
“Hai, siapa namamu?”
Anak laki-laki itu hanya menatap Suzanne dengan ketakutan tanpa menjawab pertanyaan yang Suzanne lontarkan.
Suzanne mendekat, ia duduk di samping anak itu, menggenggam tangannya dengan lembut untuk menyalurkan kehangatan.
“Siapa namamu?” tanya Suzanne dengan nada yang sangat lembut.
“Eliano,” jawab anak itu pelan.
Suzanne tersenyum, “oke Eliano, apa kau tahu di mana kau berada sekarang?”
Eliano menggeleng.
“Kau ada di istana kekaisaran, namaku Suzanne Dawson, putri pertama Kaisar Taylor, kau mengenalku?”
“Ah, aku sering mendengar tentangmu.”
Suzanne kembali tersenyum, “Eliano, apa kau ingat bagaimana kau bisa sampai di kekaisaran?’
Eliano mengangguk pelan.
“Apa kau mau menceritakannya?”
Eliano lagi-lagi mengangguk, “awalnya, aku hanya berniat jalan-jalan di ibu kota kekaisaran, aku juga sudah minta izin kepada orang tuaku dan mereka mengizinkan, tapi saat sedang berada di ibu kota, seseoang tiba-tiba menangkapku. Saat aku terbangun, aku sudah berada di lokasi pelelangan.
Seseorang membeliku dan memperlakukanku seperti sampah, mereka memukuliku jika aku tidak melakukan apa yang mereka minta ...”
“Oke Eliano, ceritanya cukup sampai di situ, itu adalah kenangan buruk yang tidak perlu kamu ingat. Saat ini kau aman bersamaku, dan orang-orang yang menyiksamu akan segera di hukum,” sela Suzanne cepat.
Eliano hanya terdiam.
“Eliano, bisa beri tahu aku siapa nama orang tuamu? Aku bisa membantumu pulang jika aku tahu siapa orang tuamu,” pinta Suzanne lembut.
“Nama ayahku Ruffen Villeo, dan ibuku adalah Alenia Villeo” jawab Eliano.
Seisi ruangan tertegun.
“Bisa kau ulangi?” pinta Suzanne.
“Ruffen Villeo dan Alenia Villeo,” ucap Eliano dengan suara yang lebih keras.
“Sial, dia pangeran kerajaan siluman!”
*
Yap, di sinilah Suzanne, di ruangan sang ayah bersama Kaisar Taylor, Oliver, Javier dan beberapa orang kepercayaan Kaisar Taylor.
“Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan?” tanya Marquis Eashter.
“Apa lagi? Tentu saja mengembalikannya dan meminta maaf pada orang tuanya, bagaimana pun juga bangsawan kekaisaran yang membuat pangeran Eliano menderita,” jawab Suzanne tegas.
“Tuan putri, ini tidak akan berakhir semudah itu, raja kerajaan siluman adalah ras naga, kekuatan mereka jauh di atas kita, bagaimana jika mereka marah dan menghancurkan kekaisaran?” Baron Elhandor, sekretaris ayahnya yang baru ikut bersuara.
“Baron, memangnya kau pikir kenapa aku menyarankan untuk meminta maaf? Pertama, kita adalah pihak yang bersalah, kedua, karena aku tahu kekuatan mereka jauh di atas kita,” balas Suzanne kesal.
“Kalau begitu kita harus mengirimkan perwakilan yang paling bisa membujuk raja Ruffen,” ucap Oliver menanggapi.
“Aku,” balas Suzanne santai.
“Tunggu sebentar, kau bilang apa barusan?” Oliver menatap adiknya dengan tajam.
“Aku bilang aku sendiri yang akan mengantar pangeran kembali ke negaranya. Diskusi berakhir!” Suzanne berseru tegas.
“Tuan putri, Anda adalah putri satu-satunya di kekaisaran, kami tidak mungkin membiarkan Anda sendiri yang masuk ke kandang musuh!” protes Marquis Eashter.
“Aku hanya pergi ke negara tetangga, mereka bukan musuh!” balas Suzanne tak mau kalah.
“Tetap saja tidak boleh, bagaimana jika mereka membahayakan Anda?” Baron Elhandor ikut menyuarakan protesnya.
“Kalau begitu aku akan mengajak Javier, gampang,” balas Suzanne terlampau santai.
Javier tertegun, “Yang mulia, saya sangat bersedia mengikuti Anda ke mana pun, tapi seperti kata Baron dan Marquis, itu terlalu berbahaya.”
“Ayah, katakan sesuatu!” Oliver menatap ayahnya kesal.
“Sudahlah, aku percaya pada putriku, jadi mari kita akhiri diskusinya di sini!” ucap kaisar Taylor final.
“Ayah!" Oliver berseru protes.
Kaisar Taylor menghela nafas pelan, ia menatap Oliver dengan tatapan lelah.
Kau juga tahu kan, kalau adikmu sangat-sangat keras kepala, jadi menyerahlah, batin Kaisar Taylor berharap putra pertamanya mengerti.
Mereka berdua memang tidak pernah menang berdebat denganku, batin Suzanne bangga.
“Dengar kan? Jadi sekarang, bubar!” titah Suzanne.
Marquis Eashter dan Baron Elhandor hanya bisa menghela nafas pelan, tuan putri mereka ini adalah pemegang tahta tertinggi di kekaisaran sampai Kaisar sendiri pun tidak bisa melawannya.
Marquis Eashter dan Baron Elhandor kemudian berpamitan pergi.
“Kalau begitu aku akan menemui pangeran Eliano, aku harus memastikan kapan dia ingin kembali agar kita bisa mempersiapkan semuanya,” ucap Suzanne sebelum pergi meninggalkan ruangan sang ayah.
Oliver menghembuskan nafas kesal, “ah, sial!”
“Jangan mengumpat!” tegur Kaisar Taylor.
“Aku hanya kesal karena Anne harus pergi ke sana, terlebih dengan manusia ini,” ucap Oliver sembari melirik Javier dengan tajam.
“Ayah juga tidak akan membiarkan itu terjadi, karena itu, kau ikutlah dan selesaikan semuanya secepat mungkin,” balas Kaisar Taylor.
Oliver menatap ayahnya bingung, “bagaimana dengan pekerjaanku?”
“Makanya aku bilang lakukan dengan cepat, karna kalian bertiga sama-sama tidak bisa meninggalkan pekerjaan kalian terlalu lama!” seru Kaisar Taylor kesal.
“Ah, iya juga,” gumam Oliver pelan.
“Sudahlah, keluar kalian dari ruanganku!”
*
“Jadi kau akan membawaku pulang jika keadaanku sudah membaik?”
Suzanne tersenyum, menatap Eliano yang sedang menatapnya dengan tatapan berbinar, “tentu saja.”
“Apa keadaanku bisa membaik dalam seminggu?”
Suzanne menoleh, menatap Ruppert yang ada di belakangnya.
“Ah, menurut perkiraan saya, Anda akan membaik hanya dalam waktu dua sampai tiga hari saja,” jelas Ruppert.
“Benarkah?” tanya Eliano dengan mata yang berbinar.
Ruppert mengangguk, “benar, Pangeran.”
“Yes!” seru Eliano senang.
“Kamu yang memilih hari apa kamu akan plang, jadi kamu mau pulang hari apa?” tanya Suzanne.
“Bagaimana jika sehari setelah keadaanku membaik sepenuhnya?”
Suzanne tersenyum, “baiklah, aku akan menyiapkan semuanya.”
“Terima kasih,” ucap Eliano lirih.
“Tidak perlu berterima kasih, lagi pula rakyatku yang membuat kamu jadi seperti ini, jadi, sebagai seorang putri yang baik, aku harus bertanggung jawab atas apa yang rakyatku perbuat padamu,” balas Suzanne lembut.
“Apa pun itu, tetap saja kau membantuku, makanya aku harus berterima kasih padamu,” ucap Eliano.
“Baiklah, sama-sama,” Suzanne menjeda ucapannya, “Omong-omong, berapa umurmu?” tanya Suzanne.
“Umurku 110 tahun.”
Suzanne tercengang, yang benar saja, makhluk sekecil adiknya ini berumur lebih tua daripada ayahnya! Jadi, sedari tadi untuk apa ia memperlakukan bocah jadi-jadian ini seperti anak kecil?
“Kalau umurmu 110, berapa umur ayahmu?” tanya Suzanne penasaran.
“Ah, ayahku sudah berumur lebih dari 1000 tahun,” jawab Eliano santai.
Ah, jadi menurut perhitungan umur ras naga, bocah ini masih kecil rupanya, pantas saja dia bertingkah seperti bocah, batin Suzanne mengerti.
Suzanne memang membaca tentang ras naga dan ia juga tahu bahwa mereka hidup lebih lama dari pada bangsa manusia dan ras siluman yang lain, tapi ia juga tidak menyangka kalau umur mereka sepanjang itu.
Ia tahu bahwa ayah bocah di depannya adalah raja tapi ia juga tidak tahu sejak kapan raja itu memimpin karena memang tidak di sebutkan dalam buku mana pun.
Kalau usianya setua itu, sudah berapa generasi manusia yang raja siluman lihat? Batin Suzanne bertanya-tanya.
“Kalau begitu, sementara kamu istirahat di sini dulu. Ini kamar dokterku, dia akan tidur di kamar lain, jadi jangan khawatir tentang pemiliknya dan juga, akan ada dua penjaga di depan pintu kamar ini, jadi kamu aman,” jelas Suzanne.
“Baiklah, aku mengerti.”
“Bagus, sekarang istirahatlah, aku juga harus kembali ke kamarku, sampai jumpa besok. Selamat malam,” ucap Suzanne berpamitan.
“Selamat malam juga, Tuan putri.”