The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 26



Hari ini Suzanne menyempatkan diri untuk mengajak Eliano ke taman, ia membiarkan Eliano bermain dengan White, dan Eliano tampak sangat senang.


“Hati-hati, jangan sampai jatuh,” teriak Suzanne.


Eliano hanya menoleh sebentar dan mengangguk lalu ia lanjut bermain bersama White.


Lucian yang melihat kakaknya bermain dengan Eliano mendadak merasa kesal, ia melompat dari balkon kamarnya dan langsung menghampiri sang kakak.


Lucian langsung duduk di samping Suzanne dan langsung memeluknya membuat Suzanne terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba itu.


“Astaga, Lucian, ada apa?” tanya Suzanne bingung.


“Aku hanya merindukan kakak,” jawab Lucian pelan.


Suzanne tersenyum, ia mengusap kepala Lucian lembut, Suzanne berpikir sejenak lalu berucap, “bagaimana kalau malam ini kita tidur bersama? Kakak sudah lama tidak membacakan cerita untukmu kan?”


Lucian mengangguk tanpa melepaskan pelukannya, “ide bagus, aku juga rindu tidur bersama kakak.”


Kak Oliver bilang aku sudah besar, tapi kakak perempuanku ini masih memperlakukanku seperti anak kecil. Yah, tidak masalah, selama aku bisa dekat dengan kakak, menjadi bocah lagi pun aku mau, batin Lucian.


Suzanne melepaskan pelukan Lucian ketika melihat Eliano jatuh, ia bahkan meninggalkan Lucian dan berlari menuju Eliano, dan hal itu membuat Lucian sangat kesal, ia menatap Eliano dengan tatapan penuh kebencian.


Andai saja dia bukan pangeran, aku pasti sudah menghabisinya! Batin Lucian jengkel.


“Lucian, aku akan membawa Eliano kembali ke kamarnya dulu, kau kembalilah ke kamarmu juga, bukannya ini waktunya belajar?”


Lucian mendongak, menatap kakaknya yang sedang menggendong Eliano.


Sial, aku bahkan sudah tidak pernah di gendong kakak! Umpat Lucian dalam hati.


“Lucian?”


Lucian tersadar, “aku sudah selesai belajar,” lirih Lucian berlagak sedih.


Suzanne tertegun sesaat, benar juga, aku sudah lama tidak menghabiskan waktu dengan Lucian, dia pasti ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganku, batin Suzanne menebak.


“Kalau begitu, kakak akan mengantar Eliano ke kamar, lalu kita minum teh bersama di sini, bagaimana?” tawar Suzanne.


“Kakak tidak sibuk?” tanya Lucian pelan.


Aku sibuk sih, tapi memangnya apa yang lebih penting dari adikku? batin Suzanne.


“Tidak kok, jadi kamu mau?”


Lucian mengangguk semangat.


“Selena, siapkan tehnya, aku akan segera kembali,” titah Suzanne yang langsung di angguki oleh Selena.


Suzanne kemudian berlalu pergi bersamaan dengan Selena yang pergi untuk menyiapkan teh.


“Yes!” Lucian berseru senang begitu kakaknya sudah pergi.


“Wah, trik yang sangat hebat!”


Lucian menoleh, menatap Oliver yang baru saja mencibirnya.


“Apa? Kakak iri?” tanya Lucian sombong.


“Aku tidak iri,” balas Oliver sok cuek.


“Malam nanti kak Anne mengajakku tidur bersama,” ucap Lucian memanas-manasi.


“Sialan!” umpat Oliver pelan.


“Cari istri sana, jadi kau tidak terus menempel pada kakakku,” cibir Lucian.


“Kakakmu itu lebih dulu jadi adikku dasar bodoh!” balas Oliver kesal.


“Tetap saja dia lebih menyayangiku!”


“Seharusnya aku tidak setuju ketika ayah dan ibu bilang mau punya anak lagi.”


Lucian berdecih pelan, kakak pertamanya itu memang tidak pernah mau mengalah, padahal kan dia kakak.


“Sudahlah, pergi sana, aku mau menikmati waktu berdua saja dengan kakakku,” ucap Lucian penuh penekanan.


Oliver mengurungkan niatnya untuk membalas sang adik ketika melihat Suzanne datang bersama Selena yang membawa teh di tangannya.


“Oh, kenapa kakak ada di sini? Bukankah kakak harusnya ada di barak pelatihan bersama Javier?” tanya Suzanne.


“Ah, kakak sedang istirahat sebentar tadi,” jawab Oliver asal.


“Bagus kalau begitu, kakak jadi bisa minum teh bersama aku dan Lucian,” ucap Suzanne senang.


Lucian menatap Suzanne dengan mata memelas, kak, tolong jangan ajak iblis ini, batin Lucian kesal.


Ah, kau mengkhianatiku kak, batin Lucian.


Oliver menatap Lucian dengan tatapan mengejek, lihat? Anne memang adik yang terbaik.


Selena meletakkan tehnya, ia kemudian kembali pergi untuk mengambil camilan, meninggalkan ketiga bersaudara yang sedang berada dalam mood yang sangat-sangat berbeda.


“Oh iya, bukankah kau akhir-akhir ini sedang sangat sibuk?” tanya Oliver pada Suzanne dengan mata yang melirik Lucian, berniat menyindir adiknya itu.


Lucian langsung menatap Suzanne, “kakak sedang sibuk?” tanya Lucian pelan.


Cih, dia pikir aku tidak tahu kalau kak Anne sedang sibuk? Batin Lucian mencibir.


“Yah, memang sibuk sih, tapi meluangkan waktu sebentar untuk keluarga juga tidak masalah kan?”


Lucian tersenyum senang mendengar jawaban Suzanne, ia melirik Oliver dengan lirikan mengejek.


Lihat, kakakku adalah yang terbaik! Batin Lucian senang.


“Kakak sendiri akhir-akhir ini juga sibuk kan?” tanya Suzanne.


“Sedikit sih,” jawab Oliver.


“meski sibuk, kakak juga harus tetap jaga kesehatan,” ucap Suzanne mengingatkan.


Oliver tersenyum, “tentu saja,” balasnya sembari melirik Lucian.


Lihat? Dia adalah adikku!


Lucian berdecih pelan, dasar kakak sialan! Umpat Lucian dalam hati.


“Oh, aku dengar akhir-akhir ini Lucian sudah mulai bisa melakukan sihir tingkat tinggi, apa benar?" tanya Suzanne.


Lucian mengangguk, “hanya beberapa sih, tapi memang benar.”


Suzanne tersenyum bangga, ia mengusap kepala Lucian dengan lembut, “adik kakak memang hebat,” puji Suzanne bangga.


Lucian tersenyum senang, ia melirik Oliver, kak Anne memujiku, wle, batin Lucian mengejek.


Oliver berdecih pelan, dasar adik sialan!


*


Suzanne menghela nafas pelan, siang sudah berganti malam tapi pekerjaannya belum juga selesai.


Suzanne mendongak ketika mendengar suara pintu ruangannya terbuka, ia melihat Lucian yang sudah menggunakan baju tidurnya.


“Ah, Lucian maaf, pekerjaan kakak belum selesai,” ucap Suzanne merasa bersalah.


“Kalau begitu aku akan menunggu kakak di sini,” balas Lucian, ia kemudian duduk di sofa sembari menatap sang kakak.


“Baiklah, jangan ganggu kakak dulu oke, kalau memang mengantuk, kembali ke kamar saja, kita bisa tidur bersama lain kali.”


Lucian menggeleng, “aku akan menunggu di sini.”


Suzanne tersenyum, “baiklah terserahmu saja,” ucap Suzanne sebelum akhirnya kembali fokus pada pekerjaannya.


Suzanne tidak tahu berapa lama waktu berlalu sampai ia menyelesaikan semuanya, tapi yang jelas ia tahu bahwa adiknya memang sudah sangat mengantuk.


Suzanne tersenyum kecil melihat Lucian yang sudah tidur di sofa ruang kerjanya, ia kemudian meminta salah satu penjaga untuk membawa Lucian ke kamarnya.


Suzanne berbaring di samping Lucian, ia mencoba tidur meski ternyata sangat sulit. Ia kemudian bangkit dan keluar ke balkon kamarnya.


“Aku rindu korea,” gumam Suzanne pelan.


Suzanne menatap langit, ada banyak sekali bintan, dan ia suka itu. Dulu ia selalu percaya bahwa orang yang sudah meninggal akan berubah menjadi salah satu bintang di langit, karena itu ia suka sekali menatap langit dan berbicara sendiri menganggap bahwa ayah dan ibunya yang ada di langit mendengarnya.


Papa, Mama, apa kalian puas dengan pencapaianku? Kalau begitu apa sebentar lagi kita bertemu? Aku masih ingin di sini, tapi semakin lama aku merasa sakit ini semakin menyiksaku. Rasanya sangat sakit, aku ingin mengakhirinya segera, apa kalian bisa membantuku?


Suzanne tertawa kecil, “sepertinya tidak ya? Di sini menyenangkan, tapi penyakitku membuatnya menjadi menyakitkan, Mama, aku sakit, aku ingin segera berhenti,” bisik Suzanne pelan.


“Ini menyakitkan, dan melelahkan, jika saja aku tidak memikirkan perasaan ayah, kakak dan orang-orang yang menyayangiku, aku pasti akan mengakhiri semua ini dengan tanganku sendiri,” lirih Suzanne.


“Siapa bilang tuhan menyayangiku? Dia membenciku, dia selalu punya cara untuk menghancurkan kebahagiaanku,” Suzanne menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, mencoba mengontrol rasa sakit yang sejatinya datang setiap malam itu.


Suzanne berjongkok, ia memegangi dadanya yang terasa semakin menyakitkan, ia diam beberapa saat dalam posisi itu, lalu kembali berdiri setelah rasa sakitnya membaik.


Suzanne menghela nafas pelan, ia kembali masuk ke kamarnya dan langsung menutup pintu balkonnya.


Suzanne menatap langit sejenak, “selamat malam, dunia.”