The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 30



Ketika malam sudah tiba, Suzanne memutuskan untuk kembali ke kekaisaran. Suzanne sendiri sudah menatap selama dua hari di kerajaan siluman, dan karena itu dia merasa kalau sudah saatnya dia sendiri harus kembali. Bukan hanya kakaknya yang memintanya untuk segera pulang, dengan alasan sudah rindu, tetapi Suzanne juga memang ingin segera berada di kerajaannya sendiri.


Suzanne yang sudah selesai bersiap itu memperhatikan Javier yang juga sudah selesai membereskan barang-barangnya di kamarnya sendiri. Setelah memastikan sekali lagi bahwa tidak ada yang tertinggal, akhirnya Suzanne segera keluar dari kamarnya, dibimbing oleh Javier dan juga beberapa ksatria dari kerajaan siluman.


“Terima kasih karena sudah menjagaku selama dua hari ini,” ucap Suzanne kepada para ksatria. Ksatria yang menjaga Suzanne hanya menganggukkan kepalanya dan juga membungkukkan tubuh.


“Sudah siap untuk kembali?” tanya Javier kepada Suzanne, dia mengambil barang perempuan tersebut.


“Iya, sudah. Mari kita berpamitan terlebih dahulu kepada yang lain.”


“Baik,” ucap Javier yang juga membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum dia mengikuti Suzanne.


Suzanne sendiri berjalan perlahan menuju ke pintu depan, di mana dia yakin kalau Eliano dan yang lainnya sudah menunggu. Memang benar, ketika Suzanne sudah berada di depan, dia bisa melihat Eliano beserta keluarganya, mereka semua memberikan senyuman kecil begitu melihat Suzanne.


“Apa kunjungannya cukup nyaman, Tuan putri?” tanya Raja Ruffen.


“Tentu saja, walau sempat ada masalah, semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah yang besar,” balas Suzanne yang memberikan anggukan kepala. “Terima kasih banyak atas ketersediaannya untuk membiarkan aku tinggal di sini dan menyulitkan kalian.”


“Tuan putri sama sekali tidak menyulitkan kami semua, jadi tidak masalah. Justru kami yang merasa sangat terhormat karena didatangi seperti ini,” jawab Ratu Alenia, memberikan senyuman yang cukup lebar untuk menandakan kalau dia sama sekali tidak masalah dengan kehadiran Suzanne.


“Kalau begitu, aku akan kembali. Terima kasih atas dua harinya.”


“Kami harap Tuan putri mau dan akan kembali lagi,” sahut Raja Ruffen yang memperhatikan Suzanne mulai menaiki kereta kudanya.


“Terima kasih banyak atas segalanya,” ucap Eliano juga, dia membungkukkan tubuh cukup dalam sebelum memberikan senyuman kepadanya.


Setelahnya, Suzanne segera menunggu sang Grand Duke untuk mengatur sisanya, membiarkan Suzanne yang berada di dalam kereta kuda tersebut beristirahat selama perjalanan mengingat kalau ini sudah malam. Baru saja kereta kuda yang dia naiki Suzanne berjalan, Belum terlalu jauh dari kerajaan siluman, tiba-tiba kereta tersebut sudah berhenti.


“Ada apa? Apa ada masalah, Javier?” tanya Suzanne kepada Javier. Tetapi, ketika dia tidak Mendengar jawaban apa-apa, saat itulah Suzanne sadar bahwa ada sesuatu yang salah.


“Jangan keluar sekarang, Tuan putri!” seru Javier tampak sibuk bertarung dengan seseorang di luar sana.


Suzanne sama sekali tidak merasa takut, dia justru ikut menarik pedangnya sendiri.


“Jangan keluar apanya? Aku yang akan mengurus ini!” balas Suzanne yang segera mengayunkan pedangnya begitu sudah berada di luar.


“Tuan putri!” seru Javier yang seperti ingin marah tetapi di saat bersamaan berusaha untuk menahan dirinya, dia jelas tidak bisa memarahi Suzanne.


“Orang-orang ini sepertinya sudah salah menilai kita semua, ya,” gumam Suzanne yang masih terus mengayunkan pedangnya.


Tentu saja, Suzanne yang pintar pedang tersebut dapat dengan mudah menghadang semua serangan para bandit yang muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Ketika Suzanne melirik ke arah depan, dia bisa menyadari bagaimana sang kusir sudah meninggal. Merasa kesal, Suzanne berdecak.


“Benar-benar merepotkan orang saja!” seru Suzanne yang berusaha untuk menekan para bandit tersebut. Tetapi, belum Suzanne bisa melakukan hal yang berarti, tiba-tiba saja para bandit tersebut justru menambah pasukannya.


“Tuan putri, ini tidak aman lagi!”


“Bagaimana bisa kita membiarkan mereka pergi begitu saja?” Suzanne ingin protes, Sayangnya dia yang berucap seperti itu tidak sadar dengan sekitarnya sehingga salah satu bandit tersebut berhasil melukai dirinya.


Tepat ketika Suzanne lengah, para bandit itu beramai-ramai segera pergi dan meninggalkan tempat kejadian. Meski Suzanne ingin mengejarnya, luka yang dia dapatkan mulai terasa sakit dan Javier segera melarangnya untuk ke mana-mana.


Meski tidak ingin, akhirnya Javier memberikan sebuah penanganan terlebih dahulu, dia sendiri juga terlihat terluka di beberapa tempat. Setelah sudah selesai diobati, Suzanne memperhatikan sekitarnya kembali, berusaha untuk mencari tahu lebih dalam akan kerusakan yang sudah dibuat para bandit itu.


Suzanne menggelengkan kepalanya dengan sedikit malas, memperhatikan bulan yang masih tinggi di langit. “Tidak masalah. Yang terpenting untuk sekarang ini kita harus kembali terlebih dahulu. Jangan buat yang lainnya khawatir.”


“Baik, saya mengerti, Tuan putri.” Javier menganggukkan kepalanya.


“Nanti juga kita harus melaporkan ini, kita harus mencari bandit yang berani macam-macam dengan kita.”


Javier sekali lagi hanya menganggukkan kepalanya sebelum dia mulai mempersiapkan segalanya, melepaskan kereta yang menyatu dengan kuda sebelum akhirnya mereka berdua menaiki kuda tersebut. Suzanne sama sekali tidak masalah menunggangi kuda untuk kembali pulang, setidaknya dia berpikir dengan ini dapat sampai lebih cepat dari biasanya.


Selama perjalanan, Suzanne hanya diam saja, masih merasakan sedikit nyeri di lukanya yang hanya diobati ala kadar karena tidak memiliki obat-obatan yang memadai. Oleh karena itu juga Javier berharap agar bisa sampai ke kekaisaran lebih cepat agar bisa merawat Suzanne yang tidak terluka. Kelihaiannya membuat dia tidak terluka terlalu parah, walau begitu dia tetap harus diperiksa lebih menyeluruh.


Suzanne dan juga Javier sampai di istana kaisar ketika pagi sudah menjelang siang. Bulan yang semula menemani mereka dalam perjalanan kini sudah digantikan oleh matahari yang cukup terik. Semua yang ada di istana sudah menunggu kedatangan Suzanne dan juga Javier. Tetapi, jelas mereka sama sekali tidak menyangka akan melihat Suzanne yang terluka tersebut.


“Astaga, Tuan putri!” seru salah satu kesatria yang ada di sana. “Biar saya panggilkan dokter terlebih dahulu!” Buru-buru kesatria tersebut meninggalkan Suzanne, membiarkan dia dibawa menuju ke kamarnya. Begitu dia sudah sampai di kamarnya, tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya dokter pribadi Suzanne, Ruppert, masuk ke dalam juga.


“Tuan putri harus beristirahat banyak-banyak untuk hari ini. Meski lukanya tidak terlalu parah atau bukan luka yang dalam, tetapi pasti rasa terkejut itu masih ada,” ucap Ruppert yang membersihkan semua barang-barangnya.


“Terima kasih Ruppert, aku lagi-lagi memanggilmu di pagi buta.” Suzanne tersenyum canggung.


Ruppert tersenyum kecil, “tidak masalah, Yang mulia, keselamatan Anda adalah yang paling utama.”


Suzanne tertawa kecil, “terima kasih juga untuk itu.”


“Kalau begitu, saya pamit, Yang mulia,” ucap Ruppert sebelum bangkit dan meninggalkan kamar Suzanne.


Suzanne memperhatikan Ruppert yang keluar dari kamarnya sebelum membaringkan diri di atas kasurnya sendiri, meski Belum terlalu lama pergi, rasanya dia sudah tidak menempati kamarnya lama sekali. Satu tangannya dia letakkan di atas matanya, tengah berpikir mengenai kesialan terus datang dan menimpa dirinya. Apa ini semacam kutukan?


Rasa lelah yang ada di dalam dirinya membuat Suzanne menghela napas panjang sebelum akhirnya ia terlelap masuk ke alam mimpi.


*


Suzanne membuka matanya, ia menoleh dan mendapati Selena yang berdiri di samping tempat tidurnya.


“Selamat sore, Tuan putri,” sapa Selena ceria.


Suzanne beralih melihat keluar jendela, dan benar saja, hari sudah sore. Ia bangkit dan meminta Selena untuk membantunya berganti pakaian.


“Anda hanya pergi lima hari, tapi saya merasa Anda pergi lebih dari satu bulan, saya sangat merindukan Anda,” oceh Selena sembari menata Rambut Suzanne.


“Selena, ini sudah sore, kenapa menata rambutku dengan berlebihan begini?” tanya Suzanne bingung.


“Ah, benar juga, tadi, Yang mulia putra mahkota bilang, Anda harus datang ke gazebo taman begitu bangun, katanya putra mahkota, pangeran kedua dan kaisar ingin menikmati senja sambil minum teh bersama Anda,” jawab Selena.


Suzanne tersenyum kecil, “ada-ada saja.”


“Ah, dan Grand Duke juga sudah menunggu Anda sejak tadi di depan pintu,” bisik Selena pelan.


Suzanne berdiri, “baiklah, terima kasih atas bantuannya Selena, aku akan pergi dulu.”


“Baiklah, selamat bersenang-senang, Tuan putri!”