The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 32



Suzanne masuk ke ruangan sang ayah, ia meletakkan kotak bros yang baru saja ia beli di depan sang ayah yang masih fokus dengan kertas-kertasnya.


Kaisar Taylor mendongak, menatap putrinya yang berdiri di depan mejanya dengan senyum yang terukir indah di bibirnya.


“Apa ini?” tanya Kaisar Taylor sembari mengambil kotak yang baru saja Suzanne berikan.


“Itu bros untuk ayah dan Kak Oliver pakai di pesta, brosnya sepasang,” jawab Suzanne dengan nada yang terdengar sangat bersemangat.


“Wow, warnanya ...”


“Benar, itu warna rambutku, aku sengaja,” sela Suzanne cepat.


“Cantik, Papa suka, terima kasih,” ucap Kaisar Taylor tulus.


“Terima kasih apanya, aku hanya membelikan Papa sesuatu dari uang papa sendiri,” balas Suzanne.


“Tetap saja, kamu memilihnya dengan hati-hati, jadi terima kasih.”


“Baiklah, sama-sama. Jangan lupa, papa dan kak Oliver harus pakai itu di pesta nanti, mengerti!”


“Baiklah, apa pun untuk putri ayah.”


“Tapi, omong-omong, bandit yang menyerang kereta kudaku tempo hari, sudah di tangkap?”


“Tenang saja, banditnya sudah di tangkap, kakakmu yang menangkapnya.”


“Ah, kakak memang bisa diandalkan. Kalau begitu aku pamit dulu, aku harus mengurus yang lainnya juga.”


“Baiklah, sampai jumpa saat makan malam.”


Suzanne membuka pintu ruangan ayahnya, ia diam sejenak di pintu kemudian berbalik menatap sang ayah, “ah, benar juga, hari ini Countess Sylvia akan datang membawa gaun pesananku dan setelan yang aku pesankan untuk Papa dan kak Oliver, jadi nanti sore kalian datanglah ke kamarku,” ucap Suzanne sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan ayahnya.


Suzanne kembali ke pekerjaannya menghias Aula dan juga gerbang istana tentu saja, kali ini tema pestanya adalah bunga. Ia bahkan membuat tamannya menjadi secantik mungkin dengan bantuan White dan Daniella.


“Nah, semuanya sudah selesai, kerja bagus teman-teman, sekarang selamat beristirahat,” ucap Suzanne mengakhiri kegiatannya.


Suzanne berjalan dengan riang ke kamarnya, ia tidak menyangka ketika ia masuk ia sudah menemukan ayah dan kedua saudaranya yang sudah menunggunya di kamar.


“Loh, bukannya aku bilang sore?” tanya Suzanne bingung.


“Ann, ini bahkan sudah hampir malam,” jawab Oliver menyadarkan sang adik.


Suzanne menoleh ke jendela ia menepuk keningnya pelan.


“Aku tidak sadar,” gumam Suzanne pelan.


Pintu kamar Suzanne di ketuk, terdengar suara Javier yang memberi tahu tentang kedatangan Countess Sylvia.


“Masuk saja,” teriak Suzanne.


Countess Sylvia masuk bersama beberapa pegawainya, setelah berbincang sebentar, Suzanne langsung mencoba gaun-gaunnya, setelah ia selesai ia kemudian meminta ayah dan kedua saudaranya mencoba setelan yang sudah ia pesankan.


Suzanne tersenyum puas melihat setelan-setelannya cocok di pakai oleh ayah dan kedua saudaranya, ia kemudian berterima kasih pada Countess Sylvia sebelum sang Countes akhirnya pamit undur diri.


“Bagaimana gaunku, kalian suka? Aku sudah memutuskan gaun mana yang akan aku pakai untuk pesta, tapi aku ingin dengar pendapat kalian,” ucap Suzanne panjang lebar.


“Papa suka gaun yang biru,” celetuk Kaisar Taylor.


“Kakak juga suka yang biru,” sambung Oliver.


“Aku juga suka gaun biru itu,” Lucian ikut berpendapat.


“Berarti selera kita memang sama, aku memang berniat memakai gaun itu untuk pesta,” ucap Suzanne senang.


“Tapi semua gaunnya cocok untukmu,” ucap Kaisar Taylor jujur.


“Kalau itu pasti karena aku memang sudah asli cantik,” balas Suzanne sombong.


Kaisar Taylor tertawa, “putriku memang cantik.”


“Nah, kalau sudah selesai kembalilah ke tempat kalian masing-masing, aku mau mandi dan bersiap untuk makan malam!” ucap Suzanne mengusir keluarganya.


“Baiklah, sampai jumpa saat makan malam.”


*


“Anne, menurutmu, Javier itu seperti apa?”


Suzanne meletakkan sendoknya, ia menatap sang kakak yang baru saja bertanya padanya.


Sial, dia punya kedudukan yang sangat tinggi, batin Lucian jengkel sendiri.


Menikah apanya? Tidak ada yang memintamu menikah! Batin Oliver kesal.


“Antara Oliver dan Javier, menurutmu siapa yang lebih baik?” tanya Kaisar Taylor sembari melirik Oliver jahil.


Ayah? Yang benar saja! Seru Oliver dalam hati.


“Ayah mau jawaban jujur?”


Kaisar Taylor mengangguk.


“Javier jauh lebih kompeten dari pada kakak, kakak memang hebat dalam berpedang, tapi Javier tetap jauh lebih baik, dia juga lebih peka dan lebih cepat tanggap, jadi kesimpulannya, Javier lebih baik dari kakak dari segi apa pun, kecuali memimpin. Dalam memimpin, kakak lebih baik dari Javier, tapi hanya itu,” jawab Suzanne jujur.


“Anne?” Oliver menatap sang adik dengan ekspresi terkhianati.


“Tapi, kalian akan sangat cocok nantinya, kakak akan jadi Kaisar dan Javier sebagai Grand Duke pasti akan jadi asistenmu, jadi kinerja kalian akan sempurna,” ucap Suzanne.


“Loh, kamu akan menyerahkan Javier saat kakak jadi kaisar? Kenapa?” tanya Oliver bingung.


Suzanne tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecil, membuat Oliver tidak berani menanyakan apa pun lagi.


“Kakak, apa kakak suka Grand Duke sebagai laki-laki?” tanya Lucian.


Suzanne tertawa, “pertanyaan macam apa itu, Lucian. Kamu masih kecil, tidak usah menanyakan yang aneh-aneh!”


“Tapi kakak juga penasaran,” sambar Oliver cepat.


Suzanne menatap sang kakak dengan serius, “suka atau tidak suka, Javier tidak akan pernah jadi pasanganku.”


“Kenapa?” tanya keluarganya kompak.


“Aku takut dia mati bahkan sebelum hari pernikahan karena kalian!” jawab Suzanne pedas.


Jawaban yang sangat menusuk tapi entah kenapa tidak terasa salah, monolog Oliver dalam hati.


“Baiklah, aku sudah menyelesaikan makan malamku, dan aku rasa percakapan kita sudah selesai, jadi aku pamit kembali ke kamar, aku mau istirahat,” ucap Suzanne berpamitan.


“Baiklah, selamat malam Anne.” Kaisar Taylor mendekat, mencium kening putrinya lembut.


“Malam, Papa.”


*


Suzanne membuka matanya, ia terkejut melihat Selena yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya bersama beberapa maid lain.


“Astaga, apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Suzanne kaget.


“Apa maksud Anda yang mulia? Tentu saja kami di sini untuk membuat Anda jadi yang paling cantik dalam pesta nanti,” jawab Selena penuh percaya diri.


“Selena, pestanya nanti malam,” ucap Suzanne mengingatkan.


“Siapa bilang pestanya siang ini, Anda butuh seharian untuk membuat tubuh Anda nyaman dan menjadi yang tercantik malam ini,” balas Selena sembari tersenyum kecil.


Suzanne merinding, ia tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini.


Pertama-tama, Selena dan para maid membawa Suzanne ke kamar mandi, memijatnya, lalu seluruh tubuhnya di lumuri masker, mulai dari rambut, wajah, badan, sampai tangan dan kaki.


Selesai dengan urusan masker, kini wajah Suzanne dipijat, membuat Suzanne sendiri tidak bisa menahan diri untuk tidak tertidur.


Suzanne terkejut karena ketika ia membuka mata, ternyata hari sudah mulai sore, ia tidak tahu apa saja yang para maid itu lakukan padanya, tapi yang jelas tubuhnya terasa sangat ringan dan nyaman.


Suzanne kemudian di dudukkan di depan meja rias, para maid sibuk mendandani rambutnya sementara Suzanne sibuk memakan makanan yang di sediakan karena dia sangat lapar.


Beberapa saat kemudian, rambutnya selesai, ia kemudian di beri sedikit make up lalu berganti pakaian, dan Suzanne siap untuk pergi ke pesta, bertepatan dengan matahari yang baru saja tenggelam.


“Wow, cantik!” puji Suzanne ketika melihat pantulan dirinya di cermin.


“Tentu saja, Anda akan jadi yang tercantik malam ini!” ucap Selena bangga.


“Terima kasih, kalian. Kalau bukan karena kalian pasti tidak akan jadi sesempurna ini,” ucap Suzanne berterima kasih.


“Tidak masalah, Yang mulia, ini memang tugas kami,” balas para maid serentak.


“Kalau begitu, aku pergi dulu, sampai jumpa lagi.”


“Sampai jumpa, Yang mulia.”