
“Ibu, kenapa tiba-tiba memanggilku?”
Ratu Alenia, menatap putranya dengan serius, “putri Suzanne mengidap penyakit serius.”
“Eh? Dia terlihat sangat sehat tadi,” ucap Raja Ruffen.
“Malefair, dia mengidap Malefair.”
Eliano dan Raja Ruffen membeku mendengar kata-kata sang Ratu.
“Ibu ...”
“Benar, bahkan bangsa siluman sekalipun ketika mengidap Malefair, hidup mereka tidak akan bertahan lama, jadi kemungkinan besar putri Suzanne juga akan berakhir sama seperti semua pengidap Malefair,” ucap Ratu Alenia pelan.
“Kalau begitu kita tidak bisa menahannya di sini, dia pasti ingin selalu bersama keluarganya,” ucap Raja Ruffen.
“Eliano, menyerahlah, hubungan kalian sudah pasti tidak akan berhasil.”
Eliano menatap ibunya sejenak, ia kemudian berbalik dan keluar dari ruangan ayahnya tanpa mengatakan apa pun.
Eliano berjalan ke luar istana, ia berdiri tepat di bawah balkon kamar Suzanne, ia memperhatikan Suzanne yang berdiri di balkonnya sambil menatap bulan.
Tak lama kemudian, Suzanne kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkonnya, sementara Eliano masih berdiri di tempatnya dengan mata yang masih terus memperhatikan pintu balkon kamar Suzanne.
“Menyebalkan, kenapa umurmu sangat pendek sih?!” gerutu Eliano.
Eliano menghela nafas pelan, “andai saja aku bisa menemukan cara untuk mengobatinya, dia pasti akan sangat senang kan?”
*
Suzanne kini sedang menatap bola komunikasi yang dia bawa, sosok orang yang ada bersama dengannya adalah kakaknya. Padahal, awalnya sang kakak ingin ikut bersama dengannya. Tetapi, karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, pada akhirnya dia tidak bisa melakukan apa-apa dan terpaksa tinggal untuk mengurus pekerjaannya.
Sebenarnya, kakaknya itu sama sekali tidak setuju dengan fakta Suzanne yang hanya pergi bersama Javier dan beberapa pengawal lain, dia bahkan tidak tahu apa dan bagaimana kabar adiknya bila tidak sedang berhubungan dengannya. Dia sudah membayangkan banyak hal yang terjadi, bahkan hal-hal terburuk. Oleh karena itu, di sela-sela kesibukannya, dia berusaha bahkan memaksa untuk mencari waktu agar bisa menghubungi Suzanne dan memastikan dia baik-baik saja.
“Tidak ada masalah sama sekali,” ucap Suzanne.
“Tapi, ada banyak hal yang terjadi di sana, kan? Bahkan kau sendiri yang berkata bahwa ada yang masuk ke dalam kamarmu tanpa izin! Itu tidak bisa dibiarkan.”
Suzanne menghela napas cukup dalam, bingung harus bagaimana untuk membujuk kakaknya. “Aku baik-baik saja, hanya ada sedikit salah paham. Lagi pula, semuanya sudah diselesaikan, kok.”
“Apa kau yakin?” Tanya Oliver dengan nada ragu, membuat Suzanne sekali lagi menghela napas dan menekankan kata bahwa dia memang baik-baik saja.
“Apakah aku perlu datang ke sana sekarang juga? Aku yakin itu tidak terlalu terlambat.”
“Bagaimana dengan pekerjaan yang harus diselesaikan? Apa akan ditelantarkan begitu saja? Jika dibiarkan nanti hanya akan semakin bertambah, kan?”
Diamnya sang kakak membuat Suzanne memberikan sebuah senyuman kecil, merasa sangat yakin kalau dia sendiri sudah berhasil membuat sang kakak bungkam. Setelah hanya didiamkan untuk waktu yang lama, akhirnya Suzanne sendiri yang memutuskan hubungan komunikasi mereka, meski diprotes oleh kakaknya itu. Dia berkata bahwa harus segera bertemu dengan Eliano dan juga keluarganya, mengingat waktu sarapan sudah sebentar lagi.
“Aku tidak akan lama. Jika menunggu dengan baik, maka aku sendiri akan sudah kembali.”
“Itu karena adikmu ini baru sehari berada di sini!” teriak Suzanne jengkel.
“Kalau sampai ada hal yang buruk terjadi, segera beritahu aku, paham? Jangan biarkan orang-orang di sana bersikap semena-mena kepadamu!”
“Aku paham,” ungkap Suzanne dengan sebuah senyuman getir. “Kalau begitu aku pergi terlebih dahulu.”
Setelah tidak terhubung lagi, Suzanne menggenggam bola komunikasi tersebut di tangannya selama beberapa saat sebelum dia Mendengar suara ketukan pintu. Segera Suzanne bersiap-siap, tidak ingin menunjukkan sisinya yang seperti ini. Ketika dia memperbolehkan orang tersebut masuk, akhirnya Suzanne bisa melihat Eliano.
Pangeran itu masuk ke dalam dengan senyuman kecil, di dalam hatinya dia sedang memuji kecantikan Suzanne meski masih di pagi hari. Tidak ingin sampai terlalu larut ke dalam pikirannya, dia segera menggelengkan kepalanya dan berkata bahwa sarapan sudah siap dan mereka semua sudah bisa pergi makan, dia juga berkata kepada Suzanne bahwa dia dapat pergi ke sana terlebih dahulu karena masih harus berbicara degan orang tuanya.
“Akan diantarkan oleh ksatria di sini, jadi tidak perlu takut akan tersesat,” balas Eliano yang memberikan senyuman kecil, berusaha untuk menenangkan perasaan Suzanne yang sedikit cemas tersebut, terlebih karena dia masih Belum terlalu mengenali isi istana itu.
“Memangnya, kau sendiri tidak akan pergi sarapan?”
“Orang tuaku akan berbicara denganku terlebih dahulu, sehingga tidak masalah,” jawab Eliano. Suzanne yang paham akan apa yang dibicarakan oleh Eliano memberikan anggukan kepala. “Maaf kalau harus membuatmu menunggu, aku akan berusaha untuk tidak terlalu lama.”
“Baiklah, aku percaya kepadamu,” ungkap Suzanne sebelum dia akhirnya pergi bersama dengan ksatria yang menjaga di kamarnya semalaman tersebut. Dia juga melirik ke arah Javier yang berjalan bersama dengan sang ksatria. Pria tersebut tidak mengucapkan apa-apa kepada Suzanne, seakan berusaha untuk menghilangkan eksistensinya.
Begitu Suzanne sudah pergi, akhirnya Eliano segera menemui orang tuanya, dia memang memiliki sesuatu untuk dibicarakan bersama dengan mereka. Dan menurut Eliano, ini adalah hal yang penting. Tidak heran dia sendiri segera menuju ke mana orang tuanya tengah berada.
“Bukankah kita seharusnya melakukan itu? Terlebih, ini sudah menjadi hal paling mendasar, kan?”
“Apa sebenarnya tujuanmu untuk kembali ke sana? Kau sendiri harus meneruskan kerajaan ini! Apa kau ingin lari dari tanggung jawabmu?”
“Bukan seperti itu,” gumam Eliano. Dia mengerutkan keningnya dan berusaha untuk mencari celah.
“Aku sama sekali tidak bisa memahamimu,” ucap Raja Ruffen yang menggelengkan kepalanya. Dia berusaha untuk mengabaikan ucapan Eliano, Sayangnya pada akhirnya dia tetap dipaksa untuk mendengarkan setiap ucapannya.
Saat ini, Eliano sedang berusaha, bahkan memaksa kedua orang tuanya untuk kembali bersama dengan Suzanne kembali kekaisaran.
Sedangkan Suzanne yang sudah ada di ruang makan itu dihadapkan dengan saudara-saudara dari Eliano. Mereka semua terlihat siap untuk menyantap makanan pagi itu. Suzanne mengerutkan keningnya, merasa sedikit canggung dan tidak nyaman dengan mereka semua yang ada di sana, terlebih ketika dia melihat Ana yang semalam berbuat kekacauan. Perlahan Suzanne melirik ke arah Javier, berusaha untuk meminta pertolongannya. Tetapi, Javier tampaknya tidak berminat untuk ikut campur dan membiarkan Suzanne untuk mengurus masalahnya dengan keluarga Eliano.
Bicaralah sesuatu, batin Suzanne sembari melirik Javier tajam.
Maaf, Yang mulia, saya tidak ingin berurusan dengan mereka, batin Javier yang mengerti arti lirikan tajam sang putri.
“Ternyata Tuan putri sudah ada di sini,” ucap salah satu dari mereka. Dia segera berdiri dan membungkuk sedikit. “Saya Elian, Pangeran Elian. Dan yang di samping saya adalah putri pertama, Teresa. Yang di pojok itu adalah Ana, putri terakhir dan mungkin Tuan putri sudah pernah bertemu semalam.”
“Maaf atas keributan yang diciptakan oleh adik kami, Tuan putri,” ucap Teresa yang juga ikut bangkit dari kursinya dan membungkukkan tubuhnya.
“Pangeran Elian?” gumam Suzanne, dia merasa ada sesuatu yang janggal dari hal tersebut, sehingga dia akhirnya berusaha untuk bertanya. “Apa kau adalah putra pertama? Dengan begitu, Putri Teresa adalah anak kedua, kan?”
“Itu benar,” ucap Pangeran Elian yang menganggukkan kepala, masih berdiri dan menunggu Suzanne. “Ana adalah anak terakhir sehingga Pangeran Eliano adalah putra ketiga.”
...****************...
Hallo semuanya, aku lagi sakit nih, jadi kalau kedepannya aku gak up, maaf ya, tapi di usahakan tetap up ko, doain aja yah [tertanda: stella]