
Suzanne menghela nafas pelan, ia tidak mau mengatakan ini karena ia belum memastikan tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi, ia jelas merasakannya tadi, saat Gwen menyebarkan sihirnya untuk menghipnotis Javier.
“Aku merasakannya, saat Gwen menyebarkan sihirnya untuk menghipnotis Javier. Manaku juga bergejolak tidak tenang ketika aku berada di dekatnya, seakan dia sengaja mencoba mengacaukan inti manaku,” jelas Suzanne.
“Dia mencoba mengacaukan inti manamu? Manusia macam apa dia itu” seru Daniella kesal.
“Perasaanku saja belum cukup untuk menjadi bukti, harus ada bukti kuat dan bukti fisik untuk menghukum mereka,” ucap Suzanne.
“Anne benar, kita harus menemukan bukti fisik untuk menghukum mereka,” ucap Oliver menimpali.
“Karena itu untuk saat ini aku sudah mengirim mata-mata ke kediaman mereka,” ucap Suzanne dengan raut bangga.
“Mata-mata? Kau mengirim siapa? Tidak mungkin kan kalau kau mengirim salah satu dayangmu?” tanya Oliver beruntun.
“White, aku mengirim White ke sana,” jawab Suzanne, “tenang saja, aku sudah memberikan White ramuan yang akan membuat dia berpenampilan manusia selama beberapa waktu, aku juga sudah memberinya ramuan cadangan kalau-kalau nanti efeknya habis sebelum ia menyelesaikan tugasnya,” sambungnya.
“Apa siluman itu bisa dipercaya?” tanya Daniel ragu.
“Berhentilah memanggilnya siluman, namanya White, dan dia adalah pelayanku!” ucap Suzanne kesal.
“Baiklah, baiklah,” balas Daniel acuh.
“Sejak kapan kamu mengirim White ke kediaman mereka?” tanya Kaisar Taylor.
“Sejak aku mengirim Javier untuk menyelidiki keluarga mereka,” jawab Suzanne.
“Wah, kalau begitu kenapa aku tidak melihat White di kediaman mereka?” Javier bertanya-tanya.
“Karena penampilannya berubah, mungkin saja kau tidak mengenalinya,” jawab Suzanne santai.
“Jadi, apa sudah ada kabar terbaru dari White?” tanya Daniella.
“White hanya mengabari bahwa setiap malam, Count Duncan selalu meninggalkan kediaman dan kembali sebelum fajar, tapi White tidak tahu persisnya dia pergi ke mana,” jawab Suzanne.
“Kau tidak melihat ke mana dia pergi?” tanya Oliver menatap Javier.
“Justru itu, saya tahu Count Duncan berhubungan dengan penyihir hitam karena setiap malam dia bertemu dengan mereka di sebuah gubuk kecil yang letaknya tidak jauh dari kediamannya,” jawab Javier, “Saya tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi beberapa kali Count membawa senjata yang sepertinya diberi mantra oleh mereka,” lanjutnya.
"Ayah, bagaimana jika dia merencanakan pemberontakan?” Oliver menatap Kaisar Taylor cemas.
“Kalau begitu kita akan menanganinya,” balas Kaisar Taylor santai, “pertama-tama, kita harus mengumpulkan prajurit dan memberi mereka instruksi secara dam-diam, kita semua akan bergerak dalam bayangan,” lanjut sang Kaisar.
“Daniel, yang paling penting adalah peranmu dan para penyihir menara, Suzanne akan memberi kalian instruksi lebih lanjut setelah kau mengumpulkan semua penyihir yang bisa kau kumpulkan,” ucap Kaisar Taylor.
“Kenapa aku?” tanya Suzanne.
“Karena kamu yang paling mengerti sihir, saat ini Grand Duke sedang absen, jadi posisi pemimpin akan diambil alih oleh putra mahkota, Oliver, kau yang akan membei instruksi kepada para prajurit," jawab Kaisar Taylor.
"Baik Ayah,” balas Oliver.
“Ingat, kita melakukan ini diam-diam, kita beraksi dalam bayangan, jangan sampai ketahuan oleh bangsawan mana pun, prajurit yang kau pilih juga harus berasal dari kalangan rakyat biasa, untuk saat ini kita tidak bisa mempercayai siapa pun, kecuali keluarga Grand Duke,” ucap Kaisar Taylor mengingatkan.
“Baik,” jawab yang lain kompak.
“Kalau begiu kita akhiri dulu rapatnya, Daniel, kumpulkan para penyihir secepat mungkin, dan Anne, selalu laporkan perkembangannya pada ayah,” titah Kaisar Taylor.
“Baik, Ayah.”
*
Suzanne menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, di novel tidak ada pemberontakan atau apa pun, novelnya hanya menceritakan konflik-konflik kecil yang bisa diatasi dengan mudah oleh pemeran utama. Namun, setelah mengalai semua ini, Suzanne mulai berpikir, bahwa mungkin saja, keluaganya dan juga Javier di novel terkena hipnotis Gwen, dan Suzanne hanya mencoba menyelamatkan mereka,.
Jika itu memang benar, berarti novelnya bukan ber-genre romance-fantasi melainkan tragedi.
Bagaimana Author bisa memikirkan alur mengerikan seperti itu? Dan juga kenapa Suzanne tidak mengatakan apa pun bahkan sampai hari kematiannya? Apakah novelnya bahkan wujud atau aku hanya bermimpi membacanya? Apa dunia yang kutinggali saat ini benar-benar dunia dalam novel? Batin Suzanne bertanya-tanya.
“Yang mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Selena khawatir melihat raut gelap Suzanne.
“Aku baik-baik saja, hanya sedikit banyak pikiran,” jawab Suzanne seadanya.
Suzanne bangkit, ia menatap Selena dengan serius, “Selena, katakan pada Doreen untuk kembali ke keluarga Baron,” titah Suzanne.
Selena menatap Suzanne kaget, “Yang mulia, Anda memecat nyonya Doreen?” tanya Selena kaget.
“Aku tidak memecatnya, aku hanya memberinya cuti,” jawab Suzanne tidak yakin.
Aku tidak mau melakukan ini, tapi Doreen adalah tokoh paling mencurigakan saat ini, di novelnya dia adalah orang yang selalu ada di dekat Suzanne tapi dia tidak mengatakan apa pun pada keluarga kekaisaran setelah kematian Suzanne. Aku harap Doreen bukan pengkhianat, tapi untuk saat ini aku hanya bisa memulangkannya untuk jaga-jaga, batin Suzanne.
“Yang mulia, apakah Anda habis bertengkar dengan nyonya Doreen?” tanya Selena hati-hati.
“Tidak Selena, aku hanya ingin Doreen mengambil cuti, itu saja,” jawab Suzanne asal.
“Kalau begitu akan saya sampaikan,” ucap Selena sopan.
Selena kemudian keluar dari kamar Suzanne meninggalkan Suzanne yang sedang bergelut dengan pikirannya.
Suzanne menghela nafas lelah, ia bangkit dan menemui Doughlass yang masih setia berjaga di depan pintu kamarnya.
“Doughlass, kau kembalilah ke kediamanmu,” ucap Suzanne tanpa basa-basi.
Doughlass tampak terkejut, ia menatap Suzanne bingung, “Anda memecat saya?”
“Aku memberi cuti padamu,” jawab Suzanne seadanya.
“Saya tidak ingin cuti, Yang mulia,” balas Doughlass menolak dengan sopan.
“Aku tidak meminta, aku sedang memberi perintah, kembalilah setelah aku memberikan surat pemberitahuan,” ucap Suzanne sebelum masuk ke kamarnya begitu saja.
Doughlass menatap pintu kamar Suzanne dengar perasaan campur aduk, “apakah Tuan putri sedang ada masalah?” Doughlass bergumam lirih.
Meski berat hati, mau tak mau Doughlass meninggalkan tempatnya, meninggalkan kamar sang putri tanpa penjagaan.
Doughlass mampir ke barak pelatihan dan meminta salah satu prajurit untuk berjaga di depan kamar sang putri, sebelum ia benar-benar meninggalkan istana seperti yang Suzanne minta.
*
Suzanne menatap orang-orang yang sudah berkumpul di depannya, mereka adalah para penyihir menara yag berhasil Daniel kumpulkan hanya dalam dua hari. Suzanne harus memuji Daniel karena bisa mengumpulkan penyihir sebanyak ini dalam dua hari, jumlah mereka sekitar dua puluh orang dan bagi Suzanne itu sudah lebih dari cukup untuk melindungi istana kekaisaran.
“Daniel, kau membujuk mereka atau menyeret mereka secara paksa?” tanya Suzanne pelan.
“Aku hanya meminta mereka untuk melindungi kekaisaran dan mereka menerimanya,” jawab Daniel santai.
Dari wajah orang-orang ini, kamu tidak mungkin meminta baik-baik, batin Suzanne lelah.
“Halo semunya, apa pun yang Daniel lakukan pada kalian, aku meminta maaf atas namanya. Kalian tentu tahu siapa aku kan? Jadi akan lebih baik kalau kita melewatkan sesi kenalannya dan langsung saja membahas rencana kita,” ucap Suzanne to the point.
“Sebenarnya apa yang keluarga kaisar inginkan dari kami?” tanya salah satu penyihir.
Suzanne tersenyum miring, “kekuatan kalian.”