
Sepulangnya dari rumah Nyonya Marzia, aku langsung singgah ke Mesjid Koln yang letaknya tak jauh dari apartemenku.
Matahari sudah hampir tenggelam. Baiknya, aku sholat di Mesjid Koln ini saja.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Suara merdu telah mengumandangkan azan. Suara yang sangat menyejukkan hati. Namun, suara ini sangat tidak asing. Tapi, kenapa? Aku saja baru berada di Koln beberapa minggu. Sudah merasa bahwa suara ini tak asing.
Mungkin, hanya perasaanku saja!
Aku mengikuti sholat berjamaah di mesjid ini.
Seusai sholat, aku duduk sebentar di salah satu anak tangganya.
Suasana malam yang sejuk di Kota Koln. Aku menggunakan waktu ini untuk menenangkan pikiran.
Teringat dengan buku yang menyimpan ribuan rahasia masa lalu, aku langsung mengeluarkannya dari tas ransel ku.
Baca disini juga tidak masalah.
Aku membuka lembaran pertama,
"Fath Al-Kareem & Marzia Shaqeena Mahren"
Terukir nama yang indah ketika aku membuka lembaran pertamanya.
"**Buku ini menyimpan ribuan rahasia yang telah digelapkan. Rahasia yang membongkar semua kebenaran. Aku sengaja menyimpannya dengan rapi di tiap lembaran buku ini."
Untukmu ...
3 lelaki yang sangat aku cintai.
Ayahku, Abdiel Aaron.
Suamiku, Fath Al-Kareem.
Sahabatku, Wafrie A**.
Aku tertegun setelah melihat nama sahabat Nyonya Marzia. Sangat mirip dengan nama ayahku. Mungkin saja, ada kemiripan. Tak hanya satu nama seperti itu. Dunia luas, bro.
Aku membalik halaman selanjutnya.
**Dulu, aku adalah gadis yang bermanja dengan ayahnya. Karena, hanya aku anak perempuan dari keenam bersaudara. Semuanya adalah kakak laki-laki.
Ayahku seorang pendeta besar di Fukuoka Internasional Church. Tak hanya itu, beliau juga pemilik perusahaan besar di Fukuoka. Beliau sangat disegani.
Beliau ingin aku menjadi seorang biarawati. Mengabdi untuk selalu beribadah. Tapi, aku selalu menolak.
Aku ingin menjadi seorang technical yang selalu bergelut dengan bumbu teknologi.
Lebih baik, aku belajar mati-matian untuk meraih impianku**.
Lagi-lagi aku tertegun. Ayah beliau seorang pendeta?
Lalu, bagaimana dengan Nyonya Marzia? Beliau mengenakan hijab setiap waktu. Bahkan dirumah pun begitu!
Untuk memecahkan tanda tanya yang hadir dalam diriku, aku membaca halaman seterusnya.
**Aku mulai beranjak dewasa. Ayah mengantarkanku ke FIT University. Itu adalah salah satu universitas teknologi ternama di Fukuoka.
Disini, aku bertemu dengan dua orang lelaki. Keduanya adalah muslim yang sangat taat dalam beribadah.
Satunya adalah sahabatku dan satunya lagi adalah kakak kelasku.
Mereka sangat menghargaiku sebagai seorang wanita. Menghargaiku walau berbeda agama.
Sesekali, aku menceritakan isi hatiku kepada Wafrie, sahabatku.
'Aku sangat mencintainya. Tapi, apakah kami bisa bersama?'
'Al-Kareem adalah lelaki yang sangat taat beribadah. Masih di ragukan jika dia akan menerimamu.'
'Apakah aku harus merelakan agamaku?'
'Jangan menjadikan Islam-mu sia-sia. Jika hanya berpindah agama karena urusan hati!'
'Lalu, apa yang harus dilakukan?'
'Sebaiknya, kita semua berteman saja!'
'Tapi, aku sudah sangat mencintainya!'
'Jika benar, mulailah untuk mencintai agamanya!'
Sekilas pembicaraanku dengan sahabatku.
Sejak itu, aku mempelajari Islam. Tulus dari hati. Ternyata sangat indah. Damai. Tentram. Hatiku sudah bertekad untuk memeluknya dengan erat.
Kuberanikan diri untuk mengatakan semua isi hatiku selama ini.
Kami menikah dengan islami. Aku resmi menjadi seorang muslimah. Al-Kareem memberiku nama yang indah. Nama itu adalah mahar pernikahan kami.
"Marzia Shaqeena Mahren"
Setelah menikah, aku mengajaknya agar membawaku jauh dari Fukuoka. Dia membawaku ke NTT yang memiliki pemandangan yang tak kalah indah dengan Fukuoka. Di NTT, kami tinggal di rumah sahabatku, Wafrie.
5 tahun sudah kami berada di Indonesia.
Tak kusangka, ayah tetap mencariku. Dia menhana sahabatku dan mengancam untuk membunuhnya jika aku tidak kembali.
Al-Kareem memutuskan untuk menghadang pembunuhan itu.
Tapi, ternyata hari itu adalah hari kematian.
Kakak tertuaku mengarahkan pistol ke arah sahabatku.
Suamiku, Al-Kareem baru saja sampai. Dia berlari untuk menghadang peluru itu dengan tubuhnya.
Sasaran tepat mengenai dadanya. Jantungnya pecah. Mengeluarkan banyak darah.
Mendengar berita itu, aku memutuskan untuk pulang. Semua ini terjadi karena diriku. Aku telah mencelakai dua orang.
Ayah hanya tau bahwa aku memiliki seorang putra. Aku tak ingin memberitahunya bahwa aku masih memiliki anak yang tinggal di Indonesia.
Putra pertamaku berada dibawah didikan kakeknya. Aku tak tau apa saja berita bohong apa saja yang telah di ceritakan kepadanya.
Aku hanya berpesan satu hal padanya, 'Ayahmu sangat membenci khamar. Ibu mohon, jangan pernah kau mencicipinya. Jikalau daging ****, masih diperbolehkan untuk memakannya dalam keadaan darurat. Tapi, khamar. Dia sangat memabukkan. Membuatmu tak sadarkan diri. Kau akan menjadikan banyak maksiat jika meminum setetes khamar! Ingat, jangan membenci siapapun. Kejadian masa lalu hanya tuhan yang tau. Biarlah menjadi masa lalu.'
Aku meninggalkannya. Pergi jauh. Menghilang tanpa kabar. Aku berusaha menggelapkan semua identitasku. Aku tak ingin ayah membawaku keluar dari Islam-ku. Sekarang, disinilah tempatku. Kota Koln.
Ayah selalu berkata, 'Semua salahku. Aku yang telah membamuatmu bertemu dengan pria itu. Aku yang membiarkanmu menuntut ilmu di FIT University. Maafkan ayah!'
Ayahku bukanlah orang jahat. Dia baik. Hanya saja, aku yang mengubah sikapnya terhadapku. Dia juga tidak membenci Islam. Hanya saja, dia tak suka agamanya di duakan. Beliau belum mengenal Islam. Bukankah ada pepatah mengatakan "Tak kenal maka tak sayang**!"
Halamannya terhenti sampai disini. Banyak yang telah di robek. Sepertinya, kertas yang dirobek penuh dengan kesedihan. Tak ingin membahasnya lagi.
Kisah cinta yang menyedihkan. Aku akan mengembalikan buku ini besok pagi.