The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 7



Suzanne membuka matanya, ia mendapati Selena berdiri di sampingnya, siap untuk melayaninya.


“Selena, panggil Sir Ruppert, kepalaku sakit sekali,” titah Suzanne lirih.


Selena panik, ia berlari keluar kamar dan langsung menyeret Ruppert dari kamarnya, membuat Daniel dan Daniella yang baru saja keluar kamar ikut panik dan berlari masuk ke kamar Suzanne.


“Tuan putri, apa yang sakit?” tanya Ruppert cemas.


“Astaga, kenapa kalian berdua ikut ke sini?” Suzanne menatap Daniel dan Daniella bingung.


“Kami cemas melihat dayang Anda berlarian menarik Ruppert seperti itu,” jawab Daniel jujur.


“Aku baik-baik saja, kepalaku hanya sedikit sakit,” ucap Suzanne pelan.


“Yang mulia, Anda pucat sekali,” Ruppert berucap cemas.


Ruppert memeriksa Suzanne dengan teliti, ia bahkan menanyainya tentang makanan yang ia makan malam tadi.


“Aku memakan makanan yang sama seperti ayah dan yang lainnya, jadi aku tidak mungkin keracunan,” ucap Suzanne lugas.


“Yang mulia, Anda mengalami anemia, saya akan meresepkan beberapa obat penambah darah, Anda harus meminumnya dengan teratur sampai habis,” jelas Ruppert.


“Baiklah, maaf membuat keributan di pagi buta seperti ini,” balas Suzanne lirih.


“Tidak masalah, Tuan putri, Anda memang harus mengatakan apa pun keluhan Anda pada saya,” ucap Ruppert sembari tersenyum kecil, “Kalau begitu, saya pamit, Yang mulia,”


“Kalian juga keluarlah, aku akan kembali tidur, katakan pada ayah kalau hari ini aku tidak ikut sarapan,” titah Suzanne.


“Baik, Tuan putri.”


*


“Anne, bagaimana kepalamu? Apa masih sakit?”


Suzanne menatap kakaknya yang duduk di samping ranjangnya.


“Sejak kapan kakak di sana?” tanya Suzanne dengan mata yang masih setengah tertutup, ia jelas masih mengantuk.


“Sejak kakak selesai berlatih,” jawab Oliver seadanya.


“Aku masih mengantuk,” ucap Suzanne memberitahu.


“Bangunlah dulu, kau belum sarapan,” Oliver menarik tangan Suzanne.


“Ah, baiklah, baiklah, lepaskan tanganku!” Suzanne bersungut kesal.


Suzanne duduk dan Oliver langsung meletakkan makanan di depannya, membuat Suzanne melemparkan tatapan kesal pada kakaknya itu.


Suzanne menyantap makanannya dengan tenang lalu ia kembali berbaring, seperti katanya tadi, ia masih mengantuk.


“Selamat tidur adikku,” ucap Oliver sembari mengecup kening Suzanne.


Suzanne tidak menjawab, ia sudah terlelap dengan cepatnya.


“Ini tidak seperti Anne,” Kaisar Taylor muncul di belakang Oliver.


“Ayah, kutukannya mulai mempengaruhi Anne,” lirih Oliver.


“Daniel,” panggil Kaisar Taylor.


Daniel muncul bersama Daniella di sampingnya.


“Ya, Yang mulia,”


“Apakah akan terus seperti ini?” tanya Oliver.


“Bahkan bisa menjadi lebih parah,” jawab Daniel to the point.


“Niel!” Daniella berseru mengingatkan.


“Tidak masalah, dia memang harus berterus terang,” sela Kaisar Taylor.


“Yang mulia, ke depannya tuan putri mungkin akan sering mengalami sakit kepala seperti tadi pagi, atau rasa malas yang berlebihan dan yang paling parah mungkin Tuan putri bisa saja mengalami kelumpuhan tidur dan beliau bisa saja tiba-tiba mengalami henti jantung,” jelas Daniella sopan.


“Separah itu?” tanya Oliver tak percaya.


“Sejauh ini semua itu terjadi pada setiap penderita Malefair,” jawab Daniel seadanya.


“Kenapa putriku harus mengalami hal mengerikan ini? Kenapa bukan aku?” lirih Kaisar Taylor sedih.


“Yang mulia, Tuan putri spesial, beliau adalah putri dari dua orang terkuat di kerajaan ini. Sayangnya hal istimewa itu membuat dua mana yang tidak seharusnya menyatu justru menyatu di tubuh Tuan Putri, karena itu saya hanya ingin memberitahu bahwa mungkin saja beliau akan menjadi orang pertama yang sembuh dari kutukan ini,” jelas Daniella.


“Terima kasih,”


*


Suzanne terbangun, ia kemudian berdiri dan langsung membuka pintu balkonnya, ia terkejut ketika melihat langit yang sudah berwarna jingga.


“Astaga, berapa lama aku tertidur?” Suzanne bertanya pada dirinya sendiri.


“Yang mulia, Anda sudah bangun?”


Suzanne menoleh, ia menatap Doreen yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.


“Doreen, berapa lama aku tidur?” tanya Suzanne.


“Hampir seharian penuh, Tuan putri,” jawab Doreen jujur.


“Apa ini salah satu efek penyakitku?” Suzanne bertanya lesu.


Doreen hanya diam, ia tidak berani mengatakan apa pun pada Suzanne. Ia tidak mau membuat tuan putrinya sedih.


“Doreen?”


“Tuan putri, Putra mahkota, Baginda kaisar dan Yang mulia pangeran kedua sudah menunggu Anda di ruang makan,” sela Doreen cepat.


Suzanne menghela nafas pelan, “baiklah, aku akan ke sana,”


Suzanne menuju ruang makan tanpa berganti baju, ia masuk ke ruang makan dan langsung duduk di kursinya. Kaisar Taylor mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar semua dayang dan koki keluar dari ruang makan.


“Tidurmu nyenyak?” tanya Kaisar Taylor.


“Terlalu nyenyak, sampai aku berpikir mungkin saja aku sudah mati,” jawab Suzanne acuh.


“Anne, jangan berkata seperti itu,” tegur Oliver.


“Papa, apa aku penyakitku membuat aku tidur lama? Apa akan terus seperti ini?” tanya Suzanne mengabaikan sang kakak.


“Anne ...”


“Kalau terus seperti ini semua orang pasti akan kerepotan, pasti akan ada saat-saat di mana aku tiba-tiba tertidur atau pingsan atau semacamnya, itu pasti akan sangat merepotkan,” lirih Suzanne.


“Anne, tidak ada yang merasa direpotkan di sini,” balas Kaisar Taylor menghibur.


Jangan berbohong, semua orang pasti kerepotan karena aku, batin Suzanne sedih.


“Kak, tidak perlu khawatir, kami tidak terpaksa merawat kakak, jadi kakak bisa meminta tolong apa pun pada kami,” hibur Lucian.


Dewa ternyata jahat, setelah membuatku kehilangan orang tuaku di kehidupanku dulu, sekarang aku malah jadi beban bagi keluargaku, batin Suzanne.


“Anne, makanlah, kamu tidak makan tadi siang,” ucap Oliver mencoba mengalihkan perhatian Suzanne.


“Aku rasa aku tidak lapar, aku akan kembali ke kamar,” balas Suzanne.


Suzanne meninggalkan ruang makan, membuat Kaisar dan kedua putranya terdiam sedih.


“Daniel,” panggil Kaisar Taylor.


Daniel muncul di belakang sang kaisar, menunduk sopan, “Ya, Yang mulia?”


“Yang terjadi pada Anne ...”


“Tuan putri sedang dalam fase kehilangan semangat, Yang mulia. Semua orang yang tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi pasti akan mengalami fase ini,” jelas Daniel.


“Saudarimu bilang Suzanne mungkin bisa sembuh!” sentak Oliver keras.


“Yang mulia, itu hanya kemungkinan kecil, kami belum tahu seperti apa jadinya nanti,” balas Daniel tenang.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Kaisar Taylor frustrasi.


“Hibur, Tuan putri, Yang mulia. Anda harus meluangkan banyak waktu Anda untuk Tuan putri, meskipun itu pasti sulit karena Anda adalah kaisar, tapi jika Anda membagi tugas dengan Putra mahkota, saya rasa Anda bisa punya lebih banyak waktu dengan Tuan putri,” saran Daniel.


“Kalau begitu sementara kau harus memotong waktu latihanmu dan membantu ayah,” ucap Kaisar Taylor.


“Baik, Ayah,” balas Oliver setuju.


“Ayah, apa Kak Anne akan baik-baik saja?” tanya Lucian pelan.


“Tentu saja, kakakmu akan baik-baik saja, dia kan kuat,”