
Pagi setelah rombongan Mathius keluar dari hutan, mereka pun melanjutkan perjalanan dengan sangat damai, itu karena Lust dan Minos mengawasi perjalan rombongan Mathius dari balik bayangan.
Lagipula para monster tidak akan berani menyerang Mathius, karena orang yang memiliki hubungan dengan Raja Iblis pasti juga akan di lindungi para monster, para monster juga akan tunduk dan patuh terhadap perintahnya.
"Huuuhhh perjalanannya damai sekali, ya," ucap Shella.
"Hmm? memangnya kenapa kalau damai begini? kan lebih enak," tanya Mathius.
"Ya bagaimana ya? rasanya kalau tidak ada halangan itu tidak seru," jawab Shella.
"Hahaha, kamu masih terlalu lemah untuk mengatakan itu, Wahai Shella," ujar Mathius.
"Ke-kenapa kau berkata begitu Mathius?" ucap Shella.
"Itu karena aku mengatakan kenyataan bahwa kamu lemah Shella," ujar Mathius dengan senyuman.
"Hmpphh!"
"Hahaha, aku bercanda Shella," ucap Mathius.
"Hmm ya sudahlah......... Hei Mathius, bagaimana caranya agar bisa menjadi kuat seperti mu?" tanya Shella. Mathius yang di beri pertanyaan seperti itu menjadi kebingungan karena dia adalah Iblis setengah Malaikat maka dari itu kekuatan nya sangat besar.
"Ehh apakah aku kuat menurut mu?" ujar Mathius.
"iya Mathius, dilihat dari auramu saja sudah kelihatan kalau kau sangat kuat," ucap Shella.
Sudut pandang Mathius:
Ahh bagaimana ini? Shella bertanya padaku seputar kekuatan ku, bagaimana ini? aku harus menjawab apa ya? Berbohong... Ya berbohong, aku harus berbohong.
...****************...
"Ehh, aku hanya sedikit berbakat Shella, aku juga sering berlatih sihir sekaligus kemampuan fisik dengan ayah dan Ibuku," ujar Mathius.
"Begitu ya?" ucap Shella.
"ya, seperti itulah," ucap Mathius.
Sudut pandang Mathius:
"Tuan Mathius? saya ada di utara anda(samping kanan Mathius)di balik batu besar, Kata Tuan, Tuan ingin bertemu dengan tuan Minos," ucap Lust dengan telepati.
"Oh iya, aku akan menghampiri mu," jawabku dengan telepati.
Pantas saja aku merasakan sesuatu yang mengerikan di sana(menghadap ke sebuah batu besar di kanannya), mungkin saja itu adalah Lust dan Minos.
...****************...
"Pak Kusir!!"teriak Mathius.
"Ada apa nak?" jawab pak kusir 2.
"tolong berhenti sebentar! aku ingin buang air dulu," ucap Mathius.
Kereta kuda pun berhenti, Mathius pun menghampiri batu besar yang di maksud Lust, saat Mathius melihat ke balik batu dia sangat terkejut terheran heran karena dia melihat seekor banteng yang besarnya menghampiri batu itu, batu itu berukuran lebar sekitar 5 meter dan tinggi 7 meter.
"Hallo..... Lust..Oii.. Siapa banteng besar itu?" tanya Mathius dengan terkejut.
"Anda... Sungguh kejam tuan, sampai tidak mengenali saya hanya dengan tidak bertemu selama beberapa bulan," ucap Minos.
"Lust, ini siapa?" tanya Mathius kepada Lust.
"Haha, Ini adalah tuan Minos, anda sendiri yang bilang ingin bertemu dengan seekor sapi bukan?" ujar Lust.
"Oh jadi kau Minos ya?" tanya Mathius.
Minos pun menjawab dengan muka lesu,
"Ya... tepat sekali,saya adalah Minos, Tuan Mathius."
"Hebat sekali kau sapi perah, dulu saat aku bertemu denganmu kau tidak begitu besar," ucap Mathius.
"Sa-sapi perah? huuuuuuhh ya tuan Mathius, ini berkat anda yang memberikan nama Minos kepada saya." ujar Minos dengan wajah lesu.
"Beliau baik baik saja," ujar Lust.
"ya, meskipun beliau tadi sempat kecewa karena saya larang untuk menemui anda." ujar Minos.
"oh apakah dia ingin bertemu denganku?" tanya Mathius.
"ya, jika anda berkenan, silahkan berkunjung ke Death Abyss," ucap Minos.
"iya kalau aku ada waktu, aku akan berkunjung, oh iya Omong-omong, Lust kau belum ku beri nama ya?" tanya Mathius kepada Lust. Lust pun menjawab,
"nama? saya tidak membutuhkan nya tuan, sudah berkontrak dengan orang sehebat anda merupakan anugrah yang besar bagi saya,"
"tidak, peliharaan ku harus aku namai, setidaknya aku menamai ulang,meskipun namanya sama, Mulai sekarang kau akan ku panggil Lust," ujar Mathius.
Tiba-tiba tubuh Lust bercahaya, Lust yang awalnya berbentuk seperti anakan kecoak namun berdiri layaknya manusia dengan jubah hitam, berubah menjadi manusia kecoak dewasa dengan tubuh yang lebih kekar.
"nahh, dengan ini kau sudah resmi menjadi bawahan ku dan bawahan Vanity juga," ucap Mathius.
"Saya... sungguh berterima kasih kepada Anda tuan, tapi memberi nama Arc Demon seperti saya seharusnya mengkonsumsi mana yang sangat besar, apakah anda baik baik saja?" ujar Lust dengan bahagia sekaligus resah karena khawatir akan kondisi Mathius.
"Hahaha, kau salah jika khawatir padaku wahai Lust, aku tidak punya mana lohh," ucap Mathius.
"Ti-tidak mungkin, anda bisa merapalkan sihir yang hebat kemarin tanpa mana?" tanya Lust.
"iya, aku tidak pakai mana, tapi tidak semua orang tau akan hal ini," ujar Mathius.
"ternyata benar ucap Raja Iblis Vanity, kalau anda berasal dari dunia yang sama dengan beliau," ucap Lust.
"kalau itu, aku juga belum memastikannya sih, tapi mungkin benar yang di katakan Vanity kalau aku berasal dari langit ke dua," ujar Mathius.
"Baiklah tuan, saya rasa sudah cukup waktu nya anda menemui saya, anda di tunggu oleh rombongan anda," ujar Minos.
"iyah, nampaknya kalian juga cukup mengawal sampai disini saja, aku akan melanjutkan perjalanan ke kota Arjo," ujar Mathius.
"kalau begitu saya akan mempercepat perjalanan anda, anda silahkan kembali ke kereta kuda anda," ujar Minos.
"baiklah, sampai jumpa, aku akan pergi ke death Abyss segera," ujar Mathius.
Mathius pun kembali ke rombongan nya dan saat dia masuk ke kereta kudanya,
"Aku kembali." ucap Mathius.
Suasana nya mulai berubah, Shella diam tak menjawab, karena pada saat itu Minos memindahkan Rombongan Mathius ke garis waktu yang berbeda yaitu waktu dimana rombongan Mathius sudah sampai di kota Arjo.
Pada saat itu Mathius yang tidak terpengaruh akan waktu diam kebingungan, tapi tiba tiba Suasana nya kembali dan Shella langsung berkata,
"Wah sudah 3 hari, akhirnya kita sudah sampai,"
Sudut pandang Mathius:
Apa? 3 hari? perasaan cuma sebentar tapi sudah 3 hari? yang penting aku harus bersikap biasa saja.
...****************...
Yang baru saja terjadi yaitu rombongan Mathius berjalan melewati waktu, dan membuat nya berada di garis waktu yang berbeda kejadian itu tidak terpengaruh oleh konsep ruang karena hanya melewati waktu.
...****************...
"Yah, sangat tidak terasa 3 hari kita melakukan perjalanan ini," ucap Mathius.
"Tuan kita sudah memasuki kota Arjo," teriak kusir kuda.
"Wahh kota yang sangat indah ya," ucap Mathius dengan takjub.
"ya, aku juga sangat bersyukur bisa tinggal di kota ini," ujar Shella.
Seperti yang di ketahui kota Arjo adalah kota terbesar sekaligus ibu kota dari Holy Kingdom, semua ada di kota ini, baik barang maupun ras ras setengah manusia juga ada disini, ada Elf, Lizardman, Beastman(manusia setengah hewan) dan yang lainnya.
Rombongan Mathius pun langsung menuju tempat yang di tujunya yaitu Manela's Dwelling, penginapan paling terkenal di Holy Kingdom.