuk,hatinya yang begitu lembut. Membuatku terpaku dengannya. Dia Ratu kedua dari para bidadari". Dia mendekskripsikan wanita itu dengan sangat meresapi,terlihat ungkapan itu berasal dari hatinya yang paling dalam.
"Alah,palingan itu ibumu!"Jawabku sembari tertawa.
"Ibuku tentu sudah pasti!! Tak ada yang dapat mengalahkannya. Tapi,wanita ini. Dia sangat memikat hatiku".
"Siapapun itu,aku yakin dia takkan mau menerimamu dengan tampang wajahmu yang seperti itu"
"Bagiku,dia takkan menilaiku dari tampang wajahku. Dia bukan wanita sembarangan. Yang buta untuk melihat kebaikan hati seorang pria".
"Kau kalau berkata-kata terlalu percaya diri. Aku salut denganmu,Sahabatku".
"Kapan aku akan membawamu untuk menemuinya?".
"Aku tak tau pasti. Tapi,aku yakin kalian pasti akan bertemu dan kau pasti juga akan merasa nyaman berada di dekatnya".
"Baiklah!". Aku mulai merapikan alat-alat lukis dan menyimpan kertas lukisan yang telah tertoreh lukisan wajahku.
"Oh ya,Aku sudah lama tak berkunjung ke Kelabba Maja! Bagaimana, kalau kita juga bangun kenangan disana ?".
Kini fikiranku disinari dengan kilau indah dari warna-warni Kelabba Maja. Bagiku,tempat ini selalu membuatku hanyut dalam ketenangan.
"Ingat,gak? Dulu kamu selalu bilang,bahwa warna-warni selalu membawa keceriaan" Vare bertanya sembari menatapi Kelabba Maja dari kejauhan.
"Ya,aku ingat! Aku selalu mengatakan itu. Setiap kali warna-warni Kelabba Maja hadir di hadapanku. Saat itu,aku selalu meluncurkan ungkapan itu dari kedua bibirku".
Vare menyanggah pendapatku." Tapi bagiku, warna-warni Kelabba Maja tak seindah warna-warni suatu kehidupan.Warna dalam kehidupan akan memudar. Bahkan,bisa jadi tak bewarna. Saat itu pula,keceriaan akan terbang bersama angin yang berhembus".ujarnya. "Meskipun begitu,keceriaan tak hanya berasal dari diri sendiri. Membuat orang yang kita sayang bahagia bisa mendatangkan keceriaan didalam jiwa". Sambung Vare.
Dari kejauhan,aku melihat Aslan sedang berjalan bersama adik perempuannya di sekitar Kelabba Maja.
Aku berinisiatif untuk mengenalkan Vare kepada Aslan. Begitu juga sebaliknya."Var....!". Panggilku.
Tetapi ketika aku menoleh ke arah Vare,dia sudah menghilang dari tempatnya berdiri. Tak tau kemana pria itu pergi.
Mataku terbelalak ketika melihat Vare akan menghampiri tempat Aslan dan adik perempuannya itu."Apa lagi yang akan dilakukan pria itu?"
Aku segera berlari menyusul. Kuharap dia belum melakukan hal aneh di depan kakak beradik ini.
"Hai".Dia menyapa perempuan yang berdiri disamping Aslan.
Kini Vare seakan telah hilang ingatan. Berani-beraninya dia menyapa Wanita yang bukan muhrimnya.
Aku terbengong melihat kelakuan sahabatku ini."Istighfar,Var". Aku menyikutnya,menyadarkan bahwa syaitan telah mendorongnya kedalam lubang zina.
"Astaghfirullahal Adzim". Akhirnya,Vare sadar. Dia menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Maaf...". Dia kelihatannya mulai gugup.
"Assalamualaikum,senang bisa bertemu denganmu lagi!"
"Waalaikumsalam,aku juga merasa senang!". Wanita itu menjawab salam Vare.
Kelihatannya mereka sudah lama saling mengenal.
"Apakah wanita ini,yang telah berhasil memikat hati seorang Pangeran Komodo?". Aku tertawa kecil melihat mereka.
"Ehem...!". Aku berusaha untuk memecahkan suasana roman ini. Tak baik untuk mereka. Karena dibalik ini,syaitan yang sedang bermain.
"Astaghfirullahal, astaghfirullahal...!" Bibir Vare berkali-kali mengucapkan kalimat istighfar.
"Oh,aku hampir lupa untuk mengenalkanmu kepadanya. Aira,kenalkan ini Fustuq! Dia sahabatku dari kecil. Dan Fustuq,kenalkan ini Aira". Vare mengenalkan kami satu sama yang lainnya.
"Eeeemm Fustuq,ini wanita yang ingin kukenalkan padamu !. Gimana ??". Bisik Vare ditelingaku.
"Owh...Kamu sangat hebat dalam memilih!". Pujiku untuk Vare."Tetapi....wanita ini terlalu sempurna untukmu yang memiliki bentuk kayak gini". Aku membalas bidikannya dengan ledekan sembari tertawa kecil.
Wajah Vare seketika berubah menjadi kesal.
Aku harus mengubah raut wajahnya lagi. Tak sanggup,jika aku memandang wajah sahabatku dengan raut wajah kesal.
"Kenalkan,aku Fustuq. Sahabat Vare dari orok. Jadi, kalau kamu mau menanyakan seluruh tabiatnya,tanyakan saja padaku. Aku siap untuk menceritakan seluruh tabiat-tabiat yang ada didalam dirinya. 100% asli. Gak KW". Aku mencoba untuk menciptakan lelucon yang dapat membuat bibir Vare tersungging keatas.
"Aku Aira!". Wanita itu membalas jabatan tanganku dengan lembut.
"Oh ya Aslan. Kenalkan,ini Vare. Sahabatku. Dan Vare,kenalkan ini Aslan!"
Aku juga mengenalkan kedua pria ini. Agar tak ada kesalahpahaman yang muncul dihari yang akan datang.
Lalu,aku membisikkan beberapa kata di telinga Vare.
"Dia kakak iparmu!".
Dua kata ini bagaikan sihir yang bisa mengubah raut wajah Vare hanya dalam sedetik.
"Apa kau bilang,kakak ipar? Pria ini,kakaknya Aira? Dia membisikkan beberapa pertanyaan di telingaku.
"Sudahlah,tak baik berbisik-bisik didepan mereka. Waktu pasti akan mengungkapkan semuanya padamu!"
Sudah lama,aku tak bertemu dengan Aslan. Aku merindukan rangkaian kata-katanya yang selalu membuat semangatku bangkit.
"Fustuq...!"
Aslan mengangkat suaranya. Dia membuat mataku menyoroti wajahnya.
"Ya...!" Jawabku singkat.
"Ikutlah bersamaku,ada yang ingin aku bicarakan denganmu!"
Hal apa lagi yang ingin dibicarakannya padaku.
"Var,aku pergi sebentar ya!"
"Oke...! Jaga diri baik-baik ya!".
"Kakak pergi luan ya!". Aslan berpamitan dengan adiknya.
Kami mulai melangkahkan kaki menjauhi mereka. Menuju tempat yang jarang didatangi orang disekitar Kelabba Maja. Ya...tepatnya dibawah kaki gunung pelangi,Sang Kelabba Maja.
"Ada apa?"
Aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan ini.
"Selamat atas keberhasilanmu! Aku dengar sebentar lagi,kamu akan menjadi mahasiswi FIT UNIVERSITY.Dan mulai bergabung menjadi keluarga FIT University. Dan...aku dengar,Tamis telah banyak membantumu dalam hal ini".
Apa yang sebenarnya ingin dikatakannya.Perkataannya semakin membuatku terbelit-belit. Tak mungkin,dia membawaku kesini hanya untuk mengucapkan kata selamat.
"Langsung saja,katakan maksudmu membawaku kesini!"
"Dengan terus terang ,aku membawamu kesini dengan tujuan yang sangat penting. Aku takkan membawamu kesini jika hanya dengan tujuan yang percuma"
"Katakan saja!"
"Jangan terlalu mudah menerima orang untuk masuk kedalam hidupmu! Karena belum tentu, coever depan seseorang bisa sesuai dengan isinya.Aku lebih mengenal kakakku. Karena dia adalah darah dagingku sendiri. Tabiatnya adalah tabiatku. Jangan terlalu mempercayainya! Kau harus lebih berhati-hati dengan kakakku!".
"Sekejam itukah kau menilai kakakmu sendiri?". Aku menaruh rasa kecewa kepada Aslan. Karena dia telah berani menjelek-jelekkan kakaknya di hadapanku. Itu sama saja dengan "Ghibah".
"Terserah,kau mau mempercayaiku atau tidak ! Yang terpenting,aku sudah memperingatimu!" Aslan pergi meninggalkanku dengan kekecewaan karena ini adalah pertama kalinya aku tidak mau menerima masukannya.
Aku hanya bisa menghela nafas,rasanaya hidupku ini penuh dengan teka-teki yang terlalu rumit untuk dipecahkan.
...... ...... ...... ......
7 hari telah berlalu....
Masaku untuk membangun kenangan telah berakhir. Mungkin,aku harus meninggalkan Labuan Bajo. Tapi tak untuk selamanya,ini hanya bersifat sementara.
Sampai aku bisa memakai baju toga. Dan berhasil menyandang gelar Mrs.Technology. Dan aku akan menuangkan semua ilmuku untuk warga pondok.
"Bu...Doain Fustuq ya,Bu! Fustuq janji,Fustuq akan membawa ibu dan Mauli ke Fukuoka. Kita akan tinggal disana,menghabiskan seluruh hidup di sana. Seperti yang ayah katakan dulu"
"Ara...pergilah! Doa ibu selalu menyertaimu. Belajarlah yang baik,Nak! Jaga dirimu baik-baik disana!"
"Iya,kak! Jangan lupa kirim kabar setiap hari ya,kak!". Ujar Mauli bawel.
"Iya,Mauliii! Kamu jaga ibu dirumah ya! Jangan pergi melulu kerumah temannn!'. Sindirku.
Sebelum kepergianku,kuberikan pelukan hangat nan erat kepada Ratu diantara para bidadari. Rasanaya berat untuk meninggalkan ibu. Tapi,inilah sebuah impian. Jika kau tak mengejarnya,maka ia akan sirna.
"Tetaplah memandang kedepan,dan jangan pernah palingkan lagi wajahmu kebelakang. Karena masa ada didepan bukan dibelakang".
......
Tak ada satupun taksi yang lewat dijalankan sebesar ini.
"Uuhh"Kulemparkan nafas dengan kesal. Pesawat yang akan kunaiki akan segera terbang,sementara aku masih berdiri menunggu taksi disini.
Aku gak mau kesempatanku ini juga akan terbang.
Tiba-tiba mobil berwarna hitam berhenti di depanku. Dia menghalangiku untuk mendapatkan taksi.
Sepertinya aku harus menyuruh pemiliknya untuk menyingkirkan mobil ini dari hadapanku.
Aku berusaha menembus kaca mobil hitam ini."Siapa yang ada didalam mobil ini?"
Aku terkejut. Ketika salah-satu kaca mobil itu terbuka. Dan tak kalah terkejutnya aku,setelah melihat orang yang mengendarai mobil itu.
"Tamis??" Tanpa kesadaran,bibirku menyebut nama itu.
Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Berusaha menyadarkan,bahwa orang yang didalam mobil itu benar-benar seorang Tamis.
Aku belum puas juga. Lalu kukucek-kucekkan mataku. Setelah beberapa saat,aku mengakui bahwa ini adalah sebuah kenyataan. Bahkan,kenyataan ini membuatku sulit untuk meneguk ludahku sendiri.
Aku tercengang." Sejak kapan pria ini memiliki mobil semewah ini?. Dan...pria ini,untuk apa lagi dia datang kesini?"
"Tit...tit"
Klakson mobilnya memecahkan lamunanku. Telingaku terasa sakit,suara ini mengganggu pendengaranku.
"Dasar pria bengis!". Ketusku kesal.
"Ayo,cepat naik!. Tamis berteriak dari dalam mobil sambil mengisyaratkan ajakan dengan mengayunkan tangannya.
Kali ini,aku tak sanggup untuk menolak ajakannya. Karena aku sedang sangat membutuhkan kendaraan untuk bisa cepat sampai di Bandara.
Tamis melajukan mobilnya dengan kecepatan super tinggi. Sangat laju. Sampai-sampai,aku harus menahan tubuh dari guncangan. Dan aku takut untuk membuka mata.
"Auhh..."Mobil ini berhenti dengan mendadak. Keningku terhantuk dengan bagian depan mobil. Keningku kian berubah menjadi biru keunguan. Ini tak terlalu menjadi permasalahan ku.
Akhirnya,kami sampai. Dan aku bisa bernafas lega. Setelah kubuka mata,ternyata kami sudah sampai di bandar udara. Waktuku tertinggal 15 menit lagi.
Aku segera turun dari mobil,tanpa memikirkan keadaan luka wajahku. Aku tak bisa membuka pintunya, masih terkunci. Kutatap wajah Tamis,memohon agar dia segera membuka kunci pintu mobil.
"Begitukah kau berterimakasih padaku,setelah aku menyelamatkan mu dari keterlambatan?"
Dasar,pria ini hanya mengharapkan imbalan ucapan terimakasih dariku."Baiklah,terimakasih atas tumpangan mobilmu yang mahal ini".
Kurapatkan ujung-ujung gigiku dengan geram.
Kunci sudah terbuka. Secepatnya,aku keluar agar bisa terlepas dari pria menyebalkan ini. Memang sih,sekarang dia jadi sahabatku. Tapi dia selalu membuat gigiku merapat.
Aku pergi dengan kekesalan yang memuncak. Sepanjang jalan,aku memajukan bibirku." Aku kira tumpangan itu,khusus karena persahabatan. Tapi,tumpangan itu berujung pada ucapan terimakasih". Omelku ketika menyusuri jalan menuju pesawat.
Sampai akhirnya,aku bisa duduk dengan tenang dikursi pesawat yang sangat nyaman. Kututupmata,sembari mengatur pernapasan yang tak teratur karena emosiku sudah meluap.
"Masih marah?"
Mataku terbelalak. Kenapa suara pria itu terekam di telingaku.
"Sahabatmu ini ingin meminta maaf padamu!"
Jantungku terasa ingin copot,setelah melihat kehadiran Tamis yang tengah duduk diseberang kursiku. Ternyata suara ini bukanlah sebuah ilusinasi ku. Pria ini benar-benar ada di sampingku. Dia duduk dikursi seberang.
"Apakah dia akan ikut denganku sampai ke Fukuoka? Untuk apa Tamis ikut bersamaku?". Batinku bertanya-tanya.
Hatiku mendorongku untuk menanyakan semua ini langsung kepada Tamis.
"Tidak!Tidak! Jangan tanyakan apapun padanya atau dia akan pergi dariku sekarang!". Ucap batinku.
Aku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Aku tak boleh menunjukkan ekspresi bahwa aku terkejut melihat kehadirannya disini.
"Aku minta maaf ya! Aku mohon,terimalah permintaan maaf dari sahabatmu ini.
"Iya...iya...Aku gak marah! Cuman agak kesal. Tapi aku udah maafin !"
"Hahahah gitu dong,Jangan cemberut lagi tuh bibir. Nantik tambah tua" Dia meledekku dengan tawa lepas.
"Apa,jangan-jangan. Dari tadi Tamis dibelakangku" Ujarku."Tapi sudahlah,aku tak mau menaburkan bibit pertengkaran lagi dengannya"
Aku hanya bisa menghela nafas sembari mengelus dada untuk bersabar. Lalu kuubah bentuk bibirku menjadi lingkaran yang merekah. Seperti mawar.
Setelah beberapa menit,kulirik pria yang duduk di bangku seberang. Sudah tak ada suara lagi yang keluar dari bibirnya. Nafasnya juga mulai teratur. Sepertinya dia tertidur.
Aku menatap wajah sendunya."Benarkah semua yang dikatakan Aslan padaku?"
"Sebenarnya apa yang telah disembunyikan Tamis dibalik topengnya?"Batinku berkata.
"Kau harus lebih berhati-hati dengan kakakku". Ucapan Aslan kian terngiang-ngiang ditelingaku.
Aku yakin,waktu akan mengungkapkan semuanya.
Dia terbangun,pesawat juga akan mendarat. Aku bersiap-siap menyiapkan barang-barangku. Jangan sampai ada yang tertinggal.
Perjalanan kami dari Labuan Bajo menuju Jakarta. Tak lebih dari 1 jam.
Tinggal menunggu penerbangan dari Jakarta menuju Fukuoka.Dan kami harus bersabar menunggu selama 10 jam untuk menapakkan kaki di Fukuoka.
🤗🤗😉