The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 28



Suzanne melongo, matanya sama sekali tidak bekedip melihat Raja dan Ratu kerajaan siluman, keduanya memiliki badan yang bahkan jauh lebih besar dari ayahnya, hampir dua kali lebih besar dari ayahnya.


“Halo tuan putri,” sapa Ratu Alenia lembut.


Suzanne tersadar, ia kemudian mengangkat gaunnya, memberi salam ala bangsawan tanpa menundukkan kepalanya, “Halo, Yang mulia, Saya Suzanne dan ini ajudan saya Grand Duke Javier.”


Javier membungkuk memberi salam.


Ratu dan Raja tersenyum melihat cara Suzanne memberi salam, Suzanne seakan memberi tahu bahwa, meskipun mereka bukan bagian dari kekaisaran, status mereka tetap tidak lebih tinggi dari status Suzanne.


“Halo, Putri Suzanne dan Grand Duke, selamat datang di kerajaan kami, kami sudah membaca surat dari Tuan putri dan kami sangat berterima kasih karena Anda menolong putra saya dan bahkan mengurusnya dengan baik,” ucap Raja Ruffen panjang lebar.


Suzanne tersenyum, “tidak apa-apa lagi pula, rakyatku yang membuat pangeran terluka, jadi sebagai putri, tentu saja aku harus bertanggung jawab.”


Ratu Alenia mendekat, ia memegang tangan Suzanne dengan hati-hati, sesaat kemudian sang Ratu melepasnya dengan wajah terkejut yang langsung berubah hanya dalam satu detik.


Ratu Alenia mendekatkan mulutnya ke telinga Suzanne lalu berbisik, “Tuan putri, bisakah kita bicara empat mata saja di ruangan lain?”


Suzanne menoleh, menatap wajah sang Ratu yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, “ah, ya, tentu saja,” jawab Suzanne sedikit gugup.


Ratu Alenia menggandeng Suzanne, Suzanne menoleh sejenak dan menatap Javier yang tampak khawatir, ia kemudian tersenyum untuk menenangkan Javier sebelum akhirnya pintu aula tempat mereka berkumpul tertutup, dan kini Suzanne baru bisa benar-benar memperhatikan istana ini.


Suzanne mengikuti Ratu Alenia sampai di ruangan yang bisa ia tebak merupakan ruangan untuk bersantai, keduanya kemudian duduk di sofa dengan tangan sang Ratu yang masih setia menggenggam tangan Suzanne.


“Tuan putri, apa Anda sakit?”


Suzanne menoleh dengan cepat, menatap sang ratu dengan tatapan bingung, “sakit tidak, saya sehat-sehat saja.”


“Malefair, benar?”


Suzanne memicing, “saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan.”


“Tuan putri, saya sudah hidup jauh lebih lama dari Anda, saya juga sudah melihat banyak sekali manusia yang terkena kutukan mengerikan itu, dan Anda adalah salah satunya.”


Suzanne menghela nafas pelan, “baiklah, mau berbohong seperti apa pun sepertinya Anda akan tetap tahu.


“Pasti menyakitkan, iya kan?”


Suzanne hanya menjawab dengan senyuman.


“Apa Anda mengonsumsi obat?”


Suzanne mengangguk, “ya, penyihir menara yang membuatkannya untukku.”


“Pantas saja warna inti mana Anda terkontaminasi.”


“Maksudnya?”


“Inti mana Anda pada dasarnya hanya memiliki dua warna, putih dan emas, tapi karena Anda mengonsumsi obat itu, inti mana Anda terkontaminasi warna gelap.”


“Apa itu bagus?”


“Ya, warna gelap itu mencoba membuat kedua warna lainnya tidak saling mengungguli, jadi mana Anda akan tetap seimbang untuk sementara.”


“Jangan katakan Anda tahu obat yang lebih bagus, karena Saya sendiri sudah mencoba segalanya."


"Tidak ada, bahkan saya yang sudah mencari tahu selama ratusan tahun masih belum menemukannya, jadi bisa di bilang penyihir yang memberi Anda obat ini adalah penyihir yang sangat hebat.”


“Mereka murid ibuku.”


“Benarkah? Pantas saja mereka hebat, karena saya sendiri sering mendengar tentang kehebatan Ratu kekaisaran.”


Suzanne tersenyum kecil, “Ibuku memang hebat.”


“Tapi Tuan putri, bukankah rasa sakitnya masih sering datang?”


Suzanne tertegun sejenak, ia kemudian menatap sang Ratu dengan jari telunjuk yang ia letakkan di depan mulutnya, “ssst, yang itu rahasia.”


Ratu Alenia tertawa kecil, “Anda sangat menggemaskan.”


“Baiklah, bagaimana kalau kita akhiri pembicaraan yang sangat formal ini?”


“Ah, maksudnya Anda ingin saya berbicara santai?”


Suzanne mengangguk.


“Kalau begitu Anda juga berbicaralah dengan santai.”


“Ya, tentu saja, aku bisa berbicara santai pada siapa pun.”


Ratu Alenia menatap Suzanne dengan lembut, “selama di sini kamu bisa langsung memanggilku jika rasa sakit itu datang lagi, mengerti!”


Suzanne tersenyum kecil, “ketika rasa sakitnya datang, terkadang aku bahkan kesulitan untuk berbicara, jadi bagaimana aku bisa memanggilmu?”


Ratu Alenia memberikan sebuah batu berwarna merah, membuat Suzanne menatap sang Ratu dengan bingung.


“Ini apa?” tanya Suzanne.


“Batu pemanggil, jika kamu kesakitan, genggam saja batu itu dengan erat, dan dalam hitungan detik, aku sudah berada di sampingmu.”


“Jadi, bagaimana aku menyimpannya? Aku tidak mungkin membawanya setiap waktu kan?”


Ratu Alenia tersenyum canggung, “benar juga, biar aku perbaiki,” ucap sang Ratu mengambil kembali batunya.


Ratu Alenia memejamkan matanya sesaat, ia kemudian kembali membuka tangannya dan batu itu sudah berubah menjadi liontin kalung. Ratu Alenia kemudian langsung memasangkan kalung itu di leher Suzanne.


“Bagaimana? Kamu suka?”


Suzanne tersenyum, “terima kasih,” ucap Suzanne tulus, walaupun aku tidak yakin apa bisa memanggilmu setiap aku kesakitan, lanjut Suzanne dalam hati.


Ratu Alenia tersenyum, “Sama-sama, Tuan putri.


*


Suzanne berbaring sembari terus menatap kalungnya, ia mengagumi keindahan liontin kalung itu.


“Aku penasaran, jenis batu apa ini ya? Apakah semacam batu sihir, makanya bisa memanggil sang ratu? Atau ini adalah jenis batu berlian?” gumam Suzanne bertanya-tanya.


Kegiatan Suzanne terhenti saat tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya tiba-tiba, ia terlonjak dan langsung bangun dari kasurnya.


“Tuan putri, Anda tidak boleh asal masuk kamar tamu seperti itu!”


Suzanne menatap seorang perempuan berpakaian maid yang masuk diikuti oleh dua penjaga yang menjaga pintu kamarnya. Suzanne kemudian beralih menatap gadis kecil yang sepertinya menjadi pelaku utama dalam kekacauan ini.


“Ada apa ini?”


Keempat orang itu langsung menoleh, menatap Suzanne yang sedang berjalan ke arah mereka. Maid dan kedua penjaga itu kemudian langsung berlutut meminta maaf melihat ekspresi Suzanne yang tampak tidak senang.


“Maafkan kami, Yang mulia, kami tidak tahu kalau Tuan putri akan langsung membuka kamar Anda begitu saja.”


Suzanne menghela nafas lelah, ia tidak tahu kalau di sini ada putri lain, ia pikir Eliano adalah anak tunggal. Meskipun begitu, ia pikir jika Eliano punya saudara bukankah kelakuan mereka harusnya sama? Ini kenapa saudari Eliano sangat minim tata krama?


“Hei, kenapa kalian berlutut, memangnya siapa bocah manusia ini?!” sang putri berteriak kesal.


Astaga, lihat sifat menyebalkannya itu, batin Suzanne jengkel.


“Halo? Seharusnya aku yang bertanya, siapa kamu? Barani sekali masuk kamarku tanpa izin?” Suzanne bertanya dengan penekanan di setiap katanya.


“Hei, ini istanaku! Terserah aku mau berbuat apa di istanaku sendiri!” seru gadis itu marah.


Suzanne melotot tak santai, ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum, “siapa pun kamu, aku tidak peduli, tapi aku minta kamu keluar dari kamarku sekarang juga, tindakanmu itu sangat-sangat tidak sopan!”


Ah, sial, kenapa hari ini aku harus bertugas menjaga putri menyebalkan ini sih? Seharusnya aku mencuci baju saja, batin si maid menyesali pekerjaannya.


Astaga, padahal aku sengaja mengambil pekerjaan menjaga pintu putri Suzanne karena aku tahu sifatnya yang sangat baik, tapi putri kerajaanku ini malah mengacaukan semuanya, batin si pengawal kesal.


“Ana!”


Semua orang di kamar Suzanne menoleh ke sumber suara, mendapati sang Raja yang berdiri di depan kamar Suzanne.


“Keributan macam apa lagi ini?!” tanya Raja Ruffen terlihat kesal.


“Halo Yang mulia, putri Anda masuk begitu saja ke kamar saya tanpa mengetuk pintu, dan dia bersikap sangat-sangat kasar pada saya dan maidnya,” jawab Suzanne langsung.


“Astaga, maafkan putri saya, saya sudah mencoba mendatangkan semua guru etiket terbaik di kerajaan, tapi dia tetap seperti itu,” ucap sang Raja.


Suzanne memijat keningnya yang terasa pusing, “tidak masalah Yang mulia, asal Anda membawa putri Anda keluar, karena saya ingin istirahat.”


“Hei, kau pikir kau siapa bisa memerintah ayahku seperti itu?!”


Suzanne mendelik garang, membuat sang putri seketika ciut, “Aku sedang meminta tolong,” ucap Suzanne nyaris habis kesabaran.


“Kalau begitu, saya akan membawa putri saya pergi, sampai jumpa, Tuan putri.”


“Sampai jumpa lagi, Yang mulia.”