
Kaisar Taylor tersenyum kecil, “jadi, sejauh ini apa yang kau tahu tentang kemampuanmu ini?” tanya Kaisar Taylor lembut.
“Pangeran mungkin memiliki berkah dewa,” Daniella menjawab pertanyaan Kaisar.
“Ah, begitukah? Tapi bagaimana bisa? Keluarga kaisar sepertinya tidak pernah menghasilkan saintess, utusan dewa ataupun pendeta,”
“Yang mulia, pangeran kedua sering berdoa di kuil, beliau juga memiliki mana yang sangat bersih, mungkin itulah kenapa dia mendadak mendapat kemampuan ini, meskipun belum sempurna,” jelas Daniella.
“Ayah, terakhir kali aku melihat benang takdir milik kakak, itu terlihat sangat mengerikan, benangnya sangat tipis sampai-sampai jika saja itu bisa di sentuh, mungkin itu akan putus meski hanya dengan sentuhan lembut,” ucap Lucian pelan.
Kaisar Taylor terdiam sejenak, ia kemudian mengusap kepala Lucian dengan lembut, “tidak usah dipikirkan, kakakmu itu kuat, lagi pula, kita semua juga pasti akan mati, suatu saat nanti benang takdir kita pasti akan terputus, hanya saja mungkin kakakmu lebih di sayang oleh tuhan, jangan khawatir, jika benang takdirnya nanti terputus, itu berarti kakakmu pergi ke tempat yang lebih indah, nantinya kita pasti akan bertemu lagi, entah di alam yang berbeda atau di kehidupan selanjutnya.”
“Ayah tidak takut kakak menghilang?” tanya Lucian pelan.
“Ayah takut, bahkan sangat takut, tapi jika di dunia membuat Anne terus-terusan merasakan sakit, maka ayah akan lebih bahagia ketika dia akhirnya terbebas dari rasa sakit itu,” jawab Kaisar Taylor.
“Sama seperti saat ayah memutuskan untuk merelakan ibumu pergi, ayah juga tidak mau kehilangan dia, tapi melihat wajahnya yang selalu kesakitan, ayah merasa mungkin lebih baik jika tuhan membawa ibumu pergi,” lanjut Kaisar Taylor.
“Ayah, aku masih belum siap,” lirih Lucian.
“Kamu tidak akan pernah siap Lucian, rasa sakit saat kehilangan seseorang yang kamu sayangi bukanlah hal yang bisa kamu persiapkan, kamu hanya bisa menerimanya dan belajar untuk menyimpan lukanya,” balas Kaisar Taylor, tangannya masih terus mengusap kepala putra bungsunya.
“Apa ayah masih sering merindukan ibu?” tanya Lucian.
“Selalu, ayah selalu merindukan ibumu. Ketika ayah sakit, ayah pikir akhirnya ayah akan segera bertemu dengan ibumu, tapi ayah juga belum siap untuk meninggalkan anak-anak ayah, dan untungnya, ayah masih diberi kesempatan untuk kembali sehat dan melakukan hal-hal seperti biasanya.”
Aku takut anak-anakku tidak bisa menghadapi kesedihan saat kehilangan aku, tapi sekarang aku justru harus menghadapi kenyataan bahwa mungkin saja putriku akan pergi mendahuluiku, batin Kaisar Taylor sedih.
“Lucian, kembalilah ke kamarmu, ayah punya sedikit urusan dengan Daniella,” titah Kaisar Taylor.
“Bak, ayah,” balas Lucian.
Lucian beranjak meninggalkan ruangan sang ayah, meninggalkan sang ayah bersama Ruppert dan Daniella.
"Jadi, bagaimana perkembangan obat untuk Anne?” tanya Kaisar Taylor.
“Yang mulia obat yang kami buat hanya akan mengurangi durasi kambuhnya, tapi kami belum bisa sepenuhnya menghilangkan penyakitnya," jawab Daniella seadanya.
“Apa yang terjadi jika durasi kambuhnya berkurang?” tanya Kaisar Taylor lagi.
“Tuan putri akan bisa bertahan lebih lama dari pada orang-orang yang mengidap penyakit ini,” jawab Ruppert.
“Begitu saja sudah cukup, jika dia bisa bertahan setidaknya sampai berumur dua puluh tahun aku akan sangat bersyukur, aku hanya ingin melihat dia tumbuh dewasa, dan menjalani hidup layaknya gadis-gadis pada umumnya,” ucap Kaisar Taylor pelan.
Daniella dan Ruppert hanya diam, keduanya sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka katakan untuk membuat Kaisar merasa lebih baik.
“Kalian pergilah, biar aku yang menjaga Anne di sini,” titah Kaisar Taylor.
Daniella dan Ruppert saling menatap satu sama lain, keduanya kemudian mengangguk dan berpamitan pergi.
Kaisar duduk di sebelah putrinya yang masih belum membuka matanya, tangannya bergerak mengusap kepala putrinya dengan lembut.
“Anne, maaf karena kamu harus mengalami hal semengerikan ini, ayah memang ingin kamu hidup lama bersama ayah, tapi jika kamu terus-terusan kesakitan, ayah jadi tidak tega. Meskipun begitu, ayah tetap egois dan terus mencoba mempertahankanmu, maafkan ayah,” bisik Kaisar Taylor pelan.
Kaisar Taylor menoleh ketika pintu ruangannya tiba-tiba terbuka, ia menatap putra sulungnya yang masuk dengan tergesa-gesa.
“Ayah, Anne kambuh lagi?”
Kaisar Taylor tidak menjawab, ia hanya diam dan kembali menatap putrinya.
Oliver berjalan mendekat, ia duduk di seberang ayahnya, tangannya meraih tagan Suzanne dan menggenggamnya dengan erat.
Anne, jangan buat kakak khawatir, ayo bangun, batin Oliver.
“Pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Kaisar Taylor.
“Belum, aku panik saat Lucian memberitahuku tentang Anne, jadi aku meninggalkannya,” jawab Oliver jujur.
“Kalau begitu jaga adikmu sebentar, ayah harus menandatangani beberapa dokumen,” ucap Kaisar Taylor.
Tanpa menunggu jawaban dari Oliver, Kaisar Taylor kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya sementara Oliver tetap duduk di tempatnya dengan tangan yang masih menggenggam tangan adiknya.
“Ayah, apa ayah sudah menyetujui dokumen yang aku serahkan kemarin?” tanya Oliver.
“Dokumen soal bantuan untuk keluarga kesatria yang gugur di perbatasan.”
“Ah, itu, sudah. Ayah juga sudah menyerahkannya pada Marquis, dia yang akan mengurus bantuannya.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Ada berapa kesatria yang gugur di perbatasan?”
“Dari kalangan rakyat biasa lebih dari 50, dari kalangan bangsawan ada 10 orang.”
“Kenapa kamu telat melaporkannya?”
“Aku harus mencari keluarga mereka dulu dan mengumpulkannya di satu perumahan.”
“Oliver, kau sudah melihat rekaman yang Daniel serahkan?”
“Ah, rekaman aktivitas para penyihir hitam itu?”
“Iya.”
“Aku sudah melihatnya, menurut ayah itu apa?”
“Mereka sedang mencoba membangkitkan raja iblis.”
“Yang benar saja?!”
“Memangnya kau tidak sadar? Ada banyak laporan kemunculan monster akhir-akhir ini.”
“Tapi bukannya untuk membangkitkan raja iblis mereka butuh tubuh sebagai medianya?”
“Karena itulah mereka sedang mencoba mengorbankan seseorang, meski ayah tidak tahu siapa orang itu.”
“Gwen Duncan, orang itu adalah Gwen Duncan.”
Oliver dan Kaisar Taylor kompak menoleh ke arah Suzanne yang baru saja berbicara.
“Astaga, Anne, kau sudah bangun?” seru Kaisar Taylor dan Oliver kompak.
“Aku sudah bangun sejak kalian mulai membicarakan penyihir hitam,” ucap Suzanne santai.
“Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau Gwen yang akan di korbankan?” tanya Oliver.
“Aku melihat rekaman aktivitas Gwen kemarin, dan aku sadar kalau Gwen punya tanda kutukan di lehernya,” jawab Suzanne.
“Memangnya keluarganya tidak menyadarinya?” tanya Kaisar Taylor.
“Entahlah, kemungkinan terburuknya, orang tua Gwen mungkin saja sengaja mengorbankan Gwen agar bisa bekerja sama dengan penyihir hitam,” jawab Suzanne.
“Wah, segila apa mereka terhadap kekuasaan, sampai-sampai rela mengorbankan anak mereka sendiri kepada raja iblis?” gumam Oliver tak habis pikir.
“Manusia memang terkadang tidak tahu caranya bersyukur, padahal tanah kekaisaran sudah memberikan mereka makanan yang cukup dan hasil alam yang melimpah, tapi mereka memilih untuk mendatangkan kehancuran pada tanah yang membantu mereka hidup,” cela Suzanne.
“Anne, apakah kamu juga mendapat laporan tentang monster-monster itu?” tanya Kaisar Taylor.
“Tentu saja, Javier sempat berhadapan langsung dengan salah satu monster yang katanya mendadak muncul di hutan belakang kediamannya,” jawab Suzanne.
“Ayah, sepertinya kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, akan semakin merepotkan jika mereka berhasil membangkitkan raja iblis nanti,” ucap Oliver.
“Kakak benar, tapi saat ini penyihir menara masih dalam tahap berkembang, mereka belum cukup kuat untuk melawan penyihir hitam yang jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka,” balas Suzanne.
“Untuk saat ini Daniel dan beberapa petinggi menara hanya bisa mengacaukan proses pemanggilannya, tapi akibatnya banyak monster yang akan terus bermunculan, jadi jalan satu-satunya adalah terus mengirim kesatria untuk membasmi monster-monster itu sampai penyihir menara siap berhadapan langsung dengan penyihir hitam,” lanjut Suzanne menjelaskan.
“Apa cara ini bisa meminimalisir korban jiwa?” tanya Oliver.
“Tentu saja, karena jika penyihir menara langsung mengonfrontasi penyihir hitam dengan kemampuan mereka sekarang, mereka pasti akan kalah, dan hasilnya, penyihir hitam akan lebih mudah membangkitkan raja iblis karena tidak ada lagi yang menghalangi mereka,” jawab Suzanne.
Pembicaraan mereka terhenti ketika pintu ruangan Kaisar Taylor di buka dan Javier terlihat masuk dengan tergesa.
Ucapan yang kemudian keluar dari mulut Javier sukses membuat ketiga orang penting di kekaisaran itu terdiam karena terlalu terkejut.
“Yang mulia, ada monster menyerang pusat kota.”