
Suzanne meminum tehnya dengan santai, mengabaikan tatapan ayah dan kedua saudaranya yang mungkin bisa melubangi tubuhnya. Ia kemudian meletakkan gelas tehnya dengan sedikit kasar, membuat ketiga orang itu langsung pura-pura sibuk.
“Ada yang ingin kalian tanyakan?” tanya Suzanne langsung tanpa basa-basi, membuat keluarganya gugup sendiri.
“Papa dengar, kemarin kamu dan Grand Duke menghadapi sekelompok bandit dan kalian terluka, apa lukanya sudah membaik?” tanya Kaisar Taylor sesantai mungkin.
“Papa sudah berbicara pada Ruppert, jadi kupikir papa tidak perlu jawaban dariku. Apa pertanyaan sebenarnya?”
“Kakak mau mengadakan pesta debutante?” tanya Lucian frontal.
Suzanne menyemburkan teh yang baru saja ia minum, ia menatap Lucian dengan tatapan horor, “ah, benar juga, satu bulan lagi ulang tahunku yang ke tujuh belas!”
“Kakak lupa?” tanya Lucian polos.
“Apa aku terlihat lupa sekarang?” Suzanne menatap adiknya garang.
Suzanne kemudian beralih menatap sang ayah, “kenapa ayah tidak mengingatkanku tentang ini?!”
“Ayah pikir kamu tidak mau membuat pesta besar-besaran lagi,” ucap Kaisar Taylor lirih.
“Tidak bisa begitu! Semuanya harus mewah karena akan banyak gadis yang juga merayakan debutantenya bersamaku!” seru Suzanne tak santai.
“Baiklah, tidak ada kata terlambat, kalian harus menyelesaikan semua pekerjaan kalian, dan Lucian, kamu sudah besar jadi ayo bantu kakak mempersiapkan pesta!”
Lucian menatap sang kakak dengan mata berbinar, “aku?”
“Ya, kamu, kita mulai semuanya besok, ingat ayah, kakak, sebelum pesta, semua pekerjaan kalian harus sudah selesai!” ucap Suzanne penuh penekanan.
“Baik!” jawab Oliver dan Kaisar Taylor kompak.
Yes, aku akan menghabiskan banyak waktu berdua dengan kakak!
*
Tujuan pertama Suzanne dan Lucian adalah toko milik Countess Sylvia, keduanya pergi ke sana bersama Selena dan dua orang kesatria karena Javier bertanggung jawab membuat dan menyebar undangan.
“Ah, Yang mulia, saya baru saja akan ke istana untuk menyerahkan seragam pesanan Anda,” ucap Countess Sylvia begitu melihat Suzanne yang duduk di sofa tokonya.
“Wah, kebetulan sekali, dayang pribadiku ikut, berikan saja seragam miliknya dulu, sisanya antar ke istana,” titah Suzanne.
“Baiklah, Yang mulia.”
Countess Sylvia kemudian mengajak Selena untuk berganti pakaian, dan Suzanne sangat puas dengan seragam baru yang dibuatkan oleh sang Countess itu.
“Sangat indah, sesuai dengan perkiraanku,” puji Suzanne.
“Saya hanya menjahit desain yang Anda gambar,” balas Countess Sylvia merendah.
“Tidak usah merendah, kenyataannya kau memang berbakat, kalau bukan Countess, mungkin saja desainku bisa hancur,” ucap Suzanne jujur.
“Kalau begitu, terima kasih pujiannya, Yang mulia,” Countess Sylvia membungkuk berterima kasih.
“Sudahlah, hari ini aku di sini untuk membuat gaun untuk debutanteku nanti, sekalian buatkan beberapa setelan untuk adikku,” ucap Suzanne memberi tahu tujuannya.
“Ah, benar juga, sebentar lagi Anda ulang tahun, kalau begitu saya akan menunjukkan beberapa desain yang mungkin akan Anda sukai.”
Countess Sylvia masuk beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah buku desain yang sepertinya baru saja ia selesaikan.
“Ini baru kau gambar?” tanya Suzanne melihat gambarnya yang tampak baru.
“Benar, Yang mulia, Anda yang pertama melihatnya,” jawab Countess Sylvia.
“Baguslah, aku mau semuanya, dan jangan biarkan satu orang pun yang menyamai gaunku,” ucap Suzanne singkat dan jelas.
Countess Sylvia tersenyum senang, “baik, Yang mulia.”
“Untuk setelannya ....” Suzanne menjeda ucapannya, ia menatap Lucian dengan teliti sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya, “berikan setelah yang berwarna nude, adikku akan sangat cocok dengan warna-warna nude.”
“Baik, Yang mulia,” Countess Sylvia menatap Lucian, “mari pangeran.”
Lucian menatap Suzanne dan begitu kakaknya mengangguk, Lucian baru pergi mengikuti sang Countess.
Lucian mencoba beberapa baju dan pada akhirnya, Suzanne yang menyukai semua pakaian yang adiknya pakai jadi memesan semuanya dalam ukuran yang sedikit lebih besar, untuk mengantisipasi agar tidak cepat kekecilan.
“Pada akhirnya kita hanya berbelanja baju hari ini,” ucap Suzanne di kereta kuda.
“Tidak masalah, Yang mulia, kita bisa ke toko dekorasi besok,” balas Selena menenangkan.
“Kau benar, kita bisa melakukannya besok, untuk sekarang, ayo kita pulang!”
*
“Yang mulia, undangannya sudah tersebar semua,” Javier memberikan laporannya pada sang putri.
“Baiklah, kerja bagus, Javier, sekarang ayo temani aku dan Lucian keluar untuk memilih bahan makanan sendiri, tentu saja bersama selena dan kepala koki istana,” ucap Suzanne.
“Baik, Yang mulia,” balas Javier pasrah saja.
Di sinilah mereka, di toko bahan makanan, dengan Suzanne yang sibuk melihat-lihat bersama kepala koki, sementara Javier, Lucian dan Selena hanya memperhatikan dari belakang.
“Nah, karena aku sudah selesai memilih, aku akan keluar dulu bersama Javier dan Lucian, kau dan Selena kembalilah ke istana duluan,” ucap Suzanne setelah selesai memilih semua bahan makanan yang dibutuhkan.
“Tapi, Yang mulia ...”
“Sudahlah, aku ada urusan sebentar dengan Javier dan Lucian, jadi kalian kembalilah dulu,” sambar Suzanne tidak membiarkan Selena menyelesaikan ucapannya.
Suzanne kemudian menarik Javier dan Lucian keluar dari toko bahan makanan, meninggalkan kepala koki dan Selena yang hanya bisa terdiam membeku melihat tingkah sang putri.
“Kakak, kita mau ke mana?” tanya Lucian.
“Ke toko perhiasan, kakak lupa beli perhiasan untuk di pakai nanti,” jawab Suzanne.
Ketiganya masuk ke toko perhiasan dengan santai, di dalam sudah sangat ramai dengan adanya banyak nona-nona bangsawan yang membeli perhiasan untuk alasan yang sama seperti Suzanne.
Suzanne mengabaikan keramaian itu, ia fokus memilih beberapa perhiasan dan juga bros untuk keluarganya dan untuk Javier.
“Aku mau bros kembar itu, belum ada yang pesan kan?” tanya Suzanne sembari menunjuk sepasang bros dengan permata berwarna pink, senada dengan warna rambutnya.
“Belum ada, Nona, Anda mau beli dua-duanya?”
Suzanne mengangguk semangat.
Sang pegawai toko kemudian mengeluarkan brosnya, setelah itu membungkusnya, dan langsung menyerahkannya kepada Suzanne.
Suzanne memilih dua bros lagi lalu langsung membayarnya, ia kemudian memilih beberapa perhiasan yang ia suka, ia juga meminta untuk di bawakan semua perhiasan yang memiliki permata atau hiasan yang berwarna pink.
Setelah puas memilih dan membeli perhiasan yang ia suka, Suzanne kemudian memberikan alamatnya untuk tempat mengantar perhiasan.
“Katakan kalau ini pesanan putri Suzanne,” bisik Suzanne tak ingin membuat keributan.
Pegawai toko yang melayani Suzanne tampak kaget, tapi melihat Suzanne yang meletakkan jarinya di depan bibirnya, ia hanya bisa diam dan mengangguk.
“Baiklah, terima kasih, sampai jumpa.”
Suzanne keluar dari toko hanya membawa bros yang sengaja ia bawa agar ia bisa langsung memberikannya pada keluarganya.
Ia kemudian memberikan salah satu bros yang satu set dengan perhiasan yang ia pilih pada Javier.
“Ini untukmu, kamu tidak boleh menghilangkannya dan kamu harus memakainya di pesta nanti,” ucap Suzanne ceria.
Javier tersenyum, “baiklah, aku akan memakainya.”
“Awas kalau tidak di pakai, aku akan memukulmu!” ancam Suzanne main-main.
Javier tertawa kecil, “baiklah, saya mengerti, Tuan putri.”
Suzanne ikut tertawa, sementara Lucian harus menahan dirinya untuk tidak mencakar wajah Javier saat itu juga. Mata Lucian melirik Javier dengan sangat tajam, tapi Javier hanya mengabaikannya.
Lucian buru-buru mengubah ekspresinya ketika Suzanne menoleh ke arahnya.
“Aku juga beli satu untuk adikku yang imut ini.” Suzanne menyerahkan bros dengan permata berwarna pink yang senada dengan warna rambut Lucian.
“Warnanya cantik,” puji Lucian.
“Tentu saja, ini adalah warna rambutmu,” balas Suzanne.
“Terima kasih, Kak,” ucap Lucian tulus.
“Sama-sama adikku,” balas Suzanne gemas.
Suzanne menghentikan langkahnya, matanya menatap lurus ke depan, membuat dua orang di sampingnya panik.
“Yang mulia, ada apa?” tanya Javier cemas.
“Kakak, kakak kenapa? Ada yang sakit?” Lucian ikut bertanya panik.
Suzanne menarik nafas dalam-dalam, ia melepaskan genggaman tangan kedua orang itu lalu berlari, menghampiri stand makanan, meninggalkan kedua laki-laki berbeda umur itu mematung di tempat.
“Dia membuat ekspresi mengkhawatirkan seperti itu karena melihat makanan? Tuan putri kita memang berbeda!”