
Pada suatu pagi Mathius pergi ke sekolah untuk mengajar murid nya, seperti biasa dia selalu berangkat bersama Tobias yang menjemputnya di dekat rumahnya, Mathius dan Tobias berpisah di kelas 1 yaitu tempat yang dulu di tempati Mathius. Yang dulunya menjadi teman sekelas tetapi sekarang Mathius menjadi guru sekolah tersebut.
Mathius berjalan menuju kelasnya dan pak Lucas datang dan menegurnya.
"selamat pagi pak guru".
"jangan memanggilku pak guru, anda lebih tua dari saya, rasanya tidak enak saja dipanggil pak guru dengan orang yang lebih tua dari saya" jawab Mathius.
"hahah kau bisa saja aku hanya bercanda kok, oh iya tadi Pak Rexar menyuruhku untuk memberitahumu bahwa kamu harus memberi pelajaran di luar kelas untuk anak anak kelas tingkat 1 karena mereka masih anak anak, mungkin belajar di luar kelas akan meningkatkan keaktifan mereka di dunia luar" ujar Lucas.
"ohh iya baiklah, aku akan mengajari mereka di luar kelas, Terima kasih untuk informasi nya" ucap Mathius.
"ya sama sama, kalau begitu permisi" ucap Pak Lucas.
"iya silahkan".
Mathius pun pergi ke kelas nya dan memberi tahu kan hal ini kepada murid muridnya.
"Selamat pagi anak anak, bagaimana kabar kalian" ucap Mathius.
"Selamat pagi pak guru, kami baik Terima kasih" jawab anak anak di kelas.
"hari ini adalah hari yang spesial karena hari ini kita tidak akan belajar mengenai sihir, akan tetapi kita akan belajar di luar kelas bersama" ujar Mathius.
"hore kita akan belajar di luar".
"akhirnya hal yang aku ingin kan terjadi" sorak anak anak di kelas dengan gembira.
"ehh memangnya kalian tidak pernah belajar di luar kelas?" tanya Mathius.
"emm, tidak pernah sama sekali pak bahkan sejak kami di ajar guru sebelum pak Lucas" jawab Rebecca.
"siapa yang mengajar kalian sebelum pak Lucas Mengajari kalian?" tanya Mathius.
"Itu dulu namanya adalah Pak Canon, dia memang guru yang baik, akan tetapi dia menderita penyakit jantung dan pada akhirnya dia meninggal tak lama ini" jawab seorang anak di kelas.
"hah? kenapa aku tidak tau beritanya? apa memang kematiannya di rahasiakan?" tanya Mathius.
"iya Pak, itu sebenarnya dia adalah".
"oi bicara apa kau Mathius, cepat selesaikan pekerjaanmu" ucap Pak Rexar yang tiba tiba ada di dekat pintu masuk kelas.
"mengganggu pembicaraan yang lagi seru serunya saja" ujar Mathius.
"haa? apa katamu?" tanya Pak Rexar dengan raut wajah marah.
"ahh iya iya aku hanya bercanda kok" jawab Mathius dengan sedikit tersenyum panik.
"Pak Mathius, cepat kita mau belajar di mana? kami sudah tidak sabar lagi" tanya anak di kelas.
"baiklah mari kita keluar area sekolah terlebih dahulu, nanti aku pikirkan kita akan melakukan apa" ujar Mathius.
"baik Pak" jawab murid di kelas lalu semua bergegas keluar dari kelas dan menuju area luar sekolah.
Aku harus apa ya? kalau misalkan mereka belajar di luar apa mungkin aku harus mengajak mereka masuk ke hutan? yah jalani saja lah lagi pula aku kan hebat hehehe.
Semua anak serta Mathius pun pergi keluar area sekolah.
"baiklah anak anak, kalian mau pergi kemana?" tanya Mathius.
"anu Pak kalau kita jalan jalan ke hutan bagaimana?" jawab seorang anak bernama Anderson.
"tapi kalau kalian mau ke hutan, berjanjilah!, kalian tidak menjauh dari ku, karena sangat berbahaya berkeliling sendiri di hutan bagaimana?" ucap Mathius.
"baik Pak" jawab semua murid Mathius.
"baiklah mari kita berangkat ke hutan tetap dekat denganku yaa" ujar Mathius.
lalu mereka semua pergi berangkat ke hutan bersama sama, para murid Mathius sangat senang karena ini pertama kalinya mereka pergi ke hutan.
"wahh Pak guru hebat" ucap Rebecca.
"baiklah kalian semua kenalan kalung ini, kalung ini akan melindungi kalian dari mara bahaya dan akan merespon pada ku, jadi kalian terlindungi serta aku tahu jika kalian dalam bahaya" ujar Mathius.
"terima kasih pak Mathius" jawab Semua Murid Mathius.
"baiklah kita mulai memasuki daerah hutan sekarang" ujar Mathius.
hutan yang di masuki Mathius dan para muridnya adalah hutan di sekitar desa Wildsand tetapi hutan itu masih menjadi wilayah desa Wildsand.
Desa Wildsand memang berada di tengah tengah gurun pasir akan tetapi karena gurun pasir nya tak begitu luas dan ada sebuah daratan luas dengan hutan yang besar, dan sebagian dari daratan itu telah di kelola oleh warga desa Wildsand menjadi pertanian serta peternakan.
Meskipun berada di dekat pemukiman, hutan itu tetap menjadi sarang monster monster berlevel rendah dan tak jarang monster berlevel tinggi muncul, tetapi warga desa Wildsand tak pernah takut akan monster, karena sudah tak di ragukan kekuatan penduduk desa Wildsand.
Mathius dan murid nya berjalan jalan menyusuri hutan sekaligus belajar mengenal alam, para muridnya sangat senang sekali dan saking gembira nya, mereka tidak mau kembali ke sekolah dan ingin terus di hutan bersama Mathius
namun tidak di sangka Mathius merasakan kejanggalan akan hutan itu.
Ada apa ini? aku merasakan hal yang buruk akan terjadi, tetapi kalung anak anak tidak ada yang merespon, aku harus tetap tenang, anak anak imut ini adalah tanggung jawabku aku tidak akan memaafkan siapapun yang melukai mereka.
"anak anak tetaplah dekat denganku yaaa!" teriak Mathius.
"baik pak" jawab para murid Mathius.
Hawa mulai tidak enak, hutan serasa di kelilingi kabut.
"anak anak lebih baik kita kembali ke sekolah" ucap Mathius.
"Deg-Deg" hah ada anak anak yang terancam bahaya, aku harus mengaktifkan gerbang teleportasi ku untuk menyelamatkan para anak yang masih berada di dekatku ini.
"anak anak merapat padaku, Gate" teriak Mathius sembari membuka gerbang teleportasi menuju ke sekolah.
"masuklah ke portal nya" ujar Mathius.
"semua sekarang sebutkan urutan absen kalian".
"1,2,3,4,5,6,7,8, 9,10,11,12,13,....
" lanjutkan nomor 15".
"15, 16,17,18,19,20,21,22,23,....45".
"aduh tertinggal satu anak, siapa yang bernomor urut 14?"tanya Mathius.
"namanya adalah Muller McQueen" jawab seorang anak.
"ha? McQueen?".
nanti saja berpikirnya, aku harus menyelamatkan dia terlebih dahulu.
"Gate".
Mathius kembali ke dalam hutan dan mencari anak bernama Muller itu, karena anak itu membawa kalung yang di beri Mathius, Mathius pun tahu keberadaan anak tersebut dan menyusulnya dengan kecepatanya yang sangat cepat.
"TOLOONGG!! Pak Guruuu!!, Teman Teman tolonggg akuuu!!".
"huhh? teriak siapa itu, apa dia Muller? aku harus menyusulnya".
Mathius terkejut ketika berhasil menemukan Muller, akan tetapi Muller di kelilingi monster banteng atau biasa di sebut "Minotaur".
TI-TIDAK MUNGKIN!! itu adalah monster yang menjadi pasukan Raja Iblis di barisan depan, bagaimana monster berakal seperti mereka di hutan ini, intinya aku akan menyelamatkan Muller terlebih dahulu.
"OI, Kalian monster bodoh lepaskan muridku!!" teriak Mathius.
"Huuhh? manusia biasa ternyata...