The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 23



Suzanne menatap ayah dan kakaknya dengan gugup, ia baru saja menyerahkan desainnya dan kedua orang itu sedang melihatnya dalam diam.


“Jadi gimana?” tanya Suzanne tak sabar.


Kaisar Taylor dan Oliver saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya keduanya menatap Suzanne dengan ekspresi bangga.


“Ini desainmu sendiri?” tanya Oliver memastikan.


Suzanne mengangguk semangat.


“Cantik, putriku memang berbakat,” puji Kaisar Taylor.


“Terima kasih, jadi kalian setuju?” tanya Suzanne lagi.


“Tentu saja, setelah semua yang terjadi, kita memang perlu sedikit perubahan,” jawab Kaisar Taylor.


“Tapi Anne, kenapa ada dua desain di sini? Apa kita harus memilih salah satu?” tanya Oliver.


“Ah bukan, itu untuk seragam musim panas dan musim dingin. Selama ini saat musim dingin para kesatria biasanya hanya menambahkan syal untuk menghangatkan diri, jadi aku membuat seragam musim dingin agar mereka tidak perlu kedinginan saat musim dingin tiba,” jelas Suzanne.


“Ah begitu rupanya,” Oliver mengangguk paham.


“Menurut perhitunganku, jika aku mengirim desainnya hari ini, mungkin kita bisa menerima seragamnya tepat saat musim dingin nanti,” ucap Suzanne.


“Kalau begitu kirim saja desainnya sekarang,” Oliver menimpali.


“Oke, kalau begitu aku akan meminta Selena untuk mengirimkannya langsung,” ucap Suzanne lalu berbalik, berniat pergi dari ruangan sang ayah.


Langkah Suzanne terhenti ketika ayahnya tiba-tiba melemparkan pertanyaan yang membuat Suzanne terdiam sesaat.


“Anne, kau tidak mau memanggil Doreen kembali?”


“Aku akan memanggilnya ke sini setelah aku bisa melupakan Doughlass,” jawab Suzanne tanpa menoleh, ia kemudian benar-benar pergi dari ruangan sang ayah.


Kaisar Taylor menghela nafas lelah, ia tahu jelas kemarahan putrinya ini sangat beralasan. Saat Doughlass di makamkan, Doreen sama sekali tidak terlihat, karena itulah Suzanne kecewa pada dayang pribadinya itu.


Meski begitu, ini sudah lama dan kekecewaan Suzanne belum juga hilang, Kaisar Taylor hanya takut pada akhirnya Suzanne justru memutus hubungan dengan salah satu dayang terbaiknya itu.


Kaisar Taylor juga penasaran, sebenarnya kenapa Doreen tidak hadir hari itu, padahal ayahnya, sang baron hadir di pemakaman, meski ia dan putrinya tidak sempat berbicara dengannya.


Doreen adalah dayang yang dipilih sendiri oleh sang ratu, dan tentu saja, dia bukan sembarang dayang, dia adalah salah satu murid berpedang ratu yang terhebat, alasan ratu dan Kaisar Taylor menempatkan dua orang terbaik di samping Suzanne tentu saja untuk melindunginya, dan ya, Kaisar Taylor juga tahu kalau Doreen dan Doughlass memiliki hubungan istimewa.


“Anne, ayah harap rasa kecewamu cepat menghilang.”


*


Suzanne berseru senang begitu ia membaca surat balasan dari Countess Sylvia, membuat Javier dan Selena yang ada di depannya jadi ikut penasaran.


“Apa kata Countess, Yang mulia?” tanya Selena.


Suzanne menatap Selena dengan mata berbinar, “Countess bilang, seragamnya akan langsung ia kerjakan dan dia berjanji itu akan selesai sebelum musim dingin tiba.”


Selena mengedipkan matanya beberapa kali, terkejut dengan sikap Suzanne yang tidak pernah ia lihat.


“Anda sangat senang ya?” tanya Selena.


Suzanne tersenyum senang, “Tentu saja!”


“Oh, dan tenang saja, aku membuatkan seragam khusus untuk dua orang terdekatku ini,” ucap Suzanne sembari merangkul Selena.


“Ah, benarkah, apa seragam kami spesial?” tanya Javier.


“Tentu saja spesial, kalian akan punya seragam yang paling cantik,” jawab Suzanne semangat.


Suzanne kemudian kembali duduk di kursinya dan menulis surat balasan untuk Countess, kali ini dia meminta salah satu kesatria di depan pintunya untuk mengirimkannya langsung.


Suzanne kemudian mengambil surat lain yang dikirimkan padanya, saat ia membacanya, ia langsung meletakkan surat itu dengan kasar, membuat Selena dan Javier terkejut.


“Ada apa, Yang mulia?” tanya keduanya kompak.


“Ada yang berani mengirimiku surat lamaran!” jawab Suzanne kesal.


Javier langsung mengambil surat itu, ia membacanya sebentar lalu langsung menyobek-nyobek surat itu.


“Berani sekali Marquis rendahan itu melamar tuan putri dengan kata-kata sombong seperti itu,” geram Javier.


“Menyebalkan!” umpat Suzanne kesal.


“Siapa yang melamar adikku?”


Suzanne menoleh, menatap kakaknya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya dengan aura gelapnya yang terlihat menyeramkan.


Oliver memegang bahu Javier dan menatapnya dengan serius, “siapa yang melamar adikku?” tanya Oliver dengan ekspresi menakutkannya.


“Kakak, sudahlah, aku juga tidak akan menerimanya, membalasnya saja tidak sudi,” ucap Suzanne menghentikan kemarahan sang kakak.


Oliver melepaskan Javier, ia kemudian menatap sang adik dengan serius, “apa yang ia katakan dalam surat?”


Suzanne menghembuskan nafas kesal, “dia bilang aku itu perempuan, jadi harus segera menikah dan tidak mungkin ada yang mau menikahi putri manja sepertiku ini selain dia, pokoknya dia sangat menjengkelkan!”


“Javier, ikut aku, ayo kita bereskan bedebah ini,” titah Oliver.


“Baik, Yang mulia,” balas Javier cepat.


Oliver dan Javier meninggalkan ruangan Suzanne, membuat Suzanne melongo bingung.


“Yang benar saja, kenapa dia seenaknya sendiri membawa bawahanku pergi!”


*


“Salam kepada bintang kekaisaran, Yang mulia putri,”


Suzanne menoleh, “astaga White, kau masih saja melakukan salam menggelikan itu.


Suzanne memang sedang jalan-jalan di taman, karena itulah ketika melihatnya, White langsung menghampirinya dan memberi salam.


White sudah lama tidak bertemu dengan penyelamatnya itu, karena itulah insting kucingnya seakan langsung menyuruhnya mendekati sang putri begitu ia melihatnya.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Suzanne lembut.


“Sangat baik, Yang mulia,” jawab White.


Suzanne menatap White lama, membuat White merasa malu.


“Apa ada sesuatu di wajah saya, Yang mulia?” tanya White.


Suzanne tersadar, ia tersenyum canggung, “ah, tidak, aku hanya penasaran dengan wujud kucingmu.”


“Anda mau melihatnya?” tawar White.


“Apa boleh?” tanya Suzanne.


White mengangguk, “tentu saja boleh, saya justru merasa terhormat jika Anda mau melihat saya dalam wujud kucing.”


White kemudian berubah menjadi kucing putih berbulu lebat, dengan ekor yang sangat menggemaskan.


Suzanne terdiam sesaat sebelum akhirnya menarik White ke pelukannya, ia memelik White dengan erat.


“Astaga, kau sangat imut,” ucap Suzanne gemas, “sebaiknya kau tetap di wujud ini saja,” lanjut Suzanne.


“Kalau Anda mau, saya bisa mempertahankan wujud ini selama seminggu,” ucap White dengan suara yang sangat menggemaskan.


“Astaga, bahkan suaramu juga sangat menggemaskan!” seru Suzanne gemas.


“Ah, benar juga, kalau kau bisa mempertahankan wujud ini selama seminggu aku akan sangat senang,” lanjut Suzanne.


Itu yang saya katakan tadi, batin White.


“Tentu saja bisa, Yang mulia.”


Suzanne berjingkrak senang, ia semakin erat memeluk White sebelum akhirnya melepaskannya, ia menciumi wajah White dengan gemas.


“Kalau begitu, ayo kita ke kamarku!”


Suzanne membawa White ke kamarnya, ia juga meminta Selena untuk mencarikan apa pun untuk tempat White tidur sebelum nanti ia berencana membelikan sebuah bantal khusus untuk White.


Setelah itu, Suzanne bahkan mengajak Selena untuk meminum teh bersamanya sembari mengajak White bermain.


“Saya tidak tahu kalau siluman kucing suka bermain layaknya kucing biasa,” ucap Selena.


“Iya kan? Aku juga tidak tahu itu,” balas Suzanne menyetujui.


“White juga sangat menggemaskan,” puji Selena.


“Terima kasih pujiannya,” balas White.


Suzanne tertawa kecil, “kalian berdua sama-sama menggemaskan.”


...****************...


...Hai hai, aku punya hadiah tahun baru nih, buat kalian-kalian, cek instagramku yah @stellabloomix_, see you there....