The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 12



“Yang mulia, Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat pucat.”


Suzanne tersentak, ia berdehem pelan, “ya, aku baik-baik saja.”


“Aku akan ke ruang istirahat, Javier, tolong katakan pada Daniella untuk segera menyusul, aku harus berganti pakaian,” titah Suzanne.


“Baik, Yang mulia,” balas Javier sopan.


Suzanne berjalan meninggalkan mereka, diikuti oleh Javier yang pergi untuk mencari Daniella, menyisakan Gwen yang berdiri seorang diri di sana dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


Suzanne masuk ke ruang istirahat dan langsung menguncinya, ia duduk dan langsung menghela nafas panjang, ia memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa nyeri.


“Ha ... situasi macam apa itu tadi? Untung Papa dan Kakak tidak melihat, aku tidak tahu kekacauan macam apa yang akan mereka buat kalau mereka melihat kejadian tadi,” ucap Suzanne pelan.


Suzanne menutup matanya, mencoba menikmati ketenangan yang sudah lama tidak ia dapatkan.


Belum genap sepuluh menit Suzanne menikmati ketenangan itu, kemunculan Daniella membuat ketenangannya hancur.


“Astaga, kau mengagetkanku!” seru Suzanne kesal.


“Aku membawakan bajumu,” ucap Daniella tanpa dosa.


Suzanne menghela nafas lelah, “kalau begitu bantu aku berganti baju,” titah Suzanne.


“Kenapa harus aku?” Daniella bertanya, bingung.


“Memangnya aku harus meminta tolong siapa lagi?!” seru Suzanne kesal.


“Ah, baiklah, aku lupa kalau dayangmu tidak ikut hari ini,” ucap Daniella.


Suzanne mendengus kesal, ia berbalik, membiarkan Daniella membantunya berganti pakaian.


Setelah selesai dengan urusannya, Suzanne mengusir Daniella secara halus dan ia langsung kembali duduk di sofa sembari menikmati ketenangan yang baru saja kembali.


“Aku lelah,” bisik Suzanne pelan.


Suzanne mengakuinya sekarang, baik saat menjadi Kim Hye-rin ataupun saat menjadi Suzanne, ia tidak pernah sekali pun berkata ataupun mengakui kalau dirinya lelah, dan sekarang ia mengakuinya, ia lelah.


Jiwanya yang sudah lelah sebagai Kim Hye-rin dipaksa bangkit untuk menjadi Suzanne, dan ia menahannya selama ini, tapi sekarang ia benar-benar lelah, secara fisik dan secara batin.


Fisiknya lelah karena pekerjaannya yang tak kunjung selesai, batinnya juga lelah karena memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Ia bahkan tidak yakin apakah ia bisa bertahan sampai tahun depan atau tidak.


Saat masuk ke dalam tubuh Suzanne, ia pikir akhirnya ia akan mendapatkan masa remaja normal yang tidak bisa ia dapatkan semasa menjadi Kim Hye-rin., tapi sejak ia tahu tentang penyakit yang dideritanya, ia menyerah akan impian itu.


Suzanne tidak tahu kapan ia akan mati, lagi, dan itu membuatnya cukup frustrasi, ia seakan terkubur di dalam rasa takutnya akan kematian. Mati sekali tidak membuat Suzanne kebal terhadap kematian, terlebih setelah merasakan semua kasih sayang yang diberikan padanya, Suzanne semakin takut.


Di kehidupan sebelumnya, orang tuanya meninggal saat ia masih sangat kecil, itu membuat ia harus bertahan sendirian di antara keluarganya yang sangat-sangat menginginkan harta orang tuanya. Saat itu, ia masih bisa bertahan karena bantuan keluarga sahabatnya, Lee Ga-eun, sampai ia bisa berdiri sendiri dan kembali menjalankan semua usaha milik mendiang orang tuanya.


Lee Ga-eun tetap menjadi temannya bahkan sampai saat-saat terakhir di hidupnya, dan ia hanya bisa bersyukur karena ia sudah pernah menulis surat wasiat untuk menyerahkan semua asetnya kepada GA-eun jikalau ia tiba-tiba meninggal.


Suzanne penasaran, apakah sahabatnya itu makan dengan baik setelah kematiannya? Atau saat ini ia belum mati? Apakah jiwa Suzanne yang asli berada di tubuhnya sekarang? Kalau iya, apakah ia bisa mengurus kehidupannya dengan baik?


Suzanne menghela nafas pelan, di saat-saat seperti ini, ia jadi sangat merindukan kecerewetan Ga-eun, ia merindukan sahabatnya.


“Hei Lee Ga-eun, apa kau baik-baik saja?”


*


Akhirnya pesta yang melelahkan itu berakhir, Suzanne akhirnya bisa berbaring di kamarnya dengan santai. Yap, setidaknya itulah yang Suzanne pikirkan sebelum Javier tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa ia membawa laporan yang mendesak.


Dan, di sinilah Suzanne sekarang, di ruang kerjanya bersama Javier yang menunjukkan ekspresi yang cukup membuat Suzanne cemas.


“Ada apa?” tanya Suzanne.


“Yang mulia, soal hal yang ingin Anda selidiki tempo hari, saya sudah menyelidikinya," ucap Javier.


"Dan, hasilnya?"


“Mengerikan.”


“Yang mulia, saat ini kemungkinan besar kita kembali menghadapi penyihir gelap.”


*


Darurat yang sangat berbahaya, Suzanne mengumpulkan semua anggota keluarganya dan bahkan memanggil Daniel dan Daniella langsung setelah Javier menyelesaikan laporannya.


Tentu saja mereka bingung pada awalnya, tapi saat Javier menjelaskan pokok masalahnya, mereka mulai mengerti dan langsung duduk untuk meminta penjelasan dari Suzanne.


“Sebenarnya keluarga mana yang kamu selidiki?” tanya Daniel.


“Keluarga Count Duncan,” jawab Suzanne.


“Count Duncan katamu? Kukira dia adalah manusia paling bersih di antara bangsawan-bangsawan lainnya,” Oliver berseru seakan tak percaya.


“Seharusnya saat nama Count Clester muncul ke permukaan, kalian juga mencurigai keluarga Count Duncan,” ucap Suzanne.


“Kenapa begitu?” tanya Daniella.


“Kenapa apanya? Countess Clester saudara tiri Count Duncan,” jawab Suzanne.


Semua orang terdiam terkejut.


“Ada apa dengan ekspresi kalian itu? Kalian tidak tahu?” tanya Suzanne kebingungan.


“Anne, hanya ayah dan ibumu yang tahu tentang hal itu, dari mana kau tahu?” Kaisar Taylor menatap putrinya serius.


“Apa?! Kakak tidak tahu? Bagaimana dengan Grand Duke? Dia juga tidak tahu?” tanya Suzanne semakin kebingungan.


“Tidak ada yang tahu Anne, Ayah dan Ibu membuat kesepakatan dengan Count Duncan terdahulu, dia meminta putrinya diberikan gelar baru alih-alih memasukkannya ke keluarganya. Ayah menyetujuinya karena saat itu Count Duncan sudah banyak membantu ayah,” jelas Kaisar Taylor.


“Yang benar saja!” Suzanne berseru kaget, di novel tidak pernah dijelaskan hal seperti ini, lanjut Suzanne dalam hati.


“Jadi Anne, dari mana kau tahu tentang hal ini?” tanya Kaisar Taylor.


Suzanne terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada ayahnya. Tidak mungkin juga ia mengatakan bahwa ini adalah dunia dalam novel yang pernah ia baca kan?


“Spirit! Aku tahu dari para spirit,” jawab Suzanne asal.


Well, Suzanne tidak sepenuhnya berbohong, ia akhir-akhir ini sering bercakap-cakap dengan spirit yang ada di taman istana.


“Spirit? Kau bisa melihat spirit?” Oliver bertanya kaget.


“Iya, aku akhir-akhir ini sering berbincang dengan mereka,” jawab Suzanne seadanya.


“Anne ... kenapa kau tidak bilang?” tanya Kaisar Taylor.


“Hah? Bukannya Lucian juga bisa? Aku pikir ibu juga bisa melihat dan berbicara dengan spirit? Aku pikir hal ini sudah biasa di sini, jadi ... sepertinya tidak terlalu penting untuk dibicarakan,” jawab Suzanne.


“Anne, baik Lucian ataupun ibu, mereka hanya bisa melihat tanpa bisa berkomunikasi dengan para spirit, jadi dalam kasus ini, kau spesial,” ucap Oliver memberi tahu.


Suzanne menghela nafas pelan, “spesial? Penyakit ini masih belum cukup membuat aku spesial ternyata,” lirih Suzanne.


“Hei, berbicara dengan spirit bukan hal yang buruk,” ucap Kaisar Taylor.


“Aku tahu,” balas Suzanne acuh.


“Ah, sudahlah, lupakan saja. Kita kembali ke pembahasan awal kita,” ucap Suzanne kembali ke pembahasan awal mereka.


“Baiklah, jadi sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Daniella.


“Keluarga Duncan bekerja sama dengan penyihir hitam, dan mereka sendiri kemungkinan besar belajar sihir hitam,” jelas Suzanne.


“Jadi maksudmu saat ini kita berhadapan dengan penyihir hitam?” tanya Daniel.


“Ya, karena itu aku mungkin membutuhkan bantuan menara penyihir untuk menangani masalah ini,” jawab Suzanne.


“Kalau begitu aku akan mencoba mengumpulkan para penyihir, tapi, dari mana Anda tahu kalau keluarga Duncan juga belajar sihir hitam juga?”