The Villainess Decided To Be Happy

The Villainess Decided To Be Happy
End



Suzanne masuk ke aula pesta dengan Javier sebagai escortnya, dan tentu saja sempat ada perdebatan tentang ini dan Suzanne memenangkannya.


Suzanne melakukan dansa pertamanya bersama Javier, ini adalah kali pertama ia berdansa dengan tenang bersama Javier.


“Javier, selama bekerja bersamaku, apa yang kau rasakan?” tanya Suzanne di sela dansanya.


“Saya senang, Tuan putri, bisa membantu setiap kegiatan Anda adalah kebanggaan tersendiri bagi saya,” jawab Javier.


“Javier, apa kau menyukaiku?”


Javier terdiam, ia menatap sang putri dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


“Katakan saja, aku ingin mendengarnya.”


“Saya menyukai Anda, Tuan putri.”


“Aku juga menyukaimu,” ucap Suzanne sebelum ia melepas genggaman Javier dan meninggalkan lelaki itu mematung di sana.


“Barusan apa yang kudengar?” gumam Javier pelan, wajahnya memerah sampai ke telinga.


Javier menatap Suzanne yang kini sedang berdansa dengan Oliver, ia kemudian menyingkir dan berdiri di pinggiran dengan mata yang tidak lepas dari Suzanne.


Sementara itu, Suzanne berdansa dengan kakaknya tanpa ketenangan, sang kakak terus bertanya apa yang ia dan Javier bicarakan tadi.


“Kak, itu rahasia, berhentilah bertanya padaku, kalau memang ingin tahu, tanyakan saja pada Javier nanti!” seru Suzanne kesal.


“Baiklah, maafkan aku.”


“Kak, aku hanya ingin tahu, apa selama ini aku sudah jadi adik yang baik bagimu?” tanya Suzanne.


Oliver tertawa kecil, “kau yang terbaik!”


“Aku tahu ini terdengar kekanakan, tapi antara aku dan Lucian, kakak lebih sayang siapa?”


Oliver mengerutkan keningnya, “pertanyaanmu aneh hari ini, tapi biar kakak jawab, kakak sayang kalian berdua, tapi kamu adalah adik perempuanku, jadi aku lebih menyayangimu, jangan beritahu Lucian tentang hal ini.”


Suzanne tertawa, “terima kasih kak, aku juga sangat menyayangimu.”


“Lebih dari ayah?”


“Tidak!”


“Lebih dari Lucian?”


“Eum ... ukurannya hampir sama.”


Oliver tertawa, “baiklah, aku cukup puas.”


Suzanne meninggalkan sang kakak, kini beralih pada sang ayah. Keduanya berdiri di lantai dasa dan berdansa dengan indah.


“Kenapa menaruh ayah di urutan terakhir?” tanya Kaisar Taylor.


“Entahlah, mungkin karena aku ingin berdansa lebih lama dengan ayah,” jawab Suzanne sembari tersenyum kecil.


“Jawaban yang memuaskan!”


Suzanne tersenyum kecil, tangannya mengusap wajah sang ayah dengan lembut.


“Papa, ayo bertemu lagi di kehidupan selanjutnya,” bisik Suzanne pelan.


Kaisar Taylor tersenyum, “tentu saja, dengan senang hati.”


Tubuh Suzanne meluruh, membuat Kaisar Taylor panik, Oliver, Lucian dan Javier yang melihat dari kejauhan langsung menerobos kerumunan dan mendekat ke arah ayah dan anak itu.


“Semuanya, tinggalkan aula ini sekarang!” titah Oliver keras.


Para kesatria segera membantu semua tamu undangan keluar dari Aula, meninggalkan keluarga kekaisaran bersama si kembar dan Javier.


“Daniel ...”


“Ayah ... hentikan, aku lelah,” bisik Suzanne nyaris tak terdengar.


“Ini menyakitkan, apa pun yang kalian lakukan, rasanya tetap menyakitkan, aku ingin berhenti,” ucap Suzanne pelan, tangannya menggenggam erat kalung pemberian Ratu Alenia.


Beberapa saat kemudian, Ratu Alenia muncul bersama seluruh keluarganya, seakan tahu bahwa Suzanne hanya memanggilnya untuk berpamitan.


Eliano, masih dengan wujud kecilnya, mendekat dan menggenggam tangan Suzanne.


“Ada apa ini? Apa yang terjadi?” tanya Eliano pelan.


“Pangeran, maaf, waktuku di sini sudah habis,” lirih Suzanne.


“Anne, aku ...”


“Aku tahu,” sambar Suzanne sebelum Eliano menyelesaikan kalimatnya, “aku tahu kalau kau adalah putra mahkota.”


Eliano mendongak, ia menatap Suzanne tak percaya, “sejak kapan?”


“Sejak Elian memperkenalkan diri sebagai pangeran pertama alih-alih sebagai putra mahkota.”


“Maaf,” lirih Eliano, perlahan kembali ke wujud dewasanya.


Kaisar Taylor maupun Oliver tidak peduli dengan pengakuan Eliano, mereka hanya menatap Suzanne yang semakin lama semakin memucat.


“Anne ... papa belum siap melepasmu,” lirih Kaisar Taylor.


“Tapi aku lelah, aku kesakitan, dan aku sudah mencapai batasku. Papa, kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya, aku berjanji.”


“Tidak ada yang bisa menjaminnya.”


“Kaisar, putrimu kelelahan, lepaskan dia,” ucap Ratu Alenia bijak.


Kaisar Taylor menunduk, ia mencium kening putrinya dengan air mata yang terus mengalir.


“Baiklah, putri ayah lelah? Istirahatlah, tidurlah dengan tenang, temui ibumu dan peluk dia, sekarang, kau sudah menjadi tanggung jawab ibumu, lagi,” bisik Kaisar Taylor serak.


Suzanne tersenyum kecil sebelum akhirnya matanya benar-benar tertutup untuk selamanya.


Suzanne mengakhiri kisahnya, diiringi isak tangis keluarga dan orang-orang terdekatnya. Putri pemberani itu menutup kisahnya bahkan sebelum ia genap menginjak usia dua puluh tahun.


“Selamat tidur, putri cantik ayah, dan selamat ulang tahun.”


*


Tubuh Suzanne terbujur kaku di dalam peti indah berhiaskan bunga, wajahnya tampak sangat damai, membuat siapa pun yang melihat hanya ingin melihatnya kembali berbicara.


“Tuan putri, saya melepas Anda untuk pergi ke pesta, bukan pergi bersama Ratu,” lirih Selena, ia mendapat izin untuk melihat wajah tuan putrinya untuk yang terakhir kali.


“Yang mulia, kalau Anda bertemu sir Doughlass tolong sampaikan kalau saya kembali menitipkan Anda padanya. Yang mulia, terima kasih sudah menolong saya, selamat tidur, dan sampai jumpa di kehidupan selanjutnya.”


Selena menunduk, meletakkan bunga yang ia bawa di peti sang putri, ia kemudian berbalik dan bergabung dengan pelayat lainnya di belakang sana.


Doreen maju, ia juga mendapat izin dari Kaisar untuk melihat sang putri, ia berdiri diam di samping peti Suzanne, tangannya bergetar, ia menyentuh wajah dingin Suzanne sebelum kembali menarik tangannya.


“Anda sangat cantik, Yang mulia, sama seperti biasanya, Anda selalu cantik. Yang mulia, maaf karena saya tidak datang di pemakaman Doughlass, saya hanya tidak kuat melihat kekasih saya di telan tanah. Dan sekarang, Anda juga mengikutinya. Yang mulia, mari bertemu lagi di kehidupan selanjutnya, dan mari menjadi dekat lagi.”


Doreen berbalik, ia tidak kuat melihat wajah pucat Suzanne lebih lama lagi.


Kini giliran Javier, ia duduk diam cukup lama di samping peti sang putri, ia menyentuh wajah Suzanne dengan tangan yang bergetar hebat.


“Hebat sekali, Anda mengungkapkan perasaan Anda lalu dengan egoisnya pergi meninggalkan saya? Anda sungguh jahat, Yang mulia. Sekarang apa yang harus saya lakukan? Saya sendirian, saya kehilangan arah Yang mulia. Anne, mari bertemu lagi di kehidupan selanjutnya, selanjutnya, ayo bertemu secara normal dan ayo jadi pasangan yang normal. Aku akan terus menunggumu.”


“Meski aku harus mati dan hidup lagi dan terus begitu untuk bertemu lagi denganmu, aku akan melakukannya, aku akan meminta untuk dipertemukan lagi denganmu di kehidupan selanjutnya apa pun konsekuensinya. Jadi, ayo bertemu lagi. Untuk sekarang, selamat tidur tuan putriku.”


Javier mundur, bergabung dengan para pelayat lain. Ia menatap pendeta yang mulai naik podium, pertanda bahwa doa akan di mulai.


Doa bersama di mulai, bersamaan dengan jasad Suzanne yang mulai melebur, menjadi serpihan-serpihan cahaya yang tidak bisa di raih.


“Selamat jalan, Tuan putri.”