
“Jadi, apa kau punya rencana?” Suzanne menatap Javier yang baru saja ia panggil.
“Yang mulia, apa Anda sadar pukul berapa sekarang?” Javier menatap Suzanne dengan kesal.
“Itu tidak penting, yang paling penting itu apakah kamu punya rencana atau tidak?” sela Suzanne ketus.
“Tuan putri, saat ini pukul tiga pagi dan saya masih tertidur, saya pikir Anda terluka atau pingsan lagi ketika dayang saya mengetuk pintu kamar saya dengan tidak sabaran dan memberi tahu saya bahwa Anda memanggil saya,” gerutu Javier kesal.
“Javier, ada atau tidak rencananya?” tanya Suzanne mengabaikan ucapan protes Javier.
“Saya belum menyusun rencana apa pun, Tuan putri,” jawab Javier malas.
“Kalau begitu ayo pergi,” ajak Suzanne.
Javier melotot kaget, “pergi ke mana?”
Suzanne tersenyum jahat, “Ke tempat lelang.”
*
“astaga, Tuan putri, kalau Kaisar tahu Saya membawa Anda ke sini saya bisa langsung di eksekusi,” bisik Javier kesal.
“Aku yang mengajakmu, jadi tenang saja, mereka tidak akan marah,” balas Suzanne pelan.
Yap, saat ini Suzanne dan Javier ada di tempat lelang, keduanya menyembunyikan identitas mereka dengan topeng, sama seperti pelanggan-pelanggan lain.
Suzanne sengaja memanggil Javier jam tiga pagi, ketika pelelangannya baru di mulai, jadi mereka bisa menyusup sebagai pelanggan.
Pelelangan di mulai dengan di pamerkannya seorang gadis kecil bertelinga kucing. Suzanne mendesis kesal, melihat cara mereka memperlakukan bangsa siluman membuat Suzanne ingin membakar seluruh tempat ini.
“Aku ingin menghabisi mereka semua,” bisik Suzanne ketika para ‘pembeli’ mulai mengajukan harga.
“1000.000 gold,” Suzanne angkat bicara, ikut menawar sementara Javier menyusup ke belakang.
“1000.000 gold, ada yang mau menawar lebih?” tanya Auctioneer.
Hening, tidak ada lagi yang berani mengangkat suara. Tentu saja, karena harga yang baru saja Suzanne ajukan setara dengan anggaran satu tahun bangsawan kelas bawah.
“Oke, terjual 1000.000 gold, untuk nona bertopeng rubah,”
Duar!
Suzanne tersenyum smirk, ia tahu suara ledakan di belakang itu adalah ulah Javier.
“Apa yang terjadi?!”
Kepanikan terjadi, semua orang berlarian keluar. Sementara Suzanne berjalan dengan santai ke arah auctioneer yang terlihat ketakutan.
“Kenapa pucat begitu?” tanya Suzanne dingin.
“Siapa kau?!” tanya auctioneer ketakutan.
“Astaga, tidak sopan, perlukah saya penggal kepalanya?” Javier menghunuskan pedangnya.
“Kita akan kerepotan kalau dia mati, bagaimana di belakang?” tanya Suzanne.
“Sudah saya bereskan, korban sudah dibawa oleh para prajurit,” jawab Javier berbisik.
“Bawa orang ini ke penjara bawah tanah,” titah Suzanne.
“Baik, Yang mulia,”
*
“Siapa tuanmu?!” untuk ke sekian kalinya, Oliver bertanya pada laki-laki di hadapannya.
Saat ini Oliver sedang menginterogasi auctioneer yang Javier tangkap dari pelelangan ilegal tadi. Suzanne sendiri yang meminta kakaknya itu untuk menginterogasinya.
“Saya sungguh tidak tahu, saya hanya di beri perintah lewat surat,” pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama.
“Kak, ini tidak akan selesai!” Suzanne berseru kesal.
Oliver menghela nafas pelan, “lagian kamu juga, ngapain bawa-bawa dia ke sini, kakak kaget liat kamu di kamar kakak dan langsung bawa kakak ke sini!”
“Sudahlah, serahkan saja surat-suratnya,” ucap Suzanne final.
“Memang apa yang bisa kita lakukan dengan surat-surat itu?” tanya Oliver berbisik.
“Melakukan investigasi dengan ketelitian,” jawab Suzanne asal.
“Surat-suratnya ada di ruangan saya di club itu,” ucap auctioneer pelan.
“Oke, aku akan meminta Javier mengambilnya,” Suzanne berucap lalu pergi begitu saja, meninggalkan kakaknya untuk menyelesaikan urusannya.
Suzanne segera memerintahkan Javier untuk mencari surat-surat itu sebelum ada orang lain yang mengambilnya. Suzanne sendiri kembali ke kamarnya dan langsung berbaring di kasur.
“Astaga, pagi yang melelahkan,” gumam Suzanne lelah.
“Anda tidak mandi dulu, Tuan putri?” tanya Selena membuat Suzanne terlonjak kaget.
“Astaga, sejak kapan kau ada di sana?” Suzanne berseru kaget
“Sejak beberapa saat yang lalu, Yang mulia,” Selena membalas dengan sopan.
“Bukankah aku menyuruhmu untuk mengurus siluman kucing itu dulu? Di mana dia sekarang?” tanya Suzanne.
Ya, Suzanne membawa pulang siluman kucing yang hampir di lelang tadi, ia merasa kasihan melihat tubuh kecilnya yang kurus kering.
“Dia tidur di kamar saya, Yang mulia,” jawab Selena.
“Siapa namanya?” tanya Suzanne lagi.
“Dia memperkenalkan dirinya sebagai White, Yang mulia,” jawab Selena.
Suzanne mengangguk paham, “setelah dia bangun suruh dia untuk menemuiku, sekarang kau kembalilah, tunggu sampai dia bangun,”
“Baik, Yang mulia,” Selena membungkuk lalu berbalik pergi.
Ketika Selena baru saja membuka pintu, Suzanne menghentikannya.
“Panggil Doreen ke sini,” titah Suzanne.
“Baik, Yang mulia.”
*
Suzanne menatap White dengan seksama, ia kemudian meminta White untuk duduk di sampingnya.
“Jadi, namamu White?” tanya Suzanne membuka percakapan.
“Benar, Yang mulia,” jawab White pelan.
Suzanne menatap Selena, “Selena, bawakan kami camilan,”
“Baik, Yang mulia,” Selena membungkuk lalu keluar dari kamar Suzanne untuk mengambilkan camilan.
“Nah, sekarang, bisa kamu ceritakan kenapa kamu bisa berakhir di pelelangan?” tanya Suzanne.
White terdiam ketakutan.
“Kalau kau memang tidak mau membicarakannya, tidak masalah,” ucap Suzanne menyadari ketakutan White. “Ke depannya apa yang akan kau lakukan?” tanya Suzanne.
“Apakah aku tidak boleh menetap di sini?” tanya White lirih.
Suzanne mengusap kepala White lembut, “kalau kau mau tinggal di sini, kau harus bekerja,”
“Aku bisa bekerja,” kata White masih dengan suara pelan.
“Kau bisa mengurus kebun?” tanya Suzanne.
“Bisa!” jawab White semangat.
“Kau suka bunga?” tanya Suzanne menyadari perubahan mood White.
White mengangguk malu.
“Baiklah, kebetulan pengurus tamanku baru pensiun, kau bisa menggantikannya,” ucap Suzanne.
White mendongak, ia menatap Suzanne tak percaya, “bolehkah?”
“Boleh, masalah upah, jangan khawatir, aku akan memberimu upah setiap bulan,” Suzanne berucap lembut.
“Saya dapat upah?” tanya White terlihat senang.
“Tentu saja!” jawab Suzanne mantap.
White bangkot dan membungkuk sopan, “Terima kasih, Tuan putri.”
“Bekerjalah dengan giat, kalau ada yang dirasa tidak nyaman, bicaralah padaku, oke?” ucap Suzanne.
“Baik, Yang mulia.”
*
Suzanne membuka matanya ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk.
“Tuan putri, ini saya Javier,”
Suzanne bangkit, ia membuka pintunya yang memang sengaja ia kunci.
“Ada apa?” tanya Suzanne dengan wajah ngantuknya.
“Saya sudah menemukan tulisan yang sama persis dengan pengirim surat itu,” jawab Javier.
Suzanne langsung membuka matanya, “ayo kita bicarakan di dalam,” Suzanne beralih menatap Doughlass, “Jangan biarkan siapa pun masuk sebelum mendapat izinku,”
“Baik, Yang mulia,”
Suzanne masuk ke kamarnya, di ikuti Javier yang menutup pintu kamar sang putri.
“Apa tulisannya milik Clester?”
Javier terkejut, “Bagaimana Anda bisa tahu?”
Berarti benar, kelompok kuat yang di sebutkan dalam novel adalah para bandit ini, Tapi kenapa Count Clester mendukung mereka? Sebenarnya, cerita yang aku baca itu menceritakan tentang apa? Apakah orang yang selama ini muncul sebagai tokoh utama sebenarnya adalah antagonis? Batin Suzanne bertanya-tanya.
“Yang mulia?” panggil Javier menarik Suzanne keluar dari lamunannya.
“Vier, aku ingin kamu menyelidiki satu hal lagi,” Suzanne menatap Javier serius.
“Apakah ini perintah?” tanya Javier.
“Bukan, aku meminta ini sebagai temanmu,” jawab Suzanne.
Javier tersenyum kecil, “kau ingin aku menyelidiki apa?”
Suzanne menghela nafas pelan, “bukan apa, tapi siapa.”
*
“Count Clester?!” Kaisar Taylor berseru kaget ketika Suzanne memberi tahu apa yang baru saja ia temukan.
“Bukankah dia adalah salah satu bangsawan yang paling tenang?” Oliver menanggapi.
“Bukankah ada pepatah yang mengatakan, air yang tenang bukan berarti tidak ada buayanya,” ucap Suzanne.
“Eh, benarkah? Pepatah apa itu? Aku belum pernah mendengarnya,” Oliver berucap bingung.
Ah, sial, itu kan pepatah di kehidupanku yang dulu, Suzanne, kamu ceroboh, batin Suzanne.
“A-ah, entahlah, aku hanya pernah mendengarnya saja,” jawab Suzanne terbata.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan pada Count Clester?” tanya Suzanne mengalihkan pembicaraan.
“Ayah akan menyelidikinya lebih lanjut, setelah semua bukti terkumpul dan semua kejahatannya terbongkar, ayah akan memutuskan hukuman apa yang pantas untuknya,” jawab Kaisar Taylor.
“Kalau begitu aku dan Javier akan mengurus yang lainnya, masalah ini aku serahkan pada Papa,” ucap Suzanne.
“Anne, sepertinya kamu harus berhenti mengerjakan hal-hal seperti ini lagi, lagian kakak kan sudah kembali,” kata Oliver membuat Suzanne menatapnya dengan tajam.
“Tidak mau, aku suka mengerjakan hal-hal seperti ini, lagian kakak juga punya tugas sendiri, jangan mengambil pekerjaanku!” seru Suzanne kesal.
“Oliver, sudahlah, biarkan adikmu melakukannya, lagian karena sekarang kau sudah kembali, tugasnya sudah berkurang, jadi tidak masalah,” ucap Kaisar Taylor.
“Ah, baiklah, terserah kalian saja,” balas Oliver menyerah.
Suzanne tersenyum puas, “Aku menang,”