
“Ah, maafkan saya, tangan saya licin, jadi gelas teh saya tidak sengaja jatuh,” seorang gadis bangsawan dengan pakaian mewahnya tampak menatap Suzanne dengan pandangan merendahkan.
Suzanne menghela nafas lelah, keinginannya untuk berbelanja dengan tenang seketika hancur karena seorang nona yang bahkan tidak ia ketahui namanya, dan sekarang mereka menjadi pusat perhatian karena ulah nona aneh ini.
“Ah, tapi, kamu dari keluarga mana? Aku sepertinya tidak pernah melihatmu, melihat dari pakaianmu saja sudah terlihat bahwa kau pasti berasal dari bangsawan kelas rendah. Berani sekali bangsawan sekelasmu duduk di tempat dudukku?”
Suzanne menghela nafas lelah, astaga, mimpi apa aku semalam sampai bertemu orang gila ini? Batin Suzanne kesal.
“Nona, perhatikan bahasamu, Nona saya punya posisi yang lebih tinggi dari Anda!” Selena berucap memperingatkan.
Hah, wajar saja orang-orang ini tidak mengenalku, terakhir kali aku muncul di pesta adalah empat tahun yang lalu, sebelum jiwaku masuk tubuh ini, tapi tetap saja, nona ini benar-benar tidak memiliki attitude sama sekali! Batin Suzanne bersungut-sungut.
“Hei, siapa yang mengizinkan pelayan rendahan sepertimu untuk berbicara padaku hah?!”
“Astaga, bukankah itu nona dari keluarga marquis Valya? Aku memang sudah dengar kalau dia sombong, tapi masa sampai separah itu?” Suzanne bisa mendengar salah satu nona di belakangnya berbisik.
Marquis Valya? Seingatku nama putrinya adalah Helene? Jadi ini Helene yang pernah melamar menjadi dayangku? Astaga untung saja aku menolaknya, Suzanne bersyukur dalam hati.
“Astaga, Tuan putri, apa yang terjadi?!” Daniella yang akhirnya bisa menerobos kerumunan berseru terkejut.
Daniel segera menghampiri Suzanne dan mengeringkan baju sang putri menggunakan sihir.
Mendengar panggilan Daniella, Helene terlihat pucat pasi, begitu juga para pembeli lain yang mulai berbisik tentang apa yang mungkin terjadi pada Helene.
“Ah, terima kasih Daniel,” ucap Suzanne akhirnya membuka suara.
“My pleasure, Princess,” balas Daniel.
“Jadi nona yang bahkan tidak aku kenal, apakah begini cara keluargamu mendidikmu? Merendahkan orang lain?” tanya Suzanne pada Helene.
“M-maafkan saya, saya tidak tahu kalau Anda ...”
“Nona, bahkan jika aku bukan keluarga kekaisaran atau orang yang punya pangkat lebih tinggi dari Anda, Anda tetap tidak boleh merendahkanku, Anda tidak boleh merendahkan siapa pun Nona, apa guru etika Anda tidak memberi tahu hal dasar itu?” sambar Suzanne cepat.
Pegawai toko yang melayani Suzanne tampak berlari dengan wajah tegangnya.
“Astaga, maafkan saya, Yang mulia, saya tidak tahu jika itu Anda.”
“Tidak masalah, lagi pula aku sudah malas berada di sini, bawa semua perhiasan yang sesuai dengan apa yang aku minta tadi ke istana, aku akan membeli semuanya,” ucap Suzanne sebelum akhirnya pergi meninggalkan toko itu.
“Akh astaga, kenapa juga aku harus bertemu manusia seperti dia di sini? Dia menghancurkan mood belanjaku!” Suzanne menggerutu kesal.
“Perlukah saya membereskannya?” tanya Daniel serius.
“Biarkan saja, kejadian hari ini sudah cukup membuat reputasinya hancur total, dia akan hancur dengan sendirinya nanti,” jawab Suzanne santai.
“Anda sangat keren, Yang mulia, dia pasti sangat malu,” puji Selena bangga.
“Uh, terlebih saat Anda membeli semua perhiasan itu, ah ... itu sangat keren!” sambung Daniella girang.
“Hahaha, aku hanya melakukannya untuk menggertak nona tadi,” balas Suzanne, “tapi, sejak kapan kau bisa bahasa barat?” lanjut Suzanne bertanya pada Daniel.
“Oh, saya dan Daniella memang sudah bisa bahasa barat sejak berguru pada mendiang Ratu,” jawab Daniel seadanya.
Suzanne mengangguk paham.
“Jadi ini kita langsung pulang, Yang mulia?” tanya Selena.
“Yah, mau bagaimana lagi, aku sudah kehilangan moodku untuk berbelanja dan jalan-jalan, jadi ayo langsung pulang.”
*
Suzanne menatap pantulan dirinya di cermin, ia terkagum akan kecantikannya sendiri.
Suzanne memang sangat cantik, batin Suzanne.
“Yang mulia, Anda sangat cantik!” puji Selena.
“Terima kasih,” balas Suzanne.
Suzanne berbalik, menatap Daniel yang sudah rapi dengan setelannya dan Daniella yang juga sudah rapi dengan gaun yang ia pilihkan.
“Kalian terlihat seperti karya seni,” puji Suzanne.
“Kalau begitu kau pasti seorang dewi,” balas Daniella.
Suzanne tertawa kecil, “yang benar saja.”
“Nah, sudah cukup bercandanya, ayo kita berangkat, semua orang pasti sudah menunggu,” Oliver membuka suara.
“Kalau begitu izinkan saya yang mengawal Anda, Tuan putri,” balas Oliver sembari mengulurkan tangannya.
Suzanne menyambut tangan Oliver sembari tertawa kecil, keduanya kemudian berjalan keluar diikuti oleh Daniel dan Daniella.
Kaisar dan Lucian yang menunggu di teras di buat terpana sesaat oleh kecantikan Suzanne keduanya kemudian tersenyum dan langsung menghujani Suzanne dengan pujian.
“Oke, hentikan itu, kalau kita terus seperti ini, kita akan terlambat,” ucap Suzanne menghentikan tingkah keluarganya.
“Baiklah, kalau begitu ayo berangkat!”
*
“Yang mulia Kaisar, Putra mahkota, Pangeran Lucian dan Putri Suzanne telah tiba.”
Suzanne dapat merasakan semua atensi yang kini tertuju pada mereka, ia dapat merasakan banyak orang yang menatapnya dengan berbagai macam tatapan.
Musik mulai di putar ketika Kaisar Taylor mengajak Suzanne ke lantai dansa dan mulai berdansa, setelah selesai satu lagu, barulah para bangsawan lain mulai menikmati pestanya.
Kaisar Taylor mulai berbincang dengan para bangsawan, sementara Suzanne tertahan di antara gerombolan nona-nona yang terus mengajaknya berbicara.
“Nona-nona, maaf sebelumnya, tapi saya sedikit haus, jadi saya harus mengambil air minum dulu, saya permisi.”
Suzanne menjauh dari kerumunan, ia akhirnya bida bernafas lega setelah berhasil mencapai ujung ruangan.
“Astaga, aku belum debut tapi mereka sudah mengelilingiku seperti lalat,” gerutu Suzanne kesal.
“Hari yang melelahkan ya?”
Suzanne terlonjak, ia menatap Javier yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.
“Astaga, Vier, kau mengejutkanku!” seru Suzanne kesal.
“Maaf-maaf, aku hanya kebetulan melihatmu di sini jadi aku datang untuk menyapa,” balas Javier tanpa dosa.
“Menyapa itu dari depan bukan dari belakang!” ucap Suzanne kesal.
“Hahaha, kalau dari depan kau tidak akan terkejut kan?” ledek Javier.
“Ah, sudahlah, kau tidak menemuiku berhari-hari dan ketika akhirnya kita bertemu kua malah membuatku kesal,” sungut Suzanne jengkel.
“Baiklah, baiklah, maafkan aku,” ucap Javier mengalah.
“Aku maafkan, setelah kau mengambilkan jus jambu untuk menghilangkan rasa kesalku ini,” titah Suzanne seenaknya.
Javier tertawa kecil, “Baik, Yang mulia.”
Javier berbalik untuk mengambil jus yang kebetulan ada tepat di belakangnya. Namun, baru saja Javier mengambilkan jusnya, seorang nona menabraknya dan membuat jus yang dibawanya tumpah mengenai gaun Suzanne.
Suzanne menghela nafas lelah, “astaga, apa lagi sekarang?”
“Nona, perhatikan langkahmu!” sentak Javier dingin.
“Ah, maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja,” nona itu membungkuk takut.
Suzanne memegang tangan Javier ketika ia bau akan angkat suara, “biarkan saja,” Suzanne berbisik.
“Tidak apa-apa Nona, aku bisa langsung mengganti gaunku di ruang istirahat, jadi jangan takut,” ucap Suzanne menenangkan.
Nona itu mengangkat kepalanya, hingga Suzanne dan Javier dapat melihat wajahnya dengan jelas.
“Nona, siapa namamu?” tanya Suzanne lembut.
“Gwen, Yang mulia, Gwen Duncan,” jawab nona itu.
Suzanne terpaku, Gwen Duncan, Suzanne tidak mungkin lupa nama itu, itu adalah nama tokoh utama dalam novel yang ia baca, atau setidaknya itulah yang ia tahu.
Rambut coklat yang terlihat bersinar dan mata birunya yang sejernih lautan, tidak salah lagi ini adalah Gwen yang akan menuntunnya menuju kehancuran.
Suzanne hanya diam, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, terlebih lagi akhir-akhir ini pikirannya dipenuhi dengan kebingungan akan peran Gwen yang sebenarnya, apakah orang yang sekarang berdiri di depannya ini adalah Antagonis atau protagonis?
Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Reaksi seperti apa yang seharusnya ia tunjukkan?
[Princess Suzanne]