
2 year later
“Anne!”
Suzanne menoleh, ia berlari ke arah Oliver yang baru saja memanggilnya, Suzanne memeluk kakaknya itu dengan erat.
“Kakak, Anne kangen,” ucap Suzanne pelan.
“Kakak juga kangen sama kamu,” balas Oliver.
Dua bulan yang lalu, Oliver terpaksa pergi ke perbatasan karena ada konflik besar di sana, meski awalnya Suzanne menentang kepergian Oliver, tapi pada akhirnya ia terpaksa melepaskan kakaknya itu karena kondisi sang ayah yang tiba-tiba drop.
“Apa ayah sudah membaik?” tanya Oliver yang tidak melihat ayahnya menyambutnya.
“Ayah sudah membaik, tapi fraksi bangsawan sedang ribut jadi ayah sedikit sibuk akhir-akhir ini,” jawab Suzanne.
“Bagaimana denganmu, apa pekerjaanmu lancar?” tanya Oliver.
Ya, karena putra mahkota yang absen dan Kaisar sakit, Suzanne sebagai putri pertama harus mengambil alih tugas-tugas mereka, terlebih lagi karena Lucian belum bisa membantu, tugas Suzanne jadi dua kali lebih banyak, dan itu sedikit membuat Suzanne kewalahan. Di tambah dengan kondisi kesehatannya yang buruk, Suzanne takjub ia bisa melakukan semuanya dengan baik.
“Yah, semuanya baik-baik saja,” jawab Suzanne seadanya.
“Kondisi tubuhmu bagaimana? Apakah sudah membaik?” tanya Oliver lagi.
“Aku baik-baik saja, berkat si kembar,” jawab Suzanne seraya tersenyum kecil.
“Anda sudah kembali, Putra mahkota,”
Oliver menoleh, mendapati Javier yang sedang berdiri di belakangnya.
“Ya aku baru saja sampai, bagaimana kondisi ayahmu?” tanya Oliver.
Akhir-akhir ini, sama seperti Kaisar, kondisi Grand Duke juga memburuk, hal itulah yang membuat fraksi bangsawan mulai berulah. Mungkin mereka menganggap keluarga kekaisaran sedang melemah karena Kaisar dan Grand Duke yang merupakan pelindungnya sedang sakit.
“Sudah lebih baik, Yang mulia,” jawab Javier.
“Apa keberangkatanmu ke akademi jadi dibatalkan?” tanya Suzanne.
“Kemungkinan besar, iya, Tuan putri,” jawab Javier, “Ayah ingin saya segera menggantikan posisi beliau sebagai Grand Duke,” lanjutnya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Seharusnya kondisi Grand Duke baru memburuk sekitar dua tahun lagi saat Javier hampir menyelesaikan study nya di akademi, tapi sekarang bahkan Javier harus kembali dari akademi sebelum dia genap setahun di sana karena kondisi Grand Duke, dan juga, di novelnya Kaisar tidak pernah mengalami penyakit apa pun kecuali setelah kematian Suzanne, jadi kenapa Kaisar dan Grand Duke justru sakit secara bersamaan sekarang? Batin Suzanne bingung.
Suzanne takut jika yang terjadi pada Grand Duke dan Kaisar merupakan efek kupu-kupu yang ditimbulkan olehnya. Ia juga takut kalau-kalau efek kupu-kupu ini nantinya akan semakin memburuk.
“Sebaiknya kau turuti saja keinginan ayahmu, lagi pula, kau sudah memenuhi kriteria untuk menjabat sebagai Grand Duke,” ucap Suzanne memberi saran.
“Terima kasih atas sarannya, Tuan putri, saya akan mempertimbangkannya,” balas Javier sopan.
“Lalu, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Oliver.
“Saya datang untuk menyerahkan laporan pada Tuan putri,” jawab Javier.
“Astaga, iya, ini tentang bandit itu kan? Kau sudah menangkapnya?” Suzanne menghampiri Javier.
“Saya sudah mendapatkan informasi tentang mereka, tapi kami belum berhasil menangkap mereka,” jelas Javier.
“Bandit? Bandit apa?” Oliver ikut nimbrung percakapan mereka.
“Kakak, ini sekarang masih jadi urusanku, kakak belum resmi kembali bertugas, jadi kembalilah ke kamar dan istirahatlah, lagian kenapa juga kakak menghampiriku di tempat latihan pedang?” omel Suzanne.
“Kakak merindukanmu tahu, kamu tidak menyambut kakak di gerbang, jadi kakak ke sini karena kakak tahu kamu pasti ada di sini,” balas Oliver tak mau kalah.
“Sudahlah, kembali ke kamar sana, sebelum para prajurit menyadari keberadaan kakak. Aku mau mengurus ini dulu,” Suzanne berlalu begitu saja, meninggalkan Oliver yang tampak kesal dengan reaksi sang adik.
“Saya permisi dulu, Yang mulia,” Javier pamit lalu berlari kecil menyusul Suzanne.
Oliver mendengus kesal, “dasar adik berhati dingin!”
*
“Jadi, informasi apa yang kau dapatkan?” tanya Suzanne.
Javier duduk di sofa ruang kerja Suzanne, ia menghela nafas pelan sebelum mulai menjelaskan.
“Menurut saksi mata yang masih selamat, mereka melihat satu lambang spesifik yang ada pada para bandit itu,” jelas Javier.
“Lambang seperti apa?” tanya Suzanne.
“Black bird,” jawab Javier memasang raut seriusnya.
“Black bird?!” Suzanne berseru kaget.
“Benar, menurut saksi mata, bandit yang selama ini menghantui ibu kota adalah kelompok itu,” balas Javier.
Black bird, salah kelompok bandit yang sangat ditakuti oleh banyak orang. Mereka bukan hanya mencuri, tapi juga membunuh dan mengambil organ korbannya untuk diperjual belikan, bahkan banyak rumor yang mengatakan bahwa mereka juga melakukan perdagangan manusia.
Kelompok ini sama sekali tidak muncul di novel, itulah yang membuat aku bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini. Menurut informasinya, kelompok ini sudah ada bahkan sejak kakak kecil, yang artinya tidak mungkin ini efek kupu-kupu, tapi kenapa? Kenapa kelompok ini sama sekali tidak pernah disebutkan di dalam novelnya? Batin Suzanne frustrasi.
“Sampai situ saja penyelidikanmu?” tanya Suzanne.
“Maksudmu?” Suzanne mengerutkan kening bingung.
“Aku menemukan kasino tempat mereka melelang manusia,” jelas Javier sukses membuat Suzanne berdiri karena terkejut.
“Maksudmu mereka benar-benar melakukan perdagangan manusia?!” seru Suzanne berapi-api.
“Lebih buruk lagi, mereka bahkan memperjual belikan siluman di sana,” ungkap Javier.
Suzanne menjatuhkan dirinya di kursinya, tangannya mulai memijat pelipisnya yang terasa ngilu.
“Yang benar saja!” Suzanne bergumam geram.
Kenapa aku tidak ingat tentang kelompok ini sama sekali?! Batin Suzanne berteriak frustrasi.
“Tinggalkan aku sendiri!” titah Suzanne.
“Tapi ...”
“Javier, aku tidak akan mengulang perintahku!” tegas Suzanne memotong protes Javier.
Javier menunduk sopan, “baik, Yang mulia,” ucapnya sebelum keliar dari ruangan Suzanne.
Ayo Anne, ingat-ingat lagi. Tidak mungkin kelompok sebesar ini tidak disebutkan di novel! Batin Suzanne memprofokasi dirinya sendiri.
Suzanne mencoba menggali ingatannya. Setelah beberapa saat merenung, Suzanne akhirnya ingat bahwa di novelnya ada kelompok kuat yang pernah di sebutkan, tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang kelompok itu.
Kali ini Suzanne ingat dengan jelas siapa bangsawan yang memfasilitasi kelompok itu, dan Suzanne berharap ia tidak salah tentang kesamaan kedua kelompok itu.
Bagian yang paling membingungkan bagi Suzanne adalah kenyataan bahwa bangsawan yang mendukung kelompok itu adalah bangsawan yang berperan besar dalam kenaikan sang tokoh utama menjadi putri mahkota.
Hal itu membuat Suzanne berpikir ulang tentang novel yang selama ini ia yakini bergenre romansa itu. Bagaimana jika orang yang ia yakini sebagai tokoh utama novel itu, sebenarnya adalah antagonis?
*
“Ayah, bagaimana kabar ayah?”
Kaisar Taylor mengangkat kepalanya, mendapati Oliver yang entah sejak kapan sudah berada di depan meja kerjanya.
“Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau seharusnya sedang istirahat?” tanya Kaisar Taylor.
“Setidaknya tanyakanlah kabarku dulu, Ayah!” Oliver berseru protes.
“Kau masih berdiri di sana berarti kau baik-baik saja,” balas Kaisar Taylor acuh, “omong-omong, apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku ingin mengecek kondisi Ayah, Anne bilang ayah sedang kerepotan karena para bangsawan,” Oliver duduk di sofa dengan santai.
Kaisar Taylor menghela nafas lelah, “Ya, mereka mulai berisik akhir-akhir ini, Ayah jadi merasa bersalah pada Anne karena harus menghadapi semua ini di usia semuda itu.”
“Aku yakin Anne bahkan tidak memusingkan itu, karena yang paling ia khawatirkan adalah kesehatan ayah,” balas Oliver santai.
“Bangsawan-bangsawan itu sangat menjengkelkan, terlebih setelah Kenneth tiba-tiba sakit, mereka semakin menjengkelkan!” gerutu Kaisar Taylor terlihat sangat muak.
“Seharusnya kita musnahkan saja mereka semua!” ucap Oliver berapi-api.
“Jangan sembarangan! Meskipun mereka menjengkelkan, tapi anak-anak mereka bisa menjadi penerus-penerus yang hebat, itulah yang kudengar dari putra Kenneth,” balas Kaisar Taylor.
“Kalau begitu kita bunuh saja orang-orang tua itu!” Oliver masih menyarankan hal yang sama.
“Kalau begitu pasti akan ada kekacauan besar atau lebih parahnya pengkhianatan,” sanggah Kaisar Taylor bijak.
“Ahhh, menjengkelkan!” Oliver mengumpat kesal.
“Sudahlah, untuk sementara, kita hadapi saja dulu, jika mereka mulai melewati batas, kita tahu cara menyelesaikannya,” ucap Kaisar Taylor dengan smirk seram yang tersungging di bibirnya.
“Ayah, kau lebih mengerikan dari pada aku,” ucap Oliver ngeri.
Kaisar Taylor tertawa kecil, “tentu saja, aku ini kan ayahmu!”
Oliver ikut tertawa, “omong-omong, Javier dan Anne tadi membicarakan tentang bandit, apa di ibu kota sedang marak bandit?” tanya Oliver memulai topik lain.
“Ah, iya, akhir-akhir ini ibu kota sedang digemparkan dengan bandit yang mencuri, membunuh dan juga menculik orang-orang, Anne menugaskan putra Kenneth untuk menyelidikinya, dia melarangku ikut campur karena aku masih sakit katanya,” jelas Kaisar Taylor.
“Ah, jadi begitu,” Oliver manggut-manggut paham, “tapi bukankah itu terlalu berbahaya untuk Anne?” tanya Oliver.
“Tenang saja, penyihir kembar itu selalu ada bersama Anne, Anne juga sudah lebih kuat dengan kemampuan berpedangnya sekarang, karena itu aku mempercayainya,” jawab Kaisar Taylor terlihat sangat bangga pada putrinya.
“Ternyata Anne sekarang sudah dewasa,” ucap Oliver pelan.
“Benar, ibu kalian pasti bangga melihat dia tumbuh jadi gadis sekuat itu,” lirih Kaisar Taylor.
“Ayah, ibu juga pastinya bangga pada ayah yang sudah mengurus kami dengan baik,” ucap Oliver menyemangati sang ayah.
Kaisar Taylor tersenyum kecil, “benar, semoga saja ibumu juga bangga padaku.”