The Strongest Hybrid

The Strongest Hybrid
CH 22:Penyihir Kegelapan Belajar Memasak



Aku Mathius Twilight sang penyihir kegelapan akan belajar memasak untuk pertama kalinya.


...****************...


Untuk pertama Kalinya aku belajar memasak, dan yang akan ku masak hari ini adalah bola bola daging yang di rebus dalam kuah cabai pedas. Aku sering memakan nya karena ibuku suka membuatkan nya untuk ayah karena bola daging adalah makanan favorit ayahku, dulu saat kulihat ibuku memasak nya kelihatanya tidak sulit sama sekali, tetapi saat aku mencobanya tak semudah yang aku bayangkan.


Yang pertama aku harus menggiling daging, memang sangat mudah karena aku menggunakan alat, hanya dengan memasukan daging ke lubang sari alat itu dan memutar tuasnya sangat mudah bukan? lalu aku me marinasi nya dengan beberapa rempah-rempah, dan setelah di marinasi di beri beberapa telur dan sedikit tepung agar bisa menjadi padat lalu bagian sulitnya adalah membentuknya menjadi bulatan.


Memang terdengar mudah atau mungkin aku yang tidak berbakat dalam hal ini. Aku berkali kali mencoba dan hasilnya malah tak berbentuk bulatan melainkan seperti batu saja, aku putus asa dan ibuku melanjutkan nya hingga adonannya habis.


Satu hal lagi yang membuatku kesulitan dalam memasak bola daging ini, yaitu membuat bumbu halus untuk kuah pedasnya.


Meskipun aku kuat, tetap saja rasanya sangat susah sekali menghaluskan bahan bahan untuk kuah pedasnya, cara menghaluskannya dengan menggunakan dua buah alat yang satu berbentuk lingkaran cembung dan yang satu lagi alat dengan bentuk seperti bola, mirip seperti lesung namun versi kecilnya.


Tadi aku sempat akan menghaluskan nya dengan sihir, tetapi ibuku langsung mencegahku dan berkata "makanan yang di buat dengan hati akan terasa lebih enak dari pada makanan yang di buat dengan sihir." saat ibuku mempraktikkan caranya, aku melihat dan berkata "huh itu mah mudah ibu" tapi saat aku mencoba, aku tidak dapat menghaluskan bahanya.


Ibu dan ayahku menertawai ku karena aku terlalu menganggap sepele cara menghaluskan bahan bahan untuk kuah pedas, Ibuku berkata "wajar saja kalau kamu tidak bisa Mathius, ayahmu saja tidak bisa melakukan ini."


Ayahku pun tertawa kecil dan aku pun menertawakan ayahku yang sama bodohnya denganku, memang keluarga yang sederhana namun dari keluarga ini aku belajar kalau bahagia itu sederhana, hanya dengan melihat senyuman orang yang ku sayangi membuatku merasa tak ingin cepat dewasa, rasanya aku tidak ingin kehilangan mereka berdua.


Setelah berusaha keras untuk menghaluskan bahan bahan untuk kuah pedasnya, ibuku menyuruhku untuk merebus bumbu halus dengan air yang cukup banyak dan memasukan semua bola daging lalu tinggal menunggunya matang sempurna.


Saat matang aroma yang di keluarkan sangatlah enak, membuatku merasa sangat lapar, meskipun ini makan pagi tapi ini bukanlah sarapan karena tadi pagi ibuku menyiapkan roti untuk sarapan, saat aku memakan nya rasa dari bola daging yang di kombinasi dengan kuah pedas terasa sangat enak dan gurih sekali, dan entah kenapa aku merasa bangga akan makanan ini, mungkin karena aku yang memasaknya hahaha.


Hari ini aku belajar kalau kekuatan tak terlalu di perlukan dalam memasak, melainkan keterampilan yang harus di asah. Alasan aku belajar memasak pada hari ini adalah mengisi hari liburku agar tidak membosankan serta kelak aku akan menjadi petualang dan hidup mandiri jadi aku harus mempersiapkan nya sejak kini.


Ada pula alasan aku memasak menu ini yaitu ibuku sedang mengidam, usia kandungnya sudah 8 bulan dan hampir 9 bulan. Omong omong usia ku sudah 3 tahun dan aku akan mendapatkan seorang adik kecil.


Setelah belajar memasak dan memakan hasil nya, aku mulai merasa bosan karena tidak ada kegiatan yang sama sekali menyenangkan di rumah, yang aku lakukan hanya bersih bersih saja, setelah makan ayahku pun berangkat bekerja, dia bekerja di sebuah tokoh peralatan yang menjadi satu dengan pandai besi, ayahku pandai dalam menempa senjata maka dari itu di bekerja di tokoh peralatan itu.


Tokoh sekaligus pandai besi itu tak hanya menjual peralatan dapur dan kebun tapi ada juga baju zirah dan bermacam macam senjata perang, terkadang pemilik tokoh menerima pesanan dari Kerajaan Suci(Holy Kingdom) dan pada saat itu ayahku selalu pulang dengan banyak uang.


Di rumah hanya ada aku dan ibuku, aku mulai bosan dan aku ingin pergi jalan jalan mumpung masih pagi dan matahari masih tidak terlalu panas, aku mencari ibuku dan ternyata dia sedang merajut sebuah selimut kecil di kamarnya.


"baiklah nak tapi jangan pulang terlalu lama, ibu ingin berbicara denganmu," ujar ibuku.


"iya baik bu."


Aku pun pergi keluar mencari kesibukan dan yang ku lakukan adalah berkeliling desa. Desa suku Wildsand memang sangat damai, meskipun di area gurun pasir tapi desa Wildsand masih punya wilayah hutan yang masih belum terlalu di jamah manusia.


Aku pergi ke tempat dimana di temukan orang tuaku yaitu di sebuah tempat yang biasa di sebut Oasis. Rasanya aku masih tidak menyangka kalau aku bukan anak kandung orang tuaku yang sekarang, meski begitu aku harus tetap tegar menerima kenyataan bahwa aku anak setengah Malaikat dan setengah Iblis.


Aku melepas bajuku dan berendam di kolam air.


"Kira kira apa yang akan terjadi jika semua orang yang ku sayangi tau kalau aku bukan manusia ya?"


Di sunyi nya gurun pasir aku berendam di kolam Oasis yang dingin dan menyegarkan bada. Saat aku ingin keluar dari dalam air, aku baru menyadari kalau ada pakaian orang selain diriku.


"punya siapa ini? dimana dia? aku bahkan tidak menyadari keberadaannya sedari tadi."


Oasis tempat aku di temukan memang tak terlalu luas namun ada 2 kolam air di Oasis ini selain itu banyak pepohonan serta semak semak yang membatasi kedua kolam.


"Dilihat dari pakaiannya ini.. Ah tidak mungkin ini pakaian wanita, mungkin saja seorang laki laki dari desa."


Aku mencari tau keberadaan orang ini dan saat aku mencoba mengintip ke kolam yang satunya, aku mendengar suara arus air dan aku merasakan keberadaan seseorang di sana.


"Heii! siapa di sana?" teriaku sambil langsung menerobos semak dan melihat ke kolam.


Dan tak ku sangka dugaan ku terhadap pakaian tadi ternyata salah. Aku melihat seorang wanita telanjang bulat dengan kulit coklat terang dengan posisi membelakangi ku, tetapi entah kenapa aku merasa kalau dia itu bukan manusia, wanita itu pun kaget dan menoleh ke arahku lalu tatapan nya membeku dengan wajah tersipu malu.


Wanita itu pun terkejut melihatku yang terdiam melongo ke arahnya yang sedang telanjang.


"Kyaaaaaaahhhhhh.........."