The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 14



Hari-hari berlalu seperti biasanya, dengan sedikit perubahan karena Suzanne mulai menerima undangan minum teh dari para bangsawan, bahkan ada yang berani mengirim lamaran kepadanya.


Tentu saja, surat lamaran itu langsung membuat keluarganya ribut dan hampir menghabisi nyawa orang yang mengirimnya, untung Suzanne bisa menghentikan mereka dengan membakar surat itu.


Suzanne datang ke beberapa pesta teh untuk mengetahui gosip-gosip yang sedang tersebar di ibu kota.


Sementara itu, ia jua terus melihat progres latihan para penyihir dan juga masih menunggu laporan-laporan yang datang dari White.


Hari ini laporannya datang lebih awal dan White menggunakan Sihirnya langsung alih-alih menggunakan burung pengantar surat yang biasanya, hal itu membuat Suzanne sedikit kebingungan.


Suzanne langsung membuka surat yang White kirimkan, dan isinya cukup mengejutkan.


Dalam suratnya White mengatakan bahwa ia tidak sengaja menemukan gudang senjata di kediaman Count Duncan, ia berkata bahwa di sana ada lebih dari seratus senjata yang sudah dimantrai dengan sihir hitam. White juga menyebutkan dalam suratnya bahwa akhir-akhir ini Count Clester sering sekali berkunjung.


White juga menulis tentang Gwen yang mulai menyebarkan sihir hipnotisnya pada para pelayan dan pengawal keluarga Duncan, White meminta perintah untuk kembali ke istana secepatnya sebelum sihirnya tidak bisa lagi menangkal sihir Gwen.


Suzanne segera mengirimkan balasannya dan memerintahkan Daniella untuk menjemput White malam itu juga, untungnya White dapat kembali ke istana dengan selamat tanpa ketahuan oleh siapa pun.


“Yang mulia, ada banyak sekali bangsawan kelas rendah yang akhir-akhir ini mendatangi Count Duncan, mereka sepertinya sudah sangat mantap dengan rencana pemberontakan mereka,” ucap White mengawali laporannya.


“Maksudmu mereka sudah sangat siap untuk memberontak?” tanya Suzanne.


“Saya pikir mereka bahkan lebih dar siap, mereka sangat percaya diri bahwa mereka bisa mengalahkan keluarga kaisar dan mengambil alih kekaisaran,” jawab White.


“Mereka pasti mempersiapkannya dengan sangat baik,” ucap Daniel geram.


Suzanne terdiam sejenak, ia kemudian berdiri dari kursinya, ia berbalik dan menatap Daniel dengan serius, “Daniel, pergi ke kediaman Grand Duke dan cek apa yang terjadi di sana, kalau bisa sebarkan sihirmu dan amati apakah ada yang mencurigakan atau tidak,” titah Suzanne.


“Kenapa Grand Duke?” tanya Daniel.


“Pelindung terkuat kekaisaran bukan ayahku, tapi Grand Duke, jadi kemungkinan besar mereka akan menargetkan Grand Duke terlebih dahulu, ditambah lagi, saat ini Javier jarang ada di kediaman dan Grand Duke juga sedang sakit, jadi dia adalah sasaran yang sangat empuk untuk memulai pemberontakan mereka,” jawab Suzanne cepat.


Daniel mengangguk paham, ia langsung menghilang dari kamar Suzanne melaksanakan perintah sang putri untuk melindungi Grand Duke, tapi sepertinya mereka terlambat, karena saat Daniel sampai di kamar Grand Duke, ia sudah tidak bisa merasakan tanda-tanda kehidupan Grand Duke.


Grand Duke tewas di kediamannya tanpa ada satu pun pelayan atau pengawal yang menyadarinya.


*


Kabar wafatnya Grand Duke cukup membuat kekaisaran gempar, terlebih lagi kabar bahwa Grand Duke dibunuh di kediamannya sendiri berhasil membangun ketakutan tersendiri di hati warga kekaisaran.


Banyak orang yang tidak mengerti bagaimana pembunuhnya bisa masuk ke kediaman Grand Duke yang di jaga dengan sangat ketat. Banyak juga orang yang mulai kehilangan kepercayaan pada Javier yang gagal melindungi ayahnya sendiri.


Namun, banyak juga orang-orang yang mengerti kenapa Javier bisa lalai dalam menjaga sang ayah, mereka tahu bahwa akhir-akhir ini Javier sering berada di istana untuk menyelesaikan masalah bandit di ibu kota, karena itulah, bagi mereka wajar jika Javier tidak bisa fokus melindungi kediamannya.


Kematian Grand Duke juga merupakan pukulan telak bagi Javier, karena meskipun ia sering berdebat dengan ayahnya, tapi ayahnya tetap ayah terbaik bagi Javier.


Grand Duke juga merupakan figur paman sekaligus guru yang baik bagi Suzanne, jadi kematiannya juga menjadi pukulan bagi sang putri.


Pemakaman Grand Duke di adakan cukup tertutup, hanya beberapa orang saja yang diizinkan untuk datang menghadiri pemakaman, tapi duka seakan menyelimuti kekaisaran, semua warga menggunakan pakaian hitam selama masa berduka, sebagai penghormatan bagi Grand Duke yang sudah berjasa dalam melindungi kekaisaran.


Saat pemakaman selesai, Suzanne pergi menghampiri Javier yang duduk sendirian di green house.


“Kenapa mereka membunuh ayahku?” Javier bertanya lirih.


Suzanne hanya diam, tangannya bergerak mengusap pundak Javier, berharap tindakannya dapat memberikan Javier sedikit ketenangan.


Javier menyandarkan kepalanya di bahu Suzanne, mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis.


“Menangislah, tidak ada salahnya menangisi kematian ayah sendiri,” bisik Suzanne.


Pertahanan Javier runtuh, ia menangis di bahu Suzanne, membiarkan air matanya turun dengan deras ke gaun yang Suzanne kenakan.


Suzanne hanya diam, membiarkan temannya menangis sepuasnya, tangannya terus mengusap punggung temannya itu, mencoba memberikan ketenangan walau sedikit.


“Yang mulia, saya akan meminta ini sebagai bawahan Anda, dan sebagai keluarga korban, tolong selidiki kasus ini sampai tuntas,” ucap Javier.


Suzanne mengangguk mantap, “tentu saja, serahkan pada kami.”


Ya, selain merupakan pukulan telak, kematian Grand Duke berarti sang pembunuh mengibarkan bendera perang pada istana kekaisaran. Mulai saat ini, pembunuh Grand Duke adalah musuh bagi semua orang, terutama bagi keluarga kekaisaran.


*


“Bagaimana dengan buktinya? Kau sudah mengumpulkan semuanya?” Kaisar Taylor menatap Javier serius.


“Ya, saya mendapatkan beberapa bukti surat yang entah bagaimana bisa tertinggal di kamar bekas dokter itu,” jawab Javier.


“Javier, kau tahu keluarga kaisar tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja kan?” Oliver menatap Javier yang masih tampak sedih.


“Saya tahu, Yang mulia,” balas Javier pelan.


“Kami pasti menangkapnya, tapi untuk saat ini, posisi Grand Duke tidak boleh kosong, kau tahu apa maksudku?”


“Ayah!” Suzanne berdiri, menatap sang ayah dengan tajam, “ini bahkan belum sebulan sejak Grand Duke meninggal, jangan mendorong Javier untuk melakukannya, dia pantas diberi waktu lebih lama untuk berduka!”


“Anne, Javier tidak bisa terus-terusan terjebak dalam duka, jika dia membiarkan posisi ini kosong, maka akan lebih banyak yang akan mencoba menghancurkannya,” ucap Oliver memberi pengertian.


“Tapi ...”


“Tuan putri, putra mahkota benar, jika saya membiarkan posisi ini kosong lebih lama lagi, saya mungkin akan kehilangan lebih banyak hal,” sela Javier cepat.


Suzanne menghela nafas pelan, “kau yakin bisa melakukan ini?” tanya Suzanne cemas.


Javier tersenyum kecil, “kalau Anda membantu, saya pasti bisa melaluinya.”


Suzanne tertawa kecil, “baiklah, aku akan membantu,” jeda sejenak, “tapi hanya dengan persiapan pestanya,” lanjut Suzanne.


Javier tertawa, “baiklah, saya menantikan itu, Yang mulia.”


*


Yap, di sinilah Suzanne sekarang, mempersiapkan pesta pelantikan Javier. Awalnya, Suzanne menawarkan aula crystal sebagai tempat pesta, tapi Javier menolak dan lebih memilih mengadakan pesta di kediamannya, jadi Suzanne hanya bisa membantu sebisanya.


Suzanne mengatur semuanya seaman mungkin, ia bahkan menempatkan para penyihir di posisi yang strategis untuk melindungi Javier dan keluarganya. Ia juga menempatkan prajurit-prajurit di tempat-tempat yang tidak terduga.


Suzanne bukan hanya fokus pada keamanan saja, ia juga memastikan bahwa aula pestanya tampak seindah mungkin, selain itu ia bahkan mendatangkan chef dari istana untuk memastikan tidak ada racun di makanan yang akan di hidangkan.


Semua pelayan berasal dari rakyat biasa sehingga mempersempit kemungkinan ada mata-mata di antara mereka, hanya mempersempit bukan berarti menghilangkan kemungkinan, jadi tetap ada satu penyihir yang akan berjaga sebagai pengawalnya dan keluarga kaisar.


“Tuan putri, terima kasih atas bantuannya, ini sungguh sudah lebih dari cukup,” ucap Javier mencoba menghentikan kegiatan Suzanne yang seakan tak akan pernah selesai.


“Kita menghadapi orang yang bekerja sama dengan penyihir hitam, jadi kita harus melakukan hal yang terbaik yang kita bisa untuk melindungi orang-orang kita,” balas Suzanne santai.


“Yang mulia, Anda juga perlu beristirahat, Anda sudah berada di sini sejak pagi, sekarang istirahatlah,” pinta Javier.


“Vier, aku hanya ingin memastikan semuanya aman, aku tidak mau ada yang terluka atau apa pun itu selama pesta,” ucap Suzanne pelan.


Javier tersenyum kecil, “Anda sudah melakukan yang terbaik, sekarang istirahatlah, agar Anda juga bisa waspada di pesta nanti malam.”


Suzanne menghela nafas pelan, “baiklah, aku akan tidur sebentar, katakan pada Selena untuk menyiapkan Gaunku segera, dan bangunkan aku saat matahari suah mulai tenggelam,” titah Suzanne.


Javier membungkuk sopan, “baik, Yang mulia.”



[princess suzanne at the funeral]