
Suzanne baru saja dikejutkan dengan kedatangan Daniel yang sangat mendadak, Daniel datang dan langsung mengomel panjang lebar, membuat Suzanne kesal sendiri.
“Sebenarnya apa yang Anda pikirkan? Bagaimana bisa ada menempatkan siluman kucing di dekat Anda tanpa memberitahu saya terlebih dahulu?”
Suzanne menghela nafas pelan, kenapa juga dia tahu kalau di dekatku ada siluman kucing, gerutu Suzanne dalam hati.
“Sebenarnya kenapa kamu marah-marah? Toh siluman itu masih muda dia juga tidak akan melukaiku, karena aku yang menyelamatkannya dari ambang kematian,” ucap Suzanne membela diri.
“Yang mulia, meskipun saya dan Ella tidak di tempat, kami tetap mengawasi Anda, kami tahu kalau akhir-akhir ini detak jantung Anda terus melemah, Anda tahu kan apa artinya itu,”
Suzanne terdiam, ia ingat Daniella memang melakukan sesuatu padanya sebelum pergi, ia tidak tahu kalau itu adalah sihir yang sekeren itu.
“Aku tahu, tapi aku juga tahu kalau hanya berdiam diri tidak akan membuatku kembali sehat. Jadi, setidaknya sebelum aku mati, aku ingin menjadi seberguna mungkin untuk orang-orang di sekitarku,” ucap Suzanne pelan.
“Yang mulia, saya mengerti kalau Anda tidak mau merepotkan orang lain dan hanya ingin menjadi berguna bagi orang lain, tapi Yang mulia, hanya dengan menjadi sehat saja, Anda sudah membuat keluarga dan orang-orang terdekat Anda merasa bersyukur, termasuk saya,” balas Daniel bijak.
“Daniel, apa aku bisa sembuh?” tanya Suzanne membuat Daniel terdiam.
“Kita sedang mengusahakan yang terbaik untuk Anda,” jawab Daniel seadanya.
“Hentikan saja, obatnya tidak akan ditemukan, kau hanya membuang-buang waktu berhargamu,” ucap Suzanne lirih, nyaris tak terdengar.
“Yang mulia, kami tidak akan menyerah, kami sudah berjanji pada Ratu untuk menjaga Anda sepenuh hati. Dan juga, perjalanan hidup Anda masih panjang, Yang mulia, jadi jangan menyerah, biarkan kami yang menangani obatnya, dan Anda harus mencoba untuk terus bernafas,” Daniel berucap menghibur Suzanne.
“Daniel, kau adalah penyihir yang sangat hebat, jadi, apa kau bisa membaca bahasa kuno?” tanya Suzanne tiba-tiba.
Daniel terdiam kebingungan, kemudian menjawab, “Bisa, Yang mulia,”
“Aku kemarin membaca buku yang membahas tentang penyakit ini, aku bisa membacanya, tapi aku tidak bisa memahaminya,” Suzanne bangkit, ia membuka laci mejanya lalu menyerahkan buku yang ia maksud pada Daniel.
“Aku tidak tahu apakah buku itu bisa membantu penelitianmu, tapi mungkin saja di sana ada penjelasan yang lebih rinci tentang penyakit ini, makanya aku membawanya,” jelas Suzanne.
“Yang mulia, ini adalah buku medis tua, jelas sekali ini akan sangat membantu, terima kasih, Yang mulia,” ucap Daniel senang.
“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu dan Ella karena kalian mau repot-repot meneliti penyakit terkutuk ini karena aku,” balas Suzanne lembut.
Daniel menatap Suzanne dengan serius, “Yang mulia, kami akan mencoba semaksimal mungkin untuk membuat Anda kembali sehat,”
“Terima kasih,” ucap Suzanne tulus, “tapi jangan terlalu memaksakan diri, kalau lelah, istirahat saja,” lanjutnya.
“Kalau begitu saya akan memperbaiki inti mana Anda sebelum saya pergi,” ucap Daniel.
Suzanne mengangguk, “Baiklah,”
Daniel memang selalu melakukan ini ketika ia tahu detak jantung Suzanne mulai melemah, ia hanya tidak mau menunggu sampai inti mananya kacau seperti yang terakhir kali. Semakin sedikit frekuensi kambuhnya, maka akan semakin baik untuk Suzanne.
“Baiklah, sudah selesai, saya pamit undur diri, Yang mulia,” Daniel membungkuk sopan.
“Ya, sampai jumpa lagi.”
*
Suzanne berdiri di balkon, menikmati senja yang terlihat sangat indah. Suzanne dapat melihat White yang sedang membersihkan taman dari balkonnya, ia menatap White cukup lama, mengamati gerak-gerik gadis kucing itu.
White terlihat sangat menikmati pekerjaannya, ia sesekali berhenti hanya untuk mengamati bunga selama beberapa saat.
“Yang mulia, hari sudah mulai gelap, sebaiknya Anda masuk sebelum udaranya semakin dingin,” Doreen yang sedari tadk berdiri di belakang Suzanne akhirnya membuka suara.
“Sebentar lagi,” ucap Suzanne.
Doreen menghela nafas pelan, “baiklah, Yang mulia,”
“Anne, masuklah, udaranya mulai dingin.”
Suzanne dan Doreen menoleh kaget, Doreen segera membungkuk ketika melihat Oliver berdiri di samping kasur Suzanne.
“Kak, belajarlah untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku,” Suzanne berucap kesal.
“Aku sudah mengetuknya tadi, kau saja yang tidak dengar,” balas Oliver membela diri,
Suzanne mendengus pelan, ia masuk ke kamarnya, diikuti oleh Doreen yang kemudian menutup pintu balkon.
“Ada perlu apa kakak ke sini?” tanya Suzanne.
“Astaga, apakah kakak harus punya alasan untuk menemuimu?” Oliver mulai bertingkah dramatis.
“Kak, berhenti bersandiwara, katakan saja apa maumu,” ucap Suzanne dingin.
Oliver tertawa kecil, “Kakak ingin memberikan laporan keuangan militer, Ayah bilang kakak harus menyerahkannya padamu.” Oliver menggoyangkan dokumen di tangannya.
Suzanne menjatuhkan dirinya di sofa, ia menyandarkan kepalanya yang mulai terasa berat.
Oliver duduk di samping Suzanne, ia menarik Suzanne dan memangku kepala Suzanne, tangannya bergerak mengusap rambut sang adik dengan lembut.
“Seharusnya kamu tidak memaksakan diri,” ucap Oliver menasihati.
“Aku tidak memaksakan diri, aku bekerja sesuai dengan kemampuanku, makanya aku bilang aku akan mengeceknya besok, karena hari ini aku sudah lelah,” balas Suzanne.
“Kalau begitu tidurlah, kakak akan menunggumu sampai tidur,” ucap Oliver.
Suzanne tidak menjawab, ia sudah lebih dulu berlayar ke alam mimpi, membuat Oliver tersenyum kecil.
“Kamu pasti sangat lelah,” gumam Oliver lirih.
“Doreen keluarlah,” titah Oliver.
Doreen mengangguk, ia membungkuk sebentar lalu segera keluar dari kamar Suzanne.
Oliver membopong Suzanne dan meletakkannya di kasur, ia mencium kening Suzanne sebelum keluar dari kamar Suzanne.
“Selamat tidur, adikku.”
*
Festival berdirinya kekaisaran, itulah yang sedang dipersiapkan oleh semua orang saat ini. Satu-satunya alasan kenapa tidak ada pesta penyambutan saat Oliver kembali dari perbatasan, adalah karena pestanya akan digabung dengan pesta di malam puncak festival.
Suzanne menghentikan latihannya untuk sementara dan mulai fokus untuk membantu persiapan festival, sementara Oliver sudah mulai kembali ke kesehariannya yang biasa meski sesekali ia mendatangi Suzanne untuk membantu persiapan festival.
“Yang mulia, gaun pesanan Anda sudah sampai, Anda ingin melihatnya?” tanya Serena.
Suzanne menoleh sejenak, ia kemudian menatap Doreen dan bertanya, “apa kau bisa menangani ini? Aku harus mengecek gaunku dulu.”
“Bisa, Yang mulia,” jawab Doreen sopan.
Suzanne mengangguk, “kalau begitu aku akan mengecek gaunku sebentar.”
Suzanne pergi bersama Selena, menemui Countess Sylvia yang memang sengaja mengantarkan sendiri gaun pesanan sang putri.
“Selamat siang Countess,” sapa Suzanne ramah.
Countess Sylvia membungkuk sopan, “Siang, Tuan putri.”
“Aku tidak tahu kalau kau sendiri yang mengantarkannya langsung,” ucap Suzanne basa-basi.
“Tentu saja, Yang mulia, sebuah kehormatan bisa membuat gaun untuk yang mulia dan mengantarkannya langsung pada Anda,” balas Countess Sylvia sopan.
Suzanne tersenyum, ia lalu berbincang sejenak dengan Countess sebelum akhirnya sang Countess pamit undur diri.
“Selena, siapkan gaunku, kita akan pergi membeli perhiasan,” titah Suzanne.
“Baik, Yang mulia.”
*
Di sinilah Suzanne sekarang, di toko perhiasan paling terkenal di ibu kota, dan yang sangat mengejutkan adalah Daniel dan Daniella yang tiba-tiba saja meminta ikut bersamanya, dan tentu saja Suzanne tidak bisa menolak.
“Sebenarnya kenapa kalian tiba-tiba ingin ikut?” tanya Suzanne jengkel.
“Kami hanya mencoba melindungimu, lagi pula para bandit itu juga belum semuanya tertangkap kan?” balas Daniella santai.
“Ella ... ini siang hari!” seru Suzanne kesal.
“Sudahlah, sudah terjadi juga,” Daniel dengan santai membuka pintu toko dan mempersilahkan Suzanne masuk.
Suzanne berjalan masuk ke toko yang lumayan ramai itu, yah, ia juga tahu kalau toko ini pasti tidak akan sepi.
Salah satu pegawai melihat kedatangan mereka dan langsung menghampiri mereka, “Selamat datang, Nona.”
Suzanne membalas dengan senyuman.
“Apa Anda sudah memesan atau baru ingin melihat-lihat?” tanya pegawai itu.
“Aku baru mau melihat dulu, tolong bawakan semua perhiasan dengan liontin berwarna merah atau merah muda,” pinta Suzanne.
“Baik, Nona, silakan menunggu, akan saya bawakan barangnya,” pegawai itu mempersilahkan Suzanne duduk di sofa lalu pergi untuk mengambil perhiasan yang Suzanne minta.
Suzanne duduk sembari menikmati teh yang disediakan, sementara si kembar pergi untuk melihat perhiasan yang ada di etalase toko.
Suzanne menikmati waktunya dengan mengobrol bersama Selena sampai seseorang tiba-tiba saja menumpahkan teh tepat di atas kepalanya, membuat Suzanne terkejut dan langsung berdiri menghadap sang pelaku.
“Astaga, perilaku tidak sopan macam apa ini?!”