
Suzanne menatap pantulan dirinya di cermin, ia lagi-lagi memuji kecantikannya sendiri, Suzanne memang sangat cantik, sayang sekali nasibnya tidak secantik wajahnya.
“Anda sudah siap, Yang mulia?” Javier bertanya sopan.
“Ya, kau pergilah duluan, kalau kita masuk bersama, nanti akan banyak rumor aneh yang tersebar,” jawab Suzanne.
Javier mengangguk paham, “baik, Yang mulia.”
Javier masuk ke aula pesta, di susul oleh Suzanne yang masuk bersama keluarganya yang kebetulan ia temui di depan pintu masuk.
Pesta berjalan lancar sampai Javier resmi menjadi Grand Duke, semuanya tampak baik, Javier bahkan sempat mengajak Suzanne berdansa, meskipun sebagai akibatnya, Javier harus rela menerima tatapan tajam dari Kaisar dan putra mahkota.
“Anne, kau menyukainya?” tanya Oliver pelan.
“Siapa?” Suzanne menatap sang kakak bingung.
“Kau suka Grand Duke baru itu?” tanya Oliver lagi.
“Tentu saja,” jawab Suzanne tanpa ragu.
Oliver mendelik garang, tangannya meremas gelas dengan erat, “sepertinya akan lebih baik jika aku menyingkirkannya dari sisi Anne,” gumam Oliver geram.
“Lagi pula, Javier memang sudah sangat siap untuk menjadi Grand Duke, meskipun umurnya memang belum terlalu tua, tapi aku rasa dia akan jadi Grand Duke yang baik,” ucap Suzanne panjang lebar.
Oliver menatap Suzanne bingung, “jadi maksudmu kamu suka dia jadi Grand Duke, begitu?”
“Iya, memangnya, suka semacam apa yang kakak maksud?” tanya Suzanne bingung.
Oliver tertawa kecil, “ah, sudahlah lupakan saja.”
Suzanne menatap kakaknya dengan tatapan horor, “dasar orang aneh.”
Suzanne mengambil gelas jus yang ada di sampingnya, ia meminumnya sampai habis. Matanya masih menatap sang kakak yang masih saja senyum-senyum sendiri.
Ternyata dia bukan menyukainya sebagai lelaki, batin Oliver lega.
Gelas di tangan Suzanne terjatuh, saat ia tiba-tiba merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Suzanne menatap Oliver yang tampak khawatir, tangannya meraih tangan sang kakak, mencoba berpegangan agar ia tidak jatuh.
“Anne, ada apa? Ada yang sakit?” tanya Oliver cemas.
Mendengar teriakan Oliver, aula pesta tiba-tiba hening, Kaisar Taylor dan Lucian berlari mendekati Oliver dan Suzanne, keduanya tampak sama cemasnya dengan Oliver.
“Oliver, ada apa ini?” tanya Kaisar Taylor.
“Aku tidak tahu, setelah meminum jusnya ...”
Uhuk
Penjelasan Oliver terhenti saat Suzanne tiba-tiba saja memuntahkan seteguk darah. Daniel, yang melihat dari kejauhan langsung menghampiri sang putri, begitu juga Javier dan Daniella yang langsung berlari mendekat.
“Yang mulia, sepertinya Tuan putri diracuni,” ucap Daniel.
Aula pesta kembali ribut, semua orang mulai saling berisik tentang siapa yang berani meracuni satu-satunya putri kaisar.
“Panggil Ruppert, aku akan membawa Putri ke kamar, bawa Ruppert ke sana, cepat!” titah Kaisar Taylor.
Daniel mengangguk, ia menghilang di telan kabut, sementara Daniella dan yang lainnya mengikuti Kaisar ke kamar.
Daniella mencoba melakukan pertolongan pertama dengan mengeluarkan racun dari tubuh Suzanne, ia juga terus menggunakan sihirnya untuk membantu Suzanne bernafas, karena nafasnya terdengar sangat berat.
Beberapa saat kemudian, Daniel muncul bersama Ruppert, mereka berdua langsung mencoba mengobati sang putri.
Daniella menurutinya, ia menganalisis racunnya dan ia langsung terdiam, matanya menatap Daniel dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
“Ada apa? Apa yang kau temukan?” tanya Daniel cemas.
“Ini ... racun dari tanaman Tytrhyse,” ucap Daniella lirih.
Ruppert menjatuhkan alatnya karna terkejut, ia menatap Daniella dengan marah, “jangan bercanda, tanaman itu seharusnya tidak ada di kekaisaran!” sentak Ruppert marah.
Daniella hanya diam, ia menatap Ruppert dengan mata yang sudah berair, “aku juga tahu, aku tahu kalau tanaman ini hanya tumbuh di satu tempat, dan aku juga tahu kalau yang bisa mengaksesnya hanya penyihir hitam, aku tahu itu.”
“Apa maksudnya itu? Katakan dengan jelas!” seru Oliver murka.
“Yang mulia, racun yang Tuan putri minum, bukan racun biasa. Racun itu bisa sangat mematikan meskipun hanya dengan dosis kecil, kabar baiknya, kita bisa dengan mudah menemukan penawarnya di menara penyihir, kabar buruknya, untuk meracik penawarnya dibutuhkan seharian penuh dan harus dengan dosis yang tepat, sementara kita tidak tahu sebanyak apa dosis racun yang dimasukkan ke minuman tuan putri,” jelas Daniel masih mencoba tenang.
“Aku tidak mau tahu, putriku harus selamat dengan cara apa pun. Aku tidak peduli jika aku harus menghancurkan menara penyihir, yang penting, putriku harus selamat!” ucap Kaisar Taylor, wajahnya menggelap, sang Kaisar sangat marah hingga sepertinya ia bisa saja menghabisi seluruh bangsawan kekaisaran.
“Kami akan mengusahakan yang terbaik, Yang mulia,” ucap Daniel sopan.
Daniel menggandeng Daniella lalu mereka menghilang, bersamaan dengan beberapa penyihir menara yang memang ada di kediaman itu.
Kaisar dan Oliver kembali ke aula pesta, tempat di mana para bangsawan masih berkumpul dan belum diizinkan pulang.
Aura gelap Kaisar dan putra mahkota cukup membuat para bangsawan ketakutan, terlebih Javier yang berdiri di belakang keduanya seakan memberitahu dunia bahwa kekaisaran sudah kembali pada kekuatan awalnya.
“Siapa yang berani meracuni putriku?” tanya Kaisar dengan suara rendah.
Tentu saja tidak ada yang menjawab, semuanya hanya diam.
“Aku akan menegaskan ini, mengakulah sebelum aku menemukanmu, karena jika aku menemukanmu sebelum kau mengaku, aku akan menghancurkan keluargamu sampai ke akar-akarnya,” ucap Kaisar Taylor dengan nada rendah yang mengerikan.
Aula masih tetap tenggelam dalam keheningan, tidak ada yang menjawab dan itu hanya membuat Kaisar semakin murka.
“Baiklah kalau itu pilihanmu, teruslah bersembunyi, tapi ingat satu hal ini, aku pasti akan menemukanmu dan menghukummu sampai kau memohon untuk mati!” ucap Kaisar Taylor sebelum meninggalkan aula bersama Oliver dan Javier.
*
“Dokter, apa kakakku akan baik-baik saja?” tanya Lucian sembari menatap Ruppert dengan sedih.
“Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, Pangeran,” jawab Ruppert seadanya.
“Kenapa ini terus terjadi pada kakak? Padahal kakak baik, dia tidak pernah menyakiti siapa pun, kakak bahkan pernah menangis hanya karena melihat burung yang terluka, tapi kenapa banyak sekali orang yang ingin mencelakai kakakku? Bahan dewa pun berusaha merenggutnya dari kami, memangnya, kesalahan apa yang pernah ia lakukan?” ucap Lucian lirih.
Lucian menggenggam tangan Suzanne dengan erat, ia mengecupnya beberapa kali, matanya terus menatap wajah sang kakak yang tampak sangat kesakitan.
“Seharusnya orang sebaik kakak tidak lahir di keluarga kaisar, kalau saja kakak lahir di keluarga biasa, mungkin kakak tidak akan mengalami semua penderitaan ini,” gumam Lucian pelan.
“Pangeran, Anda tidak boleh berbicara seperti itu, Tuan putri tidak pernah menyesal terlahir sebagai keluarga kaisar, beliau juga terlihat sangat bahagia menjadi keluarga Kaisar, juga, menjadi orang biasa tidak selalu bahagia, mereka harus bekerja hanya untuk makan, mereka kedinginan di musim dingin karena tidak punya cukup uang untuk membeli pakaian yang lebih hangat. Karena itu, saya yakin Tuan putri pasti sangat bersyukur karena terlahir sebagai keluarga Kaisar,” ucap Ruppert mencoba menghibur.
“Benarkah kakak merasa seperti itu?” Lucian menatap Ruppert dengan mata berkaca-kaca.
Ruppert mengangguk, “tentu saja.”
“Kak, kalau kakak memang bersyukur terlahir sebagai keluargaku, kakak harus bangun, oke? Setelah kakak bangun aku akan melakukan apa pun yang kakak minta, aku janji. Jadi, cepat sadarlah kak.”