The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part18



Suzanne menatap Daniel yang tampak seperti zombie, matanya menghitam seakan ia tidak tidur selama seminggu.


“Astaga, kau menghilang selama seminggu lalu kembali dalam keadaan kacau seperti ini, apa yang terjadi?” tanya Suzanne cemas.


Astaga, lihatlah tuan putri kita ini, dia sendiri yang memberikan tugas gila padaku seminggu yang lalu, dan sekarang dia bertingkah seakan-akan dia mengkhawatirkanku, dasar menyebalkan! Gerutu Daniel dalam hati.


“Saya baru menyelesaikan laporan saya dan para penyihir yang lainnya, silakan di lihat, Yang mulia,” ucap Daniel mengabaikan pertanyaan Suzanne.


“Ah, baiklah, apa ada hal lain yang perlu kau sampaikan?” tanya Suzanne.


“tidak ada, Yang mulia,” jawab Daniel sopan.


“Kalau begitu istirahatlah terima kasih atas kerja samanya,” ucap Suzanne berterima kasih.


Daniel tersenyum kecil, yah, setidaknya, tuan putri mau berterima kasih, batinnya senang.


“Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan putri,” ucap Daniel sebelum menghilang begitu saja.


“Yang mulia batu rekaman sebanyak ini mau Anda apakan?” tanya Selena.


“Aku akan menonton semuanya,” jawab Suzanne santai.


Selena menghela nafas pelan, “Anda boleh menontonnya, tapi jangan sampai lupa waktu lagi.”


Suzanne tersenyum canggung, “baiklah, baiklah, jangan khawatir.”


“Pokoknya, nanti malam saya akan kembali ke sini dan menyeret Anda untuk tidur,” ucap Selena menggebu.


“Ya, ya, terserahmu saja,” balas Suzanne acuh.


Selena mendengus pelan, ia kemudian meninggalkan ruangan Suzanne, membiarkan majikannya itu mengerjakan pekerjaannya dengan tenang.


“Ah, Selena, apa Putri ada di dalam?”


Selena terlonjak, ia berbalik dan mendapati Javier yang sedang berdiri tegap di belakangnya.


“Astaga, Anda mengejutkan saya,” gerutu Selena pelan.


“Apa putri ada di dalam?” tanya Javier lagi.


Dasar manusia dingin, batin Selena jengkel.


“Ya, Tuan putri ada di dalam,” jawab Selena ketus.


Javier mengetuk pintu beberapa kali, sementara Selena memilih pergi daripada harus berada di sekitar Jaier lebih lama lagi.


“Siapa?” tanya Suzanne dari dalam.


“Saya Javier, Yang mulia,” jawab Javier.


“Masuk!”


Javier membuka pintu perlahan lalu masuk dan kembali menutup pintunya.


“Ada apa?” tanya Suzanne langsung, matanya sama sekali tidak lepas dari batu rekaman yang sedang ia tonton.


“Saya sudah mendapatkan rincian transaksi senjata milik Count Clester dan Count Duncan,” lapor Javier.


“Ah, ya, letakkan saja di sini,” balas Suzanne tanpa menatap Javier.


Javier menurutinya, ia meletakkan laporannya di meja sang putri.


“Apa itu dari para penyihir?” tanya Javier kepo.


Suzanne mengangguk.


“Anda akan menonton semuanya?” tanya Javier lagi.


Lagi-lagi, Suzanne hanya mengangguk.


“Baiklah kalau begitu, tapi jangan lupa istirahat, Yang mulia,” ucap Javier mengingatkan.


“Ya, terima kasih atas perhatianmu,” balas Suzanne seadanya.


Javier tersenyum, ia kemudian pamit undur diri dan meninggalkan ruangan Suzanne untuk membiarkan sang putri fokus pada pekerjaannya.


Suzanne terus menonton batu-batu rekaman itu sampai ia mulai merasa lapar, ia menyenderkan tubuhnya lalu menatap batu-batu yang tersisa.


Ah, ternyata aku sudah menonton banyak rekaman, batin Suzanne saat melihat batu rekaman yang tersisa hanya sedikit.


Dari semua bangsawan yang Suzanne curigai, sejauh ini sudah ada dua yang keluar dari list itu.


Melelahkan, merepotkan, dan menyebalkan, manusia-manusia arogan ini memang benar-benar menjadi beban! Batin Suzanne mencela para bangsawan.


Suzanne bangkit, ia kemudian menyadari bahwa langit mulai gelap, ia menutup jendela ruangannya menyimpan batu rekaman itu, lalu keluar dari ruang kerjanya.


Suzanne berjalan menuju ruang kerja sang ayah, karena entah kenapa ia tiba-tiba saja merindukan ayahnya.


“Apa papa di dalam?” tanya Suzanne pada penjaga di depan pintu ruangan sang ayah.


“Beliau di dalam, Tuan putri,” jawab kedua penjaga kompak.


Suzanne tersenyum, ia mengucapkan terima kasih lalu langsung masuk ke ruangan sang ayah.


“Papa,” sapa Suzanne ceria.


“Ah, Anne ada apa?” Kaisar Taylor bangkit, ia meninggalkan pekerjaannya dan langsung menghampiri putrinya.


“Aku hanya merindukan Papa,” ucap Suzanne sembari memeluk sang ayah.


“Benar sih, tapi tetap saja, aku rindu papa,” balas Suzanne dengan nada manja.


Kaisar Taylor menyuruh Suzanne duduk di sofa sementara ia keluar sebentar untuk meminta maid membawakan camilan dan teh ke ruangannya.


“Papa, sepertinya papa harus mencari sekretaris baru deh,” saran Suzanne melihat sang ayah harus keluar sendiri untuk meminta makanan.


“Ya, tentu saja harus, karena orang yang seharusnya jadi sekretaris papa justru menjadi bawahanmu,” balas Kaisar Taylor menyindir.


“Ayolah, papa kan bisa meminta Marquis Eashter atau Countess Sylvia,” ucap Suzanne membela diri.


“Marquis Eashter yang baru masih harus mengurus wilayahnya pasca meninggalnya Marquis terdahulu, sementara Sylvia, kamu tahu dia tidak akan mau meninggalkan pekerjaannya yang sekarang,” jelas Kaisar Taylor.


“Ah, kalau begitu tunggu saja sampai Marquis baru itu selesai mengatur wilayahnya,” saran Suzanne.


“Entahlah, semoga saja dia bisa,” balas Kaisar Taylor.


“Ah, papa tenang saja, namanya dan nama Countess Sylvia sama sekali tidak muncul dalam penyelidikan, mereka bersih,” ucap Suzanne memberi tahu.


“Benarkah? Syukurlah kalau begitu.”


Suzanne tersenyum, sesaat kemudian senyumnya luntur ketika sakit di jantungnya kembali menyerangnya, kali ini bahkan rasa sakitnya lebih sakit berkali-kali lipat dari terakhir kali ia merasakannya.


Kaisar Taylor panik saat tiba-tiba saja wajah Suzanne mejadi pucat pasi, ia langsung mendekati putrinya itu dan menatapnya dengan wajah cemas.


Suzanne meraih tangan sang ayah, ia meremasnya dengan kuat, mencoba memberitahukan rasa sakitnya pada sang ayah.


“Sakit,” bisik Suzanne nyaris tak terdengar.


Pintu ruangan Kaisar Taylor terbuka, Lucia masuk dengan wajah cerianya.


“Ayah, hari ini aku ...”


Perkataan Lucian terhenti ketika melihat ayahnya sedang memegangi sang kakak yang tampak kesakitan. Lucian langsung berlari menghampiri keduanya, ia menatap sang ayah dengan tatapan bingung.


“Ayah ada apa?” tanya Lucian cemas.


“Lucian panggil Ruppert ke sini,” titah Kaisar Taylor.


Lucian mengangguk ia segera berlari keluar ruangan untuk memanggil Ruppert. Beberapa saat kemudian Lucian kembali bersama Ruppert yang terlihat sangat berantakan.


“Astaga apa yang terjadi, Yang mulia?” tanya Ruppert cemas.


“Entahlah, Anne tiba-tiba begini, dari tadi dia terus-terusan berkata sakit,” jelas Kaisar Taylor tanpa melepaskan tangannya dari genggaman Suzanne.


“Baringkan putri, Yang mulia, biar saya memeriksanya,” pinta Ruppert.


Kaisar Taylor membaringkan Suzanne di kasur yang ada di ruang kerjanya, ia membiarkan Ruppert memeriksa putrinya dengan ia yang masih tetap menggenggam tangan putrinya.


“Yang mulia, inti mananya kacau lagi, di mana Daniel dan Daniella?” tanya Ruppert.


Belum sempat Kaisar Taylor mengatakan apa pun, Daniella sudah lebih dulu muncul di sebelahnya.


“Astaga, kenapa bisa begini?” Daniella berseru terkejut.


“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Ruppert kaget.


“Ah, pangeran Lucian barusan memanggilku menggunakan mantra. Ah, sudahlah lupakan, biarkan aku memperbaiki inti mananya dulu.” Daniella segera berdiri di samping Suzanne dan mulai melakukan tugasnya.


Beberapa saat kemudian, wajah Suzanne kembali berwarna dan ia kembali bernafas dengan teratur.


“Apa dia sudah baik-baik saja?” tanya Kaisar Taylor.


“Untuk saat ini iya,” jawab Daniella, “tapi, aku harus mengatakan bahwa kondisinya memburuk,” lanjut Daniella.


“Apa maksudmu?!” tanya Lucian geram.


“Pangeran, Anda juga tahu itu kan?” Daniella melemparkan pertanyaan balik pada Lucian.


Kaisar Taylor menatap putra bungsunya dengan tatapan bingung, “apa maksudnya itu Lucian?”


Lucian mengusap wajahnya dengan kasar, ia kesal karena ia tidak bisa melakukan apa pun meski ia mengetahui tentang kondisi sang kakak.


“Lucian, ayo jelaskan?!” titah Kaisar Taylor tegas.


“Ayah, akhir-akhir ini inti mana kakak semakin mengganas, meski Daniel dan Daniella rutin mengobatinya, tapi semua itu tidak bisa lagi bertahan lama,” jelas Lucian.


“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Kaisar Taylor.


“Aku ... melihat benang takdir kakak menipis,” jawab Lucian lirih.


“Benang takdir? Apa ini Lucian, kau bukan pendeta atau semacamnya, bagaimana kau bisa melihat benang takdir?!” tanya Kaisar Taylor terlihat kesal.


“Entahlah, semenjak kemampuan sihirku semakin baik, aku terkadang bisa melihat benang takdir seseorang, tapi tidak selalu, hanya beberapa kali saja,” jawab Lucian jujur.


“Lalu kenapa tidak memberitahu ayah?” tanya Kaisar Taylor.


“Aku hanya tidak mau menambah beban ayah, jadi aku mencoba mencari tahu dulu sebenarnya ini apa, setelah tahu aku baru berniat memberitahu ayah,” jawab Lucian pelan.


“Lucian, kamu tidak pernah membebani ayah, dan juga, ingat, kamu putra ayah, jadi apa pun masalahmu, ayah pasti akan bantu cari jawaban dan jalan keluarnya,” ucap Kaisar Taylor sembari memegang bahu Lucian.


“Maaf, ayah,” lirih Lucian merasa bersalah.


“Tidak perlu meminta maaf, ini salah ayah juga karena tidak terlalu memperhatikan Lucian,” ucap Kaisar Taylor menenangkan.


“Ayah, terima kasih.”