The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 22



Suzanne membuka matanya perlahan, ia kemudian bangun dan langsung membuka pintu balkonnya.


“Astaga, apa aku tidur seharian penuh?” gumam Suzanne melihat langit yang sudah berwarna jingga.


“Yang mulia, akhirnya Anda bangun juga!”


Suzanne menoleh, menatap Selena yang berdiri di samping kasurnya.


“Ah, aku tidur seharian ya? Maafkan aku,” ucap Suzanne.


“Seharian apanya?! Anda tidur dua hari penuh!” seru Selena tak santai.


“Dua hari?! Yang benar saja!” Suzanne berseru kaget.


“Saya sangat khawatir, tapi Tuan Daniel bilang kalau Anda hanya tidur karena kelelahan, tapi tetap saja saya khawatir,” oceh Selena kesal.


Suzanne tertawa canggung, dia memang bilang aku akan tidur lebih lama, tapi dia tidak bilang kalau aku akan tidur selama dua hari, dasar penyihir menyebalkan, umpat Suzanne dalam hati.


Suzanne kemudian meminta Selena untuk membantunya berganti mandi, dan bersiap untuk makan malam.


Sepanjang jalan, Suzanne dapat mendengar para maid dan para ksatria yang berbisik tentangnya, dan begitu ia sampai di ruang makan, ayah dan kedua saudaranya langsung menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya sangat-sangat tidak penting.


“Ah, sudahlah, berhenti bertanya, aku lapar dan kalian membuat makan malamku tertunda!” seru Suzanne menghentikan aksi menyebalkan keluarganya.


“Salah kakak sendiri tidur kok dua hari, kan kami jadi khawatir,” balas Lucian sarkas.


“Kakak mana tahu kalau kakak akan tidur dua hari, Daniel hanya bilang kalau kakak akan tidur sedikit lebih lama dari biasanya!” ucap Suzanne membela diri.


“Sudah, sudah, jangan bertengkar, Anne makanlah, kamu pasti sangat lapar,” lerai Kaisar Taylor.


Suzanne menghela nafas pelan, ia memakan makanannya dengan tenang, begitu pula keluarganya, mereka makan dengan tenang sampai makan malam berakhir.


“Jadi, apa hukuman untuk para pemberontak itu sudah di tentukan?” tanya Suzanne begitu ayah dan kakaknya selesai makan.


“Ya, rakyat memilih untuk menghukum mati mereka semua,” jawab Oliver.


“Pilihan yang bagus, rakyat kekaisaran memang pintar-pintar,” puji Suzanne dengan wajah bangga.


“Kakak menyeramkan,” ucap Lucian frontal.


“Kenapa?” tanya Suzanne bingung.


Lucian hanya diam, wajah bingung kakaknya entah mengapa membuat ia takut.


Dia bahkan lebih menyeramkan dari pada ayah, komentar Lucian dalam hati.


Kenapa lagi anak ini? Tiba-tiba bilang aku menyeramkan lalu diam, dasar aneh, batin Suzanne mencela sang adik.


“Kapan eksekusinya? Dan akan dilakukan dengan tertutup atau terbuka?” tanya Suzanne pada Kaisar Taylor.


“Seminggu lagi, di alun-alun ibu kota,” jawab Kaisar Taylor.


“Baguslah kalau begitu, aku akan ke ruang kerjaku,” Suzanne menjeda ucapannya, “Ah, benar juga, ada yang melihat di mana Javier? Aku perlu berbicara dengannya,” tanya Suzanne.


Oliver memicing garang, ia tidak suka dengan fakta bahwa Javier adalah orang pertama yang adiknya cari setelah tertidur selama dua hari.


“Kak, harusnya kakak menanyai kabar kami dan menghabiskan waktu dengan kami dulu, baru mencari Grand Duke itu, memangnya dia siapanya kakak!” ucap Lucian tanpa takut.


Lucian, aku setuju denganmu! Batin Oliver dan Kaisar Taylor kompak.


Suzanne mengernyit, “Lucian aku rasa kau sakit, sedari tadi kamu bertingkah aneh.”


“Apanya yang aneh, aku hanya tidak suka kakak menghabiskan banyak waktu dengan Grand Duke menyebalkan itu!” balas Lucian kesal.


Lucian, kau sangat cerdas, batin Oliver bangga.


“Lucian, dia temanku, dan aku menyukainya jadi tidak salah kalau aku ingin menghabiskan banyak waktu dengannya,” ucap Suzanne asal.


Suzanne menggeleng pelan, ia kemudian pergi begitu saja dari ruang makan, meninggalkah ayah dan dua saudaranya yang sedang mencerna perkataannya.


“Kakak bilang, kakak menyukai si Grand Duke itu,” jawab Lucian dengan nada kesal.


“Harusnya aku menyingkirkannya dari dulu,” geram Kaisar Taylor.


“Menyebalkan, aku membencinya!” umpat Lucian kesal.


“Javier, aku pasti akan menghabisimu!”


*


Javier menatap Suzanne dengan tatapan horor, putri yang satu itu baru saja meminta ia untuk menemaninya berkeliling ibu kota, tanpa memberitahu keluarganya.


Yang mulia? Anda benar-benar membenci saya? Saya bisa mati kalau keluarga Anda tahu, batin Javier kesal sendiri.


“Baik, Yang mulia, sesuai keinginan Anda,” sialnya, hanya itu yang bisa Javier ucapkan.


“Bagus, kalau begitu aku akan bersiap dan kau bisa langsung membawaku berteleportasi ke sana, iya kan?”


Tentu saja tidak, “benar yang mulia.”


Yap, begitulah yang terjadi sampai akhirnya mereka benar-benar ada di ibu kota. Suzanne sibuk membeli berbagai jajanan, sementara Javier hanya mengikuti semua yang sang putri lakukan.


Suzanne juga mampir ke toko perhiasan dan membelikan Javier sebuah bros, yang Javier harap keluarga Kaisar tidak akan tahu tentang ini, karena ia masih belum mau mati muda.


“Kau menyukainya?” tanya Suzanne dengan nada cerianya.


“Tentu saja,” balas Javier, dan aku harap keluargamu tidak tahu tentang ini, karena aku benar-benar belum mau mati muda, lanjut Javier dalam hati.


“Vier, lihat, bukankah itu patung ayahmu?”


Javier menoleh ke arah yang Suzanne tunjuk, dan benar, itu adalah patung ayahnya yang sedang memegang pedang layaknya pahlawan dalam sejarah.


“Dia terlihat sangat keren,” puji Suzanne.


Javier hanya terdiam, ia jadi merindukan suara bawel ayahnya yang memarahinya saat ia bolos latihan pedang.


“Dulu ayah sangat suka membanggakan Anda di depan saya,” ucap Javier pelan.


“Tentu saja, bagaimanapun juga, aku memang lebih pandai dalam segi apa pun dari pada kau,” balas Suzanne sombong.


Javier tertawa, “Anda memang Tuan putri yang saya kenal.”


Suzanne ikut tertawa, “tentu saja aku adalah Suzanne yang kau kenal, memangnya kau kenal berapa Suzanne?”


“Saya hanya kenal satu gadis, dan itu hanya Anda,” ucap Javier berniat menggoda sang putri.


“Ah, sayang sekali, ternyata lingkup pertemananmu sangat sempit,” cibir Suzanne.


Selain menyebalkan, kau juga terlalu polos, batin Javier kesal.


“Vier, aku ingin menikmati momen ini sedikit lebih lama, tapi aku ingat ada banyak dokumen yang harus aku kerjakan, jadi ayo kembali,” ajak Suzanne.


Javier tersenyum kecil, “baiklah, mari Yang mulia.”


*


Suzanne duduk di balkon ruang kerjanya, menatap bulan yang bersinar terang di langit yang gelap. Yap, benar sekali ia kembali dari ibu kota saat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan tentu saja ia langsung meminta Javier untuk pulang.


Ia sendiri tidak bisa fokus bekerja karena pikirannya belum juga tenang. Ia juga tidak bisa tidur karena ia belum mengantuk sama sekali, yah, tentu saja ia tidak mengantuk, setelah tidur dua hari penuh, mana mungkin ia bisa mengantuk secepat itu.


Suzanne membaca dokumen yang ia pegang, itu adalah laporan keuangan dari barak militer. Suzanne memperhatikan seragam kesatria yang di pakai oleh para penjaga dan baginya seragam itu mulai terasa membosankan untuk di pandang.


Suzanne tersenyum senang karena akhirnya dia punya sesuatu untuk di kerjakan. Yap, benar sekali, Suzanne menggambar desain baru untuk seragam kesatria dan maid. Ia akan memperlihatkannya pada ayah dan kakaknya esok hari, dan jika mereka setuju, ia akan langsung mengirim desainnya pada Countess Sylvia agar sang Countess bisa membuatkannya untuk para kesatria dan maid.


Bibir Suzanne menyunggingkan senyum puas ketika desainnya akhirnya jadi, “aku harap ayah dan kakak menyukainya, aku jadi tidak sabar menunggu hari esok.”