
“Gwen Duncan, kamu masih tidak mau mengatakannya?”
Suzanne menata Gwen jengah, ia sudah bertanya bekali-kali, tapi ia tidak juga menjawab, bahkan ia belum mengucapkan sepatah kata pun sejak interogasi di mulai.
“Baiklah, setelah ini bukan aku yang akan menanyaimu, tapi kakakku, dan aku yakin dia tidak akan melakukannya dengan santai,” ucap Suzanne kesal sendiri.
“Saya tidak tahu,” lirih Gwen akhirnya buka suara.
Suzanne menghembuskan nafas kesal, “Gwen keluargamu adalah dalang dari semua kekacauan di kekaisaran, jadi aku hanya perlu nama bangsawan-bangsawan yang terlibat, apa sesulit itu untuk menyebutkannya?!”
“Saya benar-benar tidak tahu, saya hanya menuruti kemauan ayah dan ibu saya,” balas Gwen lirih.
“Apa kau juga tidak tahu kalau kau akan jadi korban untuk pemanggilan raja iblis?” tanya Suzanne.
Gwen mengangkat wajahnya, ia menatap Suzanne dengan tatapan bingung, “saya tidak mengerti apa yang Anda katakan.”
Suzanne menghela nafas pelan, “sudahlah, percuma berbicara dengannya, ayo pergi!” ajak Suzanne pada Javier yang memang menemaninya.
Javier mengangguk, ia mengikuti Suzanne keluar dari ruang bawah tanah, keduanya langsung menuju ke tempat latihan, di mana Suzanne melampiaskan kekesalannya dengan berlatih pedang.
Latihan Suzanne terhenti ketika Daniel dan Daniella mendadak muncul dengan wajah panik.
“Ada apa?” tanya Suzanne.
“Mereka mulai bergerak,” jawab Daniella.
“Siapa?” tanya Javier bingung.
“Para penyihir hitam, mereka mulai bergerak menuju ke istana,” jawab Daniel cepat.
Suzanne menjatuhkan pedangnya, ia segera berlari meninggalkan tempat latihan untuk menghampiri sang ayah.
Suzanne membuka pintu ruangan ayahnya dengan kasar, ia menatap Kaisar Taylor yang sedang berbicara pada Oliver.
“Anne, ada apa?” tanya Kaisar Taylor bingung dengan kedatangan Suzanne yang sangat mendadak.
“Ayah, para penyihir hitam sedang menuju kemari,” ucap Suzanne cepat.
Kaisar Taylor dan Oliver terdiam sejenak, keduanya kemudian langsung berdiri dan mulai bersikap serius.
Oliver keluar, ia memerintahkan semua kesatria untuk berkumpul di tempat latihan, sementara Kaisar Taylor memerintahkan para maid untuk bersembunyi sementara di paviliun timur, tempat terjauh dari istana utama.
Suzanne sendiri langsung mengumpulkan para penyihir dan memberikan arahan pada mereka, Suzanne menempatkan para penyihir di tempat-tempat paling strategis di istana, ia sudah meneliti semuanya selama lebih dari satu bulan dan ia berharap bahwa strateginya akan berhasil.
Suzanne masuk ke kamarnya setelah selesai memberi arahan, ia kemudian memerintahkan Selena untuk ikut bersembunyi, sementara ia sendiri bersiap untuk mengikuti pertempuran ini.
Suzanne keluar dari kamarnya dalam kondisi siap, ia kemudian bergabung dengan ayah dan kakaknya yang sudah siap di depan gerbang istana.
Hanya butuh beberapa saat sampai akhirnya mereka melihat kepulan asap hitam di susul dengan munculnya puluhan orang berjubah hitam, bersamaan dengan beberapa orang dengan seragam kesatria yang berasal dari beberapa keluarga yang berbeda.
“Wah, apa ini, ternyata istana sudah tahu tentang kedatangan kami,” ucap salah satu penyihir hitam yang berdiri di barisan terdepan.
“Tentu saja kami tahu, kami punya banyak mata-mata yang mengawasi setiap pergerakan di kekaisaran,” balas Suzanne santai.
“Memangnya apa gunanya, kalian bersiap, kalian hanya manusia-manusia bodoh yang tidak tahu cara untuk menggunakan sihir,” penyihir hitam tadi kembali berucap.
Suzanne tertawa kecil, “astaga, lihat kebodohannya itu, meskipun kami tidak menguasai sihir, tapi jumlah kami lebih banyak, dan juga kami bisa mengendalikan mana kami dengan baik, menjadi aura.”
Pertarungan pecah setelah penyihir hitam mulai menyerang, para kesatria pihak lawan dan ksatria istana sudah saling beradu pedang, sementara Suzanne menghadapi penyihir hitam dengan pedang auranya.
Para penyihir hitam mulai menghujani mereka dengan bola api, panah api dan banyak sihir-sihir gelap lainnya, meskipun begitu, sejauh ini para kesatria masih bisa mengatasinya, karena efek sihirnya selalu berkurang begitu sudah mendekati para kesatria, tentu saja semua itu di lakukan oleh penyihir menara yang ikut bertarung dari tempat yang tidak terlihat.
Di sisi lain, tentu saja para penyihir hitam kebingungan dengan apa yang mereka lihat, sihir mereka yang selalu melemah saat hampir mencapai targetnya membuat mereka mencoba melontarkan sihir-sihir yang jauh lebih kuat.
Suzanne tersenyum senang melihat ekspresi kebingungan musuh-musuhnya, ia hanya terus menikmati pertarungan yang jelas tidak seimbang ini dengan sangat-sangat santai.
Beberapa saat kemudian, Suzanne mengangkat pedangnya, memberi isyarat pada sang kakak untuk menarik mundur pasukannya.
Oliver menatap sang adik sejenak lalu berteriak untuk menarik mundur pasukannya, tentu saja tindakan itu membuat kebingungan di pihak lawan , mereka tampak mulai merasa bahwa mereka sudah menang.
Hanya beberapa detik setelah pasukan istana mundur, kesenangan para musuh berakhir karena ternyata mereka sudah masuk ke dalam jebakan yang di siapkan oleh sang putri.
Ya, saat ini mereka sedang berdiri tepat di atas lingkaran sihir yang sudah Suzanne persiapkan sejak beberapa hari yang lalu. Alasan Suzanne mengulur waktu dan membiarkan pertarungan tak seimbang ini terjadi hanya untuk memberikan waktu ada para petinggi menara untuk menyelesaikan sihir mereka, sihir pemurnian.
Ya, mereka akan memurnikan semua penyihir hitam yang ada di sana dengan kata lain, mereka akan menghilangkan semua sihir yang ada di tubuh penyihir hitam, dan selanjutnya mereka hanya akan menjadi manusia biasa yang tanpa sihir.
Tentu saja ini bukanlah sihir yang mudah, karena itulah Daniel dan yang lainnya perlu mempersiapkan hal ini selama beberapa hari, sederhananya, Suzanne sudah tahu mereka akan menyerang istana cepat atau lambat, dan Suzanne hanya mempercepat waktunya dengan menangkap kartu AS mereka, yaitu Gwen.
Suzanne juga sengaja mengajak ayah dan kakaknya untuk menunggu di depan istana karena ia memang sudah menggambar lingkaran sihirnya di sana. Selanjutnya, ia tinggal membiarkan pertarungannya terjadi sembari menunggu kode dari Daniel, dan begitu Daniel memberikan kodenya, ia langsung menarik pasukan mundur untuk menjauh dari lingkaran sihir itu.
Jadi sebenarnya, penyihir hitam sudah kalah bahkan sebelum mereka sampai di istana.
Hanya perlu satu menit sampai pasukan musuh berjatuhan, mereka tak sadarkan diri karena akibat dari sihir pemurnian itu.
Meski bingung, Oliver dan Kaisar Taylor hanya bisa memerintahkan para kesatria untuk membawa mereka ke penjara, sementara sisanya di tugaskan untuk menangkap para bangsawan yang jelas terlibat dalam aksi ini.
“Anne, apa ini kenapa kau tidak memberi tahu kami tentang rencana ini?” tanya Kaisar Taylor begitu ia dan kedua anaknya sudah berada di ruangannya.
Suzanne meringis, “sebenarnya, rencananya juga belum sempurna, jadi aku belum memberi tahu kalian, tapi begitu rencana kami sudah sempurna sepenuhnya, mereka sudah lebih dulu datang, aku juga tidak menyangka mereka akan datang secepat ini,” jelas Suzanne jujur.
“Padahal Javier baru menangkap Gwen semalam, dan saat ini bahkan matahari belum tenggelam tapi mereka sudah datang,” lanjut Suzanne.
“Mereka terlalu mudah di provokasi,” ucap Oliver menanggapi.
“Mereka mudah di provokasi dan mereka juga bodoh. Mereka kuat, tapi mereka bodoh, mereka memang pandai bersembunyi, tapi mereka bodoh soal strategi, seperti itulah penyihir hitam,” Suzanne menjeda ucapannya, “ah, tidak, bahkan penyihir menara juga bodoh soal strategi, jadi kurasa semua penyihir memang bodoh soal strategi,” lanjut Suzanne sembari tertawa kecil.
“Tapi Anne, bukankah seharusnya kamu tidak menggunakan manamu?” tanya Oliver khawatir.
“Tenang saja, aku sudah berkonsultasi pada Daniel sebelum ini, dan aku juga sudah meminum obat yang mereka resepkan, jadi aku akan baik-baik saja. Daniel bilang, aku mungkin hanya akan tertidur lebih lama setelah ini,” jawab Suzanne santai.
“Jadi selanjutnya apa yang akan kita lakukan pada mereka?” tanya Suzanne mengalihkan pembicaraan.
“Kita akan menyebar beritanya terlebih dahulu dan membiarkan masyarakat memilih hukuman yang paling cocok untuk mereka,” jawab Kaisar Taylor.
“Ide yang sangat bagus memang masyarakatlah yang paling berhak untuk menentukan hukuman bagi mereka,” puji Suzanne.
“Kamu juga boleh ikut menentukan hukuman bagi mereka, bagaimana pun juga, kamu adalah salah satu korban mereka,” ucap Kaisar Taylor.
Suzanne tertawa kecil, “aku yakin rakyat tahu hal itu jadi mereka pasti akan memilih hukuman yang paling cocok untuk mereka.”
Anne, di saat seperti ini, kamu terlihat lebih menakutkan dari pada ayah, batin Oliver ngeri.
“Kalau begitu aku pamit dulu, aku sudah sangat mengantuk, selamat malam Papa, malam kakak.”