
Hye-rin membuka matanya, ia kebingungan melihat sekitarnya yang gelap gulita. Hye-rin berjalan lurus mencari cahaya, langkahnya terhenti ketika ia melihat kedua orang tuanya berdiri di depannya.
Hye-rin berlari memeluk kedua orang tuanya, “papa, mama, aku rindu,” bisik Hye-rin pelan.
Mr dan Mrs Kim tertawa, mereka balas memeluk Hye-rin dengan erat, ketiganya diam menikmati posisi itu beberapa saat sebelum Hye-rin akhirnya melepaskan pelukannya.
Hye-rin menatap kedua orang tuanya dengan perasaan campur aduk, ia senang, tapi juga bingung.
“Bagaimana kalian bisa di sini? Apakah aku sudah mati?” tanya Hye-rin.
Mrs Kim tersenyum kecil, “sudah mati apanya, tubuhmu masih terbaring di rumah sakit dengan semua alat penunjang kehidupan itu.”
Hye-rin terkejut melihat tubuhnya yang memang masih hidup dan sedang terbaring di rumah sakit, ia juga dapat melihat Ga-eun yang duduk di sampingnya sembari terus memegangi tangannya.
“Kalau aku masih belum mati, lalu kenapa jiwaku malah masuk ke tubuh Suzanne? Dan di mana jiwa Suzanne yang asli?” tanya Hye-rin kebingungan.
“Kamu tidak masuk ke tubuh siapa pun, kamu hanya kembali ke masa lalu,” jawab Mr Kim.
Hye-rin tertawa kecil, “kembali ke masa lalu apanya, jelas-jelas aku masuk ke tubuh seseorang yang ada di novel.”
“Hye-rin, coba lihat dirimu, kamu dan Suzanne adalah orang yang sama,” ucap Mr Kim.
Hye-rin menatap pantulan dirinya, benar saja, yang ia lihat saat ini adalah wajah Suzanne, ia kemudian beralih menatap kedua orang tuanya dengan bingung.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Hye-rin kebingungan.
“Hye-rin, jiwamu hanya belum rela dengan kematianmu dulu, karena itulah jiwamu sendiri yang kembali untuk memperbaiki kehidupan masa lalumu,” jelas Mr Kim.
“Bagaimana papa bisa tahu?” tanya Hye-rin lagi.
“Papa adalah ayahmu, tentu saja papa terus mengawasimu, papa tahu semua tentang kamu,” jawab Mr Kim lembut.
“Kalau begitu, apa sekarang aku sudah mati? Apa aku akan kembali menjadi Kim Hye-rin?” tanya Hye-rin.
“Itu tergantung pilihanmu, kau bisa terus hidup menjadi Suzanne sampai batas waktumu habis, atau kembali menjadi Kim Hye-rin dan menikmati hidup seperti biasanya,” jawab Mrs Kim.
“Batas waktu itu, maksudnya penyakitku kan?”
Mrs Kim mengangguk.
“Kalau begitu aku ingin kembali, sebagai Suzanne, aku ingin menyelesaikan semuanya.”
Mr dan Mrs kim tersenyum bangga, “Kalau begitu kembalilah, kembali dan selesaikan semuanya.”
Hye-rin tersenyum, “sampai jumpa lagi, kuharap tidak dalam waktu dekat.”
*
Matahari hampir terbenam, yang artinya waktu Suzanne hampir habis, tapi Suzanne belum juga membuka matanya. Daniel baru saja kembali dan memberikan penawarnya, jadi seharusnya Suzanne sudah sadar saat ini, tapi entah apa yang terjadi, mata cantik itu belum juga terbuka.
Kepanikan terjadi ketika tiba-tiba jantung Suzanne berhenti berdetak, nafasnya sudah tidak lagi terdengar dan dadanya juga tidak lagi bergerak.
“Yang mulia, tuan putri berhenti bernafas,” ucap Ruppert memberi tahu.
Seisi ruangan panik, mereka mulai mencoba segala cara untuk membuat sang putri kembali bernafas, usaha mereka kemudian berhenti ketika Ruppert angkat suara.
“Sudah, hentikan, cara-cara itu tidak akan berhasil, tuan putri sudah berpulang,” ucap Ruppert pelan
Oliver mencengkeram kerah Ruppert, matanya berkilat marah, “jangan katakan hal yang tidak-tidak tentang adikku, dia baik-baik saja, dan dia akan kembali pada kita, jadi lakukan saja tugasmu dengan benar, selamatkan adikku!”
“Yang mulia, saya bukan tuhan,” balas Ruppert lirih.
Ruppert menyingkirkan tangan Oliver, ia kemudian berjalan mendekati ranjang sang putri, tangannya bergerak menarik selimut Suzanne untuk menutupi kepalanya.
Namun,, Ruppert dibuat terkejut ketika Suzanne tiba-tiba duduk dan langsung berteriak.
“Astaga, apa yang kau lakukan?!” teriak Suzanne histeris.
Seisi ruangan mendadak hening, sepersekian detik kemudian, Kaisar menarik Suzanne ke dalam pelukannya, membuat Suzanne kebingungan sesaat sebelum akhirnya membalas pelukan sang ayah.
“Papa, ada apa?” tanya Suzanne bingung.
“Maaf, papa lalai lagi menjagamu, lagi-lagi papa hampir kehilangan kamu,” bisik Kaisar Taylor dengan suara serak.
Suzanne mencoba melepaskan pelukan sang ayah, tapi Kaisar Taylor justru mempererat pelukannya seakan takut Suzanne akan pergi jika ia melepaskan pelukannya.
“Papa, sesak!” ucap Suzanne sembari memukul punggung sang ayah.
Kaisar Taylor langsung melepaskan pelukannya, ia mencium setiap inci wajah Suzanne, membuat Suzanne harus menjauhkan wajahnya untuk menghindari kegilaan ayahnya itu.
“Aduh, Papa ini kenapa sih?!” tanya Suzanne kesal.
Kaisar Taylor tersenyum kecil, “tidak apa-apa, papa hanya senang karena kamu baik-baik saja.”
“Ah, benar juga, aku diracuni tadi, siapa yang berani meracuniku?!”
Suzanne berhenti berbicara ketika Lucian tiba-tiba memeluknya lalu menangis di pelukannya.
“Astaga, kau pasti sangat ketakutan ya? Tidak apa-apa, kakak baik-baik saja sekarang,” bisik Suzanne menangkan.
Suzanne membiarkan adiknya menangis sampai puas. Setelah Lucian tenang baru ia melepaskan pelukannya, dan mulai menatap wajah-wajah orang yang berada di ruangan itu dengan benar.
“Wah, kalian tampak sangat kacau, kalian pasti khawatir kan? Tapi tenang saja, aku ini wanita kuat, jadi racun saja belum cukup u tuk membunuhku,” ucap Suzanne sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.
“Benar, Tuan putri memang kuat,” Ruppert berucap penuh haru.
“Baiklah, mari sudahi situasi aneh ini dan beritahu aku, apa pelakunya sudah ditangkap?” tanya Suzanne langsung.
Javier menghela nafas pelan, “syukurlah sepertinya Anda benar-benar sudah sehat,” ucap Javier pelan.
Suzanne mendelik kesal, “apa maksud perkataanmu itu?!” tanya Suzanne garang.
Javier memilih bungkam, ia hanya membalas dengan senyumannya yang sungguh menyebalkan bagi Suzanne.
“Ah, sudahlah, jadi sudah tertangkap atau belum?” tanya Suzanne kembali ke topik awal.
“Belum, kami hanya fokus dengan keadaanmu, jadi kami belum sempat menangkap pelakunya,” jawab Oliver.
Suzanne menghela nafas pelan, “kalau begitu kalian istirahat saja dulu, biar aku yang mengurus sisanya.”
“Aku ikut, lagian aku tidak akan bisa istirahat sebelum pelakunya di tangkap,” ucap Oliver.
“Ayah akan menginterogasi koki istana, sisanya, ayah serahkan pada kalian,” sambung Kaisar Taylor.
“Tapi, Anda yakin Anda sudah sehat? Sudah tidak ada yang sakit?” tanya Daniella cemas.
Suzanne mengangguk, “ya, aku baik-baik saja,” jawabnya yakin.
Baiklah kalau begitu, kami akan mengurus para penyihir, siapa tahu di antara mereka ada yang melihat pelakunya,” ucap Daniel.
“Kalau begitu ayo bergerak, bisa saja mereka merencanakan sesuatu yang lebih besar jika kita berdiam diri lebih lama lagi.”
*
Penyelidikan di mulai, meskipun mereka sudah tahu siapa dalang di balik semua ini, tapi mereka perlu tahu lebih tepatnya siapa yang memasukkan racun itu dan siapa target mereka sebenarnya.
Meski dipikir berkali-kali pun, tidak mungkin Suzanne menjadi target utama mereka, karena selama ini Suzanne selalu bekerja dibalik layar, bangsawan hanya mengenal Suzanne sebagai putri manja yang tidak bisa melakukan apa pun.
Karena itu, mereka harus menemukan pelaku dan target utamanya untuk tau apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Suzanne sudah menemukan bukti yang mengarah pada seorang putri bangsawan yang ia sendiri tidak pernah melihat wajahnya. Ia juga sudah menyerahkan bukti itu kepada sang kakak agar bisa diselidiki lebih lanjut.
Sementara itu Daniel dan Daniella sudah menemukan satu penyihir yang melihat putri bangsawan itu mencampurkan sesuatu pada minuman yang diminum oleh Suzanne. Alasan dia tidak melakukan apa pun, adalah karena ia tidak tahu kalau itu adalah racun.
Dengan bukti dan saksi yang ada, Javier bersama beberapa kesatria istana mendatangi rumah bangsawan itu dan menyeret sang tersangka ke istana untuk diinterogasi.
“Untuk keselamatan keluargamu, sebaiknya kamu katakan siapa dalang dibalik ini semua dan siapa targetmu sebenarnya!” titah Kaisar Taylor dingin.
“Saya tidak tahu, saya hanya menuruti perintah saja,” ucap gadis itu ketakutan.
“Kau tidak dengar ayahku bilang apa? Katakan siapa dalangnya?!” sentak Oliver murka.
Gadis itu menunduk dalam, ketika ia baru saja membuka mulutnya, tiba-tiba saja, matanya memutih dan ia mulai kejang-kejang, sesaat kemudian ia ambruk ke tanah, gadis itu tewas sebelum sempat memberitahu siapa orang yang memberikan perintah padanya.