The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
Part 6



“Mereka kembar?”


Sayup-sayup Suzanne mendengar ayahnya berbicara, ia membuka matanya perlahan, menatap sang ayah yang sedang berbicara dengan Oliver, Grand Duke dan dua orang yang tidak ia kenal.


“Papa?” panggil Suzanne pelan.


“Sudah bangun?” Kaisar Taylor mendekat, ia duduk di samping Suzanne.


“Mereka siapa?” tanya Suzanne.


Kedua orang itu membungkuk memberi salam kepada Suzanne.


“Salam kenal, Tuan putri, saya Daniel Vidor dan ini saudari saya Daniella Vidor, kami di sini untuk membantu Anda,” Daniel memperkenalkan diri.


“Ah, jadi kalian murid Ibu?” tanya Suzanne.


“Benar, Yang mulia,” jawab Daniella.


“Kalau begitu mohon bantuannya,” ucap Suzanne.


Daniella mendekat ia mengulurkan kedua tangannya ke depan Suzanne, “Yang mulia, biar saya mulai,”


Suzanne mengangguk, ia menggenggam tangan Daniella erat.


Daniella menutup matanya, mulai menyalurkan mana putihnya, menenangkan inti mana Suzanne.


Beberapa saat kemudian, rasa sakit Suzanne sepenuhnya menghilang, membuat Suzanne sontak memeluk Daniella.


“Terima kasih,” ucap Suzanne senang.


Daniella tersenyum kecil, “sama-sama, Tuan putri.”


Inti mananya sangat kuat, tapi apakah dia bisa bertahan lebih dari tiga tahun? Dia masih sangat muda. Kalau guru tahu tentang putrinya ini, apa yang akan guru lakukan? Batin Daniella.


“Apakah aku masih bisa menggunakan aura untuk berpedang?” tanya Suzanne pelan.


“Kecuali darurat, tolong jangan menggunakan aura, Tuan putri,” jawab Daniel.


“Kemampuan berpedang Anda hebat, Yang mulia, bahkan tanpa aura Anda masih bisa mengalahkan salah satu prajurit tingkat tinggi,” Grand Duke bersuara.


“Benarkah? Anda sama seperti guru,” puji Daniella.


“Terima kasih, Daniella,” balas Suzanne pelan.


“Ella saja, Tuan putri,” sela Daniella.


“Baiklah, Ella,” Suzanne tersenyum senang.


“Berarti aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi kan?” tanya Suzanne semangat.


“Tentu saja, tetapi kamu akan terus bersama Daniel, Daniella, Doreen, Selena dan Doughlass. Mulai sekarang kamu tidak boleh sendirian sama sekali, kalau mau lebih sepi setidaknya harus membawa Daniel atau Daniella,” ucap Kaisar Taylor panjang lebar.


“Oke baiklah, terserah Papa saja,” balas Suzanne.


“Anak pintar,” Kaisar Taylor mengacak rambut Suzanne gemas.


“Sudahlah, kalian semua keluar, biar Selena dan Doreen melakukan tugas mereka,” Suzanne berseru mengusir semua orang dari kamarnya.


“Baiklah, sampai jumpa saat makan malam,”


*


“Selamat siang, Tuan putri,”


Suzanne menoleh, tersenyum melihat Javier yang sedang berjalan ke arahnya.


“Dari mana saja kau?” tanya Suzanne.


“Saya baru selesai berlatih, apa tubuh Anda sudah membaik? Saya dengar dari Ayah Anda sakit,” Javier melempar pertanyaan balik.


“Aku baik-baik saja sekarang,” jawab Suzanne.


“Apa dua orang itu adalah penyihir yang dijemput ayah saya?” tanya Javier.


“Ya, perkenalkan, ini Daniel dan Daniella, mereka kembar,”


“Salam kenal, Grand Duke muda,” Daniel dan Daniella berucap kompak.


“Salam kenal, aku Javier Campbell,” Javier memperkenalkan diri.


“Vier, bagaimana latihanmu?” tanya Suzanne.


“Yah, cukup baik, setidaknya aku sebentar lagi bisa menyamai kemampuan putra mahkota,” jawab Javier sombong.


Suzanne tertawa, “kalau mau menyamai kemampuan kak Oliver sepertinya kau harus berlatih selama kurang lebih sepuluh tahun lagi,”


“Hei, jangan mengejekku begitu, kemampuanku benar-benar sudah hampir menyamai kemampuan putra mahkota!” seru Javier tak terima.


“Baiklah, baiklah, terserah apa katamu saja,” ucap Suzanne sembari mengibaskan tangannya.


Javier mendelik kesal, sementara Suzanne tertawa puas melihat wajah kesal Javier.


“Baiklah, Vier, berlatihlah lebih giat lagi agar kau lebih cepat menyamai kakakku,” ucap Suzanne dengan nada meledek.


“Tentu saja, tanpa kau beritahu aku juga sudah berlatih dengan giat,” balas Javier tak mau kalah.


Suzanne tertawa kecil, dasar manusia tak mau kalah.


*


“Ayah!”


“Ada apa?!” tanya Kaisar Taylor dengan nada kesal.


“Aku sudah memanggil ayah lebih dari tiga kali, sebenarnya apa yang ayah pikirkan?” Oliver bersungut kesal.


Kaisar Taylor terdiam sesaat, kemudian berucap, “kalau saja ibumu masih ada, apa yang akan dia lakukan saat mengetahui putri tunggalnya mengidap penyakit mengerikan seperti itu?”


“Ayah, ibu pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang ayah lakukan, mencari obat dari penyakit itu,” balas Oliver.


“Ayah tidak bisa membantu meskipun semua orang mengatakan bahwa Ayah memiliki mana paling kuat di seantero kekaisaran. Mana ayah emas, bukan putih, dan itu juga mungkin salah satu penyebab adikmu harus mengidap penyakit mematikan itu,” ucap Kaisar Taylor panjang lebar.


“Apa maksud Ayah?” tanya Oliver tak mengerti.


“Mana emas dan mana putih tidak bisa tercampur, mereka bertolak belakang. Karena itulah dulu banyak orang yang menentang pernikahan ayah dan ibu.


Mana milik Suzanne tidak jelas warnanya, seperti putih keemasan, karena itu ayah berani menyalurkan sedikit mana ayah saat dia sekarat. Mungkin saja dari awal inti mananya stabil, tapi mana ayah menghancurkan kestabilan itu.


Bagaimana jika ayah bukannya menyelamatkannya, tapi justru mendorongnya ke jurang penderitaan?” Kaisar Taylor menunduk penuh penyesalan.


“Ayah!” Oliver menyela perkataan sang ayah, “Ayah sudah melakukan tindakan yang benar, semua ayah di dunia akan melakukan hal yang sama jika melihat putrinya tidak bernafas,”


“Oliver, adikmu mungkin akan baik-baik saja jika penyihir putih yang menyembuhkannya,” ucap Kaisar Taylor menyalahkan dirinya sendiri.


“Penyihir putih itu bukan keluarganya, ayah adalah ayah Suzanne!” sanggah Oliver.


“Ibumu adalah penyihir putih, kalau saja dia masih di sini, dia pasti melakukannya dengan baik, jauh lebih baik daripada ayah,” balas Kaisar Taylor, masih merasa bersalah.


“Ayah, berhenti menyalahkan diri, ayah ataupun aku tidak mau ini terjadi pada Suzanne, tapi saat ini bukan saatnya untuk menyalahkan diri sendiri, kita harus terus melakukan reset untuk tahu obat dari penyakit ini,” hibur Oliver.


“Bagaimana jika obatnya tidak pernah ditemukan?” tanya Kaisar Taylor terlihat putus asa.


“Ayah, jangan menyerah dulu, Suzanne menaruh harapan besar pada kita, dia juga pasti sangat takut meskipun sikapnya terlihat biasa saja,” ucap Oliver menguatkan.


“Maafkan ayah,” lirih Kaisar Taylor menyesal.


“Jangan meminta maaf, Ayah, ini bukan salah Ayah, takdir saja yang memang terlalu jahat kepada putri ayah,”


*


Suzanne berbaring, menatap langut-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia baru saja kembali dari taman, dan ya, saat ini ia sedang sendirian di kamar, ia meminta Daniella berjaga di depan kamarnya bersama Doreen dan Doughlass, sementara Selena dan Daniel pergi beristirahat.


Suzanne bergelut dengan pemikirannya sendiri. Ia tidak mau merasakan rasa sakit luar biasa itu lagi, tapi ia juga tidak bisa menyerah begitu saja.


Suzanne tahu kalau obat dari penyakit ini tidak akan pernah di temukan, karena di side story yang ia baca, saat pada akhirnya Suzanne meninggal, Kaisar Taylor berjuang sekuat tenaga untuk menemukan obat untuk penyakit ini untuk menebus rasa bersalahnya pada putrinya. Namun meski sudah melakukan searching selama lebih dari lima tahun, Kaisar tidak pernah menemukan obatnya.


“Apa yang harus aku lakukan?” lirih Suzanne.


Suzanne, sadarlah. Ayo abaikan saja penyakit ini dan buat banyak momen dengan keluargamu. Lagi pula, aku sudah pernah mati sekali, rasanya tidak masalah jika aku mengalami kematian sekali lagi. Batin Suzanne menyemangati dirinya sendiri.


Suzanne tertawa miris, “ah, sial. Entah itu kehidupan pertama atau kedua, dua-duanya sama-sama sial. Apakah dewa membenciku?!”


*


“Papa berhenti menatapku, apa ada sesuatu di wajahku?” Suzanne meletakkan sendoknya, menatap sang Ayah yang bukannya makan justru hanya menatapnya saja.


“Anne, papa ingin tahu, kapan kau belajar bahasa barat?” tanya Kaisar Taylor.


“Bahasa barat? Maksudnya?” Suzanne tampak kebingungan.


“Make it stop, kata-kata yang kamu ucapkan saat sebelum kamu pingsan, itu bahasa negara barat,” jelas Kaisar Taylor.


Eh? Jadi di sini juga ada bahasa inggris? Dan lagi aku pasti mengucapkannya tanpa sadar saat itu. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku mempelajarinya saat masih menjadi Hye-rin kan? batin Suzanne panik.


“Emmm, entahlah, mungkin sebelum aku kehilangan ingatanku?” Suzanne menjawab asal.


“Kamu tidak pernah mempelajarinya, kamu selalu bilang kamu takut ibu meminta kembali ke barat jika ada yang menggunakan bahasa itu di istana,” sela Oliver.


“Ah, benar juga, ibu berasal dari barat,” lirih Suzanne.


“Apakah ini semacam kemampuan khusus? Kemarin juga aku lihat kakak membaca buku yang berbahasa kuno,” celetuk Lucian.


“Bahasa kuno apanya, bukannya itu bahasa kekaisaran?” sanggah Suzanne.


“Bukunya berjudul apa?” tanya Oliver.


“Itu buku sejarah kekaisaran, cover bukunya berwarna ungu tua,” jawab Suzanne seadanya.


“Anne, buku itu berbahasa kuno, bukan bahasa kekaisaran,” ungkap Oliver.


Suzanne terdiam, yang benar saja? Aku tidak pernah tahu kalau Suzanne punya kemampuan multibahasa, atau ini memang karena jiwaku yang menyeberangi dimensi?


“Anne, kau pasti seorang jenius bahasa,” ucap Oliver bangga.


“Jenius bahasa apanya, belum tentu aku bisa membaca semua bahasa kan? Ini baru bahasa kuno dan bahasa barat saja,” sanggah Suzanne.


“Anne, bahkan Grand Duke Kenneth tidak bisa membaca bahasa kuno. Oliver juga tidak bisa,” jelas Kaisar Taylor.


“Hah?!” Suzanne berseru kaget, “aku pikir Grand Duke adalah manusia bisa segalanya, tapi dia tidak bisa bahasa kuno?”


“Bahasa itu sudah tidak digunakan lagi, hanya profesor yang mengajar sejarah kekaisaran, bahkan sekarang sudah banyak buku sejarah yang di tulis dengan bahasa kekaisaran, karena itu bahasa kuno sudah mulai terlupakan,” jelas Kaisar Taylor.


“Kak ... kakak pasti seorang jenius!” Lucian berseru penuh semangat.


“Jangan terlalu menaruh harapan, jadi jenius bahasa tidak akan menyembuhkan penyakitku,” Suzanne berucap pelan.


“Anne ...”


“Sudahlah, aku kenyang, aku akan kembali ke kamarku,”