
“Jadi dia tewas bahkan sebelum mengatakan apa pun?” tanya Suzanne.
Javier menghela nafas pelan, “benar Yang mulia.”
“Yang benar saja, kalau begini semakin susah untuk menangkap mereka,” gerutu Suzanne kesal.
“Kenapa tidak langsung kita bunuh saja? Lagi pula, kalaupun kita bunuh tidak akan ada yang tahu, kita bisa mengaturnya seakan itu adalah perbuatan pembunuh bayaran,” ucap Javir memberi saran.
Suzanne mendelik garang, “jangan sembarangan!”
“Yang mulia, Anda adalah putri satu-satunya di kekaisaran, jadi, membunuh orang yang mencoba mencelakai Anda adalah hal yang sangat wajar,” ucap Javier santai.
“Javier, kalau saja mereka tidak berhubungan dengan penyihir hitam, mungkin aku bisa menyetujui ide gilamu itu, tapi, mereka saat ini berhubungan dengan penyihir hitam yang memiliki dendam besar pada keluarga kaisar, menurutmu kekacauan macam apa yang akan mereka buat jika kita melakukan ide gilamu itu?” balas Suzanne sinis.
“Kalau begitu kita bereskan dulu para penyihir hitam itu,” ucap Javier membuat Suzanne semakin emosi.
“Javier, memangnya sejak kapan kita tahu tempat persembunyian mereka?!” seru Suzanne kesal.
Javier terdiam sejenak, “ah, benar juga.”
“Aku rasa kau terlalu elah pulang dan beristirahatlah, sisanya biar aku yang urus,” titah Suzanne mutlak.
Javier mengangguk, “benar juga, kalau begitu saya akan istirahat dulu, Yang mulia, Anda juga jangan lupa beristirahat,” ucap Javier sebelum pergi meninggalkan ruangan.
“Wah, Grand Duke uang satu ini sangat tidak tahu malu,” komentar Selena yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.
“Yah,, bagaimanapun juga dia sudah cukup lama tidak beristirahat kalau diteruskan bisa-bisa dia mengacaukan penyelidikan kita,” balas Suzanne santai.
“Tapi, Yang mulia sepeti kata Grand Duke, Anda juga harus beristirahat,” ucap Selena.
“Aku akan beristirahat setelah aku menemukan cara untuk menangkap mereka semua sekaligus,” balas Suzanne tak mengindahkan kekhawatiran Selena.
“Anda sudah tahu siapa saja yang terlibat?” tanya Selena.
“belum, aku baru menemukan beberapa, belum semuanya,” jawab Suzanne seadanya.
“Kalau begitu bagaimana cara Anda menangkap mereka semua sekaligus?” tanya Selena penasaran.
“Selena, sepertinya kamu dan Grand Duke sama lelahnya, beberapa saat yang lalu aku baru saja mengatakan bahwa aku belum tahu caranya!” Suzanne menjawab dengan penekanan di setiap katanya.
Selena tersenyum canggung, “ah, benar juga,” ucapnya dengan wajah tanpa dosa.
“Selena, istirahatlah, kau mengganggu konsentrasiku dengan semua pertanyaanmu itu,” titah Suzanne dengan nada kesal.
Selena tertawa pelan, “saya tidak mungkin meninggalkan Anda bekerja sendirian di sini,” balas Selena pelan.
Suzanne menghela nafas lelah, “kalau begitu buatkan aku teh dan istirahatlah! Biarkan aku bekerja di temani segelas teh!” seru Suzanne kehabisan kesabaran.
Selena mengangguk cepat, ia cepat-cepat keluar dari ruangan itu sebelum sang putri semakin emosi.
Suzanne menghembuskan nafas kesal, “astaga, kalau lelah itu istirahat, bukannya malah memaksa bekerja!” gerutu Suzann kesal.
Suzanne kembali fokus pada dokumen-dokumen yang ada di depannya. Jangan tanya apa yang sedang ia lakukan, ia sedang membaca semua dokumen keuangan para bangsawan untuk menyelidiki apakah mereka pernah bertransaksi dengan kedua tersangkanya.
Tentu saja, ia mendapatkan dokumen itu dengan cara memerintahkan para penyihir untuk mencuri, karena tentu saja para bangsawan tidak akan memberikannya begitu saja jika ia memintanya.
Ia harus menyelidiki semuanya seteliti mungkin agar tidak ada yang terlewat, dan juga untuk menghindari kesalahpahaman, ia menyelidiki apakah itu transaksi yang mencurigakan atau sekedar transaksi bisnis biasa.
Suzanne hampir muntah karena membaca semua dokumen yang kebanyakan isinya adalah tentang pembelian perhiasan dan barang-barang mewah lainnya.
“Astaga, para bangsawan ini sepertinya hanya tahu cara untuk menghambur-hamburkan uang dengan sangat baik,” gumam Suzanne pelan.
Suzanne menutup dokumen terakhir yang ia baca, setelah seharian penuh, akhirnya ia bisa menyelesaikan semuanya, ia sudah menulis nama para bangsawan yang mencurigakan, dan sekarang saatnya memberi tugas pada para penyihir untuk memata-matai mereka semua.
*
“Anda mau kami memata-matai mereka?”
Suzanne menatap Daniel dengan tatapan kesal, “Ya!” jawabnya tegas.
“Semuanya?”
“Iya, Daniel, harus berapa kali aku menegaskan ini?!” ucap Suzanne frustrasi.
Daniel menghela nafas pelan, “Tuan putri, ada lebih dari 20 nama keluarga di sini, bagaimana kami akan membagi tugas?”
Daniel mendelik tak santai, sesat kemudian ia hanya bisa menghela nafas pasrah, “Astaga, baiklah, kami akan melakukannya.”
“Bagus, jangan lupa rekam semua kegiatan mereka, aku akan melihatnya sendiri,” ucap Suzanne santai.
Lagi-lagi Daniel hanya bisa menghela nafas pasrah, “baik, Tuan putri.”
“Jangan khawatir, semua biaya batu magisnya, istana yang menanggung, jadi menara tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun,” lanjut Suzanne sombong.
Daniel mengangguk paham. Padahal masalahnya pada tenaga kami, putri yang satu ini semakin lama semakin mirip dengan ayahnya, gerutu Daniel dalam hati.
“Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan putri.”
*
Suzanne meletakkan sendoknya, ia menatap keluarganya yang tidak berhenti menatapnya sejak ia masuk ke ruang makan.
“Apa?” tanya Suzanne ketus.
“Anne, berapa lama kamu tidak tidur?” tanya Oliver.
“Entahlah, kenapa?”
“Kak, bawah matamu menghitam seperti panda,” celetuk Lucian dengan wajah polosnya.
“Kau bahkan tidak mengganti pakaianmu sejak kemarin,” lanjut Kaisar Taylor.
Suzanne menatap sang ayah horor, “kemarin? Bukankah terakhir kali kita bertemu saat sarapan tadi pagi?”
“Anne, kamu tadi pagi tidak sarapan, Selena bilang kamu hanya meminta di bawakan camilan ke ruang kerja dan tidak mau di ganggu,” ucap Oliver memberitahu.
Suzanne berdiri dari kursinya, ia berlari keluar ruang makan dengan cepat.
“Astaga, apakah dia sefokus itu sampai tidak sadar bahwa hari sudah berganti?” gumam Kaisar Taylor takjub.
“Ayah, ayah bahkan pernah tidak sadar bahwa dua hari sudah berlalu saat ayah menyelidiki pembunuh ibu saat itu,” balas Oliver menyadarkan.
“Seperti kata mereka, anak perempuan adalah duplikat ayahnya, Kak Anne benar-benar mirip ayah,” lanjut Lucian.
Kaisar Taylor menatap kedua putranya dengan garang, “sudahlah habiskan saja makanan kalian!”
*
Suzanne membuka pintu kamarnya dengan kasar, membuat Selena yang sedang membersihkan kamarnya, berbalik karena terkejut.
“Tuan putri, ada apa?” tanya Selena bingung.
“Apa aku belum mandi sejak kemarin?” tanya Suzanne balik.
Selena hanya mengangguk.
“Ah, yang benar saja, siapkan air mandiku, aku akan mandi sekarang!” titah Suzanne.
“Tapi, Tuan putri, apa Anda sudah makan malam?” tanya Selena.
“Lupakan itu dan cepat siapkan air mandiku!” seru Suzanne kesal.
Selena tersentak, “baik, Yang mulia.””
Selena segera pergi melakukan perintah Suzanne sementara Suzanne duduk di sofa sembari menutupi wajahnya yang memerah.
Ahhhh sungguh memalukan! Batin Suzanne malu.
“Yang benar saja, bisa-bisanya aku tidak sadar hari sudah berganti,” gumam Suzanne pelan.
“Tidak sadar apa, Yang mulia?”
Suzanne terlonjak, ia menatap Selena yang berdiri di belakangnya.
“Kau mengejutkanku!” kesal Suzanne.
“Ah, saya hanya ingin memberitahu, air mandi Anda sudah siap,” ucap Selena.
“Baiklah, ayo mandi.”