The Strongest Hybrid

The Strongest Hybrid
CH 07:Pembalasan Dendam



Waktu menunjukan bahwa panas sudah terik dan pertandingan antara Astrea De Reiven melawan Stone Hopper pun di mulai, pertandingan mereka berlangsung sangat sengit karena mereka berdua memiliki sihir yang sangat besar, mereka berdua juga murid berprestasi dari Great Magic School.


Astrea adalah pengguna sihir api, sedangkan Stone adalah pengguna sihir air, di dunia ada 6 elemen yaitu air, api, tanah, angin, cahaya dan terakhir dan yang paling kuat dan langkah yaitu kegelapan.


Astrea bertanding curang dengan menaruh jebakan di sebuah titik area pertandingan, pada pertandingan saat ini menaruh jebakan sebelum pertandingan dimulai adalah hal yang curang,tetapi tidak ada yang menyadari akan hal tersebut.


Pertandingan antara kedua anak berbakat itu sangat sengit, mereka beradu sihir mereka dan sangat imbang karena tingkat kekuatan sihir dan mana mereka bisa dibilang sama.


"Big Fire Ball" teriak Astrea yang merapalkan sihir apinya tanpa membaca mantra panjang nya karena tongkat sihir andalanya.


"Wahai air, lindungilah diriku dari serangan musuh, Water Wall." teriak Stone merapalkan sihir airnya. Mereka beradu sihir sangat lama karena sihir mereka saling bertolak belakang dan sama sama kuat, dan pada akhirnya Stone melakukan blunder dan berhasil di pojokan oleh Astrea,dia tidak tau jika Astrea memberi jebakan.


Astrea menyerang Stone dengan sihirnya lalu sontak Stone menghindar dan terkena jebakan milik Astrea dan akhirnya Stone kalah dengan serangan terakhir dari Astrea dan astrea pun masuk ke babak 1/4 final.


Pertandingan peserta lainya berlanjut, peserta yang bertanding berikutnya adalah adik dari Stone Hopper sendiri yaitu Alex Hopper melawan Leon Ramsey seorang anak dari petualang terkenal di Holy Kingdom bernama Ramsey.


Kedua peserta tersebut bertarung dan Leon menjadi pemenang pertandingan tersebut.


Pertandingan yang selanjutnya adalah pertarungan antara dua murid sihir Great Magic school, salah satu di antaranya adalah seorang wanita yang ahli dalam sihir cahaya sekaligus dia adalah seorang "Summoner" atau orang yang dapat memanggil roh atau monster untuk membantunya.


Dia juga murid sihir sekaligus anak yang mengurus murid sihir yang terluka karena sihir penyembuhan termasuk sihir cahaya, lawanya adalah anak yang berbakat sihir tanah yang bernama Reinhart.


Pada saat pertandingan mereka di mulai, Wanita itu langsung memanggil sebuah roh dengan merapalkan ya layaknya sihir.


"Sihir pemanggilan level 3:wahai roh air penuhilah panggilan ku, bantulah diriku melawan musuhku, datanglah Nicht."


lalu sebuah cahaya muncul dan berubah menjadi sesuatu yang di sebut "Roh" dan mereka bertanding hebat.


"wahh, hebatt, ternyata banyak sihir yang tak ku ketahui, mungkin aku akan membujuk pak Rexar agar mengajariku cara memanggil Makhluk sihir," batin Mathius.


"Sihir roh air, Flash Flood." teriak wanita itu dan Roh air Nicht mengeluarkan air ber volume besar untuk menyerang Reinhart.


di karenakan Roh air Nicht yang di panggil wanita itu sangat hebat, Reinhart kewalahan dan di kalahkan oleh wanita itu, dia pun masuk ke 1/4 final yang di mana tersisa 4 peserta yaitu Mathius Twilight, Astrea De Reiven, Leon Ramsey, dan seorang wanita yang Mathius belum tau namanya.


Hari sudah petang dan menjelang malam para juri memutuskan untuk melanjutkan pertandingannya esok hari, Rexar dan Mathius pun pulang menaiki Mighty Dragon sedangkan Solid dan Tobias di jemput kereta kerajaan karena Great Magic School berasa tak jauh dari Kerajaan Holy Kingdom.


"Sampai jumpa besok Kak Solid, Tobichi lihatlah pertandingan ku besok yaa," teriak Mathius sambil melambai kan tangan.


"Sampai jumpa Besok Machi aku akan melihat pertandinganmu besok." jawab Tobias.


begitulah ucapan perpisahan mereka di hari itu.


Pada saat di rumah


"aku pulang Ayah, Ibu ku tercinta," ucap Mathius.


"waah wah, Mathius ku sudah pulang, bagaimana pertandinganya? jika kamu gagal katakan saja, ibu akan menerimanya kok," jawab ibunya.


"tetapi bu...."


"tenang saja, memang wajar jika kamu kalah karena kamu baru berumur 2 tahun," ucap ibunya.


"hei kau tidak bercanda kan?" tanya Ayah Mathius.


"tentu saja tidak, kalau tidak percaya tanya saja ke penyihir Rexar," jawab Mathius.


"ohh Mathius kau memang anak ku yang berbakat (sambil memeluk Mathius) yah hari ini mau makan apa? Ayah baru saja mendapat banyak uang dan anggap saja perayaan kemenanganmu."ucap ayahnya.


Sangat kebetulan pada hari itu adalah hari perayaan panen tahunan desa Wildsand, pada tahun itu suku Wildsand mendapatkan panen gandum dan beras yang sangat besar tak hanya hasil hutan, di perayaan banyak orang yang mendirikan stan makanan yang berasal dari hasil kebun.


Tak hanya itu banyak juga orang suku Wildsand yang membudidaya ikan di hutan dan menjual aneka ragam makanan dari ikan.


Malam itu Ayah dan Ibu Mathius mengajaknya ke perayaan itu untuk bersenang senang, mereka pun pergi bersama untuk mengikuti perayaan juga.


di Perayaan panen pada umunya biasanya akan banyak penjual aneka ragam makanan hasil panen, tetapi di suku Wildsand mereka mengenal tradisi Tarian Persembahan untuk Dewa dimana ada sesi menari di perayaan tersebut dan yang datang pada perayaan tersebut harus ikut serta dalam sesi menari.


...****************...


"waaahhhhhh banyak sekali orang yang berjualan, aku mau beli ini, itu dan itu juga, wahh keliatanya enak," ucap Mathius dengan suasana hati yang bahagia.


"hahaha, belilah semuanya Ayah yang akan mentraktir nya," jawab ayahnya.


"Ayah, apakah perayaan ini selalu dirayakan setiap tahun? mengapa tahun lalu aku tidak tau?" tanya Mathius.


"yah tahun lalu kamu seperti anak berumur 4 tahun walaupun kau masih berumur 1 tahun, Ayah khawatir jika kamu kenapa napa makanya kita sekeluarga tidak ke perayaan tahun lalu,"jawab ayahnya.


"ohh seperti itu."


lalu Mathius membeli banyak makanan yang ada di perayaan dan memakan ya dengan sangat senang.


"Ayah,ibu aku ingin pergi sendiri apakah boleh?" tanya Mathius.


"iya boleh, tetapi berhati hati lah ya, Ayah dan ibu akan menunggu mu di balai desa,jangan lupa untuk pergi ke sana saat sesi menari ya," jawab ayahnya.


"hemm baik."


"oh iya bawalah uang ibu(sambil memberi beberapa koin perak) , gunakanlah sesukamu ya," ucap ibunya.


"Terima kasih ibu." jawab Mathius, Mathius pun bersenang senang di perayaan tersebut.


"sayang, tak kusangka kita akan memiliki anak hebat seperti Mathius," ucap Sintya(Ibu Mathius).


"iya sayang aku juga tak pernah menduganya, anak berwajah pucat dan menangis di dekat kolam air tengah tengah gurun pasir kini menjadi seorang anak kecil berbakat yang ceria," jawab Rangga(Ayah Mathius).


"aku sangat bersukur Mathius hadir dan mengisi kekosongan di kehidupan kita(bersandar di dada Rangga)." ucap Sintya.


Malam itu malam perayaan Tahunan yang ramai dan meriah saat itu sesi menari akan tiba dan Kepala Desa meminta seluruh warga berkumpul di balai desa, dan pada saat mereka berkumpul, Tidak di sangka sebuah anak panah meluncur dari arah utara dan kepala desa pun sontak berteriak


"Kita Diseraaangg!!! persiapkan diri kalian."