The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
part 27



Suzanne membuka matanya perlahan, ia menoleh ke samping dan mendapati adiknya yang masih tertidur. Ia bangkit perlahan dan langsung bersiap di bantu oleh Selena yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping ranjangnya.


Suzanne kemudian langsung pergi ke tempat berlatih, di tengah jalan, ia bertemu dengan Eliano yang sepertinya tidak tahu apa yang akan ia lakukan hari ini, jadi Suzanne memutuskan untuk mengajaknya berlatih pedang.


Dan, di sinilah mereka sekarang di tempat latihan dengan semua kesatria yang kini menyaksikan Eliano berlatih pedang dengan Suzanne sebagai pelatihnya.


“Kakak!”


Suzanne menghentikan latihannya, ia berbalik dan menatap adiknya yang berdiri di samping Selena dengan raut wajah yang kurang menyenangkan.


Suzanne mengedarkan pandangannya, ia kemudian meminta salah satu kesatria senior untuk melatih Eliano sementara ia menghampiri sang adik.


“Ada apa?” tanya Suzanne.


“Kenapa kakak meninggalkanku di kamar sendirian?” tanya Lucian ketus, terlebih lagi untuk bertemu bocah itu, lanjut Lucian dalam hati.


“Ah, kamu masih tertidur lelap, kakak tidak tega membangunkanmu,” jawab Suzanne lembut.


Eliano menatap kedua adik kakak itu dari kejauhan, sejak kemarin, ia tahu bahwa Lucian tidak suka ia dekat dengan kakaknya, ia bisa merasakan tatapan mengerikan Lucian setiap kali Suzanne memperhatikannya.


Eliano tersenyum kecil, baginya, ini adalah keluarga kerajaan yang berbeda dari semua kerajaan-kerajaan yang pernah ia datangi, keluarga ini tidak memperlihatkan perebutan kekuasaan dan justru ia melihat kedua pangeran yang seakan berebut untuk mendapat perhatian lebih dari saudari mereka.


Eliano tidak ketakutan, ia juga tidak pernah tersesat apalagi dijadikan budak, ia memang sengaja pergi ke sini untuk menyelamatkan rakyatnya yang ternyata sudah di selamatkan oleh sang putri.


Eliano sengaja berbaring dan sengaja melukai dirinya sendiri hanya untuk mendekat pada Suzanne, ia juga sengaja membuat dirinya jatuh untuk menjauhkan Suzanne dari adiknya itu.


Eliano juga berbohong soal umurnya, umurnya bukan seratus tahun melainkan 250 tahun, ia juga sengaja membuat tampilannya seperti anak kecil agar Suzanne lebih memperhatikannya.


Dan sekarang, ketika ia sengaja berpapasan dengan Suzanne ia berakhir menjadi murid berpedang Suzanne walaupun sejatinya ia adalah seorang sword master.


Eliano mulai kesal karena Lucian yang terlalu lama berbicara dengan Suzanne, ia kemudian dengan sengaja menjatuhkan pedangnya untuk menarik perhatian Suzanne. Dan benar saja, Suzanne langsung berbalik dan berlari ke arahnya dengan wajah khawatir.


“Astaga, apa kau baik-baik saja?” tanya Suzanne cemas.


“Ah, iya, tanganku hanya sedikit lemas, jadi pedangku jatuh,” jawab Eliano sepenuhnya bohong.


“Astaga, apa kau masih sakit? Seharusnya aku tidak mengajakmu berlatih hari ini, maafkan aku,” ucap Suzanne merasa bersalah.


“Ah, tidak apa-apa, aku yang mau ikut bersamamu, jadi ini bukan salahmu,” balas Eliano menenangkan.


Aku tidak bermaksud membuatmu merasa bersalah, batin Eliano kesal sendiri.


Ia melirik ke arah Lucian yang masih berdiri di tempatnya, dan ia bisa melihat dengan jelas wajah Lucian yang seakan ingin membunuhnya.


Astaga, pangeran kecil yang imut, batin Eliano mengejek.


“Kau mau kembali ke kamar saja? Bagaimana pun juga kau harus menyimpan tenagamu untuk perjalanan kita besok lusa,” ucap Suzanne.


Eliano tersentak, ah, benar juga besok lusa dia akan mengantarku pulang, bagaimana ini, aku masih belum mau pulang. Apa aku harus pura-pura sakit lagi? Ah, tidak-tidak, meskipun polos, dia ini pintar, bisa-bisa dia curiga nanti. Ahhhh, aku masih mau di sini! Batin Eliano frustrasi.


“Eliano?”


Eliano tersadar, “Ya?”


“Kau mau kembali ke kamar?” Suzanne mengulang pertanyaannya.


“Ah, iya,” jawab Eliano spontan.


Suzanne tersenyum, “kembalilah bersama Selena, aku harus membujuk adikku yang sedang merajuk itu, kalau tidak urusannya akan panjang.”


Ah, dia sedang merajuk rupanya, batin Eliano menertawakan Lucian.


Yah, untuk sekarang aku akan mengalah padamu, tapi aku akan mencari cara agar perhatian putri ini hanya tertuju padaku, batin Eliano bertekad.


“Eliano?”


“Ah, iya?”


“Astaga, kau melamun lagi,” omel Suzanne.


“Ah, maafkan aku,” balas Eliano pelan.


“Jadi, kau mau kembali ke kamar bersama Selena?” tanya Suzanne lagi.


Eliano mengangguk.


“Bagus, kalau gitu sampai jumpa lagi,” Suzanne melambaikan tangannya.


“Sampai jumpa lagi, tuan putri.”


*


“Kau tertarik pada putri kaisar?”


Eliano mengangguk, ia sedang menghubungi ayahnya dari bola komunikasi yang memang ia bawa.


“Jangan protes, bibi juga menikah dengan manusia kan?” sela Eliano sebelum sang ayah memberikan komentarnya.


“Eliano, kau tahu itu berakhir seperti apa,” ucap sang ibu pelan.


“Aku tahu,” balas Eliano.


“Eliano, biar ayah perjelas, kamu adalah putra mahkota yang sebentar lagi akan di angkat menjadi raja, kamu perlu ratu yang bisa hidup lama, bukan seorang manusia yang memiliki umur pendek,” ucap Raja Ruffen menasihati.


“Ayah, mencintai bukan berarti memiliki kan? Aku hanya ingin dia ada di sampingku selama beberapa saat saja, aku hanya ingin melihat orang yang aku sukai memperhatikanku, itu saja,” balas Eliano pelan.


“Eliano ... jika dia ada di sampingmu, bagaimana dengan kehidupannya? Dia punya kehidupan sendiri, dia juga pasti punya orang yang dia sukai, dia juga sama sepertimu, ingin berada di dekat orang yang dia sukai,” ucap sang ibu lembut.


“Ibu ... jangan membuat aku jadi ingin memilikinya.”


“Begini saja, kau bisa melakukan apa saja yang kau mau jika dia punya perasaan yang sama denganmu, asal jangan menyakitinya,” ucap Raja Ruffen memberi saran.


“Maksud ayah, ayah mau aku menggodanya, begitu?”


“Yah, apa pun itu yang penting buat dia balik menyukaimu.”


“Ayah, yang benar saja, besok lusa dia sudah akan mengantarku pulang, memangnya apa yang bisa aku lakukan dalam satu hari?”


“Ayah akan membantu membuat dia tinggal di sini sementara waktu, jadi selama dia ada di sini, lakukan apa saja yang kamu bisa untuk membuat dia menyukaimu.”


“Ayah, aku saja sedang berpura-pura menjadi anak kecil di sini, aku bahkan berbohong soal usiaku dan penampilanku!”


“Itu masalahmu, terserah saja bagaimana kau menjelaskannya nanti, semoga berhasil putra mahkota,” ucap sang ayah sebelum memutuskan sambungannya.


Eliano menggeram pelan, “dasar ayah sialan!”


*


Eliano duduk dengan pikiran yang melayang entah ke mana. Yap, hari ini adalah hari kepulangannya dan dia bahkan sudah berada di kerta kuda bersama Suzanne tapi ia sama sekali belum memikirkan cara untuk mengatakan yang sebenarnya pada tuan putri itu.


Sial, aku bahkan tidak tahu sisa sehariku kemarin aku lakukan untuk apa, aku benar-benar bingung, batin Eliano Frustrasi.


“Eliano,” panggil Suzanne menarik Eliano dari lamunannya.


“Ya?”


“Aku hanya bertanya untuk memastikan, ayahmu tidak menakutkan kan?”


Eliano terdiam sejenak, “maksudnya?”


“Maksudku, dia tidak mengeluarkan api dari mulutnya atau semacamnya kan?”


Eliano tertegun, sesaat kemudian tawanya pecah, membuat Suzanne mendelik kesal.


Astaga, ternyata dia yang pintar ini juga tidak banyak tahu tentang ras naga, batin Eliano.


“Ayahku tidak seperti itu, ras kami tidak menyemburkan api dari mulut atau semacamnya, kami menggunakan sihir elemen,” jelas Eliano setelah tawanya mereda.


“Syukurlah,” gumam Suzanne pelan, “Apa dia setampan kamu?” tanya Suzanne lagi.


Eliano terdiam, dia baru saja menyebutku tampan?


“Eliano?”


“Ah, ya? Kenapa kau bertanya?” tanya Eliano spontan.


“Ah, hanya ingin memastikan.”


“Tampan,” ucap Eliano, walaupun tidak setampan aku, lanjutnya dalam hati.


“Begitukah?”


Eliano hanya mengangguk.


Suzanne terdiam sejenak, ia kemudian bertanya, “ayahmu tidak akan marah padaku kan?”


Eliano menatap Suzanne beberapa saat, jadi meskipun bertingkah sok kuat, kamu takut juga rupanya, batin Eliano.


“Ayah tidak akan marah pada orang yang sudah membantu rakyat dan putranya,” jawab Eliano.


“Maaf aku sedikit gugup, jadi banyak bertanya.”


Eliano tersenyum, “tidak masalah, aku juga banyak bertanya padamu kemarin-kemarin.”


“Kalau ayahku memarahimu aku akan membelamu, tenang saja,” ucap Eliano mencoba menenangkan.


Suzanne tertawa kecil, ia kemudian mengusap kepala Eliano gemas, “baiklah, terima kasih pangeran.”


Eliano membeku, sial, jantungku hampir meledak!