
"Masa lalu saya adalah milik saya,masa lalu kamu adalah milik kamu,tapi masa depan adalah milik kita"
☘
️☘️☘️
Siang telah berselimutkan malam. Namun,mataku enggan mengatup untuk beristirahat. Fikiranku masih dihantui dengan misteri-misteri aneh yang timbul setiap kali aku bersama Tamis.
Aku masih menaruh tanda tanya besar pada pria ini. Aku berusaha mencoba untuk melacak informasi tentang identitasnya.
"Tamis tiba-tiba saja masuk kedalam hidupku. Dan perlahan mengikuti alur cerita hidupku. Aku tak tau jelas bagaimana asal-usul pria ini. Karena kebaikannya ingin membantuku agar dapat menginjakkan kakiku di Fukuoka lagi,kami terikat hubungan persahabatan. Tapi takkan pernah bisa melebihi persahabatan ku dengan Sang Pangeran komodo". Batinku berujar.
Aku selalu menunggu satu hari. Hari,dimana Tamis akan menghapus semua tanda tanya yang ku lukiskan untuknya. Hari,dimana Tamis akan menjawab semua kebingunganku. Hari,dimana Tamis akan membuka diri kepada sahabatnya ini. Aku yakin bahwa dia tidak akan pernah mengecewakanku.
...............
"Alhamdulillah, pagi ku sangat cerah! Meskipun malam tadi harus melewati kegelisahan hati!" Ucapan ku sambil berjalan di halaman kampus.
Tak jauh dari tempat ku berdiri, terlihat seorang wanita yang tak asing bagiku. Yap, dia Syafira. Aku rasa dia gadis remaja yang cukup asyik.
Senyumku melebar, aku berlari menghampirinya yang sedang bercengkrama dengan teman barunya, mungkin.
"Pagi!" teriakku.
Aku tak tahu apakah teriakkanku menghancurkan paginya yang cerah?.
"Hebat ya lo? Udah terbang sampek sini aja!" Syafira merangkulku.
Kan sudah ku bilang, dia adalah salah satu remaja yang sangat aktif dan asyik jiga bergaul dengannya. Kalian temui saja dia, kalau tidak percaya.
Aky hanya membalas perkataan Syafira dengan tawa kecil dibibirku.
"Oh ya, udah berapa teman yang lo dapat di Universitas ternama ini?"
"Belum ada!"
"Ya Allah, Fustuq! Lo hidup di dunia gede gini tanpa teman? Yang benar aja lo!" Unjarnya. "Tapi untung ada gue!"ucapnya dengan gaya sombong.
"Gue aja yanf baru nyampek tadi pagi udah langsung dapat teman. Hah...tuh liat!" Ucapnya lagi. "Hai Shui-Shui".
Syafira menyapa salah satu mahasiswi di universitas itu.
Dia benar, hidup tak luput dari kata seorang teman. Tapi bagiku, hanya berteman dengan Syafira seperti berteman dengan sangat update di media sosial.
Aku dan Syafira berjalan di koridor Universitas menuju kelas, karena 15 menit lagi kelas akan di mulai.
Tapi langkahku terhenti. Air mataku ingin menitik. Ruhku ingin pergi dari jasad ini. Setelah mataku melihat tamis sedang jalan berduaan dengan seorang wanita, yang pasti wanita itu lebih cantik dariku.
"Siapa wanita itu?". Hatiku seakan tertusuk oleh ribuan duri tajam. Kenapa sangat perih melihat mereka jalan berdua.
Sementara Syafira sedang berusaha menghancurkan lamunanku. Sampai-sampai kedipan mataku menciptakan satu butir air mata yang menetes diatas pipi merahku.
"Loh... Kok nangis?" Tanya Syafira bingung. "lo nonton apaan sih disana? Lo habis nonton drama turki sedih ya?"
"Engga! Tadi aku ajak kamu lomba kedip mata. Jadi kelamaan nahan matanya, terus pedih. Sampai air mataku keluar" Jawabku mengelakkan suasana yang ada.
"Kamu sih gak paham" Unjarku sembari mengahpus air mataku.
Kami melanjutkan perjalanan menuju kelas dengan berlari. Aku baru sadar, bahwa dosen yang akan mengajar sudah jalan lebih dulu dari kami. Yang tak lain dosen itu adalah tamis.
🔹🔹🔹🔹
Pagi ini sangat berbeda. Tak biasa Tamis datang terlambat. Kemana dosen dingin itu??
Keningku mengerut setelah melihat kedatangan wanita yang menggantikan posisi Tamis sebagai dosen. Kalau tak salah, wanita ini yang berjalan disamping Tamis pagi ini. "Kemana Tamis? bukannya wanita ini bersamanya pagi tadi?"
"Dan dari mana asal usul kehadiran wanita ini? Tanya batinku.
Rasa penasaranku tak bisa kuibaratkan lagi. Tak bisa terukur lagi seberapa besar penasaran menghantuiku sebaiknya aku menanyakan kepada teman sekelasku.
"Uttss". Panggilku kepada pria jepang yang duduk dikursi sebelahku.
"Siapa wanita ini?" Tanyaku.
"Seorang dosen!" Jawabnya singkat. Bukan jawaban itu yang ku butuhkan.
"Aku tau wanita itu dosen! Unjarku kesal "Maksudku...Bagaimana asal usulnya?? Tanyaku lagi dengan nada marah.
"Aku gak bisa memberitahumu secara detail. Aku hanya bisa memberitahumu nama wanita itu". Jawabnya. "Wanita itu bernama Jeean Quinshaa. Beliau adalah seorang profesor besar yang terlahir dari FUKUOKA INSTITUTE OF TECHNOLOGY ini. Setauku wanita ini tamat ditahun yang sama dengan dosen kita, Tamis!"
"Apa lagi yang kau tau tentangnya?"
"Maaf...! Seorang murid tak boleh menceritakan kepribadian gurunya tanpa izin dari sang guru". Ujarnya.
"Baiklah".
Selain cerdas, para mahasiswa disini sangat mementingkan adab. Terutama pada guru yang telah mengajarkan mereka.
Jawaban pria itu membuat hatiku luluh. Jarang sekalu pelajar seperti mereka ditemani di negri ibu pertiwi. Mungkin akulah yang harus menerapkannya setelah kepulangan nanti.
Jam belajar di kampus telah berhenti. Seperti biasa, aku harus segera pulang ke apartemen.
Berkali-kali aku menoleh kebelakang. Berharap agar tamis datang menjemputku dengan mobil mewahnya. Tapi, semua tak seindah yang ku bayangkan. Percuma dia datang, aku telah sampai di depan apartemen.
"Sepatu ini...?". Sepatu yang digunakannya menarik perhatianku. "Sepertinya aku kenal dengan pemiliknya!"
Dugaanku benar. Tapi kenapa Tamis berada disini?
"Kenapa kamu bisa-?"
"Jangan menanyakan apapun!"
Janji itu membuatku tak berdaya. Aku harus bersabar agar bisa terlepas dari janji ini.
"Ikutlah denganku. Hari ini, kamu harus mulai bekerja!" Ucapnya tegas.
"Bekerja?. Tepatnya apa yang mau menampungku untuk bekerja?" Tanyaku bingung.
"Aku sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal ikuti saja, apa kataku!" Ujarnya. "Ayo ikutanku!"
Tamis meninggalkanku yang terpaku di depan pintu kamar.
"Bukankah kamu telah membawaku kesini semalam?" Tanyaku. "Apakah aku akan bekerja disini?"
"Yang benar saja!"
"Turun!" Titahnya
Kuhempaskan nafas dengan malas lalu beranjak keluar dari mobil mewahnya. Sambil mengomel.
"Emang, dia fikir aku ini robot. Mengikuti perintahnya melulu". Omelku "untung wajahnya tampan, kalau enggak-udah habis itu anak!"
"Ayo masuk!"
Pria ini mulai melangkahkan kakinya memasuki perusahaan. Kulihat semua orang memberikan salam hangat disertai hormat kepadanya.
"Siapa tamis sebenarnya?"
"Pergilah ke laboratorium teknologi! Kamu akan bekerja disana sekarang. Aku akan menunggumu disini dan akan selalu mengawasi pekerjaanmu".
"Ke-kenapa kamu membetakkanku disana? Aku tak punya pengalaman apapun dalam hal itu, aku bukan seorang profesor hebat. Bisakah kamu meletakkan ku di tempat lain?
Aku takkan sanggup bekerja di laboratorium teknologi itu. Aku takut akan menjadi perusak disana!" Ujarku.
Aku tak mengerti dengan pria ini. Kenapa dia menyuruhku bekerja disana?. Bukannya dia tau bahwa aku hanya seorang murid baru di Negri Jepang ini. Dan belum pernah mencicipi buku-buku yang berbau teknologi.
"Jangan membantahku! Bekerjalah disana!"
Tamis tak memperdulikan alasan apapun yang telah ku utarakan padanya. Dia tetap bersikeras terhadap apa yang telah ia putuskan. Akhirnya, aku menerima keputusannya. Aku akan tetap bekerja di laboratorium teknologi.
"Pergilah! Tempat kerjamu ada di lantai paling atas".
"Apa?". Aku terkejut setelah mendengar kata "Lantai paling atas". Akan kubayangkan, Belum seminggu bekerja di perusahaan ini, aku sudah terbaring lemah di rumah sakit.
Setauku, para pekerja di perusahaan ini dilarang menggunakan lift. Karena hanya ada satu lift digedung sebesar ini. Dan itupun terkhusus digunakan untuk CEO perusahaan ini.
"Udalah! Gak usah banyak ngeluh! Jalani dulu!" Ucapannya tegas.
Bibirku hanya terbungkam rapat. Tak satu katapun meluncur dari bibirku.
Sia-sia jika harus berdebat dengan pria ini. Lebih baik,aku segera pergi untuk bekerja.
Aku berjalan menyusuri gedung luas ini. Melewati tiap-tiap anak tangga. Aku barus menghabisi 3 tangga. Masih ada 7 tangga yang masing-masing tangga mempunyai 15 anak tangga. Dan itu semua harus kulewati agar bisa sampai di laboratorium teknologi ,tempatku bekerja sekarang.
"Huh,menyebalkan ! Sepertinya pria ini sedang mempermainkanku".Gumamku kesal."Atau-atau pria ini ingin aku mati kelelahan!" Lagi-lagi aku harus berburuk sangka terhadap kelakuan anehnya.
Langkah kakiku sudah mulai malas. Belum menyentuh pekerjaan,sementara keringatku sudah mengucur deras. Rasanya sudah tak sanggup untuk melanjutkan langkah. Aku terduduk lemas disalah satu anak tangga. Seperti yang banyak dilakukan komunitas Indonesia.
Beberapa menit,setelah puas melepas rasa lelah ini. Aku pun beranjak dari tempat duduk ku. Tapi,tunggu!
Bola mataku terfokus menangkap objeknya
Aku melihat wanita yang sama,dia yang menggantikan posisi Tamis sebagai dosen di FIT University. Bahkan,sekarang wanita itu berkeliaran di perusahaan tempat Tamis bekerja,"Kalau begini terus,mereka akan semakin akrab. Bisa-bisa...?"
"Astaghfirullah! Ya Allah,maafkan hamba karena telah berburuk sangka terhadap orang yang belum hamba kenal dengan pasti bagaimana tabiatnya".Ucap batinku.
🌹🌹🌹
Semakin hari,diriku semakin antusias terhadap sesuatu yang berbau teknologi. Tiap harinya,terbitlah rancangan-rancangan baruku. Dan tiap harinya,kemajuan terus menghampiri perusahaan ini.
Aku juga mendapatkan rekan kerja baru,dia lelaki lugu kacamata yang selalu menjadi identitasnya. Tetapi,dibalik wajah lugunya,tersimpan otak keemasan yang tak dimiliki orang lain,bahkan diriku.
Begitu juga,dibalik kecerdasannya ada banyak kecerobohan yang tercipta. Itu semua menyebabkannya sulit untuk berkomunikasi. Bagiku,dia rekan kerja yang cocok dalam setiap rancangan yang telah kubuat.
Terlihat dari kedua matanya, kegugupan yang terus menyelimutinya. Semua orang selalu melemparkan kemarahan mereka atas kecerobohan yang dilakukannya. Tapi,tidak denganku. Bagiku,tak ada gunanya jika meluapkan kemarahan padanya. Karena lelaki lugu ini takkan menunjukkan wajah bahwa dia memperdulikan apa yang kita ucapkan,sama halnya kita berbicara dengan patung.
Bagiku,lelaki ini hanya bisa berbicara dari hati ke hati. Biarlah hatinya menerima kehadiran kita. Barulah komunikasi dengannya terasa lancar. Hatinya yang begitu bersih,tak menyimpan dendam pada orang-orang yang telah mencacinya setiap hari. Sangat bersih,pernuh dengan kedamaian.
........................Lelaki lugu itu bernama MERT..............Lelaki asal Palestina. Dia tak memiliki keluarga lagi, semua yang dimilikinya hilang akibat pengeboman yang dilakukan oleh tentara Israel. Kini hanya tinggal dirinya sebatang kara. Memenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan bekerja disini. Kecerdasan yang ia miliki,bersumber dari kecerdasan ilahi. Seperti yang Mert ceritakan padaku,bahwa hari-harinya diisi dengan Ayat Suci Al-Quran. Bahkan kitab suci itu tak pernah lepas dari genggamannya. Tiap hurufnya melekat di jiwa dan batinnya. Begitupun ilmu teknologi yang didapatnya bukan dari sekolah yang hanya duduk dan pegang pena. Tapi semua ilmu itu ia dapat dari kajian Al-Quran yang tiada henti-hentinya. Selalu melakukan kajian ayat demi ayat. Takkan lanjut keayat setelahnya jika Mert belum mengupas habis ayat sebelumnya.
♥️Hebat ya, Mert saja yang memiliki banyak kekurangan masih menyempatkan waktunya untuk mengkaji Al-Quran dan seisinya♥️
🙄Bagaimana dengan kita,apakah sudah ada satu ayat yang telah kita kaji?🙄