The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
Part 24



Suzanne baru saja melangkahkan kakinya ke taman, saat tiba-tiba ia merasakan ada aura asing di tamannya, seakan ada orang lain yang berada di tamannya.


Suzanne berbalik ia mencari ke seluruh sudut sampai ia menemukan sorang anak kecil laki-laki yang terlihat sangat kacau berbaring di bawah pohon besar di tamannya.


Suzanne langsung meminta Selena untuk memanggil penjaga, dan ia memerintahkan penjaga untuk membawa anak itu ke kamar Ruppert agar Ruppert bisa langsung menanganinya.


“Astaga, siapa ini, Yang mulia?” tanya Ruppert kaget.


“Entahlah, aku menemukan dia tergeletak di tamanku, dia tampak sangat kacau, jadi aku membawanya ke sini,” jawab Suzanne seadanya.


Ruppert langsung memeriksa anak itu, hanya butuh beberapa saat sampai Ruppert menyadari bahwa anak ini bukanlah anak biasa, detak jantungnya berbeda dengan manusia biasa, di tambah lagi, dia memiliki inti mana yang sangat unik, dan juga, ia memiliki tanduk kecil di atas kepalanya.


“Sepertinya ia dari bangsa siluman,” ucap Ruppert setelah selesai mengobati luka-luka anak itu.


“Bukankah bangsa siluman sudah di pulangkan ke wilayah mereka?” tanya Suzanne.


“Seharusnya begitu tapi sepertinya anak ini tertinggal atau dia salah mengucap mantra,” jelas Ruppert.


“Kalau begitu aku serahkan dia padamu, kalau dia sudah sadar segera beri tahu aku,” titah Suzanne.


“Baik, Yang mulia,” balas Ruppert patuh.


Suzanne kemudian pergi dari kamar Ruppert bersama Selena, niatnya untuk melihat-lihat taman jadi hilang, jadi ia memutuskan untuk ke perpustakaan untuk membaca beberapa buku novel.


“Selena, menurutmu, anak itu berasal dari bangsa siluman apa?” tanya Suzanne.


“Entahlah, sepengetahuan saya ada beberapa siluman yang memiliki tanduk yang serupa, jadi saya tidak bisa memberi tahu dengan pasti,” jawab Selena.


“Kau pernah bertemu siluman apa saja?” tanya Suzanne lagi.


“Saya pernah bertemu siluman kucing, siluman anjing, dan beberapa siluman tupai.”


“Tupai, apa mereka menggemaskan?”


“Mereka terlihat seperti manusia biasa dengan telinga dan ekor tupai.”


“Eh, mereka memiliki ekor tupai?”


“Ya, saya dengar siluman tupai tidak bisa menyembunyikan ekornya seperti siluman-siluman lain.”


“Ah, begitu rupanya.”


“Anda ke sini mau membaca buku apa, Yang mulia?” tanya Selena begitu mereka sampai di perpustakaan.


“Tadinya aku mau membaca novel, tapi buku tentang siluman itu tiba-tiba menarik perhatianku,” jawab Suzanne sembari menunjuk buku yang berada di rak paling depan.


“Ah, buku itu di tulis oleh siluman juga,” ucap Selena.


“Ah, benarkah? Kalau begitu informasinya pasti sangat akurat,” balas Suzanne, tangannya langsung meraih buku itu dan ia langsung duduk untuk membacanya.


Suzanne menatap Selena sejenak, “aku mungkin akan lama, jadi kau ambillah buku yang mau kau baca dan duduklah di sini, ayo kita membaca bersama.”


Selena mengangguk, “Baik, Yang mulia.”


Sesaat kemudian mereka berdua sudah fokus pada buku masing-masing, atau bahkan mereka terlalu fokus sampai tidak menyadari bahwa matahari sudah mulai tenggelam.


Selena menyelesaikan bacaannya dan menyadari langit yang sudah berwarna jingga.


“Astaga, Yang mulia, kita terlalu lama di sini!” seru Selena tak santai.


Suzanne menoleh kaget, “ada apa sih?!”


Selena menunjuk jendela, membuat Suzanne menoleh untuk melihatnya.


“Astaga, berapa lama kita ada di sini?!” lirih Suzanne terkejut.


Suzanne bangkit ia dan Slena kemudian memberekan buku-buku yang mereka baca sebelum akhirnya pergi meninggalkan perpustakaan.


“Aku lapar,” keluh Suzanne pelan.


“Kalau begitu karena makan malam masih satu jam lagi, apa Anda mau saya siapkan camilan?” tanya Selena.


“Ide bagus, bawa camilannya ke ruanganku, aku akan melihat beberapa dokumen lagi di sana,” titah Suzanne.


*


Suzanne menghela nafas pelan, sejak pergi bersama Oliver dua hari, Javier belum juga kembali dan itu membuat Suzanne Khawatir. Suzanne sudah mencari ke seluruh tempat di istana, tapi Javier tidak kelihatan batang hidungnya.


Suzanne sempat menanyakannya pada Oliver, tapi kakaknya itu menjawab dengan jawaban yang sangat tidak jelas.


“Hei White, menurutmu di mana Grand Duke menyebalkan itu?” tanya Suzanne ada Whit yang sedang ada di pangkuannya.


“Entahlah, tapi firasatku biang kalau dia baik-baik saja,” jawab White.


“Ah, benar-benar ya, dia itu kan bawahanku? Kenapa tidak memberi kabar apa pun sih? Memangnya dia tidak takut di pecat?!” gerutu Suzanne kesal.


“Entahlah, jika Anda memecatnya, dia juga akan tetap jadi kaya, jadi saya rasa dia memang tidak takut di pecat,” balas White menanggapi.


“Grand Duke sialan!” umpat Suzanne kesal.


Sementara itu orang yang sedang di tunggu saat ini sudah hampir gila karena tugas tak masuk akal yang di berikan oleh Oliver.


Benar, setelah mengacaukan kediaman Marquis karena mengirimkan lamaran yang sangat tidak sopan itu, Oliver memberi Javier perintah yang tidak masuk akal.


Oliver meminta Javier menari anak hilang dan satu-satunya ciri-ciri yang Oliver sebutkan hanyalah fakta bahwa anak itu berambut hitam. Javier sangat yakin putra mahkota yang satu itu berniat menyiksanya, karena ada lebih dari seribu anak yang berambut hitam di seluruh ibu kota.


Seharusnya Oliver setidaknya memberi tahu nama, dari keluarga mana, atau setidaknya beri tahu tinggi dan usianya, kalau hanya dengan petunjuk rambut hitam, mau berapa lama Javier harus mencari?!


“Putra mahkota sialan!” umpat Javier kesal.


Tentu saja ia tahu kenapa putra mahkota melakukan hal segila ini padanya, masalahnya pasti karena ia terlalu dekat dengan Suzanne.


Javier memang menyukai Suzanne, sudah sejak lama ia menyukai tuan putri itu. Ia ingat ia bahkan pernah mengungkapkan rasa sukanya saat ia masih kecil, meskipun Suzanne tidak mengingatnya karena ia kehilangan ingatannya.


Sampai sekarang pun, Javier masih menyukainya, ia suka setiap tindakan kecil dari sang putri, bahkan jika tindakannya itu menyebalkan.


“Susah sekali kalau punya rasa terhadap orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi,” lirih Javier.


Javier menyerah, ia memilih kembali ke istana putri dan mengadu pada Suzanne, setidaknya Suzanne bisa membantu untuk menanyakan ciri-ciri lainnya pada Oliver.


Javier berteleportasi langsung ke depan kamar Suzanne, ia mengetuk pintu dan Suzanne langsung menjawabnya dari dalam.


“Siapa?”


“Javier, Yang mulia.”


“Masuk!”


“Dari mana saja kau?” tanya Suzanne ketus.


Javier memberi tahu tentang tugas yang di berikan oleh Oliver, dan benar saja, Suzanne langsung mengumpati kakaknya itu.


“Kakak menyebalkan, kemarin aku menanyakan tentang kamu dan dia menjawabnya dengan sangat tidak jelas, ternyata ini sebabnya. Berani sekali dia memerintah bawahanku!” umpat Suzanne kesal.


Javier tersenyum miris, hahaha, bawahan, batin Javier miris.


“Aku akan memarahinya nanti,” ucap Suzanne berniat menenangkan.


“Tidak usah, Yang mulia, saya hanya ingin tahu ciri-ciri anak itu,” balas Javier.


“Baiklah, akan kutanyakan nanti.”


“Yang mulia, ini saya Ruppert.”


Suzanne menoleh ke arah pintu, “masuk!”


Ruppert masuk lalu segera memberi salam.


“Ada apa?” tanya Suzanne.


“Anak itu sudah sadar,” jawab Ruppert langsung.


Suzanne berdiri, “ayo kita temui dia!”