
Babak 1/8 final akan segera di mulai, ada 16 dari 64 peserta yang tersisa termasuk Mathius.Pada babak ini dan seterusnya penggunaan senjata maupun alat sihir atau pun senjata pelengkap di perbolehkan baik untuk menyerang secara fisik atau pun sihir.
Oleh karena itu penggunaan cincin sihir untuk babak ini diperbolehkan malah di anjurkan. Mathius yang tidak mengetahui akan adanya peraturan tersebut kebingungan karena dia tidak membawa satu senjata pun.
Di tengah kebingungan dia berpikir bahwa dia adalah ahli tombak dia pun memegang sebatang kayu berduri dan membayangkan kayu itu bagaikan tombak yang sangat kuat dan tak mudah patah sambil berteriak
"Berubahlah."
Dia merasa kesakitan karena banyak duri kayu itu menusuk telapak tangannya dan saat dia melihat kayu berduri yang berlumuran darahnya, kayu itu berubah menjadi sebuah tombak berwarna merah darah dengan sebuah permata berbentuk mata dibagian kepala tombak layaknya senjata keramat.
"hei, hei apakah kau bercanda Machi, bagaimana bisa?" tanya Tobias.
"ahh aku juga bingung aku tidak menyangka akan benar benar menjadi tombak, aku hanya membayangkan sebuah tombak." jawab Mathius.
"anak anak, itu terlalu berbahaya." teriak Rexar dari jauh sambil menghampiri Mathius.
Aura jahat keluar dari tombak itu karena tanpa di sadari, darah Mathius bukanlah darah biasa, karena dia adalah anak setengah Iblis dan setengah Malaikat.
Tombak itu memiliki kekuatan yang sangat besar dan pada saat Rexar mengukur kekuatan sihirnya menggunakan indra matanya dia langsung muntah dan mengatakan
"dari mana kau mendapatkan senjata ini?"
"tombak itu berasal dari sebuah kayu berduri," jawab Mathius.
"tidak mungkin, bagaimana bisa? bahkan kekuatan nya berada di luar kemampuanku, ini.. ini.. adalah senjata terkuat yang pernah aku temui kekuatanya sangat besar, ini terlalu berbahaya jika kau tidak dapat mengendalikanya," ucap Rexar.
tetapi Mathius bersih keras untuk menggunakan senjata itu dan berkata
"aku yang menciptakanya, seharusnya itu patuh kepadaku,"
"terserah saja, tetapi jika kau tidak dapat mengendalikanya, lemparkan ke langit agar tidak membahayakan orang sekitar." ujar Rexar.
Pertandingan 1/8 final di mulai dan Mathius bertanding pertama melawan seorang anak bangsa elf dengan sebuah tongkat sihir dari sebuah sekolah terpencil di ujung utara wilayah kekuasaan Holy Kingdom.
Mathius dan anak itu melakukan perkenalan diri masing masing dan namanya adalah Caliph. Caliph adalah murid dari sebuah sekolah terpencil di sebuah desa belantara bernama desa Northen Forest yang namanya di ambil dari nama hutan Northen Forest yang di tempati desa itu, ras Elf di kenal sebagai ras yang di cintai oleh mana sehingga membuat ras Elf menjadi lebih kuat baik dalam hal sihir ataupun fisik seperti Caliph yang memiliki kelebihan dalam pengendalian sihir angin hingga dia memliki julukan Caliph The Tempest di usianya yang masih muda.
Elf juga selalu di karuniai umur yang panjang hingga ratusan tahun atau bahkan ribuan, ciri ciri umum ras Elf adalah telinga mereka yang lebih panjang dan berujung lancip.
Setelah mereka berbincang cukup lama pertandingan di mulai dan Mathius mencoba kekuatan tombak miliknya melawan Caliph dan berkata
maaf kawan kau akan menjadi kelinci percobaan ku, "
"yah aku juga tidak akan menahan diri." jawab Caliph.
pertarungan dimulai dengan serangan yang di lancarkan oleh Caliph yang merapalkan sihir angin.
"Wahai angin dengarkan perintah ku, buatlah badai dan hancurkan musuhku dengan kemarahanmu, Great Storm."
Angin berhembus kencang dan membentuk sebuah pusaran badai yang sangat besar dan membuat barang barang di sekitar berhamburan. Rexar pun segera memberi penghalang di sekitar area pertandingan agar dampaknya tidak terlalu merusak fasilitas. Sihir angin itu menghampiri Mathius seperti akan menghancurkan Mathius, sontak Mathius melemparkan tombaknya ke arah pusaran angin itu dan hal yang tak terduga terjadi, pusaran angin besar yang dapat menghancurkan sekolah lenyap seketika saat terkena ujung tombak Mathius.
Semua penonton dan penilai pertandingan terkejut terheran heran karena sihir sebesar itu dapat di hentikan oleh sebuah tombak dan anehnya tombaknya langsung kembali pada Mathius layaknya Boomerang, dia berkata dalam hatinya
"uwwahhh, aku sudah menciptakan senjata yang sangat hebat, bagaimana bisa ya kira kira?apakah aku memang orang jenius? hahaha, yah sudahlah segera akhiri pertandingan ini."
"Waktunya aku membalas seranganmu." teriak Mathius.
Mathius mengeluarkan sihir api hitamnya dalam skala kecil dan melemparkan api itu ke arah Caliph, Mathius berlari ke arah belakang Caliph
"hei bukankah aku tadi masih berlari di sana menuju ke sini, tapi kenapa aku sudah sampai, apakah aku juga memiliki sihir perpindahan tempat? atau memang kecepatan ku yang sangat cepat?" kata Mathius di dalam hatinya.
"bagaimana bisa?"
"dia bukan manusia biasa."
kata itu bergema di area pertandingan karena semua heran dengan kecepatan Mathius yang di luar nalar manusia, bahkan sihir api yang di lancarkan Mathius belum sampai ke pada Caliph
"padamlah."
teriak Mathius yang berada di belakang Caliph sambil menodongkan tombaknya ke arah leher Caliph, sihir api Mathius pun lenyap.
"ehh, apakah aku sudah kalah?" ucap Caliph.
"yah kau sudah ku kalahkan." jawab Mathius.
"Pemenangnya adalah Mathius Twilight dari Desa Wildsand."teriak Wasit pertandingan.
"hahaha ternyata ini adalah kekuatan anak Hybrid dari Malaikat dan Iblis, tak pernah kusangka anak pungut itu menjadi anak yang kuat," ucap Rexar berbicara sendiri.
"ada apa Rexar?" tanya Roy.
"tidak, tidak apa apa," jawab Rexar.
"yahh anak yang kau bawa adalah anak yang hebat tak kusangka dia akan mengalahkan musuhnya dengan sekali serang," ucap Roy.
"aku juga tak menyangka." jawab Rexar.
semua orang yang menyaksikan pertandingan itu pun heran karena anak berbakat yang sampai memiliki sebuah julukan Caliph The Tempest dapat di kalahkan dengan mudahnya.
Mathius pun menghampiri Solid dan Tobias
"Kak Solid, Tobichi, aku akan masuk perempat final yey," ucap Mathius dengan perasaan senang
"selamat ya." ucap Solid.
"selamat Machi aku sudah menyangka kalau kau adalah penyihir hebat, berusahalah untuk menjadi pemenang dan harumkan nama sekolah kita," ucap Tobias.
"hmm(sambil menganggukan kepala) Terima kasih Kak Solid, Tobichi," jawab Mathius.
"yoo Mathius," ucap Caliph.
"Hai Caliph, perkenalkan ini adalah teman temanku, dia adalah kak Solid,"ucap Mathius.
"yoo" Solid menyahuti.
"dan ini adalah Tobias." ucap Mathius.
"mohon bantuannya," sahut Tobias.
"omong omong Caliph, umurmu berapa?" tanya Mathius.
"meskipun badanku seperti seumuran kalian, aku sudah berumur 25 tahun loh, tetapi kekuatanmu memang hebat ya Mathius," jawab Caliph.
"heheh, tidak juga." jawab Mathius, mereka berbincang cukup lama agar mereka menjadi akrab.
Setelah Mathius selesai bertanding, pertandingan berikutnya adalah anak dari Duke Reiven yang di ketahui memiliki nama Astrea De Reiven melawan seorang peserta dari sekolah sihir Sidelake yang berada di kota Sidelake yang di juluki kota pariwisata Kerajaan Holy Kingdom dia juga anak dari seorang bangsawan, nama anak itu sendiri adalah Stone Hopper, dia anak yang cukup berbakat dalam hal sihir serta dalam hal fisik, dia sangat lihai dalam bermain pedang, dia juga membawa pedang saat bertanding melawan Astrea yang membawa sebuah tongkat sihir yang dapat meningkatkan kekuatan sihir sekaligus dapat mempersingkat rapalan sihir, dan pertandingan mereka pun mulai.