The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 20



Suzanne, Oliver dan Kaisar Taylor terdiam saat melihat kekacauan yang terjadi di pusat kota. Beberapa kesatria sudah berhasil mengevakuasi warga sipil ke kuil dan beberapa rumah sakit, sementara yang lainnya sedang mencoba untuk membunuh monster yang mengamuk itu.


“Dari mana datangnya makhluk ini?” tanya Suzanne pelan.


“Menurut saksi, dia muncul begitu saja dari balik gang sempit di ujung jalan,” jawab Javier.


“Mereka semakin menggila rupanya.”


Suzanne menoleh, menatap Daniel yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.


“Dari mana saja kau?” tanya Suzanne ketus.


“Aku baru menangkap penyihir yang memanggil monster itu,” jawab Daniel jujur.


“Dia penyihir hitam?” tanya Suzanne.


“Lebih parah lagi, dia adalah seorang bangsawan kekaisaran,” jawab Daniel.


Daniel maju, ia mulai mengulurkan tangannya dan menggumamkan mantra. Sesaat kemudian, sebuah cahaya putih keluar dari tangan Daniel dan meluncur dengan cepat ke arah monster itu, dan membunuhnya seketika.


“Astaga, semudah itu? Seberapa kuat penyihir gila ini sebenarnya?” gumam Suzanne pelan.


Suzanne mengedarkan pandangannya, tatapannya terhenti pada seorang kesatria yang terbaring di tanah dengan berlumuran darah, beberapa kesatria lain tampak berdiri mengelilinginya dengan kepala tertunduk.


Suzanne berjalan mendekati mereka, langkahnya terhenti saat ia melihat pedang yang sangat familier baginya, Suzanne kemudian berlari ke arah kesatria itu dan menerobos para kesatria yang mengelilinginya.


Suzanne jatuh terduduk, dengan gemetar, ia menarik kepala kesatria itu ke pangkuannya.


“Doughlass,” lirih Suzanne nyaris tak terdengar.


Tangan Suzanne mengusap darah yang ada di wajah Doughlass, ia mendekatkan telinganya ke hidung Doughlass untuk mencoba memastikan keadaan kesatria pribadinya itu.


“Yang mulia, ia sudah meninggal sejak beberapa saat yang lalu,” ucap salah satu kesatria di belakang Suzanne.


“Tidak, tidak, Doughlass adalah kesatria terbaik, dia tidak mungkin meninggal begitu saja,” sangkal Suzanne.


“Yang mulia, jantungnya sudah berhenti berdetak sejak beberapa menit yang lalu,” salah satu kesatria kembali bersuara.


Suzanne menoleh saat seseorang tiba-tiba memegang bahunya, ia menatap Oliver dan ayahnya yang berdiri di belakangnya.


“Ayah, katakan pada mereka kalau Doughlass adalah yang terbaik, kesatriaku tidak mungkin terbunuh oleh monster sekecil itu,” ucap Suzanne dengan mata berkaca-kaca.


“Anne, Doughlass memang yang terbaik, tapi bukan berarti dia tidak bisa dikalahkan,” balas Kaisar Taylor.


Suzanne terdiam, tangannya kembali mengusap wajah Doughlass yang sudah sangat pucat.


“Dia menyelamatkan seorang anak, tadi,” salah satu kesatria berbisik pelan, Suzanne dapat mendengarnya karena ia berada tepat di sebelah kesatria itu.


“Seorang anak? Bukankah seharusnya penduduk sekitar sudah di evakuasi?” tanya Suzanne dengan suara serak.


“Sepertinya dia terpisah dari orang tuanya, Doughlass menyelamatkannya dan meminta saya untuk membawanya pergi, kalau tahu jadi seperti ini saya pasti tidak akan meninggalkannya,” lirih kesatria itu.


“Apa anak itu selamat?” tanya Suzanne pelan.


“Ya, dia sudah kembali bersama ayah dan ibunya di kuil,” jawab kesatria itu.


“Baguslah, kau dengar itu kan? Pengorbananmu tidak sia-sia. Doughlass, terima kasih sudah menjadi pengawalku selama ini. Istirahat yang tenang, kesatriaku,” bisik Suzanne sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan kerumunan begitu saja.


Suzanne duduk di bangku yang masih tersisa di sana, ia menatap sekelilingnya dengan seksama, orang-orang mulai membersihkan reruntuhan dan mengumpulkan orang-orang yang tidak selamat.


Seharusnya aku tidak mengirimnya pulang, seharusnya aku percaya padanya dan membiarkan dia tetap di sisiku. Jika saja aku tidak mengirimnya pulang, ia pasti tidak akan terbaring di sana, ia pasti ada di sampingku sambil memberitahuku banyak hal, kenapa aku mengirimnya pulang? Suzanne, kau benar-benar bodoh, batin Suzanne menyesal.


“Anne, ini bukan salahmu.”


Suzanne menoleh, menatap sang kakak yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya.


“Seharusnya aku tidak memberinya cuti,” ucap Suzanne pelan.


“Seharusnya aku mempercayainya, dia sudah menjagaku dari dulu.”


“Anne, di saat seperti ini wajar jika kamu tidak bisa mempercayai bangsawan mana pun, lagi pula saat itu kamu juga belum memulai penyelidikan, jadi wajar kalau kamu tidak tahu apakah dia terlibat atau tidak.”


“Aku baru saja berniat mengirimkan surat panggilan untuknya, seharusnya lusa dia sudah kembali bekerja sebagai pengawalku, kenapa tuhan malah mendahuluiku?”


“Anne, Doughlass orang yang sangat baik, tuhan juga pasti sudah sangat merindukannya.”


Suzanne hanya diam, ia kemudian berdiri dan berucap, “aku akan pulang dulu, aku harus bersiap untuk mengantar Doughlass ke tempat peristirahatan terakhirnya.”


*


“Yang mulia, terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk datang kemari.”


Suzanne terdiam, menatap ibu Doughlass yang berdiri di depannya dengan wajah sembabnya.


“Maaf,” bisik Suzanne pelan.


Ibu Doughlass mengangkat kepalanya, menatap sang putri yang menunduk penuh penyesalan.


“Yang mulia, ini bukan salah Anda,” ucap ibu Doughlass sembari menggenggam tangan Suzanne.


Suzanne lagi-lagi hanya diam, rasa bersalah masih saja menggerogoti hatinya, ia terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika saja ia memanggil Doughlass kembali lebih cepat.


“Yang mulia, mari berbicara di dalam, saya ingin menceritakan sesuatu pada Anda,” ajak ibu Doughlass.


Suzanne mengangkat kepalanya, ia menatap ibu Doughlass yang sedang tersenyum lembut padanya, membuat ia tidak tega untuk menolak ajakannya.


Pada akhirnya Suzanne mengikuti ibu Doughlass masuk ke kamar dan duduk di sofa bersama.


“Dulu putra saya sangat senang saat dia di terima sebagai kesatria istana,” ibu Doughlass memulai ceritanya, “kemudian saat ia terpilih menjadi pengawal pribadi untuk Anda dia bahkan sampai memelukku dan terus-terusan membanggakan posisinya, dia sangat-sangat senang karena bisa mengawal satu-satunya putri di kekaisaran ini. Saya terkejut saat dia tiba-tiba pulang tempo hari, saya pikir dia lelah dan memilih untuk cuti sejenak, api dia bilang Yang mulia sedang ada masalah dan memulangkan semua bangsawan yang ada di sekitarnya.


Saat saya bertanya kenapa dia bisa mengambil kesimpulan itu, Doughlass bilang, Yang mulia bahkan memulangkan Doreen karena itulah ia jadi merasa bahwa Anda sedang ada masalah.


Doughlass tidak sedih ataupun marah, dia hanya merasa menyesal karena tidak bisa membantu Anda, beberapa hari ini dia menyibukkan dirinya dengan membantu anak-anak jalanan.


Saya tidak menyangka kalau keputusannya itu justru membawanya terjebak dalam situasi mengerikan tadi, tapi Yang mulia, saya sama sekali tidak menyesalinya, karena putra saya mati sebagai pahlawan yang akan di kenang oleh semua orang putra saya mati terhormat sebagai penyelamat.


Jadi, Yang mulia, jangan menyesali hal ini, jangan merasa bersalah, apa pun yang Anda lakukan jika takdir putra saya memang meninggal hari ini maka itulah yang akan terjadi.”


*


Suzanne terdiam di meja kerjanya, matanya terus menatap pintu ruangannya di mana Doughlass biasa berjaga, ia kemudian menghela nafas pelan, wajah Doughlass terus menghantuinya, membuat ia sama sekali tidak fokus dengan pekerjaannya.


“Doughlass, kau pasti membenciku, iya kan?” gumam Suzanne pelan.


“Yang mulia Anda melamun lagi.”


Suzanne tersentak, ia kemudian beralih menatap Javier yang baru saja ia lupakan eksistensinya.


“Astaga maafkan aku, aku bilang apa tadi?”


“Saya baru saja melaporkan bahwa saya sudah menangkap Gwen Duncan,” ucap Javier mengulang laporannya.


Ah, benar juga aku memerintahkan penangkapan Gwen sehari setelah pemakaman Doughlass, batin Suzanne.


Benar, sudah seminggu berlalu sejak kejadian naas di ibu kota, gadis bangsawan yang Daniel tangkap saat itu adalah putri dari baron miskin yang mencoba mencari peruntungan dengan mendukung rencana keluarga Duncan. Yah, setidaknya itulah yang mereka tahu, karena lagi-lagi sebelum mengungkap semuanya gadis itu justru kehilangan nyawanya.


Saat itulah Suzanne memutuskan untuk langsung menangkap Gwen, ia merasa sudah cukup membiarkan keluarga Duncan berlaku semena-mena lagi pula, para penyihir menara juga sudah siap untuk berhadapan dengan penyihir hitam, jadi ia memilih cara ekstrem ini untuk menghentikan kegilaan keluarga Duncan.


“Yang mulia,” lagi-lagi Javier menarik Suzanne dari lamunannya.


“Ah, iya, aku akan langsung melihatnya, ayo kita pergi,” ajak Suzanne.


Javier menghela nafas belan, “baik, Yang mulia.”