
"Ehhhhhh.. Tu-Tuan Tobias?????" teriak Carmilla terkejut.
"Kenapa ada Pangeran Mahkota di desa ini???" tanya Carmilla.
"ahh, aku belum bilang, teman yang ku maksud adalah Tobias sendiri dan wanita itu adalah tunangannya," ujarku.
"Selamat pagi, ehh anu?" tanya Lia.
Carmilla menjawab:"Carmilla, namaku Carmilla,"
"Selamat Pagi nona Carmilla, nama saya Lia, tunangan dari pangeran pertama Holy Kingdom, Tuan Tobias." ucap Lia.
"maaf ya, Carmilla aku jadi melibatkan mu dalam situasi yang rumit ini, hehehe," Ucapku pada Carmilla.
"aku tidak masalah padahal,"ucap Carmilla dengan suara pelan.
"Terima Kasih ya, Carmilla!" ucap ku dengan tersenyum, dan Carmilla pun terdiam menatap wajahku lalu memalingkan wajahnya dariku dan berkata:"I-Iya, Sama-sama."
Perjalanan yang senyap di dalam kereta, kami tidak berbicara sama sekali, mungkin karena ini pertama kalinya Aku dan Tobias pergi dengan perempuan, karena saat dulu aku sekolah ataupun saat kini waktu aku bekerja kami selalu pergi bertiga an yaitu aku, Tobias dan Kak Solid.
Entah kenapa perjalanan terasa sangat lama dan semua tertidur kecuali, aku. Tobias dan Lia tidur saling bersandar, sedangkan Carmilla, dia tidur di pundak ku, aku biarkan saja dia tidur dengan nyenyak, rasanya tidak enak kalau aku membangun kan nya.
Carmilla hidup sendiri di rumahnya, entah kemana kedua orang tua nya pergi, sungguh kasihan wanita cantik ini, rasanya.... Aku ingin melihatnya menangis di pelukan ku, sambil berkata "Tolong jangan pergi Mathius,Aku....Aku mencintaimu" ahh rasanya bagaimana ya kalau itu terjadi Hahaha, sepertinya aku jatuh cinta pada dua wanita cantik yang mencuri hatiku.
Sudut pandang Carmilla yang sedang tidur lelap dan memimpikan seseorang yang di duga ayah kandungnya:
"Ayah... Jangan pergi.. Ayaaaaahh!!!"
...****************...
Carmilla tidur sambil mengigau terus menyebut ayahnya dan memegang tangan Mathius dengan erat.
...****************...
"Ayah.. hikss.. Ayaah." ucap Carmilla mengigau.
"Carmilla?"
Apakah dia memimpikan seseorang? Ayahnya? dia terus memegang tanganku dengan erat, aku jadi benar-benar kasihan dengannya, aku biarkan saja.
Dia tidak bisa tidur dengan tenang, selalu saja berubah posisi, dan pada posisi akhir, dia tidur di pangkuan ku, wajahnya saat tidur sangat cantik dan imut sekali.
Tiba-tiba kereta terkena guncangan, mungkin melindas sebuah batu atau jalanya bergelombang. Carmilla terbangun dari tidurnya,
"Selamat pagi! tukang tidur," ujar Mathius
"haaahh, selamat pagii!! Ehh.. Mathius se-sejak kapan aku tidur di pangkuan mu," ucap Carmilla yang terbangun lalu duduk tetapi dia tidak sadar kalau dia masih memegang tangan Mathius.
"ehh.... tanganku masih kamu pegang Carmilla, anu, tolong lepaskan ya."ucap Mathius
"Heeehhh.... Ma-maaf, Mathius."ucap Carmilla
"hehehehe, tidak apa kok, tadi kamu tidur sangat pulas ya, Carmilla."
Sudut pandang Carmilla:
Ahhhh, apa dia dari tadi melihatku saat tertidur, sungguh-sungguh memalukan.
...****************...
Tak lama Tobias dan Lia terbangun. Entah kenapa meskipun mereka baru saja bertunangan, mereka sudah terlihat sangat akrab, aku sih juga ikut senang sahabatku bisa memiliki pasangan ahahaha.
"huuaaahhh(menguap),Apa yang baru saja terjadi? hei Carmilla wajahmu memerah, kamu kenapa?" tanya Tobias kepada Carmilla.
Lalu Carmilla menjawab dengan wajahnya yang memerah,"Ehh, a-anuu, tidak ada apa apa kok heeh heheh."
Suasana yang tadinya senyap dan runyam pun akhirnya berubah menjadi sedikit ramai, kami ber empat berbagi cerita atau pengalaman.
Dan pada akhirnya kami pun sampai di kota Sito, kota yang cukup besar dan berpopulasi sekitar 1 juta jiwa, kota ini adalah kota terbesar kelima di Kerajaan. Kota ini juga kota yang paling dekat dengan Desa asal ku, Desa Wildsand.
"saya akan menunggu di sebuah penginapan dekat dengan gerbang masuk kota, di sana hanya ada satu penginapan saja, jadi anda bisa dengan mudah mencarinya, kalau begitu saya pamit." begitulah katanya.
Tujuan awal ku adalah untuk mencoba makanan, tetapi tujuan Tobias dan Lia adalah berkencan, Pada dasarnya kencan di lakukan oleh pasangan pria dan wanita untuk mempererat hubungan keduanya. Jika aku mengajak Carmilla untuk menemani ku, apakah ini juga di sebut kencan juga? ahh tidak mungkin, Carmilla juga pasti tidak berpikiran seperti itu.
Namun di sudut pandang Carmilla:
Tuan Tobias dan Nona Lia berkencan, di sisi lain Mathius memintaku untuk menemaninya pergi ke kota ini, apa mungkin ini di sebut kencan juga? te-tetapi Mathius tidak mungkin berpikiran seperti itu kan? kalau dia mengajak ku berkencan juga pasti ku tolak sihh.
...****************...
secara kebetulan Mathius dan Carmilla sepemikiran. Carmilla pun mencoba untuk bersikap seperti biasa.
...****************...
"hei Machi!" ucap Tobias memanggilku.
"iya, ada apa Tobichi?"jawabku.
"bagaimana kalau kita berpisah di sini, dan menentukan tempat untuk bertemu kembali?" ucap Tobias mengusulkan agenda.
Aku pun menjawab:
"aku sih tidak apa apa tapi tunggu dulu, Magic Necklace, pakailah ini(memberikan sebuah kalung sihir yang sama seperi yang di berikan pada murid Mathius saat pembelajaran di luar kelas), jika kamu dalam bahaya kalung ini akan merespon, dan aku juga bisa mengetahui tempatmu."
"wah, Tuan Mathius memang hebat yah, bisa mengeluarkan kalung ajaib seperti ini." ucap Lia.
"baiklah kalau begitu aku dan Lia akan pergi ya Machi, kamu pergi bersenang senanglah dengan Carmilla,nanti kita bertemu di penginapan pak kusir saat tengah hari, sampai ketemu nanti ya!!" ucap Tobias sambil beranjak pergi.
"ah iya, jadi.... Carmilla kamu mau pergi kemana?untuk hari ini aku yang traktir kok." ucapku sambil tersenyum.
"(deg-deg) eh.. anu... bagaimana kalau kita makan dulu?" jawab Carmilla.
sudut pandang Carmilla:
ahh mengapa senyuman nya sangat mematikan, pokoknya aku harus bersikap biasa.
...****************...
Kami berdua pun pergi berjalan mengelilingi kota untuk mencari restoran untuk makan, tetapi nampaknya Carmilla lebih tertarik dengan makanan yang di jual di stan pinggir jalan, aku pun secara diam diam membelikan nya daging panggang yang di jual di pinggir jalan.
"Hei Carmilla, makanlah!" ucapku.
"eh, sejak kapan kamu membelinya?" tanya Carmilla.
"sudah makanlah saja."
Aku juga memberikan dia segelas air putih untuk minum.
"Te-terima kasih." ucap Carmilla terbata-bata.
Kami berdua menemukan sebuah restoran yang sangat mewah dan besar, kami pun memasuki restoran itu, dan isi menunya banyak sekali, ada juga makanan khas desa Fang yang rata rata banyak menggunakan keju.
Carmilla bilang dia ingin mencoba menu terbaik di restoran, dan makanan yang di maksud adalah Spaghetti. Sangat jarang restoran menjual makanan itu. Aku juga memesan makanan yang sama dengan Carmilla.
Harganya tidak usah di tanya lagi, bisa di bilang sangat mahal. Aku membawa 2 keping emas yang di beri ayahku di surat kemarin, aku membayar tagihan untuk 2 porsi spaghetti dan 2 gelas teh lemon harganya 3 keping perak kecil.
Setelah makan berdua tiba tiba Carmilla berkata padaku:
"Mathius, apa benar semua ini tidak apa apa? aku akan menggantinya saat di rumah nanti,"
aku pun menjawab:
"tidak apa apa Carmilla, aku yang mengajakmu ke kota ini, lagi pula di mana mana tidak sopan kalau wanita yang membayar kan?"
"kalau itu sihh.."
"sudahlah tidak usah terlalu di pikirkan, anggap saja kalau ini..... Kencan pertama kita."