
"tunggu, " Kakak"apa-apa dia adikmu Caliph?"ucap Mathius
"ahh ituu hehe, baiklah aku akan memperkenalkan ulang diriku, namaku Caliph, Caliph Stella, nama Stella diambil dari nama ibuku, Chiyo adalah adik kandungku dia sekarang berusia 18 tahun"ucap Caliph
"Chiyo? hey tunggu kamu tadi menyuruhku untuk memanggil namamu Stella, kenapa kakak mu sendiri memanggil Chiyo?" tanya Mathius
"iya, aku juga sedikit mendengarnya juga tadi" ucap Tobias
"sebelumnya m-maaf, aku suka menyuruh orang asing memanggilku dengan nama belakangku, sejujurnya orang orang di desaku memanggilku Chiyo bukan Stella"ujar Rorochiyo Stella "ahhh sungguh memalukan berbicara dengan Tuan Mathius, entah kenapa jantungku berdebar kencang, sejujurnya aku malu jika di panggil dengan nama Chiyo olehnya" batin Rorochiyo Stella
"ohh begitu, jadi kamu dipanggil Chiyo, baiklah aku akan memanggil mu Chiyo juga" ucap Tobias
"Chiyo?, menurutku itu tidak buruk nama yang unik dan lucu hahah" ucap Mathius
"huuhhuuh, Tuan Mathius memanggil namaku dengan Chiyo, hahh memalukan" batin Chiyo dengan muka memerah
"Chiyo? Chiyo!!" teriak Caliph
"ahhh, anu-anu-anu, ada apa kakak?" jawab Chiyo
"kamu kenapa, jangan jangan... apa kamu menyukai Mathius?" ucap Caliph dengan berbisik
Chiyo merasa sangat malu karena Caliph menyadari hal itu
"HEHH-ITU-ANUUU" ucap Stella dengan nada canggung,
"hahah sudah kuduga, akhirnya adik semata wayang ku dapat mendapat kan cinta pandangan pertamanya" batin Caliph dengan wajah tersenyum
"Caliph? apa kamu sakit?" ucap Mathius
"ahh tidak tidak, aku hanya terpikir sesuatu yang bagus" ujar Caliph
"ohh begitu" ucap Mathius
"tetapi ada suatu pertanyaan yang mengganjal di pikiranku, kenapa kalian sekolah dengan terpisah, kau Caliph, kau bersekolah di desa Northen Forest, dan Chiyo bersekolah di Great Magic School, mengapa demikian?" tanya Solid
"yahh itu, dulu banyak bandit yang selalu menyerang desa Elf, Chiyo termasuk penyihir yang langkah karena kekuatanya jarang di temui, maka dari itu ayah kami menyekolahkan Chiyo di sini dan aku tetap di desa, tujuanya agar Chiyo jauh dari bandit" jawab Caliph
"ohh jadi begitu" ucap Solid
"tuan Mathius, sedari tadi matamu selalu tertutup, ada apa dengan matamu tuan Mathius?" tanya Chiyo kepada Mathius
"entahlah, aku juga tidak tau penyebabnya, tetapi aku masih dapat melihat dengan normal"jawab Mathius
"ohh kalau begitu syukurlah" ucap Chiyo
"Mathius bersiaplah! setelah ini kau akan melawan Astrea De Reiven" teriak Rexar
"ahh iya Pak Rexar" jawab Mathius
"anuu, tuan Mathius, semangat!!"ucap Chiyo
"Terima kasih Chiyo" jawab Mathius
akhirnya tiba juga waktu Mathius membalas dendam kepada Astrea yang telah melukai Solid.
"Pertandingan terakhir yaitu babak final Mathius Twilight melawan Astrea De Reiven"
Pertandingan Mathius melawan Astrea pun dimulai kedua peserta di suruh untuk ke area pertandingan Mathius langsung berhadapan dengan Astrea dengan tongkat sihirnya
"oi bocah buta jelata! mana senjatamu?" tanya Astrea dengan wajah sombongnya
"hahh? jelata katamu?" ucap Mathius dengan mengangkat tangan kiri nya ke atas, langit mulai hitam dan petir bergemuruh dan aura merah mengelilingi tangan kirinya lalu membentuk tombak merah miliknya,
"tidak ada yang berani mengatai rakyat suku Wildsand jelata, kecuali kauu ingin MATI" ucap Mathius dengan marah
"ohh Iyah? baiklah aku mulai, kalau sakit menyerah saja" ujar Astrea
"Greater Fire Ball" teriak Astrea merapalkan sihir apinya dan keluar api dengan ukuran sangat besar, Astrea langsung melemparkanya pada Mathius
"Terima ini"
"hahahahah, dasar bangsawan lemah, fuuhhh" Mathius meniup api yang sangat besar itu dan seketika api itu lenyap
"tidak-tidak mungkin, bagaimana kau melakukanya?, itu adalah api tingkat tinggi yang daya ledak nya bahkan bisa menghancurkan sekolah ini" ucap Astrea dengan ketakutan
"huhh? kau sebut itu api?tak seperti perkiraan ku, lemah sekali kau ternyata" Ucap Mathius dan langsung berpindah ke belakang badan Astrea dan langsung memukul nya ke atas, lalu Mathius berpindah ke atas Astrea dan memukul nya Ke arah bawah dengan keras, lalu Mathius berpindah ke arah Astrea terpapar lemah
"hei lemah, kau masih sanggup?" ucap Mathius
"cih, keparat kau" teriak Astrea lalu melompat menjauh dari Mathius
Astrea menyerang Mathius secara beruntun namun Mathius dapat menebas seluruh bola api dengan tombaknya
"memang lemah, lemah, hahahahah, ini lah akibatnya jika kau bermain curang terhadap Kak Solid" ucap Mathius
"keparat kau, baiklah aku akan menunjukan sihir api terbesar miliku sebagai serangan terakhir, aku akan menyerangmu dengan api tertinggi ku, Wahai api dunia patuhilah perintah ku bakar dan hancurkan musuhku, Ultimate Fire Blast" Teriak Astrea dengan mengeluarkan api merah tua dengan ukuran yang sangat besar
"api ini dapat menghancurkan sekolah dan area sekitar dengan radius yang besar jika kau tidak dapat menahanya kau akan mati" ucap Astrea
"kau pikir aku akan takut akan api dingin itu?" Ujar Mathius dengan wajah dingin
"kau ini memang harus kubunuh, rasakan ini"
ucap Astrea sambil melempar api besar itu
namun Mathius melempar tombaknya ke arah api itu, hal yang tak mungkin pun terjadi karena api sebesar itu dapat di lenyapkan oleh tombak merah milik Mathius
"hahaha, kau ini benar benar lemah" ucap Mathius
"hahh? tidak dapat dipercaya, kauu benar benar monster, kau Iblis!!" teriak Astrea yang sudah kehabisan energi sihirnya dan hanya dapat melihat Mathius
"akan ku tunjukan sihir api yang sebenarnya, Hell Flare" ucap Mathius sambil mengangkat tangan kanannya dan mengeluarkan api berwarna hitam yang sangat besar sekali, membuat semua penonton ketakutan dan akhirnya pertandingan di hentikan
"oi Rexar, aku merasakan kekuatan itu sangat besar, bahkan jika di bandingkan dengan kekuatan kita" ujar Roy
"iya aku juga mulai takut akan kekuatan yang di miliki anak itu, Cukup Mathius!!" teriak Rexar
Mathius pun menghilangkan apinya
"tidak-tidak-aku tidak pernah kalah aku harus menang, hiksss" ucap Astrea sambil menangis
"hadapilah kenyataan jika kau ini hanya seorang anak bangsawan lemah di hadapan anak dari suku Wildsand" ujar Mathius
"baik-baiklah aku..menyerah" ucap Astrea yang langsung tergeletak lemas karena kehabisan energi sihir
lalu Mathius meninggal kan area pertandingan dan menuju ke teman temanya
"Tuan Mathius hebat, anda menang tuan Mathius" ujar Chiyo dengan perasaan bahagia
"ahaha, Terima kasih Chiyo" ucap Mathius sambil mengelus kepala Chiyo, muka Chiyo pun langsung memerah karena orang yang di dambakan nya mengelus kepalanya
"Chiyo?kamu tidak apa apa?" tanya Mathius
"i-iya, aku tidak apa apa" jawab Chiyo dengan gagap
"selamat Machi kamu pasti akan jadi pemenang turnamen ini" ucap Tobias
"yah kamu memang sangat hebat, aku sudah mengira kamu akan jadi pemenang, tetapi kenapa tadi kamu kelihatan marah tadi?" tanya Solid
"yahh sebenarnya aku masih tidak rela saat kak Solid di curangi sampai kak Solid terluka parah pada turnamen pertama" jawab Mathius
"ohh kamu membalas dendam ya?" tanya Solid
"yah seperti itulah" jawab Mathius
"semua peserta harap mendengarkan Pengumuman pemenang, Pada hari ini semua peserta bertanding dengan baik, akan tetapi sebuah pertandingan hanya akan memiliki 1 orang pemenang dan pemenang pada turnamen tahun ini sudah di pastikan adalah Mathius Twilight, silahkan untuk menuju ke sumber suara" teriak Rexar selaku juri
"wahh akhirnya aku jadi pemenang, ayah dan ibu pasti senang" batin Mathius
"kemarilah Mathius, selamat atas kemenangan mu, dan terimalah hadiah turnamen tahun ini yaitu 3000 keping emas besar dan sebuah kenang kenangan dari Great Magic School yaitu jubah penyihir dan sebuah penutup mata yang pasti akan cocok denganmu" ucap Rexar
"Terima kasih pak Rexar, pak Roy, pak Julian" ucap Mathius dengan bahagia
"wahh hadiahnya besar sekali" batin Mathius
lalu Mathius dan juga Pak Rexar pun langsung bersiap untuk pulang Mathius pun berpamitan dengan Tobias, Solid, Caliph dan juga Chiyo
"teman teman ini waktu untuk kita berpisah hari ini, Chiyo ikutlah denganku sebentar" ucap Mathius
"tunggu tuan Mathius, mau kemana..?"tanya Chiyo
"sudahlah ikut saja"jawab Mathius
lalu Mathius membawa Chiyo ke lapangan sekolah yang sepi
"Chiyo, jika kamu selesai sekolah kamu mau jadi apa?" tanya Mathius
"dari dulu aku ingin menjadi petualang, dan sangat ingin berkelana sendiri ke barat ke negeri lain, untuk mendapatkan pengalaman baru"jawab Chiyo
"kalau begitu, bagaimana menurutmu jika aku ikut berkelana dengan mu?".